نخستین 200 خط.
Sebagai informasi, suhu di luar...
...adalah 32 derajat Celsius.
Atas nama Air India...
...kapten Prem Kumar dan seluruh kru...
...kami ucapkan selamat tinggal.
Semoga perjalanan kamu menyenangkan. Terima kasih.
Shivani, kamu jadi datang malam ini?
Ke mana?
Kamu lupa? Kita harus datang ke pesta ulang tahun Kavita.
Oh, iya.
Aku pulang dulu, lihat kondisi. -Kenapa?
Kalau kakakku sedang sehat, aku bakal datang. -Baiklah.
Bibit mawar yang kamu kasih dulu...
...sekarang bunganya indah sekali.
Ini dia.
Terima kasih.
Kamu ngapain? -Aku ambil uangnya.
Jangan begitu. Uang itu buat beli obatku.
Terus aku harus gimana?
Aku nggak punya uang buat taruhan...
...eh kamu malah mikirin obat.
Udah sering aku bilang.
Kalau dagang di rumah, pelanggannya sepi.
Coba aja buka lapak di pinggir jalan, pasti beda.
Semua tanaman bisa habis dalam sehari.
Kamu bisa beli obat, masalahku juga selesai.
Aku lagi nggak enak badan. Kamu harusnya lebih peduli.
Aku berjudi juga demi kamu, lho.
Kalau aku menang besar...
...nggak perlu lagi beli obat tiap hari.
Aku bisa bayarin operasi kamu.
Mas, kamu nggak malu?
Kakakku lagi sakit, kamu malah mikirin taruhan.
Kenapa kamu urusin hidupku?
Udah deh, jangan ceramahin aku. Aku lagi pusing.
Pusing kenapa?
Masalahku banyak. Iya.
Udah enam bulan aku nggak menang taruhan pacuan kuda.
Belum lagi...
...aku harus tanggung semua biaya rumah...
...termasuk obat kakakmu. -Iya, iya.
Cuma kamu yang kerja di rumah ini, yang lain numpang hidup.
Dengar tuh? Di rumah sendiri masih aja dikata-katain.
Aku juga biayain kamu.
Biayain aku? -Iya.
Aku kasih kamu 2000 rupiah tiap bulan.
Tiap bulan? Hebat juga.
Sekarang udah tanggal 10. Mana uangnya?
Aku baru aja pulang terbang.
Jangan ngomong ke aku kayak gitu.
Kalau kamu merasa terganggu...
...ambil aja 2000 rupee dari tas dan lempar ke muka aku.
Nih... dan beliin obat buat kakak.
Kamu nyuruh aku seolah-olah...
...kamu juga yang ngasih uang buat beli obat.
Uang ini buat kebutuhan rumah.
Kalau aku pakai buat beli obat...
...terus gimana aku bayar listrik...
...dan beli sembako...
Iya deh, terserah. Sekarang aku beli obat...
...dan nanti juga aku menang jackpot.
Yang dia pikirin cuma judi aja.
Kak, kenapa nggak kamu nasehatin dia?
Aku harus nasehatin apa?
Memang nasibku begini.
Jangan nyalahin nasib. Yang bener itu...
...satu langkah salah bisa hancurin hidup seseorang sepenuhnya.
Selvin, ambilin minumanku.
Shivani, ayo potong kuenya.
Tentu.
Selvin.
Tolong ambilin kuenya.
Siap, Nona.
Kamu suka? Aku suka banget.
Hai!
Namaku Vijay Agnihotri.
Aku rasa kamu belum tahu.
Setiap hari cewek-cewek datang ke sini...
...berharap aku bakal nari sama mereka.
Tapi hari ini, aku mutusin buat kasih kesempatan itu ke kamu.
Ayo dong.
Sana, pergi!
Ya udah, kita pergi juga, tapi...
Ambilin lilin, ya.
Cepetan!
Selamat ulang tahun buat kamu.
Ini bukan ulang tahunku.
Oh gitu.
Selamat ulang tahun buat kamu.
Bukan ulang tahunku.
Permisi.
"Selamat ulang tahun untukku."
Apa-apaan ini?
Apa-apaan?
Aku pikir ini bukan ulang tahunmu.
Dan bukan ulang tahunnya juga...
...jadi aku putusin rayain ulang tahunku aja.
Kamu coba deh. Enak banget.
"Selamat ulang tahun untukku." - Tuan Vijay Agnihotri.
Kamu yakin hari ini memang ulang tahun kamu?
Iya.
"Selamat ulang tahun untukmu."
