نخستین 183 خط.
Kita melakukan perjalanan untuk berbagai alasan.
Karena pekerjaan, liburan, bertemu teman, kekasih, atau keluarga.
Ada yang karena terpaksa, ada yang tidak.
Atau kadang, karena kita memang senang melakukannya
Karena kita tahu, sebuah perjalanan selalu mengajarkan kita melihat sesuatu.
Ada juga orang yang melakukan perjalanan dengan tujuan yang lebih besar.
Untuk cinta dalam hidupnya.
Seperti yang sedang kulakukan.
Kru pesawat, bersiap mendarat.
Sayangnya, dia tidak ada di sini. Dia batal begitu saja di detik terakhir.
Jadi, kau tidak ikut besok?
Ya, aku ada pekerjaan mendadak.
Tadi sore, aku sudah bilang ke Harris.
Dia tidak bilang padamu?
Kru pesawat, posisi mendarat.
Sebuah perjalanan selalu mengajarkan kita untuk melihat sesuatu.
Tapi jika perjalanan mengajarkan kita untuk melihat sesuatu,
kenapa ke mana pun aku pergi, yang kulihat hanya dia?
Kau tidur terus. Kita sudah sampai.
Pagi-pagi, energimu sudah menyala, Ris.
Bayangkan, Key, besok, aku…
Maksudku, kita
akan lihat Vettel tancap gas meninggalkan lawannya
di satu-satunya balap malam F1 di dunia!
Bagaimana energiku tak menyala?
Semoga hari Anda menyenangkan.
Balap malam F1, Key! Ini gila!
Akhirnya aku bisa menontonnya.
Apa yang ada di otakmu, Keara?
Kau habiskan uang yang cukup untuk membeli motor
untuk membeli tiket pesawat dan F1?
Bisa kau bayangkan? Gadis-gadis payung seksi.
Bau ban menggosok aspal, mesin 300 km per jam.
Lewat persis di depan matamu!
Kita akan jadi bagian dari sejarah. Ayo.
Sejarah? Aku tidak kemari bersamamu
untuk jadi bagian dari sejarah, Ris.
Andai kau tahu.
Terima kasih mau kemari bersamaku.
Sama-sama. Tidak masalah. Ayo pergi.
Ayo!
- - Jangan salah, kau pikir
- ini olahraga enteng? Hanya menyetir? -
Kau tahu mereka hanya pakai mesinnya sekali?
Tahukah kau saat…
Astaga, kau mau menginap berapa hari?
Kopermu beratnya seperti mau pindah.
F1!
Kenalkan sahabatku, Harris.
Mungkin perjalanan ini tidak begitu menyebalkan seperti dugaanku.
Dengan adanya dia dan kelakuan gilanya di sini.
Sayang sekali Ruly tidak bisa ikut.
Ya.
Siapakah Ruly?
Bukan siapa-siapa.
Hanya sahabat satu lagi yang tidak tahu aku sayang sama dia.
Ruly-lah yang berhasil membuatku ikut perjalanan sinting ini.
Sampai dia membatalkan di detik terakhir…
karena Denise.
Sahabatku yang lain, yang mungkin dicintai Ruly.
Selamat datang di kehidupan cintaku yang rumit.
Aku tidak akan lupa kali pertama berkenalan dengan Ruly.
Lima tahun lalu, Senin pagi pukul 08.05.
Hari pertamaku bekerja, dan aku sudah terlambat lima menit.
Keara.
Namamu Keara, 'kan?
Ya, bagaimana kau…
- Tanda namamu jatuh. - Terima kasih.
- Ruly. -
- Itu namaku. - Aku Keara.
- Ya, aku tahu. - Benar juga.
Rambutnya pendek dan rapi.
Alisnya hitam tebal. Dia terlihat tampan.
Detik itu,
lift terbuka, dan itulah kali pertama aku berjumpa dengan…
Harris.
Pertama kali aku bertemu Keara lima tahun lalu.
Senin pagi, pukul 08.10.
- Hari pertama bekerja, -
- aku terlambat 10 menit. -
- Lift terbuka dan… -
Keara masuk bersama Ruly.
Hari itu, aku mengantuk setengah mati
karena hanya tidur tiga jam.
Aku harus bangun pagi untuk pekerjaan pertamaku di bank.
Seandainya lift itu putus dan jatuh, aku tidak akan sadar.
Tapi pagi itu, saat Keara masuk, seluruh sarafku langsung bangun.
