نخستین 200 خط.
Sebelumnya di The Chi...
Kanker ini lebih agresif dari perkiraan.
Dia butuh orang untuk mengantarnya kemoterapi.
-Aku bisa. -Terima kasih kau tidak bilang Nina.
Suatu saat aku harus cerita.
Kau tahu firasatnya kuat.
Mau coba ekstasi?
-Aku tahu kau melalui masa sulit. -Aku tak mau terapi.
Bukan berarti kau mulai memakai obat.
Aku ingin jujur padamu.
Suamiku dan aku akan bercerai.
Sudah lama aku ingin punya anak.
Terima kasih atas kedatanganmu, tapi penting bagi anakku
dibesarkan oleh ayah dan ibu.
Polisi mengatakan kau mengancam.
Menurutmu kenapa mereka merasa terancam?
Kami semua dianggap ancaman. Kami bilang persetan polisi.
Karena itu perasaan kami.
Salah satu gadis Nuck tadi ke salon.
Tata rambutnya.
-Dia mau aku membantunya. -Kau mau aku melakukan apa?
Suruh Nuck berhenti mengganggunya.
Aku tidak bisa.
Aku lelah. Aku mau pulang, minum, dan beristirahat.
Boleh aku ikut?
Sepertinya undanganku terselip.
Aku mau menonton.
-Dante. -Kau tidur dengannya?
Aku mau pernikahan terbuka.
Jadi, kau mau aku tidur dengan orang lain?
Aku hanya ingin kau jujur tentang itu.
Aku pun akan jujur denganmu.
Jadi, kita tidur dengan orang lain?
Kau membuatku...
Belum.
Tunggu.
Kau baik-baik saja?
Selamat.
Maaf?
Kau tidur dengan wali kota Chicago.
Apa yang aku dapat?
Tergantung.
Apa yang kau mau?
Kau bahkan tidak tahu.
Kau sibuk menyibukkan dirimu
hingga terjatuh ke kandang singa.
Aku mau pulang.
Tidak akan kubiarkan.
Aku bukan mau menculikmu.
Gedung ini dikelilingi pengunjuk rasa. Tampaknya nyawa polisi berharga.
Sial.
Selamat datang di politik.
Apa yang harus kulakukan?
Koki masih ada di sini.
Bagaimana kalau kau duduk dan sarapan?
Dr. Kwame, Kevin sudah gila.
Bisa jelaskan lebih spesifik?
-Dia suka mabuk-mabukan. -Tidak.
Sepertinya itu keturunan...
Itu juga menurun padamu, Dre.
Kevin, menurutmu kau suka mabuk-mabukan?
Tidak.
Tentu tidak. Dia tidak tahu bedanya.
Kevin, apa kau merasa ingin minum saat marah atau sedih?
Tidak.
Kami tahu dia mengalami masa sulit, tapi kami ada bersamanya.
Antara Kiesha yang mencari keluarga untuk bayinya
dan aku dan Nina yang sedang tidak akur...
Jangan bahas masalah kita.
Kami ingin mempertahankan keluarga kami.
Aku lelah.
Aku tak bisa terus membimbingnya.
-Aku butuh istirahat. -Aku juga.
Apa kau bisa menjelaskannya, Kevin?
Aku merasa mereka menekanku.
Menurutmu kenapa kami begitu, Kev?
Nina, ada yang ingin kau sampaikan?
Kami menekannya
karena kami hampir kehilangan putri kami tahun lalu.
Itu tidak bisa dilupakan.
Aku hampir kena serangan panik saat mereka meninggalkan rumah.
Saat aku bekerja, aku tidak bisa konsentrasi.
Tidak apa-apa.
Aku menekannya karena aku tidak mau mendapat telepon yang menakutkan itu.
Telepon apa?
Telepon yang mengabari kalau kalian terbaring mati di suatu parit.
Kevin, bayangkan orang tuamu memberi kebebasan lebih.
Bagaimana reaksimu?
Aku akan senang.
Apa kau bisa dipercaya untuk pulang tepat waktu,
mengerjakan pekerjaan rumah tanpa mereka mencerewetimu?
-Dia menanyaimu. -Aku sedang berpikir.
Ya, mereka dapat memercayaiku.
-Nina, kau tampak tidak yakin. -Karena kami pernah mendengarnya.
-Lihat, dia tak memercayaiku. -Nak...
Mari semuanya memulai awal yang baru.
Baik.
Kev... Kevin.
Kami memercayaimu.
Kami percaya padamu.
