139 ensimmäistä riviä.
SULAWESI SELATAN SEKITAR TAHUN 1950
Hei!
Kemari!
Mau ke mana kalian?
Apa yang ada di dalam mobil?
Bawa ini.
Kemari!
- -
Lelah dari Bone pasti hilang, bukan?
Ini tempat yang beruntung, Puang Ajji.
- Kualitas paling bagus yang ini. - Ambil yang ini.
Terima kasih, Andi.
Bagaimana ini?
Ambil ini.
Sarung bantal dan selimut tipis dari Jawa
bisa laku kalau dijual di Bulukumba.
Jadi berangkat, Pak?
Beri tahu saja,
kalau ada hasil pembelian yang bisa masuk toko,
bawa saja, nanti kita atur di sini.
Rusdi, jika tidak ada halangan
atau gangguan gerombolan,
bawa anak-anakmu ke Makassar, dan sepupuku, Aisyah.
Ya.
- Assalamualaikum. - Walaikumsalam.
Selamat pagi saudara pendengar
Kepulauan Nusantara dan di Makassar...
Ingat ini, Ajji?
Ya.
Saya yang bawa itu saat kita menikah.
Ibuku sendiri yang membuat itu.
Ya, masih bagus.
Istriku juga masih cantik.
Kapan terakhir datang bulan?
- Tante? - Sini.
Kita siapkan tenaga, membuat popok-popok baru.
Sebentar lagi ada adikmu.
Hai.
Terima kasih.
Terima kasih.
Senyum semuanya.
...maju ke depan
dan terjadi sebuah tendangan dan gol!
- Gol! - Gol!
Salat Asar.
Yang ini belum?
Yang menghadap ke depan sudah?
Cu?
Cu.
Subuh, Nak.
Tidak ada hubungannya punya anak atau tidak.
- Untuk kebersamaan, Puang Ajji. - Ya.
Insya Allah kita dari pengajian ada di belakang semua.
Ya, Puang Ajji.
Kalau sudah teruji,
- bisa menghadap keluarga. - Ya.
- Ini pertanda baik. - Ya, benar.
- Silakan. - Silakan.
Yang penting organisasi ini harus berjalan.
Makan yang banyak, ya?
Supaya seperti bapakmu.
Usaha kita masih baru.
Cari apa?
Minyak rambutku.
Oh, ya.
Ini sudah habis.
Aih, aih.
Ada pesta yang diam-diam kau sembunyikan dari saya.
Bu, ada saudara datang dari Jawa
mau memasok beras.
Ah.
Aku pergi dahulu.
Makan malam di rumah, ya.
Ya, insya Allah.
Di mana ibumu?
Aisyah.
Masih panas palumaramu.
Makan. Makanlah, Cu.
Ira, bagikan piring.
Berapa malam di Parepare?
Paling lama tiga malam.
Anno! Siapkan mobil!
Pergi dahulu, Cu.
Asalamualaikum.
Walaikumsalam.
Bagaimana pertandingan tadi malam?
Bagaimana Ramang ini?
PSM tidak akan menang.
Seperti tentara yang diberi pistol kosong.
Asal tembak saja.
Cu?
Kabar apa yang kau dapat dari kantor?
Tendang!
Sini, Cu.
Cu! Bagi, Cu.
Cu!
Cu, main bola yang benar.
Ayahmu bisa main perempuan.
Cu!
- Sudah, sudah. - Sudah.
Daeng?
Di mana Ucu?
Mungkin masih bermain bola.
Bawa adikmu masuk.
Saya memanggilmu
karena saya mau bertanya.
Apa benar yang orang-orang bilang?
Kapan pestanya?
Rusdi.
Malam ini, Bu.
Di Jakarta.
Ibumu lahir di masa susah.
Musim kering panjang di Bukaka saat itu.
Saya tinggal di pinggir kampung.
Di pinggir sungai.
Dijauhkan
karena ada istrinya Puang nenekmu.
Ibu kalian lahir.
Lalu hujan mulai datang.
Tanah Bukaka menjadi harum.
Saya beri ibumu nama yang indah.
Athirah.
Keharuman perempuan.
Saya tetap ada di sini.
Saya yang memanggil anak-anak untuk makan.
Saya yang panggil anak-anak untuk Subuh.
Kita makan malam bersama-sama.
Tidak ada banyak perubahan.
Sementara saya temani dulu.
Asalamualaikum.
Walaikumsalam.
- Kami sekolah, Bu. - Asalamualaikum.
Walaikumsalam. Hati-hati, Nak.
- Kau yang mengurus ini, bukan? - Ya, Pak.
Kita makan siang dulu.
Makan nasinya yang banyak.
Ikan, Puang.
Cu. Subuh, Nak.
Hei,
No comments yet. Be the first to leave one.