نخستین 200 خط.
JAKARTA 2015
Kembali terjadi bom bunuh diri di sebuah club (tempat hiburan malam) di Jakarta.
Sementara korban diperkirakan hampir mencapai 150 orang.
Situasi kembali memanas antar kedua kubu sorban merah dan sorban hitam.
Bentrokan kembali terjadi dan kini memakan korban jiwa lebih banyak.
Khususnya dari kalangan warga sipil yang tidak terlibat.
Ribuan mahasiswa dan rakyat sipil turun kejalan.
Dan mengecam kekerasan yang terus terjadi.
Aksi tersebut justru memperkeruh keadaan dan menambah terjadinya kekerasan.
Sebuah rekaman video amatir bocor dan tersebar di dunia maya dengan cepat.
Rekaman video tersebut berisi dokumentasi aparat negara.
Menembak mati ratusan anggota dari berbagai kelompok agama garis keras.
Segala bentuk kekerasan harus dihancurkan.
Kalau saya nanti terpilih.
Saya akan buat banyak peraturan baru.
Para peserta aksi damai memberikan bunga kepada siapapun yang mau menerimanya.
Mereka mengecam penggunaan senjata api.
Oleh para kriminal maupun dari aparat negara yang semakin melewati batas.
Kami sangat mengecam penggunaan senjata pembunuh dalam bentuk apapun.
Sebuah peraturan baru pelarangan.
Penggunaan peluru tajam yang mematikan.
Dalam aktifitas penanganan kriminal.
Diterapkan di setiap level personil aparat negara.
Aparat hanya diperkenankan hanya menggunakan peluru karet.
Yang hanya dapat melumpuhkan target mereka.
Sudah waktunya Indonesia berubah.
''Hidup kebebasan''
Tahun 2026 revolusi berakhir
Indonesia menjadi negara liberal yang terlihat damai
Dan anti kekerasan.
Agama mempunyai citra buruk Di mata negara dan masyarakat
Karena dianggap sebagai pemicu
Perang dan kekerasan.
Hak asasi menjadi prioritas.
Aparat negara tidak diperbolehkan menggunakan peluru tajam
Kemampuan bela diri menjadi kebutuhan yang Sangat penting untuk para penegak hukum, Maupun pelanggar hukum.
Beberapa orang memiliki kemampuan bela diri di atas rata-rata.
A L I F
JAKARTA - 2036
DISTRIK - 2
Apa yang anda lakukan Kapten?
Hei bocah...
Ini sangat-sangat gak masuk di akal gue.
Siapa tahu mereka pakai senjata beneran dan peluru tajam.
Sementara kita pakai peluru karet?
Peluru tajam itu ilegal Kapten.
Gue itu cuma gak mau mati konyol di dalam sana kena peluru tajam.
Hei bocah...
Hei...
Silahkan tangkap dan lumpuhkan siapapun yang berhasil keluar.
Siap!
Bosan hidup nih anak.
Letnan Alif.
Sang idealis yang ambisius.
Apa yang bisa saya lakukan untuk kamu?
Untuk saya, anda bisa pakai itu.
Saya ganti pertanyaannya!
Berapa...
Berapa yang harus saya berikan untuk kamu untuk pasukan kamu, hah?
Gak semuanya bisa dibeli dengan uang!
Semua orang bisa dibeli!
Segala hal bisa dibeli!
Termasuk nyawa kita.
Nyawa orang-orang kamu hajar yang kamu bunuh.
Itu yang kamu beli.
Untuk apa?
Pangkat, jabatan atau untuk kepuasan.
Kamu yakin...
Kamu tidak mau bekerja untuk saya?
Tenang.
Sebelum kamu menangkap saya.
Dengar dulu.
Saya punya sebuah rahasia.
Rahasia yang tidak seorang pun tahu.
Saya persis seperti kamu!
Kita berdua sama sekali tidak punya persamaan.
Dengar dulu...
Saya dulu seorang idealis.
Saya tidak peduli dengan apapun.
Saya hanya bekerja untuk bangsat...
Malam, Pak.
Bapak di tunggu Kolonel di ruangannya.
Terima kasih, Pak.
Kamu punya bakat dan kemampuan luar biasa dalam bertempur.
Tidak ada dua dan saya akui itu.
Tapi kamu tidak bisa terus-menerus seperti ini.
Kita ini bekerja dalam satu tim.
Tim yang punya susunan organisasi.
Ada garis komando.
Ada garis perintah.
Atasan saya, Pak!
Dia yang terlebih dahulu melanggar peraturan bukan saya.
Apa kamu punya bukti?
Kenapa coba kamu yang melihat dia menggunakan peluru tajam.
Sedangkan anggota lain tidak melihat.
Badan pengawas akan mendakwa kamu atas pembunuhan terhadap tuan Sunyoto.
Bukan saya yang bunuh dia, Pak!
Itu saya tahu!
Tapi kan kamu juga tidak melihat, siapa yang membunuh dia?
Kalau dia mati dalam perkelahian.
Karena benturan, patah-patah tulang itu masih bisa ditolerir.
