نخستین 200 خط.
Rekaman berikut ini dikompilasi oleh Russell Wynn dari Wynn Media Group (WMG)
rekamannya dikumpulkan selama lebih dari dua tahun
Pengeditan dan narasi disajikan oleh Tn. Wynn sendiri dan tidak mencerminkan keyakinan WMG
Kami belum melihat Jackson lebih dari setahun.
Teman-temannya bilang dia pergi ke hotel tua itu
untuk mencari souvenir atau semacamnya.
Wendy Mallet, Ibu dari Jackson Mallet
Itulah terakhir kali orang-orang melihatnya.
Jackson Mallet hilang pada 5 Agustus 2016
Dia terakhir terlihat menerobos masuk ke Abaddon Hotel yg terlantar
Setiap kali kami akan merelakannya, sesuatu terjadi,
sesuatu
aneh,
dan itu hanya membuat hati kami tercabik-cabik.
Itu semua dimulai dengan SMS,
yg dikirim secara acak di tengah malam.
Aku melapor kepada polisi dan mereka menyelidikinya
dan mereka menemukan...
Mereka menemukan SMS-nya berasal dari dalam hotel itu.
SMS-nya dari Jackson Mallet pada tgl 8 Oktober 2016
Suamiku melihat video Jackson yg hilang di dalam
hotel itu tapi aku tak sanggup untuk menontonnya.
Aku tahu dia menggunakan teleponnya untuk mencoba mencari pertolongan.
Panggilan telepon dan pesan video
serta SMS.
Keluarga Mallet nantinya akan menerima video dari permohonan terakhir Jackson
Jika kau mendapatkan pesan ini,
tolong kirim pertolongan ke Abaddon Hotel.
Aku tak bisa, tak ada jalan keluar.
Aku melihat mereka semua.
Mereka semua di sini.
Mereka semua masih di sini.
Tolong, siapapun yg mendengarku!
Siapapun!
Mereka ingin aku ikut dengan mereka.
Mereka ingin aku ikut dengan mereka.
Kumohon!
Kumohon, seseorang menolongku.
Mereka tak mempunyai mata.
Tak seorangpun yg datang padaku.
Maafkan aku karena datang ke tempat ini.
Aku tak tahu dari mana mereka datang.
Mereka semua ada di ruang makan.
Mereka semua ada di Neraka.
Mereka semua bersama dengan dia.
Ibu, maafkan aku...
Sekitar dua minggu kemudian aku mendapat email
dari akunnya Jackson,
aku tak ingin membukanya.
Maksudku, aku tahu itu tak mungkin dari dia, bukan?
Aku membukanya.
Dan melihat video itu.
Oh, astaga.
Ya Tuhan, aku berharap tak melihatnya.
Itu sebuah ruangan yg kosong
dan kemudian aku mendengar teriakan Jackson.
Dan ada sesuatu yg lain,
ada piano ini yg dimainkan di suatu tempat
dan aku langsung tahu aku pernah mendengar nada ini sebelumnya.
Itu sangat familiar.
Kumohon!
Kumohon, siapapun!
Siapapun tolonglah aku!
Kumohon!
Kita pernah mendengar nada itu sebelumnya
dalam film dokumenter The Hell House,
tetapi ketika Mallet mengatakan bahwa mereka telah mendengarnya,
mereka maksudkan jauh sebelum ada film dokumenter Hell House.
- Orca. - Go Fish.
Ada yg dapat orca?
- Aku dapat satu. - Aku dapat satu orca.
- Orca. - Baiklah, terima kasih.
Hei, aku melihatmu, kau curang!
- Aku tak curang! - Hei, hei, hei.
- Ibu! - Apakah ibu melihatnya?
Kalian semua, tenang, Jackson sedang tidur, ayolah.
- Oh, astaga. - Sangat tak adil.
Bermainlah dengan baik, ayolah.
- Dapat ikannya? - Dapat kepitingnya?
Carlie, apakah kau punya kepiting?
Hei kawan-kawan, kalian dengar itu?
Dari mana itu datangnya?
Jackson, aku pikir kau sudah tidur.
Hotel itu dibuka pada tahun 2009, katakan pada semua orang.
Apa, hotel apa?
Siapa yg mematikan lampunya?
Hei, Jackson, kau tak apa-apa?
Ya.
Apakah kau yakin, apa yg kau katakan?
Tak ada, aku tak mengatakan apapun.
Kemudian, dan aku memutarnya kembali
bersama suamiku, kami mendengarnya.
Ada suara yg lainnya di ruangan itu.
Itu hampir,
hampir seperti itu bisa mendengarkan pertanyaanku
dan berkata kepada Jackson apa yg harus diucapkannya.
Siapa yg mematikan lampunya?
Abaddon Hotel.
Hotel ini memiliki sejarah panjang yg menakutkan
dan kejadian yg tak dapat dijelaskan yg tertangkap kamera.
Bahkan kamera kami sendiri tak kebal untuk menangkap sesuatu
yg menyeramkan ketika kami berlatih pada segmen ini.
Baiklah, apakah aku cukup dekat?
Bagaimana gambarku?
Bagus?
Gary, apa?
Sudah dua tahun sejak penayangannya yg kontroversial
dari film dokumenter The Hell House
dan kami masih punya banyak pertanyaan.
