نخستین 200 خط.
1916
Parit perlindungan tidak seburuk ini.
Benar-benar biadab.
Baik sekali memberi kita burung.
Setelah menembak 200?
Ya. Sangat dermawan.
Ke mana tujuanmu?
Aku sedang bertugas.
Aku di belakangmu saat kau memberi kabar itu.
The Choral mencari orang.
Audisi.
Efek perang. Lelaki berkurang.
Habis?
Sekat kasta mulai runtuh. Akhirnya.
Tapi ingat...
mustahil ada revolusi di sini.
- Ramsden? - Inggris.
Kita cuma umpan,
dan akan di barisan depan.
Maaf, Bu.
- Dari siapa, Mak? - Raja.
Aku turut berduka.
- Harusnya kau masuk, Lofty. - Tidak...
Begitukah?
Duka adalah sebuah kesempatan.
Awas!
Perhatikan jalanmu! Berandalan.
- Terima kasih atas kebaikanmu. - Tidak! terima kasih.
FYTTON'S SENIMAN FOTOGAFI
Sudah keberapa orang ini?
Dua belas? Empat belas?
Aku sudah lupa hitungannya.
Tenang!
Tapi ingat, ada harga khusus untuk anggota baru.
Aku akan kaya mendadak jika mereka dipulangkan.
- Siapa? - Mayatnya. Aku pasti girang.
Ah, kau ini, Herbert!
Audisi St Matthew Passion. Cepatlah.
Anak muda.
Pak Trickett.
Bukannya kau anggota paduan suara?
- Dulu, Pak. - Mengapa berhenti?
Suaraku pecah.
Masih bisa menyanyi?
Sedikit. Kenapa, Pak?
Aku dan Pak Trickett anggota Choral.
- Kami pengurusnya. - Ada audisi sekarang.
- Di Jubilee Hall. - Aku dan dia?
Siapa saja. Kau bisa menyanyi?
Bisa. Menari juga bisa jika perlu.
- Tak perlu di Matthew Passion. - Jangan malu. Kami tidak galak.
Mungkin aku iya.
Sejujurnya aku kurang berminat,
lagipula, mereka sangat pemilih.
Tapi karena sekolah malam tutup, aku jadi luntang-lantung.
- Kenapa tutup? - Gurunya ikut berperang.
Tetap saja aku malas.
Perserikatan Choral itu.
- Aku juga tidak minat. - "Biarkan rakyat bernyanyi"?
Untuk apa? Tidak mengubah nasib.
Keadaan tetap akan begini saja.
Permisi, apa di sini tempat audisi?
- Paduan Suara Ramsden? - Sepertinya benar, ya.
Bahkan kami baru saja mau masuk.
Cukup. Kami sedang sibuk.
Aku datang ikut audisi. Mary Lockwood.
Silakan duduk, Nona.
Kukira dia mau minta sumbangan.
Organisasi Keselamatan memang selalu begitu.
Karena topimu itu.
Mengganggu mereka.
- Kau tidak pernah melepasnya? - Tidak.
Saat tidur pun tidak?
Kami kontralto. Kamu juga?
Aku... Aku cuma suka menyanyi.
Sana, tempatmu di sana. Kami tidak ikut audisi.
- Benar kan, Vera? - Ya, kami anggota lama.
Kami ini tulang punggungnya.
Terima kasih, Nona Proctor.
Nona Holmes, giliranmu.
Oh, halo.
Ini pacar Clyde. Dia hilang dalam tugas.
- Ada kabar terbaru? - Tidak ada.
Dia tenor terbaik yang pernah ada.
"Dulu"? Dia cuma hilang. Belum tentu gugur.
Dia masih pacarku.
Ya, dia pasti kembali.
Semoga tidak dalam waktu dekat.
Sudah, sudah cukup.
Sebelum dilanjutkan...
ada beberapa wajah baru di aula hari ini.
Sebaiknya perkenalkan dirimu.
- Apa? - Beritahu mereka siapa kamu.
Mereka sudah tahu aku.
Bukan begitu. Majulah.
Aku Alderman Duxbury. Kalian mengenalku dari pabrik penggilingan.
Tapi ini Choral, bukan pabrik.
Di sini posisi kita setara.
Oh, ya?
Bukan aku yang harus kalian waspadai.
Tapi pemimpin kor kita, Pak Pollard.
Turuti dia, maka kalian akan aman.