Saat itulah aku tahu…
Bahwa aku, Harris Risjad, jatuh cinta pada pandangan pertama.
Tapi, entah aku harus merasa bersyukur atau menyesal…
- Lima tahun berlalu, -
dan kini dia temanku.
- Sahabatku. -
Sahabat dekat yang selalu kudengarkan keluh kesahnya.
Suatu malam, saat dia punya masalah,
dia memintaku datang ke apartemennya.
Aku tahu tidak mungkin menjalin hubungan dengan Keara
lebih dari status persahabatan kami sekarang.
Salahku karena selalu mendengarkan keluh kesahnya.
Aku terjebak di zona teman!
Sok peduli,
tapi selalu merasa emosional setiap dia cerita.
Cerita soal masalah di kantor dan keluarganya,
kadang tentang pria yang dicintainya.
Entah siapa. Dia tak pernah beri tahu.
Dan karena sahabatku yang lain, Ruly,
membatalkan keikutsertaannya di saat terakhir,
hari ini, Keara ada di sebelahku.
Hanya aku dan dia.
Aku suka aroma parfumnya.
Gila. Kaki, paha, matanya, semuanya.
Sangat cantik.
Dan yang membuat aku hampir sakit jiwa
setiap kali bersamanya, adalah suara tawanya.
Bibirnya. Dan hari ini, bibirnya selalu terbuka.
Dia selalu tertawa bersamaku.
Bukannya aku menyombong…
Tanya saja pada semua gadis di buku teleponku.
Harris Risjad,
selama lima tahun terakhir, menjadi pria dimabuk asmara
karena seorang gadis bernama Keara.
Bahkan aku tak bisa gunakan trik kuno yang membuat gadis-gadis seperti Kinar…
dan Sophie bertekuk lutut.
- Sophie. -
Aku suka matamu.
- Sungguh? - Apa?
Aku tinggal keluarkan jurus standar,
tersenyum tanpa dosa, menatap dalam mata mereka…
meraih tangan mereka, dan bilang…
Kau tahu aku bisa membaca garis tanganmu?
- Masa? - Masa?
Berikan tanganmu.
Cuma trik lama, tapi bisa membuat para gadis menyukaiku.
Saat kucoba lakukan hal serupa
pada Keara, lima tahun lalu, di rumah yang kami sewa…
Berikan tanganmu. Ayolah.
Kau curiga sekali seperti mau ditawarkan MLM.
Kau sedang apa?
Aku pernah bilang aku bisa membaca garis tangan?
Jadi, begini.
Usaha bagus, Risjad.
Kau kira orang sepertiku bisa ditipu oleh trik kunomu,
berusaha memegang tangan, pura-pura bisa membaca garis tangan?
Ayolah. Aku bukan salah satu gadis yang bisa kau permainkan.
Sejujurnya, aku tidak meminta banyak dari Keara.
Aku hanya ingin dia menatapku selama satu detik
dan melihatku sebagai pria yang mungkin bisa dicintainya.
Norak sekali, bukan? Kata-kataku sangat norak.
Kau sedang memikirkan apa, Ris?
Daripada bengong, lebih baik kau pijat aku.
Pegal sekali.
Ya.
Aku tidak bisa melihat matanya, tapi punggungnya juga indah.
Hari itu, kali pertama aku bertemu Ruly.
Tapi jika kau tanya kenapa aku jatuh cinta padanya…
Seperti yang selalu
- ditanyakan sahabatku, Dinda… -
Sepertinya karena yang terjadi malam itu.
Aku tidak enak badan.
Apa?
Kepalaku pusing.
Aku juga.
Salah minuman.
Terlalu keras!
Ayo pulang!
- - Ris!
Ruly, tanpa berpikir panjang membantuku dan Harris di tengah malam.
Duduk di sini.
- Aku tidak apa-apa, Rul. -
Kau tak apa-apa.
Aku baik-baik saja.
Baiklah.
Sampai hari ini, aku masih ingat,
saat bangun pukul 05.00 pagi itu,
kepala dan telingaku masih berdenging
- seolah ada 50 pekerja bangunan -
mengebor bersamaan.
Aku mengingatnya. Ruly.
Di ruang tengah, salat Subuh.
Key, sudah merasa lebih baik?
Kenapa kau di sini?
Kau meneleponku, ingat?
Tidak apa-apa, Key.
No comments yet. Be the first to leave one.