نخستین 200 خط.
=Little Mom=
Seumur hidup,...
aku tidak pernah membayangkan ada di situasi seperti saat ini.
Di usiaku yang masih remaja.
Pelan-pelan dorongnya, Sayang. Lagi, tarik napas.
Ya.
Situasi ini, situasi yang membuat kacau hidupku.
Cita-citaku.
Juga masa depan yang sudah kurencanakan sejak kecil.
Sedikit lagi. Sedikit lagi.
Sedikit lagi, Sayang.
Satu, dua, tiga. Ya, dorong.
Ini untuk meja tiga, ya.
Ya.
Nanti tambah dua lagi. Lanjutkan.
- Naura? - Ya, Ibu?
- Ya? - Antarkan ini ke meja tiga, ya.
Pelan-pelan saja, jangan buru-buru, ya.
- Terima kasih. - Siap, Bu.
Ini aku sebelumnya.
Penuh dengan cita-cita.
Silakan.
Terima kasih.
- Bibi, kenapa? - Tolong.
Pak! Tolong!
- Kenapa, Mbak? - Rumah sakit!
- Rumah sakit? - Aku mau melahirkan!
- Tolong! - Ya, Pak!
Ayah, katanya ibu itu harus dioperasi, ya?
Kalau tidak, bisa membahayakan ibu dan bayinya.
Operasinya seperti apa, Yah?
Naura.
Naura ingat tahun lalu Naura operasi usus buntu?
Operasinya Naura itu mengeluarkan penyakit.
Kalau operasi yang dijalani ibu ini...
itu untuk mengeluarkan bayi.
Menyambut kelahiran bayi ke dunia.
Menyambut kebahagiaan.
Sejak itu, aku memutuskan apa yang menjadi cita-citaku.
Ya, menjadi dokter kandungan.
Menolong ibu dan bayi.
Berlipat ganda pekerjaannya dan kebahagiaannya.
Aku teguh pada cita-citaku...
dan yang namanya belajar, sudah menjadi hobi untukku.
Ayah bilang...
membesarkan anak yang ingin jadi dokter...
juga harus tahan banting secara finansial.
Ayah akan jual rumah ini...
dan kita akan mulai lagi semuanya dari awal.
Nanti kita akan pindah ke ruko.
Yang lokasinya lebih strategis.
Tugas Naura cuma satu.
Belajar yang rajin.
Paham? Satu lagi.
Naura sudah mulai remaja.
Naura berjanji kepada Ayah.
Naura jangan punya pacar dulu.
Ayah tidak mau nanti fokus belajar Naura terganggu.
Naura janji, Bu, Yah.
Naura akan fokus belajar.
Janji.
Janji yang setiap hari aku ingat.
Hingga aku bertemu dengan dia,...
jatuh cinta, dan mengabaikan janjiku.
Itu...
adalah awal mula dari kekacauan di hidupku.
Dua tahun yang lalu, ketika aku umur 16.
Yuda!
Yuda!
- Apakah kita akan menang? - Pasti menang, ada Yuda.
Yuda itu pangeran dari kahyangan. Aku ingin menjadi pacarnya.
- Aku juga. - Yuda!
Sepertinya kita sudah pasti akan menang. Ya, 'kan?
Ya, pasti! Ada Yuda gebetan Celine begitu.
Sudah peringkat satu se-IPS,...
mau direkrut jadi atlet profesional pula!
Pokoknya keren sekali!
Cipta Bangsa!
Cipta! Bangsa! Kita adalah satu!
Katakan! Cipta! Bangsa!
Ya ampun, tadi seru sekali.
- Aku setuju. - Ya, 'kan?
Sebentar, ya.
- Bagaimana tadi? Seru? - Tya, Rika, pergi dulu, ya!
Aduh!
Maaf.
- Pak, ke Pondok Indah, ya. - Baik.
Bapak, ini ponsel siapa?
Aduh, itu ponsel si mbak yang tadi itu tertinggal.
- (Kau bilangnya ke mana?) - (Belajar kelompok.)
- (Sampai kapan kita sembunyi begini?) - (Aku tidak tahu.)
(Masa, di sekolah tidak ada yang tahu kita pacaran?)
(Kalau sekolah tahu, otomatis orang tuaku juga tahu.)
- Sebentar ya, Pak, biar aku kembalikan. - Baik.
Mbak?
