نخستین 200 خط.
Jangan disia-siakan, ini bisa dimakan.
Ibu tahu penanak nasi yang digunakan untuk membuat bubur bayi?
Kenapa tak memakai itu saja?
Lebih nikmat dengan panci.
Lagipula, aku benci anak-anak.
Mereka tak bisa diam dan sifatnya yang bodoh.
Jangan panggil nenek dengan sebutan bayi.
Bukan begitu maksudku.
Mari makan.
Mari makan.
Mari makan.
Selalu seperti ini.
Setiap kali mengusulkan sesuatu selalu ditolak.
Kata penolakan datang satu per satu.
Itulah ibuku.
Sup miso-mu enak.
Kaldunya nikmat.
Benarkah? Baguslah.
Aku berangkat.
Biarkan saja.
Sudah kubilang biar aku saja yang membereskan.
Sudah berapa tahun sejak ayah meninggal?
Serumah dengan laki-laki apakah rasanya berbeda?
Bagaimana rasanya ada sepatu laki-laki?
Aku tak ingat lagi.
Tidak ada...
Tidak ada hal baik yang terjadi.
Badut Berdoa Kepada Rembulan
Ini. Ini untuk nyeri saraf dan...
Tidak usah dijelaskan. Aku sudah tahu.
Baiklah.
Jangan berisik.
Hari ini ramai, ya.
Hari ini imunisasi.
Kerja bagus, Shizuru.
Sama-sama.
Ada berapa anak hari ini?
Aku tidak terbiasa.
Sama.
Kenapa mereka menangis? Aku melakukannya bukan karena aku suka.
Oh iya, bisakah kau membeli buku lagi?
Anak-anak bertambah dan buku gambar itu sudah usang.
Bagaimana kalau pergi bareng?
Ke toko.
Pulangnya mungkin kita bisa makan sushi.
Halo sayang.
Ada apa?
Mau menjemputmu.
Memangnya kenapa?
Papa! / Oh, kau ikut ke sini, Hiroki!
Wuuh kau terbang!
Aku tidak paham dengan buku-buku ini.
Kau bisa membeli apa pun di "kotak" ini.
Tapi, kemudian kita merasa puas dengan isi di dalam kotak ini.
Bagi kita, manusia.
Tahun ini aku belum membeli merk ternama.
Kau pergi ke mal? / Ya.
Aku menemukan pewarna rambut yang biasa Nenek gunakan.
Aku membelinya.
Itu untuk rambut abu-abu, 'kan?
Ini tidak murah.
Harganya lebih murah di toko terdekat.
Aku pergi mencari buku bergambar.
Buku bergambar?
Tahun ini banyak anak-anak yang datang untuk imunisasi.
Oh ya, Bu? / Apa?
Apa Ibu ingat buku bergambar tentang badut yang selalu Ibu bacakan untukku?
Badut?
Badut yang di akhir cerita menangis.
Judulnya apa ya? Aku menyukainya.
Aku tidak ingat.
Meski aku menyukainya...
"Badut berdoa kepada rembulan."
Itu judul bukunya.
Apa kau tahu? Semua badut menangis.
Wajahnya berlinang airmata.
Semua badut menangis.
Tidak ada produk yang cocok untuk Badut berdoa kepada rembulan.
Tidak ada produk yang cocok.
Lelang
Badut berdoa kepada rembulan
Menampilkan 1 hasil
Aku pulang.
Shizuru, paket untukmu.
Oh. / Dari seorang laki-laki.
Dari Tobuse Wataru
Ini dari pelelangan online.
Aku menawar ini.
Pelelangan apa?
Hei, pelelangan apa?
"Badut berdoa kepada rembulan."
Benar ini.
"Ini buku lama, jadi tidak dalam kondisi yang bagus."
"Tapi pewarnaannya bagus dan elok."
"Aku harap kau suka."
Nama pengguna "Tobuse711" itu seorang laki-laki.
Dari Tobuse Wataru
Aku sudah menerima bukunya
Sudah lama sejak terakhir aku mengirim pesan kepada laki-laki.
