نخستین 200 خط.
.: Diterjemahkan oleh Baalthazar :. IDFL™ SubsCrew
Episode12 Mempelai pria dan wanita, saling memberi hormat!
Kau bilang kau mempercayai Yeok? Kujamin...
kau akan segera mulai mencurigainya karena dia membohongimu.
Mempelai pria dan wanita, minum bersama.
Bila benar dia tak tahu kabar juru tulis,
dia akan ke pondok karena ingin tahu soal perintah rahasia.
Bila dia tahu di mana juru tulis berada,
dia akan menyadari surat itu palsu,
dan Seo No akan pergi menemui ayahnya
untuk memastikan bahwa ayahnya selamat.
Seo No.
Ayah.
Ayah./ Seo No! Seo No.
Ayah tak apa-apa?
Ayah tak apa-apa, Seo No.
Ibu Suri memberi restu, dan pernikahan ini adalah perintah kerajaan.
Namun, kuharap pernikahan ini bukan pernikahan politik
namun pernikahan biasa.
Aku paham maksud ucapanmu.
Mulai sekarang, nasib Chae Gyeong ada di tangan anda.
Hiduplah hanya sebagai menantuku,
suami Chae Gyeong, dan adik Yang Mulia.
Aku tulus memohon pada anda.
Takdirmu dengan anakku sangat menarik.
Setelah perjalanan panjang akhirnya kembali ke permulaan. Bukan begitu?
Orang bilang semua di dunia akan menemukan jalan kembali.
Faktanya kita bersatu kembali setelah sekian lama
maka artinya sudah ditakdirkan, bukan?
Aku takkan mengulang kesalahan yang sama.
Maka, mohon hapus kemarahan yang dulu,
dan bila masih ada rasa benci, mohon lupakanlah, Ibu Suri.
Sejak jaman dulu,
hidup wanita untuk memenuhi keinginan ayahnya sejak lahir,
keinginan suaminya setelah menikah,
dan keinginan putranya setelah semakin tua.
Kini aku bisa mempercayaimu akan berada di sisi Yeok,
bukan di sisi Perdana Menteri dan hidup sesuai keinginan Yeok?
Ya, semua yang kuterima dan pelajari dari ayahku selama ini, kini...
akan kubagi dan kujalankan dengan suamiku.
Ibu Suri, tabib wanita dari balai pengobatan kerajaan sudah tiba.
Berhenti!
Serangan berhenti di tengah jalan.
Mereka mengejar hal lain.
Pangeran.
Chae Gyeong.
Aku ada urusan mendadak. Aku akan segera kembali.
Sampai nanti di rumah!
Dia langsung pergi setelah menikah, mungkin dia punya wanita lain?
Bibi!
Atau tidak.
Yeok terburu-buru pergi kemana?
Aku tak tahu.
Periksa denyut nadinya.
Ya, Ibu Suri.
Yeok! Kau tak apa-apa?
Semua baik-baik saja?
Seo No di mana?/ Dia belum kembali. Kenapa?
Semudah itu mereka menghentikan serangan, sangat mencurigakan.
Sejak awal mungkin bukan kita targetnya.
Lalu apa targetnya?
Seo No.
Apa?
Seo No!
Bagaimana ayahmu?
Saat aku pergi sebentar membeli makanan,
dia meninggalkan surat ini lalu pergi.
Tak ada pergerakan lain? Tak ada yang mengikutimu?
Tidak, tak ada yang mencurigakan.
Apa dia benar-benar pergi?
Apa? Dia pergi begitu saja? Tanpa memberitahu perintah rahasia?
Ya, benar. Perintah rahasia. Saat bersamanya, dia tak membicarakannya?
Tak ada waktu./ Aneh sekali.
Dia tak marah pada putranya. Kenapa tiba-tiba pergi?
Yang Mulia, Ibu Suri tiba.
Persilahkan masuk.
Ada perlu apa ke sini?
Tampaknya anda terluka.
Bagaimana kau tahu?
Dalam hubungan ibu dan anak, ini sudah seperti kebiasaan.
Meski melihat dari jauh, saya bisa melihat luka anda.
Kebiasaan buruk.
Bagaimana anda bisa terluka?
Aku terluka saat berburu.
Kupikir seekor rusa, ternyata seekor serigala.
Lalu apa yang terjadi?
Anda menangkap serigala itu?
Akan segera kutangkap. Setelah tertangkap, akan kukuliti
dan persembahkan padamu, Ibu Suri.
Peran Ibu yang khawatir sudah cukup. Tolong pergi.
Aku tak tahu rencananya. Wajahnya terluka namun tetap tenang—
Apa dia sudah mengetahui perintah rahasia?
Aku mendapat kesan dia menunggu saat untuk menjebak Yeok.
Untuk sementara, aku diam-diam menyuap dayang di kediaman Raja.
Dia bilang akan segera melapor bila ada yang tak biasa. Kita tunggu saja.
Aku menikah hanya sekali, hanya sekali ini!
Aku ada urusan mendadak. Aku akan segera kembali. Sampai nanti di rumah!
Kujamin kau akan segera mulai mencurigainya.
Nona!
Aku atau suami nona yang melepaskan ini, sama saja.
Leher Nona bisa sakit. Jangan bergerak!