- Mas yang tadi? - Ini ponselnya Mbak, ya?
Ya. Kenapa bisa ada di Mas?
Tadi aku menemukannya di taksi.
Ya...
- Benar punya Mbak, 'kan? - Benar.
Terima kasih ya, Mas.
Maaf tadi pesanmu tidak sengaja aku baca.
Ya, tidak apa-apa.
- Terima kasih ya sekali lagi. - Ya, sama-sama.
Aduh.
Ceroboh sekali aku.
Cantik sekali kau hari ini. Aku merindukanmu.
Sama.
Selamat ya, tadi sudah menang.
Kau keren sekali mainnya.
Terima kasih, Sayang. Yuk, kita jalan.
- Kenapa? - Sebentar dulu.
Kau yakin di sini aman? Tidak akan ada yang melihat?
Yakin. Tempat ini jauh dari peradaban anak-anak di sekolah kita, ya?
Lagi pula, kenapa memangnya kalau ada yang melihat?
Aku ingin sekali semua orang tahu kalau kau pacarku.
Yuda, tolonglah.
Tidak. Aku hanya bercanda, ya?
Ya sudah. Ayo.
- Ya ampun. - Ayo.
- Hujannya deras sekali. - Lumayan. Sebentar, ya.
Sini, aku bantu pegang.
Ya ampun, aku sampai basah kuyup.
- Iya, parah. - Hujannya sangat deras.
Sebentar.
Jadi, kau tidak ingin ikut orang tuamu ke Jepang?
Tidak. Aku mau menyelesaikan sekolah di sini.
Lalu, setelah lulus, aku mau jadi atlet basket profesional.
Memangnya sampai kapan mereka di Jepang?
Ya.
- Terima kasih. - Sama-sama.
Perusahaan tempat ayahku bekerja akan membuat anak perusahaan di sana.
Ya, ekspor-impor, begitulah.
Ayahku diminta untuk memimpin.
Sebentar ya, aku mau ke ruang kerja dulu.
- Cepat. - Baik.
Dor!
Astaga! Kau ini!
Mengagetkan saja.
Aku punya sesuatu untukmu.
Apa itu?
Selamat dua bulan pacaran, ya.
Kau ingat?
Tentu saja.
Bagaimana?
Cantik sekali.
Sebentar. Aku juga punya sesuatu untukmu.
Ya?
Tentu. Memang kau saja yang ingat?
- Ini. - Apa itu?
Coba saja lihat.
Aku buka, ya.
Keren sekali.
- Kau suka? - Tentu saja.
Ini inisial kita?
Ya, aku pesan khusus.
- Keren. - Sini, aku pakaikan.
- Pakai. - Seharusnya rambutnya tak seperti ini.
Ya, makanya aku mau buka.
- Masa, mataku ditutup? - Baik, tidak.
Itu, begini terlihat bagus.
Supaya kalau kau main basket,...
keringatmu tidak akan menetes ke mata.
Terus, rambutmu juga tidak akan jatuh ke wajahmu.
- Agar makin keren. - Terima kasih, ya.
Kalung ini wajib kau pakai terus.
Supaya kau ingat kepadaku terus.
Sudah.
Bagaimana?
Bagus, ya. Bentuknya terlihat tidak biasa.
Ya, aku yang pesan desain seperti itu.
Ada namanya.
Lingkaran tak terhingga.
- Lingkaran tak terhingga? - Ya.
Cinta abadi dan selamanya.
Naura.
Apakah kau tahu apa yang membuatku jatuh cinta kepadamu?
Kau...
selalu semangat.
Positif.
Kau cinta pada pandangan pertamaku.
Yuda.
Aku mencintaimu, Naura.
Aku berpacaran diam-diam di belakang orang tuaku...
dan aku sudah melewati batas pacaran.
Bukan aku tidak tahu batasannya,...
tapi aku memang melanggarnya.
Di sinilah semuanya dimulai.
- Pagi. - Pak!
Pak! Bapak!
- Maaf, sudah tidak bisa. - Tolong, Pak!
- Masih semenit lagi, Pak. - Tidak bisa, Mbak.
Sudah peraturan seperti itu, Mbak.
Ini salahmu, akibatnya kita jadi terlambat.
Kau yang jalannya lama.
Aduh!
Terlambat, ya?
Kau?
Seperti pernah lihat, ya?
Bertemu lagi.
No comments yet. Be the first to leave one.