نخستین 200 خط.
Program ini mengandung muatan luka parah yang mungkin mengganggu.
Program ini mengandung muatan luka parah yang mungkin mengganggu.
Program ini mengandung muatan luka parah yang mungkin mengganggu.
Pemirsa diharap bijak.
Pemirsa diharap bijak.
Kosta Rika. Rimbun, hidup, mematikan.
Salah satu lingkungan terkeras di Bumi
dan rumah bagi ribuan spesies flora dan fauna,
banyak yang bisa membunuh.
Produser TV petualang, Steve Rankin, di sini untuk mencari
bagian terpencil di rimba untuk acara realita sintas.
Aku sudah tiga bulan di jalan...
Produser Televisi
...di banyak tempat di dunia,
Tanzania, Maladewa, dan Panama.
Aku baru mendarat di Kosta Rika malam sebelumnya,
tidur beberapa jam, lalu segera mencari.
Aku selalu antusias di lokasi baru,
dan keragaman hayati di sini luar biasa.
Kali ini aku sedang prima.
Aku punya kerja hebat dan bepergian dengan tunanganku.
Kami jatuh cinta. Jackie ingin ikut,
jadi setidaknya kami bisa bersama,
atau aku tak akan melihatnya selama enam bulan.
Ini waktu hebat dalam hidup kami.
Membuka jalan dalam bab baru hidupku.
Pagi-pagi, sekitar pukul 08.00,
dan aku pergi bersama tim,
mencari lokasi sintas potensial untuk peserta acaranya.
Kru kupilih langsung.
Mereka orang terbaikku. Chris orang logistik kami.
Dia menangani hubungan kami dengan tim lokal,
transportasi, kru,
jadi dia tulang punggung operasi.
Hubungan Steve dan aku hebat.
Manajer Produksi Televisi
Kami saling bercanda.
Kami selalu bergembira. Dia segera jadi sahabat.
Tujuan kami berkeliling area,
mencari beberapa tempat di mana peserta menyintas,
lalu muncul sesudahnya, di dekat pondok kru,
mengakhiri dan makan malam. Hari ini jelas lebih lama.
Pemandu lokal Gerhard dan Pompeo memimpin dengan parang, saat produser
Matilde, mencatat tantangan lingkungan yang akan dihadapi peserta.
Kami menembus rimba, melintasi lembah sungai terjal,
dan hari ini indah.
Bisa kudengar burung dan airnya
di sungai kecil di dasar lembah.
Terasa sangat damai, dan aku cemas itu akan
kurang berbahaya bagi para peserta.
Kupikir mungkin terlalu mudah.
Lokasi ini rimba sejati.
Saat berbelok,
melihat air terjun indah,
tetapi setiap kali ada ranting patah,
langsung panik.
"Aku diikuti?" Tak pernah tahu ada apa
dalam setiap langkah kami.
Kami di lokasi terpencil. Tak ada jalur.
Aku hanya mengikuti orang di depan,
dan ada pohon tumbang di depan yang harus dilewati.
Aku memanjat batangnya dan menunduk,
"Ya, aman," dan melompat turun,
dan begitu kaki kiriku mendarat,
ada sengatan sakit!
Aku berteriak, "Aku digigit ular!"
Ular!
Lalu kudengar Steve berteriak.
Aku langsung berpikir dia bercanda, jadi kususul,
dia menoleh dan melihatku.
Aku digigit ular!
Aku lengah dan berpikir, "Serius?"
Mungkin saja duri atau ranting tersangkut di sepatunya.
Jika itu duri,
pasti terasa saat mendarat atau sebelumnya.
Jelas mendarat setelah mendarat, jadi ada yang menyerangku.
Bukan aku yang serang.
Kulihat matanya berputar,
dia melihatku dan bilang, "Aku serius. Terasa kakiku kena."
Saat itu aku tahu ini serius.
Aku Emily Taylor, Profesor Biologi dari Politeknik California,
pemilik Layanan Ular Pesisir Tengah (CCSS).
Dr. Emily Taylor meneliti ular seumur hidupnya,
dan dia akan bilang ada masalah humas.
Kurasa ular
mungkin hewan paling merusak sedunia,
dan paling salah dipahami.
Misalnya, ular tak mau mematuk orang. Untuk apa?
Bisa itu untuk mangsanya.
Bagi ilmuwan seperti Emily,
pertanyaannya adalah kenapa ular ini mematuk Steve?
Ada dua alasan kenapa ular
tak sengaja mematuk orang. Satu, karena mengira itu mangsa.
Dua, untuk pertahanan, karena mengira
mamalia berkaki dua ini akan menyerang.
Saat ini aku sangat sadar.
Adrenalinku melesat.
Semua terjadi dalam gerak lambat.
Aku langsung berpikir, "Apa menembus sepatu?"
Jadi, kulepas sepatu kiriku,
dan di kaus kaki ada darah,
"Jelas aku digigit." Satu taring.
Itu termasuk biasa.
