نخستین 200 خط.
Goddess of Marriage
.: Diterjemahkan oleh Baalthazar :.
Final Episode 36
Hey, hey. Aku menang melawanmu.
Kau bermain terus dan tidak belajar?
Hey, aku punya kemampuan bermain game yang luar biasa.
Hey, hey. Aku menang melawanmu.
Hey, kau payah sekali. Karena ini pertama kalimu.
Shh!
Anak-anak sedang belajar. Diam. Kau harus diam.
Diam, bocah. Diam.
Tidak belajar, kau malah bermain game di sini, bocah nakal?
Aduh, sakit, sungguh.
Benarkah?!
Sial bagimu. Kita harus menelepon ibu.
Ayah!
Jangan, jangan, ayah.
Kenapa kau begini? Apa kau takut pada ibu?
Ya.
Kau tahu pada saat ibumu mengetahui...
Ya.
Kadang ayah juga takut pada ibu.
Benar.
Gyung Ho.
Maksud ayah,
Gyung Ho, tanpa omelan ibu,
ayah rasa seorang anak lebih baik belajar sendiri.
Ya, ya. Bagaimana menurutmu?
Kau, didik sendiri dirimu,
bayangkan sebuah dunia dimana tidak ada ibu mengomelimu.
Sudah datang, sudah datang.
Terima kasih.
Tolong wafelnya cepat.
Tunggu sebentar.
Dia bilang tunggu.
Apa yang kau lihat? Apa menakjubkan?
Tiap kali aku melihatnya, sangat menakjubkan.
Hey Min Jae.
Kau mau makan es krim dan wafel tiap hari?
Ya, aku ingin memakannya tiap hari.
- Begitu? Apa menyenangkan makan es krim dan wafel tiap hari sebelum berangkat sekolah? - Ya!
Setelah pulang sekolah, sebagai cemilan,
- kau hanya makan es krim dan wafel tiap hari, kau suka? - Ya!
Tidak bisa.
Karena ibu, tidak bisa.
Jika ibu tahu apa yang terjadi sekarang, akan terjadi keributan.
Jika ayah memberimu makanan instan, kau akan menjadi gendut,
sehingga kau hanya makan angin, dia akan mengomel panjang lebar.
Benar. Itu sebabnya untuk hal itu aku tidak suka ibu.
Bahkan ayah tidak suka ibu mengomel soal makanan.
Aku merasa terganggu.
Sebenarnya ayah bisa membeli mesin pembuat es krim dan wafel untuk di rumah.
Benarkah?!
Sungguh, tapi tidak bisa.
Karena ibu.
Tapi jika ibu ke New York, ayah bisa membelinya.
Tidakkah itu bagus sekali?!
Tidakkah itu mengasyikkan?! Kita bisa makan es krim dan wafel tiap hari.
Tidak perlu mengantri, cukup menggunakan mesin pembuat wafel...
Oh, Ibu.
Minumlah.
Aduh, Jang Soo.
Ibumu mabuk.
Apa maksud ibu mabuk. Kenapa ibu mabuk? Mohon terima minuman yang dituangkan oleh putramu.
Benar. Minum saja dan kemudian mati.
Ini. Ibu. Bersulang.
Bersulang.
Oh, Ibu yang terbaik. Habiskan. Habiskan.
Terbaik.
Baik sekali. Ibu.
Sebenarnya,
berat sekali hidup dengan Song Ji Sun.
Benarkah?
Hidup dengannya,
Song Ji Sun adalah wanita yang tidak bisa seperti ibuku sedikitpun.
Tidak banyak wanita yang bisa seperti ibumu, bocah nakal.
Benar sekali. Aku mengalaminya.
Aku, sungguh...
Seharusnya aku menikahi wanita seperti ibuku, tapi jika demikian aku harus hidup sendirian.
Astaga.
Jadi,
meski nasi yang ibu masak jauh lebih enak,
dan bahkan minuman beralkohol lebih terasa dan lebih menyenangkan bersamamu, ibu.
Kau anak mami, kau.
Aku bukan anak mami. Ibu memang seperti itu.
Sejujurnya, aku memikirkan ini cukup lama.
Syukurlah aku memutuskan hidup bersama ibuku. Kalau tidak apa yang akan terjadi?
Ibu menjaga anak-anak kami, memasak makanan yang enak,
dan juga ibu menjagaku.
Ibu, kau akan terus melakukannya kan?
Tentu saja.
Tentu saja. Tentu saja.
Biar kupeluk ibuku.
