نخستین 200 خط.
EPISODE 13
Rasanya seperti baru kemarin kita sekeluarga datang ke sini.
Nikmatilah selagi di sini.
Aku kurang beruntung hari ini.
Pukulan bagus.
Ayah khawatir saat melihat fotomu.
Katanya wajahmu terlihat tirus.
- Makanlah. - Kata siapa aku tak makan?
Kini porsi makanmu jauh berkurang.
- Badanku lebih ringan. - Wajahmu tampak agak menyedihkan.
Tak apa-apa. Asal bukan jiwaku yang menyedihkan.
Apa menurutmu jiwaku tampak menyedihkan?
Pak Seo.
Halo.
Kau datang bersama ibumu.
- Ya. - Ini adikku.
- Adik kandungmu? - Ya.
Astaga. Rupanya kau punya adik.
Ini Produser Sa Pi-young.
Halo. Aku Seo Dong-ma.
Setelah dilihat, kalian berdua memang mirip.
Astaga. Halo.
- Kita bertemu lagi di sini. - Ya.
Ini adiknya.
Ini ibu mertuaku.
Rupanya begitu. Halo.
Kalian berdua tampan.
Silakan ke tempat selanjutnya.
- Kalian hanya datang berdua? - Ya.
- Sampai jumpa lain kali. - Ya.
- Pak Seo. - Ya?
Aku sudah bercerai.
Kenapa bilang?
Tak perlu disembunyikan. Lagi pula, dia akan segera tahu.
Mungkin dia bercanda.
Siapa yang berlelucon begitu?
Dia bukan tipe yang suka bercanda.
Tapi masih bergolf dengan ibu mertua?
Ibu mertua kedua.
Rupanya ibu sambung mantan suaminya.
Jika tak kenal, pasti akan dikira bibi atau kakaknya.
- Ibu harus beri tahu Pak Pan ibu di sini. - Dia belum tahu?
Ya.
Dia pasti akan langsung ke sini.
Itu Pak Pan.
Astaga. Apa kami memiliki telepati?
Mun-ho.
Halo.
- Halo. - Halo.
- Bersama keluarga? - Menantuku.
- Halo. - Halo.
Sudah lama tak bertemu.
Terakhir di pemakaman tahun lalu.
Ya. Waktu itu, aku tak sempat menyapa karena keadaanku tak begitu baik.
Tak perlu sungkan. Silakan duduk.
Selamat bersenang-senang bergolf.
Ya.
Terima kasih untuk teh hijau yang kau kirimkan.
Ya.
Kau terlihat sehat.
- Jaga baik-baik. - Ya.
Biar aku yang bayar minuman kalian.
- Tak perlu. - Sungguh?
- Kalau begitu, sampai jumpa. - Ya.
- Sampai jumpa. - Ya.
Sayang, kau mau jus jeruk?
Ya.
- Dua gelas. - Ya.
Tak perlu dingin begitu.
Dia kaget karena sikapmu berbeda dengan sebelumnya.
Mereka terlihat harmonis.
Jika Song Yuan sudah melahirkan,
aku akan menyuruh Pelatih Choi untuk mengajarinya golf.
- Siapa yang mengurus anaknya? - Ada kita.
Mengenai Hye-ryung…
Kurasa kita tertipu olehnya. Dia memang tak mau punya anak.
Tak bisa langsung hamil begitu menginginkannya.
Ada waktunya. Tuhan harus mengaruniai dia.
Apa alasan Tuhan mengaruniai Song Yuan anak?
Aku terpikir perkataan Sa-hyeon sesekali.
Sudah bisa masuk.
- Ayo ke Daejeon. - Sekarang?
- Batal menonton film? - Ya.
- Kenapa? - Kuberi tahu nanti.
Di sana.
Tak perlu menyiapkan makan malam untuk kami. Kami sudah makan tadi.
Meski kau sudah makan, Sa-hyeon pasti lapar karena dia pria.
Aku tak lapar. Kami makan cukup banyak.
- Ayah lelah? - Tidak. Ayah habis main golf.
Produser yang bekerja bersamamu…
Sa Pi-young?
Ya. Dia datang ke lapangan golf hari ini dengan ibu mertuanya.
Hubungan mereka terlihat harmonis.
Bagaimana menurutmu?
Kau tak peduli dengan kami? Kau sama sekali tak menanyakannya.
Beli cincin pasangan?
Ya. Sudah lumayan lama.
Belakangan ini, Ayah sangat menuruti perkataan Ibu.
Ibumu yang menuruti perkataan ayah.
- Ayah yang mengusulkan? - Ya.
- Kenapa? - Berhenti banyak bertanya.
Jika ada Byeol-hui dan Hae-ri,
mereka akan menyebutmu payah.