Intinya, jika kalian beruntung dan terpilih nanti,
kalian harus menjaga sikap dengan semestinya.
Kuharap ucapanku sudah jelas.
Tenang Pak Duxbury, aku punya sisi religius juga.
Hei bocah, badanmu penuh jelaga.
- Aku baru dari pabrik, Pak. - Pabrik siapa?
Punya Bapak.
Baiklah. Siapa berikutnya?
Mau ikut perang?
Mengapa sekarang?
Aku merasa ini tugas patriotik.
Kenapa tidak tunggu surat panggilan?
Itu juga tetap patriotik.
Jadi bagaimana? Mereka ini kita terima atau tidak?
- Beberapa gadis itu lumayan. - Bukan gadis yang kita cari.
Para pemuda itu lumayan juga.
"Lumayan"?
"Lumayan"? Ini grup Choral.
Suara mereka kuat. Hanya butuh sedikit bimbingan.
Nah, ini dia saatnya.
Sebaiknya aku...
Joe.
- Pak Pendeta. - Tuhan bersamamu.
- Pak Trickett. - Semoga beruntung, Nak.
Kuharap dia bisa membuat Jerman gemetar melebihi saat dia melatih soprano.
Gilbert.
Ingat baik-baik, Gilbert.
Jangan jadi yang pertama.
Dalam hal apa?
Bertempur. Atau apa pun.
Tenang saja, Pak Duxbury. Aku terlalu cerdik untuk tertembak.
Aduh, bukan maksudku begitu...
- Maksudku bukan... - Sudah.
Berangkatlah, semoga beruntung.
Kami akan cari pengganti selama kau pergi.
Siap, Gilbert? Jangan bergerak.
Bagaimana kalau Arthur Fox?
Neville Widdop?
Tidak tegas. Choral butuh ketegasan.
Masih ada Irvine Price.
Aku tidak setuju dia ada di sini.
Dia duda cerai.
Aku akan sebutkan satu nama.
Tapi jangan langsung kalian tolak.
Siapa yang mau menolakmu?
Belum ada. Tapi saat aku bicara nanti...
Ada apa, Margaret?
Aku mendengar suara-suara.
Ini suara pengurus, Sayang. Kan sudah kubilang.
Kami mencari pelatih kor yang baru.
Pollard bodoh itu pergi ikut berperang.
Masuklah ke kamar, Sayang.
Kami tidak akan mengganggumu.
Ayo katakan, Joe.
Apa?
Nama calonnya. Sebutkan saja.
Dr. Guthrie.
- Apa? - Henry Guthrie.
Tidak. Jangan dia.
- Dia sudah kembali. - Aku tahu itu.
Lagipula, dalam keadaan normal,
dia tidak akan sudi melatih kita.
- Bukankah Guthrie itu...? - Benar.
Dia memilih tinggal dan bekerja di Jerman.
Demi karier musiknya. Itu wajar.
Di sini pun banyak peluang. Tapi dia lebih suka Jerman
karena paduan suaranya lebih hebat.
- Itu pengkhianatan. - Dia luar biasa saat di Leeds.
Tapi dia dibenci.
Orang-orang takut padanya.
Dia seorang ateis.
Sebab itulah dia diusir dari Leeds.
Sekarang banyak orang ateis.
Di Bradford juga ada satu.
Tapi tidak memimpin Matthew Passion.
Aku pernah mendengar Requiem Mozart-nya.
Aku juga.
Sangat menakjubkan.
Kamu tidak pernah bilang.
Kita tidak bisa, Joe. Apalagi jika dia memihak Jerman.
Selain itu, ada rumor buruk lainnya.
Rumor apa?
Intinya, aku lebih suka pelatih yang berkeluarga.
Kau lebih suka Uskup Agung Canterbury.
Dia juga tidak akan mau. Dia pasti memimpin di tempat lain
yang tidak peduli akan keanehannya.
Di Liverpool misalnya.
Ternyata tidak.
Dia bermain musik di Hotel Queens.
Bakatmu sia-sia di sini.
Aku suka di sini. Tempat ini...
punya keistimewaan tersendiri.
- Kau tahu Matthew Passion? - Aku tahu.
- Selamat malam, Dr. Guthrie. - Selamat malam, Nona.
Pelatih kami baru saja pergi.
Masa-masa itu sudah berakhir.
- Mengapa? - Aku harus mencari nafkah.
Kita semua butuh uang.
No comments yet. Be the first to leave one.