نخستین 200 خط.
Parn, sembunyilah disana!
Cari mereka!
Parn, lari!
Lek, kejar dia!
Kemari kau, jalang!
Lek!
Kemari kau!
Ayo cepat!
Lepaskan aku!
Jangan bergerak!
Brengsek kau!
Parn...
Parn...
KEMURKAAN TERSEMBUNYI
t
te
t er
t e rj
t e rje
t e r j em
t e r j ema
t e r j e m ah
t e r j e m aha
t e r j e m a h an
t e r j e m a h anm
t e r j e m a h a n ma
t e r j e m a h a n mah
t e r j e m a h a n m a hs
t e r j e m a h a n m a hsu
t e r j e m a h a n m a h s un
t e r j e m a h a n m a h s u nm
t e r j e m a h a n m a h s u nma
t r a n s l a t e d b y m a h s u n m a x
Bua!
Hey, tolol!
Anak-anak bajingan!
Bua, naiklah ke dalam rumah. Akan ibu siapkan obatnya.
Yod, jangan pergi dulu.
Ada sesuatu yang harus kubicarakan denganmu.
Tentang apa?
Tunggu dan duduklah.
Bua, tak perlu menangis karena perbuatan anak-anak berandalan itu.
Kau rindu ayahmu?
Mengapa merindukannya?
Dia tidak menyayangi kita.
Dia meninggalkan kita demi wanita lain.
Bersabarlah.
Jangan menangis.
Lebih baik kau jangan temui Bua lagi.
Mengapa?
Kau memiliki orang tua yang baik.
Kau pantas mendapatkan istri yang lebih baik.
Sehingga para penduduk desa tak akan merendahkanmu.
Bibi, aku tak pernah beranggapan Bua bukan jodoh yang cocok buatku.
Apapun kata orang-orang desa tak penting buatku.
Itulah yang orang katakan saat jatuh cinta.
Aku tak ingin melihat kalian berdua kesusahan dalam menjalani hidup
dan berakhir dengan perceraian!
Itukah yang dimaksud bibi hingga tak mengijinkan Bua menikah denganku?
Itulah yang terbaik bagi kalian berdua dan bagi orang tuamu.
Bibi...
Mengenai pernikahan...
bolehkah Bua dan aku saja yang memutuskan?
Tidakkah kau lihat Bua itu gadis bisu?
Dengan cinta...
mengucapkan kata-kata tidaklah penting.
Apapun yang terjadi, kami tak mengijinkan kau menikah dengan gadis bisu itu.
Mulai sekarang, jangan temui dia lagi!
Mengapa ibu sangat khawatir?
Santai dan tenanglah.
Senyumlah bu.
Ini bukan gurauan, nak.
Ini adalah hidup dan masa depanmu!
Coba pikir, kau menikah dengan istri yang tak bisa bicara.
Dia harus gunakan tangannya untuk bicara tiap hari.
Bagaimana kau bisa jalani hidup seperti itu?
Hidup saja secara normal seperti orang lainnya.
Jika dia gunakan tangannya untuk bicara, aku akan gunakan tanganku.
Gampang 'kan.
Bagaimana bisa si bisu ini mengatasi tanggung jawab pada keluarga kita?
Kau tak mau dengar tapi nanti pasti kau akan menyesal.
Ibu, coba pikirkan lagi...
Jika aku menikahi gadis bisu...
dia tak akan bisa berdebat dengan ibu.
Tidakkah ibu menyukainya?
Mau ditaruh dimana muka kita terhadap orang-orang desa
yang meremehkan kita karena punya menantu yang bisu?
Kau memang tak peduli dengan perasaan ibu.
Yod, kau kembalilah dan cari kerja di Bangkok.
Aku tak akan pergi ayah, aku tak suka.
Memang tak ada yang menyukainya. Kau hanya bekerjalah yang tekun, itu saja.
Aku tak keberatan dengan pekerjaannya.
Tapi aku tak suka berada di kota.
Terlalu semrawut.
Jangan beranggapan seperti itu!
Pergilah dan barangkali ada pekerjaan disana.
Sekarang!
Aku tak akan kembali ke Bangkok.
Wow, wow, wow... itu Dao.
Hai Dao.
