نخستین 200 خط.
= Episode 9 =-
Kau siapa?
Sedang apa di sini?
Kau mau menggagalkan rencanaku?
Apa maksudmu?
Aku kemari karena kudengar kau tertangkap.
Aku tengah menjalankan rencanaku.
Aku harus masuk ke rumah dulu untuk menjalankan rencanaku.
Dan kau berencana menggunakan pedangmu tanpa menyamar?
Permisi.
Anda sebetulnya siapa?
- Beraninya kau? - Apa?
Siapa bilang kau bisa menyela?
- Aku cuman... - Kau siapa?
Jaga sopan santunmu, keparat!
Dia temanku.
Kalian semua, pergilah!
Pergi.
Pergi.
- Aku? - Pergilah.
Hentikan!
Lancang kau!
Hei kau!
Siapa kau?
Maafkan aku.
Mengenai menantu yang tinggal di sana...
Maksudmu Kim Gwabu-nim?
Iya.
Aku temannya.
Sekarang dia dalam bahaya.
Ada aku, jadi jangan cemas.
Terima kasih sudah membantu kami.
Tapi, kantor pemerintah ini...
sudah lama sekali...
bersekongkol dengan mertuanya.
Pasti percuma saja.
Kau harusnya masuk.
Kenapa bersikap tak tahu malu dan membuat keributan?
Beraninya kau mempermalukanku?
Kau siapa?
Kau bukannya wanita yang di desa janda?
Si punggung indah?
Kenapa kau terus muncul di hadapanku?
Aku juga tak mengerti.
Beraninya kau mempermalukanku lagi?
Buka tandunya!
- Baik. - Iya.
Beraninya kau!
- Hentikan! - Mau kutabok lagi?
Jangan bergerak!
Belum cukup kutaboki?
Tunggu, kau siapa?
Kau juga bukan menantuku.
Sebetulnya di mana dia?
Bawa keduanya masuk!
Iya.
Kalian coba jelaskan...
kapan dan bagaimana kalian bertukar dengannya!
D
Da
Dam
Damn
Damn!
Damn! S
Damn! Su
Damn! Sup
Damn! Super
Damn! Super
Damn! Super S
Damn! Super Su
Damn! Super Sub
Damn! Super Sub
Damn! Super Sub I
Damn! Super Sub In
Damn! Super Sub Ind
Damn! Super Sub Indo
Damn! Super Sub Indon
Damn! Super Sub Indone
Damn! Super Sub Indones
Damn! Super Sub Indonesi
Damn! Super Sub Indonesia
Diterjemahkan oleh: ~ Ifabee Eonni ~
Berhenti!
Ada apa ini?
Petugas, Anda kembali saja. Ini urusan keluargaku.
Mana mungkin urusan keluarga kalau banyak sekali centeng begini?
Tangkap semuanya!
- Baik! - Siap!
- Cepat! - Ikut aku!
- Ayo sini! - Ikut aku!
- Sini! - Kami tak bersalah!
- Sini! - Tunggu.
Jangan sentuh aku!
- Cepat! - Aduh.
Hei!
- Hei! - Sini kau!
Saya minta maaf atas banyak hal.
Jangan bilang begitu.
Dia ibumu. Aku harus membantunya.
Mereka sepertinya dekat.
Iya, saya dengar begitu.
Dia beneran percaya perkataanmu?
Iya. Karena setelah menikah aku tak pernah meninggalkan rumah,
jadi dia tak mungkin mengenali wajahku.
Kenapa kau tak pergi dengan Manim-mu?
Kalian 'kan bisa saja melarikan diri.
Kau kenapa mojok di sana?
Apa?
Kau dan Cha Yul Mu sedang apa di rumah itu?
Kenapa tanya?
Akhirnya kau bertemu wanita yang kau rindukan
dan hampir mati menyelamatkannya.
Kenapa mendadak kau penasaran apa yang kami lakukan?
Kenapa tanya?
Aku penasaran.
Apa?
Apa salahnya aku penasaran?
Dasar buaya!
Kau ini. Lepaskan ayah.
Setelah jauh-jauh kesini,
mana boleh pergi tanpanya.
Aduh, coba lihat.
Hanyang itu luas sekali.
Gimana caranya cari Nok Du?
Kalau ada kemauan, pasti ada jalan.
Bocah ini!
=Aseowon, Markas Pasukan Muweol di Hanyang=-
Jadi...
Aku mengikuti pembunuh itu setelah meninggalkan pulau.
Kulihat pembunuh masuk di desa janda.
"Desa janda"?
Aigoo.
Ngomong-ngomong
- kau siapa... - Benar. Desa janda.
Terima kasih.
Saat masuk ke desa itu,
mereka bilang pria dilarang masuk dan mereka memukuliku.
Aku bahkan berkelahi dengan seorang janda...
sampai luka baret begini.
Makanya aku kembali ke Hanyang.
Aku akan tunggu kesempatan lain untuk masuk kesana.
Apa Anda tahu...
mengenai pasukan pembunuh yang diketuai oleh wanita?
Wanita?
Begini...
Aku permisi ke kamar mandi.
Wanita tak menyukaiku.
Hei, kau! Kau dengerin tidak?
Lebih baik kucari dia dari pada bapaknya.
Semoga semua baik-baik saja.
Aeng Du...
Apa? Kemana dia?
Aeng Du.
Hwang Aeng Du!
Aku di sini.
Aduh, kau ini.
Mulutmu kau jejali apa lagi? Dapat dari mana?
Doyan makan begitu, gimana caramu menemukan Nok Du?
Aku punya firasat kita akan segera menemukannya.
Firasat pegimane?
Aku yakin itu dia.
Luka baret di matanya masih ada,
Anda pastikan saja.
Kami kekurangan personel.
Desa Mudam?
Benar, 'kan?
Iya.
Hwang Seonsaeng masih belum kembali.
Mungkin dia beruntung bisa bertemu Nok Du di Hanyang.
Ayah berharap begitu.
Yah, kita lari.
Pegang tanganku.
Ayah, ayah ke arah sana.
Aku akan kesana.
Maksudmu apa?
Jalan ini juga menuju...
ke gua yang diceritakan Hwang Seonsaeng.
- Kita bertemu di sana. - Kita bisa pergi bersama.
- Cepat. - Cepat pergilah, yah.
Lebih baik aku ke sana, karena lebih cepat.
Kalau bersama, justru kita dalam bahaya.
Kalau begitu, ayah akan memancing mereka.
Kita bertemu di gua.
- Berhati-hatilah. - Iya.
Aku... aku...
Jusang Jeonha tiba.
Jeonha.
Minggir!
Jeonha.
Saya yakin ini perbuatan Daebi( Ibu Suri ).
Beraninya kau!
Kau berani bertanggung jawab atas perkataanmu?
Maaf mengatakan ini,
tapi ada kabar kalau Daebi mengundang para mudang( dukun )...
ke istananya.
Binatang yang melambangkan...
tahun kelahiran Paduka telah dibantai
di bawah pohon Yeongchang Daegun.
Menurut Paduka, ini artinya apa?
Aku mau kalian menyelidiki dan menemukan
No comments yet. Be the first to leave one.