Hanya ingin saja.
Daripada pakai cincin sebesar permen, ibumu terlihat jauh lebih muda
dengan cincin ini, 'kan?
Ya.
Kenapa tiba-tiba kalian ke sini?
Mereka pasti hanya datang tanpa alasan.
Apa perlu alasan untuk datang ke rumah?
Aku akan menceraikanmu.
Aku bersedia bercerai denganmu.
Kenapa mendadak begini?
Kalian sepakat untuk tetap bersama.
Ibu tak senang?
Kau bercerai untuk membuat ibu mertuamu senang?
Bukan begitu.
Aku memikirkan Sa-hyeon.
Kau mengatakan sesuatu?
Tidak.
Perut wanita bernama Song Won pasti sudah besar.
Ya.
Dia akan melahirkan bulan depan?
Mungkin bulan depan atau awal bulan Juni.
Apa kalian berdebat mengenal hal itu?
Tidak. Kami ke bioskop tadi,
dan ada ibu hamil yang lewat.
Tanpa Sa-hyeon sadar, dia terpaku melihat wanita itu.
Aku tak tega melihat ekspresi wajahnya.
Siapkan dokumennya besok.
Saat anakmu lahir, kau harus berada di sampingnya
dengan bangga.
Hanya karena itu?
Ya.
Tak ada alasan lain.
Lakukan sebelum aku berubah pikiran.
Aku tahu kau terus memikirkannya.
Namun, mencoba sebisa mungkin untuk tak memperlihatkannya.
Kau yakin tak akan menyesal?
Tidak boleh.
Kau tak akan bicara apa pun? Kau pasti senang, 'kan?
Kau sangat ingin bercerai denganku sebelumnya.
Dia tak bermaksud memaksamu bercerai.
- Dia hanya merasa bersalah. - Ibu juga mendengarnya, 'kan?
Di tempat ini,
dia bilang bahwa dia mencintainya.
Itu karena ada rasa tanggung jawab telah menghamilinya.
Apa pun itu. Kuharap kalian akan memperhatikanku
sebesar pengorbananku untuk Sa-hyeon, Ibu, Ayah,
dan cucu kalian yang akan segera lahir.
Pada akhirnya…
seluruh Korea akan tahu
bahwa aku menjadi janda.
Padahal harga diriku sangat tinggi.
Karena aku menikah saat di puncak karier.
Ayah paham maksudmu.
Kami akan memberimu uang
dan memberikan rumah yang kau tempati sekarang.
Aku mau tinggal di rumah lain.
Aku tak yakin bisa tinggal sendiri di rumah itu.
Baik. Carilah rumah yang kau inginkan.
Apa Ayah bisa membelikanku unit di Vila Cheongdam?
Vila Cheongdam? Terdengar tak asing.
Aku punya beberapa penggemar fanatik
- dan kudengar di sana sangat aman. - Baiklah.
Itu tempat tinggal para konglomerat.
Jangan berlebihan.
Konglomerat tinggal di rumah di daerah Hanchung-dong.
Konglomerat generasi kedua dan orang kaya baru.
- Aku tak pantas? - Baiklah.
Cari apa ada unit yang dijual.
Agen real estat?
Bisa cari di internet.
Kami hanya perlu membelikan satu unit rumah atas namamu?
Aku sama sekali tak punya tabungan.
Pajak kepemilikan dan biaya pemeliharaan di sana cukup mahal.
Padahal dia terus bekerja selama ini
dan tak bayar keperluan sehari-hari. Kenapa tak punya tabungan?
Gaji dia tak sedikit.
Tak mungkin tak ada tabungan. Dia hanya ingin minta uang cerai.
Kudengar harga vila mewah setara dengan harga gedung kecil.
Itu memang kewajiban kita terlepas dari berbagai faktor.
Kita mampu memberikannya.
Hati perempuan memang rapuh,
tapi dia bersikeras tak mau bercerai sebelumnya.
Mana mungkin berubah pikiran karena melihat ibu hamil?
Meski terlihat tangguh, hatinya baik.
Lagi pula, tak mudah hidup bersama suami yang sudah tak menyukainya.
Dia tak kurang apa pun.
Harus segera diberi tahu.
- Song Yuan? - Ya.
Kau begitu menyukainya?
Lebih baik kutemui saja besok.
Ya. Sudah malam sekarang.
Tanggal persalinan makin dekat.
Sa-hyeon pasti sangat frustrasi.
Padahal dia ayah kandungnya,
tapi dia berjanji untuk tak menemui Song Yuan bahkan saat anaknya lahir.
Itu tak masuk akal.
Meski Sa-hyeon kesulitan,
No comments yet. Be the first to leave one.