"Selamat ulang tahun untukmu."
Terima kasih banyak.
Tapi si orang gila itu pasti belum pernah makan kue kayak tadi seumur hidupnya.
Iya.
Sampai ke mata, hidung...
...bahkan telinganya juga.
Iya, bener!
"Selamat ulang tahun untukmu."
Cukup!
Berhenti!
Kuemu enak banget.
Selamat malam.
Bodoh!
Sial! Sungguh sial!
Aduh!
“Si penabuh drum malang kacau balau.”
“Drumnya jebol di tengah pasar.”
“Hidupnya hancur.”
“Berdoalah pada Tuhan!”
“Berdoalah pada Tuhan!”
Apa yang terjadi setelah itu?
Waktu aku sampai di sana, mobilnya masih terbakar.
Tiga toko di sekitarnya juga ikut terbakar.
Inspektur Arjun Singh.
Kamu tahu nggak harga mobil itu?
Kalau dijual dalam kondisi kebakar pun...
...para pemilik toko bisa dapat ganti rugi buat buka toko baru.
Tapi gimana dengan laporan yang mereka buat?
Aku nggak tahu apa-apa.
Nih, kasih ini ke para pemilik toko.
Kalau yang ini?
Yang itu buat kamu sendiri.
Kamu tuh suka pamer uang terus, aku nggak suka sama sekali.
Bu.
Kita nunjukin apa yang kita punya.
Lihat dia. Inspektur Arjun Singh.
Dia punya seragam, itu yang kasih dia kekuatan buat datang ke sini.
Dan aku punya uang...
...yang kasih aku kekuatan buat beli dia dan para pemilik toko itu.
Bu, aku berangkat ke kantor dulu.
Inspektur, sampai jumpa.
Tuan Saxena, ini apa-apaan?
Dari semua ini, nggak ada satu pun yang...
...layak jadi model perusahaan kita.
Lihat wajah-wajah mereka, kayak seolah...
...India udah nggak punya kecantikan lagi.
Tapi, Pak, mereka itu model-model terkenal saat ini.
Aku nggak butuh yang terkenal, aku mau yang cantik.
Aku mau dia.
Aku mau dia.
Aku mau cewek ini.
Pak, itu iklan dari maskapai penerbangan.
Model mereka itu pramugari.
Dan mereka nggak kerja buat perusahaan lain.
Uang bisa bikin orang ngelakuin apa aja, Pak Saxena.
Aku mau alamatnya.
Shivani, minum tehnya.
Makasih.
Halo?
Selamat pagi.
Kamu?
Jadi kamu masih ingat aku, ya.
Gimana mungkin aku bisa lupa wajahmu?
Dan sekarang kamu juga nggak bakal lupa namaku.
Namaku Vijay Agnihotri.
Aku satu-satunya pemilik Agnihotri Industries.
Tapi kenapa kamu repot-repot datang ke sini?
Buat kasih kabar baik ke kamu.
Aku udah milih kamu sebagai model untuk...
...produk baru perusahaan aku.
Jadi kamu yang mutusin kalau aku harus jadi model?
Iya.
Pak Vijay Agnihotri, aku nggak tertarik.
Tapi kamu pasti tertarik sama uang, kan?
Buat aku ini cuma selembar kertas.
Tapi kertas ini punya kekuatan dan daya tarik.
Bisa ngubah kata “tidak” jadi “iya”.
Begitu ya? –Iya! –Dan kalau kamu ngerasa itu belum cukup...
...aku bisa kasih dua kali lipat.
Kamu begitu sombong karena kekayaanmu?
Bukan sombong. Tapi aku bangga.
Sama kayak kamu bangga dengan kecantikanmu.
Dan kamu datang ke sini buat ngasih harga pada kecantikanku?
Anggap aja begitu. Tapi aku mau jawabannya sekarang.
Aku nggak punya jawaban yang lebih baik dari ini.
Sejak hari itu aku udah tahu kalau kamu anak kaya yang manja.
Dan hari ini aku tahu kamu juga angkuh dan arogan.
Silakan keluar dari sini.
Bodoh!
Pak, Bapak ngomong sama siapa?
Dia gila.
Dia nggak tahu arti dari kekayaan itu apa.
Dia baru saja menolak dewi keberuntungan.
Kamu kelihatan bodoh.
Tapi kamu pintar.
Pak, saya ini cerdas banget.
Bapak kan butuh model buat perusahaan, kan?
Terus kenapa nggak saya aja?
No comments yet. Be the first to leave one.