Saat ular menyerang, mulut terbuka, dan taringnya,
yang biasa terlipat dan tersimpan rapi,
melebar dari kepala ke samping.
Jika mengedip, pasti terlewat.
Bisa saja kakinya hanya kena satu taring,
karena menyamping.
Bisa jadi sepatunya menangkis satu taring,
karena taring cukup rapuh.
Mudah patah dan selalu tergantikan.
Aku langsung berpikir, "Ini hebat. Hanya gigitan kecil.
Kedua taring tak masuk." Lalu aku terpikir,
"Bagaimana satu masuk dan satunya tidak?"
Kami melihat sepatunya, dan melihat ada lubang kuras kecil
di samping sepatu, jadi kami duga
dari situ masuknya. Bicara soal kesialan.
Aku berharap
bahwa dengan satu luka menembus sepatu,
mungkin kering. Mungkin hanya gigitan peringatan.
Sayangnya, jarang gigitan kering.
Jika mujur menjadi orang langka yang digigit kering,
maka jelas menghindari bahaya.
Gigitan kering saat ular mematuk,
dan taringnya menembus kulit, tetapi tak ada bisanya.
Ular ini bisa mengatur banyaknya bisa
yang disuntikkan, dan apa memang disuntikkan.
Namanya pengukuran bisa, dan jelas
ular tak mau menyia-nyiakan bisa
pada manusia, agar bisa menggertak dengan mematuknya,
lalu tak memakai bisa, yang akan jadi hal terbaik.
Kami berharap itu gigitan kering, tak ada bisanya,
dan Pompeo berkata, "Chris, cari ularnya."
Dengan 23 spesies ular berbisa
di rimba Kosta Rika, mencari ularnya sangat penting
untuk menentukan butuh antibisa apa.
Aku segera berpikir, "Satu, aku tak mau lihat ularnya.
"Dua, aku tak mau dekat-dekat. Lalu tiga,
bagaimana jika kutemukan?" Yang tak terpikir adalah jumlahnya
di dekat kami, dan karena mereka tak terlihat.
Mereka mirip daun, ada di mana-mana.
Aku pawang ular profesional,
dan sering tak melihat mereka.
Saat menggelung di antara dedaunan, mereka seperti tanah.
Mereka hidup dari kamuflase.
Mereka sama cemasnya akan dimakan
oleh pemangsa, seperti burung kecil. Terkadang kita menunjuk satu
dan menunjukkan kepada orang, dan tetap saja tak terlihat.
Aku lompat ke batang ini
dan mulai mencari di semak. Lalu kulihat.
Aku memanggil Pompeo dan dia melihat ularnya.
Kudengar Pompeo berkata, "Terciopelo."
Kutanya itu apa, dan Gehard bilang, "Fer-de-lance."
Ular pit viper, salah satu paling berbisa
dan mematikan di Kosta Rika.
Sial, aku digigit itu?
Wah.
FER DE LANCE - MURA
Terciopelo, nama lokal untuk ular fer-de-lance,
umum ditemukan di Amerika Latin.
Fer-de-lance termasuk keluarga pit viper mematikan,
yang mencakup bushmaster, mokasin, dan ular derik.
Banyak orang mati akibat gigitan fer-de-lance.
Pit viper bisa menyerang cepat.
Karena besar, serangannya relatif jauh.
Fer-de-lance punya dua kekuatan super dari evolusi.
Ada lubang inframerah
dan mereka bisa melihat hal hangat
di malam hari, termasuk pengerat kesukaannya,
dan sayangnya, juga kaki manusia yang lewat.
Lalu juga ada bisa,
yang bisa sangat cepat meracuni,
lalu melepas, karena pengerat yang menggeliat bisa melukai mereka.
Pengerat yang terkena bisa pergi dan mati di tempat lain,
lalu hal tergilanya adalah fer-de-lance bisa
mengikuti jejak bau pengerat itu,
dan membedakan jejak bau pengerat itu
dari pengerat lain tanpa bisa.
Mereka makan pengerat dengan bobot sama dengannya,
tanpa menggigit, tanpa dipegang.
Luar biasa kemampuannya.
Aku digigit ular mematikan,
entah akan bagaimana, dan bisa mulai kurasakan
sensasi berdenyut di kakiku.
Mencemaskan, karena tahu itu gigitan berbisa.
Rasanya aku sadar bukan gigitan kering saat Steve mulai panik.
Jantungku berdebar-debar. Aku terengah-engah. Ketakutan.
Saat itu waktu menipis.
Steve harus kembali.
KOSTA RIKA
WILAYAH ORANGE CALIFORNIA
California Selatan, salah satu area terindah
di AS, dan juga terpadat penduduknya,
di mana umat manusia yang terus menggerogoti alam
bisa berdampak merusak.
Mantan Marinir, Anne Hjelle, bertemu temannya,
Debi Nicholls di Taman Alam Liar Whitting Ranch,
tempat sepeda gunung populer di Wilayah Orange.
Aku pelatih pribadi. Aku tinggal di California
No comments yet. Be the first to leave one.