Jake menyebabkan masalah ini.
Aku mengerti. Aku paham apa yang kau sampaikan.
Itu masuk akal.
Akan kuberi tahu sesuatu.
Maaf kau jadi terkena masalah.
Aku lega kau bicara jujur.
Aku seharusnya tidak melakukannya di acaramu.
Aku ingin acaraku nyata. Bukan hanya untuk nilai tambahan.
Kenapa kau selalu membuat orang marah?
Kalau orang tidak marah, mereka tidak berubah.
Aku rasa kau benar.
Aku tahu aku benar.
Baik, sudah ada keputusan.
Jake, kau tidak perlu minta maaf atas perkataanmu.
Kau bebas mengatakannya.
Jika itu aku, aku akan mengatakan hal yang sama.
Akhirnya, keadilan ditegakkan.
-Tidak terlalu cepat. -Aku tahu.
Aku melarang BAME dan aktivitas terkait BAME.
-Kenapa? -Karena tamu di acaramu
-menghasut kekerasan. -Apa iya?
Baiklah, harap tenang.
Kekerasan dilakukan terhadap anak kulit hitam
dan karena dia membahasnya di acaraku, kau melarang acaraku?
-Omong kosong. -Jaga ucapanmu, Nona.
Kami membatalkan acaramu.
-Berapa lama? -Sampai situasi mereda.
Saat rasisme hilang, acaraku akan kembali.
Ini kacau.
Kalian harus bersyukur karena tidak dikeluarkan dari sekolah.
Persetan sekolah.
Jangan memikirkan hal itu...
Apa yang terjadi dengan hukuman pukulan?
Tidak digunakan lagi.
Kulit putih meyakinkan kita itu salah.
Sebaiknya kita menunjukkan kekuatan ucapan mereka.
Lihat akibatnya saat kau melakukan itu.
Aku tahu.
Mereka mulai berpikir sendiri.
Jangan lama-lama.
Baik.
Jangan khawatir. Aku sudah mengaturnya.
-Tidak perlu buru-buru. -Dia akan mengawasi.
Aku ada untukmu.
Aku bisa menyelinap malam ini.
Temui aku di sudut 69th dan Cottage jam 20.30.
Gunakan ini jika kau perlu menghubungiku.
Kau punya tempat tinggal?
Tidak.
Temanku yang mau kutumpangi
bilang prianya tidak setuju.
Kita akan cari jalan keluar.
Ambil belanjaanmu dan keluar dari sini.
-Halo! -Masuklah.
Apa kami perlu melepas sepatu?
Tidak perlu.
Rumah yang bagus.
Terima kasih. Kami baru pindah.
Banyak perubahan tahun ini.
-Perubahan berarti bagus, bukan? -Terkadang.
Kita mulai dari mana?
Ceritakan tentang keluargamu.
Ini anak adopsi kami.
Ini Taylor,
ini Simone,
dan ini Joshua.
Jangan khawatir, dia tidak sakit.
Dia punya mata malas.
Menggemaskan.
Apa kalian sering membahas mereka diadopsi?
Tidak. Tapi kami tak mau menutupinya.
Mereka tahu mereka dilahirkan wanita lain,
tapi mereka lahir di hati kami.
-Kalian tidak bisa punya anak? -Kiesha.
Betul.
Jumlah spermanya sedikit dan aku mengidap kanker ovarium.
-Maaf. -Maafkan aku.
Kami berterima kasih pada para wanita yang melahirkan bayi kami.
Sehingga kami bisa menggenggam tangan mereka.
Kami ingin menambah malaikat lain ke tim kami,
dan mungkin anak tersebut ada di perutmu.
Mereka juga minta adik baru.
Berapa anak yang akan kalian adopsi?
Kami harap anakmu yang terakhir.
Kalian sudah menjawab semua pertanyaanku.
Aku juga.
Terima kasih sudah mengundang kami.
Terima kasih karena sudah datang.
Aku tahu ini keputusan yang sulit,
pikirkan pelan-pelan.
Terima kasih.
Kau pandai membuat keputusan yang saleh.
Apa?
Kau mengambil keputusan yang saleh untuk tidak membunuh anakmu.
Keputusan itu tidak ada kaitannya dengan Tuhan.
Semua ada kaitannya dengan Tuhan.
-Siapa bilang? -Tuhan.
Kami tidak hanya membaca Alkitab di rumah.
Kami hidup berdasarkan Alkitab.
Begitu juga malaikat kecil kami.
No comments yet. Be the first to leave one.