My Lecturer, My Husband

My Lecturer, My Husband

دانلود زیرنویس Indonesian

فصل 1

هماهنگ با نسخه‌های زیر

My Lecturer My Husband WEB-DL S01E06
ناشر Aurora Patandean

برچسب‌ها

Web-DL
web-dl
web
WEB-DL
تاریخ انتشار: 2021-01-09
تعداد دانلود: 19
مخصوص ناشنوایان: No

پیش‌نمایش زیرنویس Indonesian

نخستین 200 خط.

Apakah aku salah kalau aku mengkhawatirkanmu?

Mas Arya tidak usah mengkhawatirkanku.

Ini salahmu sendiri.

Kenapa kau mau aku menjadi istrimu?

Mas Arya.

Ini aku, Tristan. Inggit.

Aku sudah meninggalkan semuanya.

Aku mau serius denganmu, Git.

Aku menyayangi Tristan, Mas.

Ada masalah apa?

Aku hanya ingin membahagiakan orang tuaku. Memangnya salah?

Memangnya kau menikah dengan siapa?

Im.

Ya, aku adalah suami Inggit yang sah.

Im. Iim.

Aduh! Bagaimana ini?

Semua akan baik-baik saja. Git?

Aduh.

Ya, Im.

Terima kasih karena kau sudah mau mengerti situasinya.

Namun, biar bagaimanapun, kita tunggu sampai dia siap.

Tergantung. Kalau Inggit sudah siap, mungkin ceritanya akan berbeda.

Sekali lagi, terima kasih, Im.

Buatku, kau adalah sahabat Inggit yang baik.

Terima kasih, Im.

Mas, gimana?

Ya, sudah.

Sudah dibicarakan. Semuanya juga sudah jelas.

Iim sudah mengerti semuanya.

Apakah dia berjanji tidak akan bilang siapa pun?

Janji.

Dia tadi syok, pingsan sebentar. Kaget.

Kau bisa duduk?

Aku ingin melanjutkan pembicaraan kita tadi siang.

Sebelum aku mulai, ini ada bahan buat kau baca...

tentang otonomi moral kolektif.

Akan ada hubungannya, tapi nanti biar kau pelajari sendiri.

Baik.

Manusia hidup perlu tahu tentang skala prioritas.

Kau...

sebagai manusia,...

perlu tahu untuk menempatkan diri.

Baik.

Soal...

aku, kau, dan Tristan.

Namun, kau ingat omonganmu sendiri, 'kan?

Kalau aku masih boleh berhubungan dengan Tristan?

Tidak, ini bukan tentang kau boleh berhubungan dengan Tristan atau tidak.

Kau boleh berhubungan dengan Tristan.

Namun, ini soal menempatkan diri.

Maksudnya?

- Siapa kau? - Aku?

Inggit.

Kau adalah istriku.

Putri dari kedua orang tuamu.

Jadi, jangan sampai hanya karena kau berhubungan dengan Tristan...

identitas itu kau lewati.

Aduh. Sulit sekali, Mas. Apa-apaan ini?

- Apa maksudmu, Mas? - Begini.

Apakah dengan kau berhubungan sama Tristan...

itu membuatmu masih menjadi anak dari kedua orang tuamu?

- Masih. - Masih menjadi istriku?

Masih. Masih, 'kan?

Itu maksudku.

Itu maksudku dengan menempatkan diri.

Lalu? Aduh.

Aduh, Mas, sulit. Aku tidak mengerti. Sudah, aku akan bertanya saja.

Kalau misalnya aku mau menelepon Tristan...

untuk meminta maaf atas kejadian tadi, boleh?

Ini namanya hidup.

Oke? Selamat datang di kehidupan.

Aku sudah bilang, ini bukan persoalan tentang boleh atau tidak boleh.

Ini tentang menempatkan diri.

Mengetahui skala prioritas. Jelas?

Ya sudah, langsung saja bicaranya.

Oke, sekarang aku kasih kau kesempatan. Silakan telepon Tristan.

Lima menit.

Setelah itu, baca.

Aduh.

Mau menelepon saja seperti bimbingan skripsi.

=My Lecturer My Husband=

Terima kasih.

Ya, sudah aku terima ayamnya.

Enak sekali.

Mbak Sri paling hebat kalau sudah masak ayam.

Sambalnya pedas sekali.

Ya.

Bapak? Astaga. Bapak!

Tris! Tristan!

Kenapa, Dave?

- Gawat, Tristan. - Kenapa, Dave?

- Profesor Adi... - Kenapa Profesor Adi?

Profesor Adi barusan meninggal...

karena Covid. Jadi, kita semua harus diisolasi.

Terima kasih, Dave.

Kau baik-baik saja?

(Aku masuk daftar ODP. Sekarang masih menunggu hasil uji cepat.)