Tapi kepalanya tertembus peluru tajam.
Ini fatal.
Pelanggaran hak asasi berat.
Mereka mau mendakwa pakai apa, Pak?
Dia tertembak dari luar, senapannya aja tidak ada disitu?
Senapannya sudah ditemukan.
Ada di ruangan yang kamu hancurkan itu.
Kamu sudah saya anggap sebagai anak sendiri.
Saya tahu kamu luar dan dalam.
Cobalah kompromi sedikit.
Kali ini ancaman hukuman buat kamu.
Bukan saja pangkat kamu akan di turunkan.
Tapi kamu juga bisa di penjarakan.
Bapak tahu pangkat gak penting buat saya.
Lalu apa yang penting buat kamu?
Menumpas kejahatan Pak, itu yang paling penting buat saya.
Seberapa besar pun kejahatan yang kamu tumpas dan seberapa banyak pun.
Penjahat yang kamu bunuh atau kamu tangkap.
Itu tidak akan pernah menghidupkan lagi orang tua kamu.
Paham!
Kita sudah selesai di sini, Pak.
Dengan terpaksa...
Kamu saya bebas tugaskan 2 minggu.
Alif.
Mim.
Alif rumahmu kebakaran, Lif!
- Rumahmu kebakaran! - Permisi.
Abiii...
- Abiii... - Alif, tenang!
- Umiii... - Alif, istighfar...
- Istighfar... - Abiii...
Astagfirullahaladzim.
Istighfar...
- Istighfar... - Abiii...
Tolongin ane.
Mami, mami...
Lu tahu kan...
Gue berhak tembak orang yang masuk ke rumah tanpa ijin.
Peluru karet aja sok nembak-nembak lu.
Lu ceroboh sistem keamanan lu gampang banget di jebol.
Mungkin lu yang kurang latihan Lam, baru beberapa jurus udah bisa gue jatuhin.
Lupa ya...
Jaman sekarang kalau mau berantem pakai internet perang lewat media.
Yang jaringannya kuat yang menang.
Otot sama peluru gak nyambung banget.
- Inih... - Iya.
Berapa orang yang lu bunuh hari ini?
Itu tidak lucu, Lam! Nyawa orang jangan jadiin candaan.
Bukannya kalian yang selalu jadiin nyawa orang becandaan.
Kalian?
Aparat negara!
Yang punya kewenangan untuk membunuh, asal jangan pakai senjata api.
Sinis dan skeptis pada ke aparat negara udah balik lagi jadi tren.
Gue pikir itu tren 10, 20 tahun yang lalu.
Setiap ada penggerebrekan, penumpasan kejahatan.
Selalu ada korban yang meninggal karena peluru tajam.
Setahu gue, peluru tajam udah di larang.
Katanya peluru tajam itu punyanya para kriminal.
Kenapa bisa nyasar ke kepala mereka ya!
Setahu gue, lu itu jurnalis Lam bukan detektif.
Tulis berita yang ada aja, gak usah asumsi yang macem-macem.
Ntar bikin rame bikin kacau.
Atau itu yang mau lu cari buat bahan jualan kantor lu.
Dunia kriminal tak sesederhana di film-film & koran-koran, Lam.
Yang selama ini kita lakukan, yang gue lakuin itu demi keamanan bangsa.
Siapapun yang jadi ancaman bagi rakyat dan negara harus dihancurkan.
- Apa pun pengorbanannya? - Apa pun pengorbanannya!
Walaupun ngorbanin nurani lu sendiri?
Ini Lam...
Ini yang bikin gue tetep waras sampai sekarang.
Ini yang ngejaga gue biar tetep punya ini.
Ngasih duit ke istri dan korban misil-misil, sampai kapan?
Kapan lu harus nglakuin sesuatu yang sebenernya lu gak suka.
Bahkan gak setuju.
Sampai kapan otak lu terus berantem sama hati lu?
Kapan sih Lam, hati dan otak pernah berhenti berantem?
Bukannya itu ya pertempuran sebenarnya dalam hidup ini!
DISTRIK 5
Bantu gue sekali lagi dong.
Gue perlu tahu siapa dia?
Siapa keluarganya?
Keahlian gue nyari informasi, keahlian lu bunuh orang gitu ya?
Lam, ini di luar kepentingan kantor.
Gue gak bisa manfaatin fasilitas kantor untuk yang ini.
Walaupun kantor lu yang bikin lu kayak gini?
DISTRIK 5
Gue ada pertanyaan dari dulu.
Biasanya di depan sofa itu TV, kenapa jendela ya?
Katanya TV adalah jendala untuk melihat dunia.
Gue udah trauma di bohongi terus sama TV.
Ya gue lihat jendala aja langsung, apa masalahnya!
Sinis dan skeptis terhadap media junalistik udah jadi tren lagi ya.
Gue pikir itu tren 10, 20 tahun yang lalu.
Jangan kaget ya liat datanya, semoga berguna.
Assalamualaikum.
Waalaikumsalam.
Hei, Nona cantik!
Lepas...
Lepas...
No comments yet. Be the first to leave one.