نخستین 200 خط.
Kau harus melupakannya, Ohm.
Sudah saatnya kau bertemu orang baru.
EPISODE SEBELUMNYA
Kau pria yang sangat romantis.
Apa dia akan tetap di sini?
Ini hari ulang tahun putrinya.
Selamat ulang tahun, Jay.
- Semoga kau… - Tunggu.
Bicaralah baik-baik.
Jangan memulai pertengkaran.
Kenapa cincin ibuku ada padamu?
Ini milik ibumu?
Lepaskan!
- Ini milikku. - Kembalikan sekarang juga.
Ini milikku!
Kau baik-baik saja?
Ada apa ini?
Teganya kau melakukan itu?
Kau membuat keributan di hadapan seisi kantor.
Ayah tidur dengannya.
Ayah pikir tak ada yang tahu?
- Jay! - Seharusnya aku yang bertanya.
Teganya Ayah melakukan itu.
Meskipun Ibu meninggal sebelum melihat cincin itu,
itu tetap miliknya.
Kita bertiga memilihnya untuknya.
Ayah tak berhak.
Ayah tak berhak memberikannya kepada siapa pun.
Itu hanya cincin.
Itu bukan sekadar cincin.
Itu untuk merayakan pernikahan kalian,
kelahiranku, dan kelahiran Jee.
Itu melambangkan cinta kita berempat.
Ayah tak mengerti?
Namun, ayah sudah memberikannya.
Ayah tak bisa mengambilnya kembali.
Aku tak peduli bagaimana caranya.
Ayah bisa membelikannya cincin yang lebih besar,
lebih indah, atau lebih mahal.
Aku tak peduli.
Namun, aku minta cincin Ibu kembali.
Terima kasih.
Kau terluka?
Tidak.
Terima kasih sudah menolongku.
Jika tidak, aku pasti sudah terluka.
Coba kulihat.
Kurasa pergelangan kakimu cedera.
Kau mau ke dokter?
Tak usah.
Terima kasih.
Aku harus kembali bekerja.
Kau mungkin mendengar semuanya.
Kurasa semua orang punya alasan sendiri atas pilihan mereka.
Aku tak mau ikut campur.
- Viva. - Ya?
Di mana Gun?
Dia ada di rapat lokasi konstruksi dengan anggota dewan lokal.
Bagaimana dengan Ohm?
Entahlah.
Aku pergi saat kau pergi.
Maafkan aku.
Haruskah aku mencari tahu di mana dia?
Tunggu sebentar.
Semuanya.
Semuanya, tolong kemari sebentar.
Bisa minta perhatiannya?
Ada yang ingin kutanyakan.
Di mana Ohm?
Kalian tahu di mana dia?
Bu Jay ingin bicara dengannya.
Ada yang tahu?
Ini sudah siang.
Dia mungkin di kantin.
Benar.
Benar, Bu Jay. Ini sudah siang.
Dia pasti sedang makan.
Viva.
Lihat arlojimu sendiri lain kali.
Maka kau tak perlu memanggil seisi kantor.
Semua sudah beres, jangan cemas.
Nikmati makan siang kalian.
Terima kasih.
Halo.
Halo, Ohm.
Aku punya kabar buruk.
Mulai sekarang, kau tak boleh menghinaku.
Kau harus memanggilku Pak Vin.
Hei. Kau mendapat pekerjaan?
Benarkah? Pekerjaan apa?
Pekerjaan yang sama terhormatnya dengan pekerjaanmu.
Aku turut bahagia untukmu.
Mari kita rayakan hari ini.
Aku yang traktir. Apa pun yang kau mau.
Terima kasih, Bung. Aku harus bekerja.
Kau akan langsung bekerja?
Tentu saja. Aku sedang dibutuhkan. Aku harus pergi.
Sampai nanti.
Ini kopimu.
Terima kasih.
Terima kasih.
Ini kopi dan kuemu yang lezat.
Buatlah dirimu nyaman. Selamat menikmati.
Terima kasih.
Selamat menikmati.
Ini celemekmu.
Terima kasih banyak.
Wah.
Titipkan saja jasmu kepadaku.
Tentu.
Ini.
Ini dia.
Tolong jaga. Aku meminjamnya dari teman.
- Baiklah. - Terima kasih.
- Akan kuusahakan. - Baiklah.
Kau dalam masa percobaan selama tiga bulan.
Baiklah.
Ohm.
Aku meneleponmu sepuluh kali. Kenapa kau tak menjawab?
Aku sedang mengobrol dengan teman.
Ada yang kau butuhkan?
Tentu saja. Untuk apa lagi aku menelepon?
Jika ini soal pekerjaan, aku akan siap bicara pukul 13.00.
Sekarang pukul 12.15.
Kau harus menunggu 45 menit lagi.
Tidak.
Ada hukum tenaga kerja tentang hal semacam ini.
Kau ingin aku bekerja 24 jam sehari?
- Aku bukan ingin membahas pekerjaan. - Lalu apa?
- Ini tentang… - Astaga.
Ikan fermentasi di sini luar biasa.
Kau mau coba?
Ini, enak sekali.
Kau tak menyukainya?
Dengar. Jangan mengubah topik.
Baiklah, tidak.
Ada apa?
Katakanlah.
Kau dan wanita itu.
Apa kalian sudah saling mengenal?
Wanita yang mana?
Kau tahu aku sangat tampan.
Aku bertemu banyak wanita.
Siapa maksudmu?
- Meena. - Meena?
Kami baru bertemu.
Jika itu benar,
kenapa kau di rumahnya semalam?
Jangan bohong.
Aku melihatnya sendiri.
Kalian berdua bukan sekadar rekan kerja.
Jika kau ingin tahu yang sebenarnya,
inilah yang terjadi.
Aku pergi membeli kopi.
Dia pergi membeli kopi.
Kedai kopi itu ada di depan rumahnya.
Begitulah kami bertemu.
Namun, dia memegang tanganmu.
Apa kau menyukaiku?
Kenapa kau bertanya?
Ohm.
Kau ingin tahu
kenapa dia memegang tanganku, 'kan?
Untuk apa aku di sini
jika tidak?
Dia bertanya soal Mink.
Kubilang dia sudah meninggal.
Dia memegang tanganku untuk menyemangatiku.
Saat kau memikirkan seseorang yang kau cintai
dan orang lain menawarkan dukungan,
kau merasa senang.
Kau pasti tahu perasaan itu.
Soal kejadian pagi ini,
aku minta maaf atas perilaku Jay.
Kau kemari bukan hanya untuk minta maaf.
Jika hanya itu,
kau akan menelepon
atau melakukannya di kantor.
Ini soal cincin itu.
Aku membutuhkannya untuk anak-anakku.
Namun, aku punya yang baru untukmu.
Aku meminta tokonya mengirimkan berlian terbesar dan terjernih.
Kau menyukainya?
Ini indah.
Namun, harganya pasti mahal.
Tak ada yang terlalu mahal untukmu
jika kau menyukainya.
Ukuran
dan harganya
tak lebih penting bagiku dibanding niatmu.
Bahkan cincin
yang lebih kecil
dan lebih murah akan lebih berarti bagiku
jika kau memilihnya sendiri,
alih-alih memintanya dikirim.
Terima kasih.
Ini indah,
tapi aku tak bisa menerimanya.
Untuk cincin ini,
jika mengembalikannya akan membuat keluargamu bahagia…
No comments yet. Be the first to leave one.