Astaga.

Inggit.

Kenapa, Inggit?

Kasihan Tristan, Mas. Aku takut dia terkena Corona.

Dia statusnya masih ODP. Masih ada kemungkinan dia non-reaktif.

- Kau tenang dulu. - Ya, tapi...

- Ya, ya. Aku mengerti. - Dia dekat...

Namun, kau harus tenang dulu.

Berdoa saja, semoga tidak ada apa-apa.

Dia umurnya juga masih muda. Semestinya dia jauh lebih...

Imunitasnya lebih baik.

Aduh. Kenapa Ibu menelepon?

Halo, Bu?

Astaga, Bu!

Bapak jatuh!

- Ibu? Ya, Ibu tenang. - Aduh.

Malam ini juga aku pergi ke Jogja bersama Inggit naik mobil, ya, Bu?

Ya. Ibu tenangkan diri dulu.

- Jangan panik. - Aduh.

Aku segera ke sana, Bu. Ya.

- Selamat malam. - Mas, berarti kita pergi sekarang ya?

Kita siapkan dulu semuanya.

Kenapa?

- Benar 'kan, Mas? Tristan... - Inggit, tidak apa-apa.

Inggit, kau tidak akan melewati ini semua sendiri.

Inggit, kau tidak akan menghadapi ini sendirian. Oke?

Aku ada di sini.

Aku janji akan menemanimu terus.

Begini, aku siapkan dulu semua yang kita butuhkan untuk ke Jogja.

Kau tenangkan diri dulu di sini.

Aku siapkan baju dan segala macam yang dibutuhkan untuk ke Jogja, oke?

Aduh.

Inggit?

Hei.

Jangan terlalu memikirkannya.

Semua pasti akan baik-baik saja. Ya?

Inggit, berhenti memandangi ponselmu.

Tristan tak bisa dihubungi.

Sudah kubilang, dia pasti baik-baik saja.

Sekarang istirahatlah, besok kau bisa coba hubungi dia lagi.

- Aku tak bisa, Mas. - Bisa. Cobalah untuk tidur.

Ya?

Ayo, cobalah untuk tidur dan juga berdoa untuk bapak.

Aku tak bisa, Mas.

Cobalah. Kau pasti bisa. Ya?

Istirahatlah.

Pikirkan juga kesehatan bapak.

Itu hal yang terpenting sekarang.

Hanya ini kemampuanmu?

Bapak! Berhenti menggangguku!

- Ayo, Inggit, kalahkan bapakmu. - Ya.

Jangan mengusikku begitu. Aku jadi tak bisa fokus.

- Alasan saja. - Sungguh!

Bapak selalu curang setiap kali bermain denganku.

- Bapak sengaja sekali. - Ambil saja salah satu.

Bapak!

Tadi sudah bergerak!

Inggit.

Aku kalah lagi!

Bapak curang, Bu! Setiap kali giliranku, dia selalu mengusikku!

Curang? Ini memang sudah giliranku untuk menang.

- Aduh! - Bapak curang! Bapak curang!

- Bapak curang! - Kita menggelitik bapak.

Curang kau ya.

Kenapa kau justru membantunya?

- Sama anak sendiri. - Bapak curang.

Dasar anak kesayangan bapak.

Ya.

Aku menyayangimu, Nak.

Aku juga.

Aku juga menyayangimu.

Ibu juga menyayangi kalian.

Halo?

Halo, Wendy?

Maaf mengganggumu malam-malam. Wen,...

bisakah kau periksa...

nomor telepon Profesor Gunawan dari Fakultas Kedokteran?

Ya.

Begini. Coba hubungi Profesor Budi.

Aku yakin dia punya nomor teleponnya..

Ya. Tolong, ya, Wen.

Baiklah. Usahakan untuk cepat. Ini penting sekali.

Ya.

Ya. Baik.

Terima kasih.

Aku ingin ke toilet.

Sekaligus kita juga akan sarapan.

- Aku tak lapar, Mas. - Tak bisa begitu. Kau harus minum obat.

Lagi pula, aku juga ingin minum kopi.

- Baiklah. - Agar aku tak mengantuk.

Ya, ampun. Tristan.

Kasihan sekali dia.

Astaga.

Hei, itu tak sopan.

Kau juga. Itu tak sopan.

- Kalian sudah lihat ini? - Ya.

- Sudah. - Kita harus memberitahu Inggit, 'kan?

Apa kita beritahu dia?

- Bagaimana jika kita hubungi Inggit? - Ya, telepon dia.

- Halo? - Halo, Inggit.

Kau pasti sangat sedih sekarang.

Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku bingung.

Git, sabar, ya? Peluk Inggit.

More Indonesian subtitles for My Lecturer, My Husband

نظرات

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left