نخستین 112 خط.
Durocha..!
Siapapun yang lebih ahli darimu dalam membuat bangunan besar,
tidak akan bisa ditemukan di Hastinapura.
Itulah mengapa aku memanggilmu untuk pekerjaan ini.
Istana untuk Kunti dan para Pandawa
harus lebih pendek posisinya dari istana lainnya, Durochan!
Dan pastikan bahwa dari Kamar tidur Duryodhana
Bendera para Pandawa tidak akan terlihat.
Jangan khawatir, Yang Mulia.
Saya tidak akan memberikan pada siapapun rasa tidak puas.
Keluarlah!
Duryodhana ...
putraku
kenapa kau tampak begitu sedih? - Aku tidak sedih
tapi aku sangat marah, ayah!
Mendekatlah, aNakku.
Apa masalahnya, Nak? - Masalah?
Masalahnya adalah bahwa Aku berasal dari istana.
Masalahnya adalah bahwa ayahku seorang raja.
Seandainya aku dilahirkan dari keluarga pedagang atau pematung
atau keluarga seorang gembala sapi,
Aku tidak akan menghadapi masalah seperti ini.
Apa yang kau katakan, Nak?
Setiap anak adalah penerus dari ayahnya.
Untuk memperoleh ternaknya,
anak gembala sapi itu tidak harus menunggu penobatan dirinya.
Jika anak pengusaha ternyata tidak mampu,
maka keluarganya yang menghadapi masalah.
Tetapi jika putra raja itu tidak mampu,
maka seluruh istana akan menghadapi masalahnya, Duryodhana.
Benar...
Benar sekali.
Bahkan aku sendiri telah mencoba untuk menjelaskan
hal yang sama pada Duryodhana
adikku Gandhari.
Duryodhana,
Kau telah menerima
bahwa kau adalah penerus ayahmu
tapi kau...
masih diragukan.
Tapi ayahmu tak berdaya.
Sampai Yang Mulia Bisma menyerahkan seluruh otoritas nya.
Yang Mulia tidak akan bisa mengambil keputusannya sendiri. - Syakuni!
Maafkan aku, Yang Mulia
jika aku telah mengatakan
sesuatu yang salah.
Aku hanya mencoba menjelaskan sesuatu kepadanya
bahwa dia harus membuktikan semua kemampuannya.
Kalau tidak, Bhima dan Yudhishthira
yang akan dipuja,
dan mendapatkan doa restu.
Diamlah, Syakuni!
sudah cukup Aku mendengar.
Sebagai seorang raja dari Hastinapura
hanya kau yang akan bertahta, Nak.
Ini janji dari seorang ayah.
Upacara penobatan akan diberikan padamu segera.
Tak akan lama.
Aku akan membahasnya dengan kakek
tentang hal ini. - Tapi suamiku ...
tapi itu...,
Kata yang tidak tepat, Gandhari.
sebelum berbicara sesuatu yang bertentangan,
Sebaiknya kau berpikir...!
dan kalo tidak, Kau jawablah sendiri!
Apakah Kau tidak ingin anakmu
dinobatkan sebagai raja Hastinapura?
Tentu saja,
tapi aku ingin anakku menjadi raja yang hebat.
Raja yang bisa menghargai kebenaran.
Sebuah mahkota emas bisa dihargai, setelah ia dibentuk, Gandhari!
dan bukan sebelum itu.
Ketika anak ku akan menjadi seorang raja
dia akan membuktikan kemampuannya.
Hari ini, aku akan perintahkan Widura untuk mengatur penobatannya.
Duryodhana !
kita harus merencanakan sesuatu
Supaya anak-anak Pandu...,
meninggalkan Hastinapura dan pergi untuk selamanya.
Kita ciptakan sebuah situasi untuk mereka
Supaya Kunti akhirnya membawa mereka
ke Kerajaan Kuntibhoja.
Aku berharap Kau mengerti maksudku.
Tapi mengapa, paman?
Bagaimanapun juga, ayah pasti akan menobatkanku.
Pangeran.., Kau ini memang bodoh!
Ini kerajaan Kuru.
Dan terutama Kakekmu Bishma itu,
akan menghentikan upacara penobatanmu.
Tapi kenapa? - Karena cintanya pada para Pandawa
adalah di atas segalanya.
Dia ada di pihak mereka. Hanya karena alasan ini.
Jika mereka memprotes ku
bahkan kakekpun akan membela mereka.
Tapi mereka berlima tidak akan protes sama sekali, Duryodhana.
Mereka berlima,
mengikuti jalan kebenaran
dan mereka yang menempuh jalan itu
bisa
mengalami ketidakadilan dalam jumlah yang besar.
Jalan ketidakadilan itu,
tidak terpengaruh pada kebenaran, paman.
dan Duryodhana
telah memulai jalan ketidakadilannya.
Aku merasa khawatir, Paman
bahwa masa depan keturunan Kuru akan benar-benar terancam.
Tidak ada yang perlu membuatmu gelisah, Widura.
Seorang tukang kebun mengikatkan tanaman merambat ke tiang
dan tanaman mulai menjalar perlahan-lahan
berusaha untuk memanjat pada tiang itu.
Jika seorang anak diberikan pelajaran pada apa yang benar dan salah,
bahkan mungkin dia bisa, maka segera akan
No comments yet. Be the first to leave one.