Yah, ini tidak penting.
"Lalu, sang badut mengobral kata-kata indah
kepada bintang sirkus, seorang akrobat tali."
Cerita apa?
Ada seorang badut yang mengobral kata-kata, dan ia menulis puisi indah.
Ia memberikan kata-kata tersebut kepada bintang sirkus, seorang laki-laki pemain akrobat tali.
Sang lelaki mencoba mendapatkan hati sang wanita dengan kata-kata tersebut.
Jadi, si badut adalah penulis surat cinta?
Iya.
Satu-satunya hal bagus yang dimiliki sang badut adalah kata-katanya.
Jadi ia...
Merangkai!
Ia merangkai kata-kata indah. / Romantis!
Akhirnya bagaimana?
Pada akhirnya sang badut jatuh cinta,
tapi ia telah memberikan semua kata-kata indahnya.
Jadi, ia hanya bisa berdoa kepada rembulan.
Seperti itulah.
Nenek tak ingin langsung ke akhir cerita.
Apa ini?
Sesuatu terjatuh.
Ini dari buku, 'kan?
Benar.
600 gram tepung, 300 gram gula pasir.
Aduk merata agar tidak menggumpal.
Apakah ini?
Maaf, Tobuse-san.
Aku membuka buku dan menemukan sebuah resep di dalamnya.
Tampak lama.
Bolehkah aku buang?
Mungkinkah resep ini...
Di halaman tengah buku, para pemain sirkus memakan camilan.
Apakah ini resep untuk camilan itu?
Dari Tamai 333.
Wataru...
Tobuse Wataru?
Ya, kurasa begitulah pengucapannya.
Sepertinya ganteng.
Dia mungkin masih muda.
Namanya terdengar muda.
Menurutku dia sopan.
Nama hanyalah nama.
Alamatnya?
Setagaya di Tokyo.
Dia di kota para remaja, ya?
Bisa saja ini awal dari sesuatu.
Tidak.
Selamat datang.
Bisnisnya lancar, ya?
Terima kasih.
Kau memang pekerja keras.
Aku berpisah dengan anak-anak.
Setidaknya yang bisa kulakan adalah membuka kafe atau sesuatu.
Jika tidak...
Apa yang akan dikatakan oleh orang-orang?
Aku membuka kafe ini agar hal tersebut tidak terjadi.
Kau seharusnya menikah.
Silakan.
Sudah terlambat.
Bukankah itu istri bosmu?
Mainlah di luar.
Iya! / Mainlah.
Maaf, Megumi-san.
Iya segera!
Apa kau tidak khawatir?
Suamimu adalah dokter yang ganteng,
dan teman sekelas saat SMA bekerja untuknya, 'kan?
Maksudmu bakal terjadi sesuatu?
Suamiku sengaja melakukan itu.
Lebih hemat daripada anak muda.
Jadi dia tidak muda?
Suamiku umurnya 42 tahun.
Dan teman sekelasnya berarti...
Ya ampun!
Suamiku suka gadis muda,
jadi suamiku takkan tertarik dengannya yang berumur 40.
Kau kejam!
Ada apa?
Maaf, kopinya sudah kubayar. Aku boleh lewat belakang?
Boleh...
Nenek?
Maaf, apa aku menakutimu?
Aku tidak bisa tidur, jadi aku nonton TV.
Lanjutkan saja.
Ini berisik.
Obat tidur?
Aku tidak bisa tidur.
Aku tetap tidak bisa tidur meski sudah meminumnya.
Haruskah kita ke dokter untuk menambah atau mengubah dosisnya?
Akan lebih baik jika bisa tidur tanpa obat itu.
Sama sepertimu.
Jika tidak minum, aku besok akan mengantuk.
Benar.
Sudah kuminum!
Aku iri padamu.
Kau mempunyai hari esok.
Aku iri kepada orang yang memiliki rencana untuk hari esok.
Rencana?
Aku tidak mempunyai rencana apa pun.
Nenek...
Aku hanya hidup.
No comments yet. Be the first to leave one.