Orang yang seharusnya jadi suami nona—/ Berhenti!
Kepalaku sudah pusing.
Apa nona sudah satu atau dua bulan menikah?
Dia kelihatan sopan santun tapi kelakuannya...
Kalau aku jadi nona, kupatahkan kedua kakinya.
Nyonya, aku Kasim Song.
Anda datang, Yang Mulia.
Kupikir semua sudah kusiapkan, ternyata ada kulupakan.
Ini obat-obatan untuk saat darurat.
Saya tersanjung, Yang Mulia. Bagaimana anda bisa memikirkannya?
Belum lama, banyak kejadian yang menyebabkan Yeok terluka
dan tampaknya masih akan berlanjut.
Sepertinya Yang Mulia juga terluka.
Apa kalian berkelahi?
Berkelahi? Siapa? Aku dan Yeok?
Saya dengar saudara tumbuh dengan saling berkelahi.
Saudara?
Apa Yeok juga terluka?
Setelah upacara pernikahan, saya belum sempat melihat wajahnya.
Tapi anda datang ke sini untuk memberikan itu?
Tentu tidak.
Kau lupa janji kita? Kau bilang akan jadi mata-mata.
Bukankah saya harus lebih dulu mendapatkan kepercayaan Pangeran?
Untuk mengetahui sesuatu dari pihak lawan,
saya harus mendapatkan kepercayaannya. Saat ini—
Dibandingkan kepercayaan Yeok,
bukankah lebih penting mendapatkan kepercayaanku lebih dulu?
Kau harus membuktikan kalau kau takkan menentangku
dan memenuhi peranmu sebagai mata-mata.
Kemarin, aku pergi ke pegadaian yang sering didatangi Yeok,
tapi ada hal aneh.
Saat aku ke pegadaian, Yeok pasti tak ada di sana,
namun 30 menit setelah aku pergi, Yeok keluar dari pegadaian.
Menurut bawahanku yang mengawasi pegadaian,
selama itu tak ada yang masuk.
Menurut pendapatku, pegadaian itu mencurigakan.
Kau tak ingin tahu yang disembunyikan Yeok?
Untuk berjaga-jaga, hubungi Pengantin Siput dan cari ayah Seo No.
Yoo Ja Gwang bagaimana?
Kalian bertemu gisaeng yang katanya adalah selirnya?
Rencananya akan kami selesaikan malam ini.
Ayah Seo No dan Yoo Ja Gwang serahkan pada kami.
Jangan khawatir, pulang saja.
Ini malam pengantinmu.
Aku tak apa-apa.
Kalau begitu kuserahkan pada kalian./ Ya!
Ini malam pertama kalian bersama, setidaknya bawakan bunga.
Kalau di malam pernikahan membuat kesal, kau akan menderita seumur hidup.
Memang terlambat tapi selamat atas pernikahanmu, Hyungnim.
Aku hanya punya kalian.
Astaga!
Kau terlambat. Kurasa bunga itu sebagai hadiah permintaan maaf.
Sayang sekali, kau sudah ganti pakaian.
Bukankah harusnya aku melepaskan aksesoris dan gaun pernikahanmu?
Sejak kapan kita peduli etika seperti itu?
Itu sebelum menikah, kan? Sekarang kita sudah menikah—
Jadi kau pulang terlambat gara-gara kita sudah menikah.
Kau sudah rindu kebebasanmu?
Chae Gyeong-ku, kau bisa bercanda.
Masih banyak harus kukejar, Pangeranku.
Barusan kau bilang, Pangeranku?
Yang Mulia juga memberi hadiah.
Hyungnim—
Apa kau sakit atau terluka?
Tidak, aku tak apa-apa!
Kau belum makan? Akan kusiapkan makanan.
Apa dia tahu?
Ini...
kau ingat, kan? Waktu di gua,
aku terluka. Mungkin karena panahnya beracun tapi—
saat hampir sembuh, justru semakin parah.
Ya. Apa aku bilang sesuatu?
Walau kau katakan luka ini bukan dari gua berbulan-bulan silam,
tapi bertahun-tahun silam, aku akan percaya.
Karena aku bisa mempercayai apapun yang ingin kupercayai.
Orang yang ingin kupercayai,
aku hanya akan mempercayai kata-kata dan hatinya.
Chae Gyeong.
Namun,
Tapi aku tak bisa mencegahmu dari terluka,
maka kalau bisa, jangan sampai terluka.
Bukan karena dirimu, tapi karena aku.
Karena aku merasa lebih sakit.
Nona, makan malam sudah siap!
Maaf, Seo No.
Ayah meninggalkanmu lagi.
Apa kuasa kita bila nasib orang seperti kita
bergantung pada keputusan orang di atas kita?
Ayah, kubawakan makanan...
Kau mengikuti keyakinan ayah dan melindungi Pangeran Jin Seong.
Ayah harap kau tetap teguh dan tegap melangkah di jalanmu.
Putra ayah yang gagah berani,
terima kasih dan maafkan ayah.
Setidaknya kita makan bersama sebelum ayah pergi.
Apa ada yang tertinggal?
Kenapa melihatku seperti itu?
Apa karena ini?
Ini surat dari ayahku. Kalau kau tak percaya—
Aku bicara apa?
No comments yet. Be the first to leave one.