Benar, sayangku.
Kau memahami nilai ibumu.
Tidak ada selain kau, tidak ada hanya kau.
Jang Soo.
Tapi ibu selalu berkata hanya ada Seung Soo.
Bagaimana kabarmu?
Hingga sekarang, aku hidup sendiri.
Tentu.
Yah,
karena itu pilihanmu,
tidak ada yang bisa kukatakan.
Bagaimana kabar ayah dan ibu mertua?
Aku tidak sempat berpamitan sebelum aku pergi,
sangat mengganjal di hati.
Ayah mertua
menghadiri pertemuan pengusaha di Jakarta,
langsung ke Switzerland dan beristirahat di sana sekarang.
Ibu mertua, seperti yang kau ketahui,
dihukum 3 tahun dan sekarang dipenjara,
namun tiap hari, "Bawa ini, bawa itu,"
dia menyiksaku seperti biasanya.
Kakak ipar, kau mungkin merasa sulit.
Selama itu, terlihat seolah aku melarikan diri,
Aku minta maaf.
Tidak.
Seperti yang kukatakan tadi, masalahnya adalah pilihan.
Kau tidak bisa mengatakan segalanya pada orang lain,
dan kau tidak bisa menyalahkan orang lain. Itu pendapatku.
Saat aku kembali,
kau tidak banyak tanya,
dan kau juga tidak meminta penjelasan.
Aku sangat bersyukur pada saat itu.
Wanita muda yang penuh pengertian,
dan bijak, kurasa.
Aku juga akan begitu padamu.
Aku tidak akan bertanya.
Seperti yang selalu kita lakukan,
saling menghormati keputusan masing-masing.
Ya.
Aku mengerti.
Tapi...
Untuk terakhir kalinya ada sesuatu yang perlu diluruskan.
Antara kita yang dulu adalah ipar, sedikit agak memalukan,
tapi di keluarga kita, masalah ini harus diselesaikan.
Adik ipar, kau harus
tanda tangan di sini.
Apa ini?
Ini surat perjanjian.
Bagaimanapun kau hidup dalam rumah itu lebih dari setahun sebelum kau pergi,
Adik ipar,
dimanapun kau berada, apapun yang kau lakukan,
entah wawancara kerja,
entah situasi pribadi atau publik,
hal-hal yang terjadi di rumah itu,
ini surat perjanjian yang menyatakan kau akan selamanya tutup mulut.
Jika kau kembali menjadi penulis,
atau siaran, ada ketentuan mengenai
apa yang kau boleh katakan mengenai keluarga kita dalam segala situasi.
Aku minta maaf.
Tapi adik ipar,
ini harus kau lakukan.
Ya, aku mengerti. Aku mengerti.
Tapi benarkah,
kau tidak mau menerima tunjangan?
Ya.
Ayah mertua mengatakan agar
memberimu gedung di Myeong Dong.
Tolong sampaikan pada ayah mertua aku berterima kasih.
Ayah mertua, meski dia tidak nyaman,
tapi karena kekuranganku, dia masih memperlakukanku dengan baik.
Dia memuji
naskah yang kutulis di tim PR.
Itu sudah cukup bagiku.
Tapi bagaimanapun,
aku melukai Tae Wook saat aku pergi.
Bagaimana aku bisa menerima tunjangan?
Aku tidak berani selancang itu.
Dan...
yang terakhir, itu adalah hukumanku
Aku tidak mau menerima hal seperti itu.
Siapa membuat nyaman siapa?
Dan bagaimana bisa
dibuat nyaman dengan uang?
Hanya...
Selamanya itu akan menjadi alasan untuk saling menyakiti,
dan pengalaman seperti ini,
aku memikirkan apa artinya bagi hidupku,
dan kurasa hidupku akan berlalu.
Jadi...
ini harus kubuat nyaman sendiri
dan menyembuhkan diriku sendiri, kurasa.
Baiklah.
Itu memang seperti dirimu.
Masalahnya selalu kepercayaan.
Benarkan?
Ya.
Percaya adalah hal yang baik.
Membantu kau menentukan arah jalanmu, saat kau
mengalami masalah dan tidak mampu memutuskan.
Tentu saja,
ada harga yang harus dibayar.
Mengecewakan.
Karena arah yang kita tuju berbeda.
Kita baru saja sedikit lebih saling memahami tapi kita harus berpisah.
Kakak ipar.
Aku akan mengingatmu dengan hati yang baik.
Suatu hari,
No comments yet. Be the first to leave one.