Kau terlihat lebih cantik setelah kembali dari kota.
Bukankah kau sudah punya istri, brengsek?
Sana pegang pantat istrimu sendiri!
Kemari kau, jalang!
Chang!
Yang kau lakukan cuma main dan main saja.
Bagaimana dengan tanggung jawabmu, huh?
Jangan pura-pura tak mendengarku.
Tanpa aku, kau ini bukanlah siapa-siapa!
Apa kau tuli?
Kau ini menggangguku saja.
Lebih baik jangan campuri urusanku.
Chang!
Apa kau mau habiskan hidup bersamaku atau bersama 2 orang pemabuk itu?
Ternyata benar...
Aku tak lebih dari sekedar pelacur bagimu!
Dasar brengsek!
mahsunmax
Aku dapat banyak ikan.
Aku senang saat kau di dekatku.
Kita mungkin bisa hidup dengan bertani.
Kita mungkin tak hidup kaya.
Tapi aku bahagia.
Aku senang bersamamu dalam hidupku.
Phet...
Kau lihat wanita tua disana?
Jika kau bisa mencuri ikannya...
akan kugendong kau dipunggungku.
Aku serius.
Sebelum kau membuat taruhan ini,
aku sudah berencana untuk mencurinya.
Pencuri!
Kau pencuri! Kenapa kau curi ikanku, dasar kau idiot!
Cepatlah Phet!
Semoga perutmu akan meletus dan mati saat makan ikan itu!
Lek. / Apa?
Aku sudah dapat ikannya.
Sekarang balik badan.
Aku harus kau gendong pulang. / Kau bilang memang berniat mencurinya 'kan?
Kau idiot!
Lebih baik kau makan ikan-ikan ini.
Kau pengecut, kau tak menggendongku pulang.
Jadi, jangan makan!
Aku tak peduli, aku ini seorang oportunis.
Jadi aku tetap makan!
Benar 'kan? / Dasar kau bodoh!
Jika kau mau mencuri...
kenapa tak tunggu dulu sampai dia mendapat ikan lebih banyak, huh?
Itu betul, kau tak menggunakan otakmu!
Kau memang idiot!
Kau ini pencuri yang bodoh!
Nggak usah berdebat, kalian berdua memang idiot.
Hey, kawan-kawan.
Berhenti!
Apa kalian berdua baru pulang dari pesta seks?
Hey, kubilang berhenti!
Jangan.
Mereka menangkap banyak ikan.
Ikannya untuk kami 'kan?
Kembalikan!
Jangan!
Menyingkirlah, brengsek!
Si bisu ini seksi juga.
Kau!
Chang!
Chang!
Phet! Lek!
Apa kalian tak ada kerjaan lain selain mabuk-mabukan tiap hari?
Pulang sekarang!
Cepat pergi!
Kau ini tak punya istri atau apa?
Kau membuatku malu lagi, Chin.
Hati-hatilah atau kurontokkan gigimu!
Apa kau siap pergi ke bangkok, Yod?
Aku sudah katakan pada ayah kalau aku tak akan pergi.
Tidakkah kau ingin merubah hidup kita dari kemiskinan?
Aku suka aroma tanah disini...
udara yang bersih...
dan sebuah kehidupan yang sederhana.
Yod, aku tak bisa ijinkan kau menikahi Bua.
Ayah, kita sudah bicarakan hal ini.
Kita akan sering membicarakannya jika perlu.
Karena kami tak ingin kau hidup dalam keputusasaan.
Apa kau mengerti?
Dasar si bisu!
Dasar jalang tolol!
Apa jadi bisu saja tak cukup?
Betapa miskinnya kau dan ibumu?
Bahkan kau tak bisa beli pisang ini?
Ini harganya 30 Baht!
Bayar dan pergilah!
Bayar sekarang!
Tak mau bayar?
Kau sungguh mau makan pisang?
Ini!
Ayo makan!
Ingat ini, jika kau mencuri dariku lagi, aku patahkan lehermu.
Memang benar anak-anak kita saling mencintai.
Tapi aku ingin katakan, aku masih belum siap untuk menikahkan anakku.
Aku ingin kirim dia kerja di Bangkok.
No comments yet. Be the first to leave one.