Satu pertanyaan terbesar di benak semua orang,
apakah itu nyata atau itu adalah hoax yg rumit
yg direncanakan pembuat film dokumenter untuk menjual filmnya?
Hari ini kami punya panel lengkap untuk mendiskusikan pertanyaannya.
Arnold Tasselman, yg bekerja untuk Kantor Kehakiman
The Rockland County pada saat terjadi insiden The Hell House
tujuh tahun lalu dan Mitchell Cavanaugh,
dari The Mitchell Cavanaugh pembuat film dokumenternya,
yg diduga satu-satunya anggota film yg masih bertahan hidup.
Kita akan mendapat penjelasannya.
Dan terakhir, kami punya Brock Davies, medium dan cenayang
yg Anda tahu dari beberapa hasil kerjanya
dalam kasus orang hilang dan mendapat perhatian nasional.
Terima kasih sudah mengundangku, Suzy.
Entah bagaimana aku tahu kau akan menelepon.
Pastikan untuk melihat Brock Davies From Beyond,
hadir pada musim gugur mendatang ke-- - Terima kasih, Brock.
Jadi, mengapa kita tak mulai-- - Suzy, apakah kau keberatan
jika aku mulai dengan sebuah komentar dan sebuah pertanyaan?
- Tentu. - Terima kasih.
Kau brengsek.
Komentar, dan pertanyaanku adalah, mengapa?
Lihat ini. - Kamera menyala.
Siapa itu?
Itu Mitchell Cavanaugh pembuat film dokumenter The Hell House.
Orang yg akan kita perlukan untuk masuk ke The Abaddon.
Yah, dari apa yg kita lihat, masuk bukanlah masalah,
kita menemukan jalan masuk ke ruang bawah tanah
dan menemukan jalan keluarnya. - Yah, pastinya.
Dia mengedit semua rekaman Hell House,
dia harus tahu luar dalam hotel itu.
Mungkin.
Arnold adalah yg menggugat aku
dan mencoba menghentikan peredaran film-ku di pasar, jadi tak seorangpun bisa melihatnya.
Tn. Tasselman,
bisakah kau menjelaskan gugatan terhadap Mitchell?
Aku tak bisa mendiskusikan detail tentang proses pengadilan
tapi apa yg aku bisa katakan padamu adalah bahwa film palsunya
telah menyebabkan kerusakan kota Abaddon.
Kasus dingin hotel-hotel tua sebenarnya bukan urusan kami,
kami memenjarakan seorang Senator negara bagian
Ya, dan itu benar-benar hal yg bagus
tapi sekarang mereka mengatakan tempat ini angker.
Oh, ayolah, Molly, jangan bilang kau percaya hantu.
Dengar, kita akan pergi ke The Abaddon, itu sudah final.
Kalian berdua mencari Mitchell hari ini
dan bawa dia menemui aku.
- Mengerti. - Apa yg kau lakukan?
Aku menelpon ke acara ini.
Orang ini benar-benar pembohong.
Hell House adalah sebuah tragedi
dan kita masih berkabung atas hilangnya nyawa.
Yg aku bicarakan adalah memalsukan segalanya,
pemilik hotel seharusnya yg memiliki rekaman Hell Hosue-nya.
Menempatkan Robert Lyons si tukang obat sebagai penulis di depan kamera,
memalsukan seluruh adegannya dengan kru kau sendiri
dalam sebuah ruangan dmana kau kenal orang-orang itu--
Kau berbicara tentang Diane Graves,
pembuat dokumenter yg terlihat terakhir
di videonya sendiri di dalam hotel.
Itulah persisnya yg aku bicarakan.
Maaf, Diane meninggal.
Baiklah, Johnathan meninggal.
Mereka meninggal di dalam hotel itu.
- Bisakah kita tak menggunakan kalimat itu? - Maafkan aku.
Tolonglah, setiap orang yg kita tahu tak ada yg mati
di perayaan Halloween.
Kau masih melakukan dengan malfungsi,
seperti tiang yg jatuh dari langit-langit dan menewaskan 15 orang?
Aku sebenarnya akan menyela poin yg itu.
Aku, juga, ingin tahu bagaimana polisi
tiba dengan panggilan karena alasan malfungsi?
Detailnya masih tak diizinkan
untuk di diskusikan secara publik. - Tentu saja.
Tapi, dari semua yg aku lihat,
Aku bisa menjamin orang-orang yg ada di hotel itu aman
dan bukan bertanggung jawab dalam cara apapun untuk tragedi itu
atau hal-hal lain yg orang-orang duga sebagai penyebabnya.
Jika itu sangat aman, mengapa kota itu tetap menempatkan
mobil-mobil polisi di luar sepanjang waktu,
memastikan tak ada yang masuk?
Kita di sini seperti kemarin
saat kalian sedang pergi merekam film konyol itu
dan kami menyimpulkan bahwa di sana itu adalah jendela 10 menit
dan kita merekamnya.
Keren, bukan? - Kenapa mereka sangat menjaganya
jika mereka mengatakan tak ada yg salah dengan itu?
- Ya, kawan, seperti-- - Nah, itu bukan hanya sekedar
insiden The Hell House atau Diane, ada juga
dua orang remaja dari dekat area itu yg telah menghilang.
Dan orang-orang berpikir bahwa sesuatu berhubungan dengan hotel itu?
No comments yet. Be the first to leave one.