نخستین 144 خط.
Sepertinya kita akan disambut oleh Legion di tempat ini, ya.
Shin!
Shin, suara ini ...!
Pergilah duluan.
Mereka akan kesulitan menemukan kalian di dalam hutan.
Maju ke depan lewat sana saja.
Oi!
Raiden, kuserahkan komando penuh padamu.
Kau ...!
Aku akan pergi mengalahkannya.
Kalau tak dibereskan, kita takkan bisa melangkah maju. Begitu juga denganku.
Selain itu ... aku merasa dia takkan membiarkanku lolos.
Padahal kau sendiri yang bilang kita akan bertarung bersama.
Jangan bercanda! Siapa juga yang akan menurutimu?
Kalau memang tak ada pilihan lain, biar kami bereskan keroconya.
Cepat selesaikan urusanmu!
Dasar tolol.
Kau pun sama!
Jangan sampai mati, ya.
Aku menemukanmu, lo ....
Kakak!
Ini enggak beres!
Mereka seakan memisahkan kita dari Shin!
Ini ... bukan cara bertempurnya Legion, 'kan?
Penggembala itulah yang mengarahkan mereka.
Dia ingin berdua saja dengan saudaranya.
Dia bisa menangkis segala tembakan, ya?
Tolong aku!
Tolong aku!
Kau ingin membunuhku dengan tanganmu sendiri, ya?
Begitu, rupanya.
Aku juga merasa sama,
Kakak.
Aku sedang mengisi ulang! Tolong kover aku!
Lagi? Sebenarnya sudah berapa banyak peluru yang kita gunakan?
Memangnya kita sempat menghitungnya, kah?!
Tidak apa-apa. Jumlah mereka tinggal sedikit—
Sepertinya mereka tak berniat mundur sama sekali, ya.
Bukan masalah!
Ayo habisi mereka!
Letnan Shuga, kupinjam mata kirimu, ya!
Akhirnya tiba!
Misil telah diluncurkan! Bersiaplah!
Ternyata bantuan darimu, ya, Mayor Milize.
Benar, itu dari aku.
Maafkan keterlambatanku, semua unit.
Kau ini benar-benar bodoh, ya!
Sebenarnya apa yang kau pikirkan?! Berbagi penglihatan seperti itu?!
Aku hanya memastikan misilnya.
Ah, aku menutup mata kiriku supaya konsentrasimu tak terganggu,
jadi kamu tak perlu khawatir.
Apa kau tak tahu kalau Handler bisa mengalami kebutaan kalau melakukan itu?!
Selain itu, yang barusan itu artileri, 'kan?
Kau bahkan tak punya izin memakainya!
Memangnya kenapa?!
Kebutaan itu urusan nanti.
Dan aku takkan mati hanya karena melanggar penggunaan artileri.
Lagi pula, republik tak bisa diajak bicara secara rasional.
Aku tak punya niatan untuk menuruti kesarapan mereka.
Seharusnya sedari awal aku melakukan ini.
Kau ini ... benar-benar bodoh, ya.
Bukan berarti aku melakukannya demi kalian.
Kalau jumlah sebanyak ini menerobos front terdepan, republik bisa dalam bahaya.
Aku bertempur karena aku tak ingin mati.
Aku akan menekan jumlah bala bantuan mereka.
Jadi, tolong hadapi lawan di depan kalian saja.
Iya, serahkan pada kami.
Bagi kami, ini sudah biasa.
Di mana Kapten Nouzen?
Dia sedang saling bunuh dengan kakaknya.
Itulah tujuan Shin.
Dia tak lagi mendengar suara kita.
Pasukan musuh mulai mundur!
Mantap!
Berhasil!
Kapten Nouzen!
Kapten Nouzen!
Tolong jawab aku!
Shin!
Shin! Bangun, anak tolol!
Apa itu?
Sial! Takkan kubiarkan!
Tapi, apa yang akan kita lakukan?!
Letnan Dua Kukumila.
Amatilah posisi musuh seakurat mungkin, lalu kirimkan datanya ke sini.
Hah?
Kuserahkan jalur misilnya padamu.
Kamu hanya perlu menunjukkan titik tembaknya.
Hei, itu terlalu ...!
Kau ingin membombardirnya?!
Kalau sedekat itu, Shin juga akan kena!
Aku punya ide.
Aku juga tak ingin membiarkan Kapten mati.
Padahal aku sudah cukup menahan diri, tapi tak kusangka dia serapuh itu.
Mungkin aku jadi melukainya ...
... tapi, aku akan meminta maaf nanti.
Akhirnya ....
Akhirnya kau kembali pada diriku.
Sekarang kita bisa bersama.
Aku akan membacakan buku untukmu lagi.
Jadi, pertama-tama tubuh manusia itu ...
... perlu dibuang dulu.
Dasar para serangga!
Percuma saja!
Dasar para sampah!
Kalian ingin Shin ikut terkena, ya?!
Aku akan melindungi Shin!
Padahal kamu ingin melindunginya ....
Ya, itu benar!
Aku harus melindungi Shin!
Dia adik kesayanganku!
Padahal ingin melindunginya ...
... tapi, kamu justru ingin membunuhnya lagi?
Aku ....
Aku ....
Misilnya tak meledak?
Semua misil mengenai sasaran.
Tapi, itu takkan cukup untuk mengalahkannya!
Kita harus segera melakukan sesuatu!
Sinyal Kapten Nouzen telah kembali!
Oi, Shin! Bangun, anak tolol!
Mau tidur sampai kapan?!
Shin!
Kematian ayah dan ibu ....
Dan juga kematianku nanti ....
Segala-galanya adalah dosamu!
Kakak masih belum memaafkanku.
Hingga sekarang.
Karena itulah ....
Karena itulah ...
... kamu ingin mengistirahatkan kakakmu, 'kan?
Shin!
Aku ....
Dirimu ....
Selamat tinggal, Kakak.
Begitu, ya.
Kau ...
... sudah tak perlu kugendong lagi.
Maaf, ya.
Kakak?
Shin.
Shin ...!
Shin.
Shin.
No comments yet. Be the first to leave one.