200 ensimmäistä riviä.
Pukulan yang pendek.
Tampaknya bukan sekali dia punya pukulan bogey seperti itu.
Pastinya lebih pintar dari itu.
Tapi mari kita lihat bagaimana berikutnya.
Oh, sempurna. Benar-benar ahli.
Sekarang kita menuju ke Lee Trevino, untuk melakukan fairway ke tujuh.
Sepertinya dia meninggalkan lubang divot.
Tentu saja petugas turnamen sudah menugaskan
caddie untuk mengisi lubangnya.
Dalam permainan setingkat ini, kami harus terus memperhatikan etiket golf.
Tidur saja.
Lihat aku.
Hmm?
Aku tak tahan lagi.
Maaf?
Kau mengurung jiwaku seperti dalam penjara.
Aku mau pergi.
Jack?
Jack. / Jika kau meninggalkan aku, aku akan melemparnya.
Kau kira tak akan kulakukan, hm?
Kumohon. / Kau kira tak akan kulakukan?
Aku tak akan meninggalkanmu.
Maafkan aku. Tak akan kulakukan lagi.
Jangan pernah tinggalkan aku. Jangan lakukan hal itu lagi.
Penerjemah: xtalplanet
Silakan para jemaat duduk.
Halo? / Jack.
Betsy.
Saudaramu meninggal dunia.
Oh tidak,
akhirnya dia bisa lepas dari penderitaannya.
Ya, memang. / Oh, aku tahu.
Sudah berapa kali kudengar "kenapa kau tak seperti saudaramu Bobby"?
Jika aku diberi uang setiap mendengar kalimat itu,
sekarang pasti aku sudah kaya.
Bekas luka yang ada di dahinya,
dia selalu punya cerita tentang itu,
namun sebenarnya aku yang melemparkan palu itu kepada Mr. Perfect ketika usiaku 8 tahun.
Dia melindungi orang-orang yang dicintainya.
Itulah dirinya, dan aku sangat menyayanginya.
Dan aku ingin seperti dia.
Dalam segala hal.
Hanya itu yang ingin kukatakan.
Jika bukan karena Bobby, mungkin aku...
Entahlah...
Ketika aku sedang bermasalah.
Dia mengajarkan aku tentang hidup, mana hal yang benar.
Aku sangat kehilangannya.
Hidupnya ada di jalan yang benar. Dia adalah...
Pendapat seperti apa yang ingin kau dengar?
Semua kitab suci menuliskan tentang keadilan Tuhan.
Maksudku, aku pernah membaca tentang seorang hakim yang tidak adil,
dimana ia selalu didatangi wanita yang mengatakan...
Kepedulian, cinta, kemaafan...
Aku ingin tahu apakah kalian setuju dengan semua yang kalian dengar?
Kukira itulah pilihannya, gagasan kebebasan,
dan kenyataan tentang pilihan kebebasan untuk kita...
Kenyataan yang kita hadapi sekarang,
Semua kecemasan yang dihadapi orang-orang di kota ini,
bahwa kita sedang melalui semacam perubahan mendasar
Barrack Obama pada hari sebelumnya, menyetujui
apa yang dia sebut sebagai paket stimulus. Ia menandatanganinya 4-5 bulan yang lalu,
seperti "memasukkan uang tunai ke dalam dalam kantong para wajib pajak."
Jika kau seorang wajib pajak di wilayah Detroit
yang akan menerima uang dari rencana stimulus itu,
aku akan senang mendengarnya, kau juga boleh menulisnya di internet,
namun kami lebih suka mendengarnya langsung.
Kevin di Warren. Kami terhubung dengan Kevin. Terimakasih.
Sama-sama.
Hai, Pam.
Terimakasih.
Tidak, itu memang benar.
Tuhan saksiku, aku sudah berubah.
Bersama Yesus dan keluargaku...
Astaga, maafkan atas kelakukanku.
Maksudku, aku mencuri toko minuman keras dengan senjata mainan.
Coba kau pikirkan, orang bodoh macam apa yang melakukan itu?
Warden memanggilmu.
Hai, Allie.
Hai, Mitch. Kanice. / Jack.
Apa kabar? / Tutup pintunya, Jack.
Orang bernama Deshawn Mackey.
Ini milikmu? Laporanmu, bukan? / Ya. Kenapa memangnya?
Ini kacau sekali, Jack.
Maksudku coba lihat, aku tahu kalau kau terbebas dari pengaruh golf,
tapi ini parodi dari kasus sebenarnya di sini.
Kena kau. / Kau berhasil mengerjai aku.
Ini. Belajarlah dari ahli pembuat pernyataan.
Pasti. / Pelajari terus.
Sekarang aku harus mendongkrak kinerja Janice sebelum kau mulai tugasmu,
sehingga kau tak akan menganggap dia tidak layak.
Ya, tentu saja, tapi aku lebih senang dengan tugasku yang sekarang,
aku bisa melihatnya melalui tinjauan-tinjauan, tak masalah, kan?
Ya, kalau itu maumu.
Terimakasih. / Ya.
Sudah. / Baik.
Oh, hei. Aku turut berduka.
Apa?
Saudaramu itu, aku baru mendengar kabarnya, aku turut berduka.
Terimakasih.
Baiklah. / Ya.
Stone.
Hm?
Namaku Stone.
Di berkas itu namaku ditulis "Gerald",
tapi aku lebih suka dipanggil Stone.
Gerald Creeson. Jadi Stone itu nama panggilan?
Nama panggilanmu di sini?
Bukan, bung. Persetan dengan mereka.
Itu nama panggilan yang diberikan teman-temanku. Orang yang mengenalku.
Dengar, apa kita cuma... Apa kau cuma menconteng kertas itu?
Apa kita bisa langsung ke intinya?
Maksudku, kau bisa membantuku atau tidak? Karena menurutku,
aku sudah tak layak tinggal di sini. / Coba tenang dulu.
Aku sudah lama di sini, bung. Tiga tahun lagi tak akan...
Tenang. Mari kita bicarakan tentangmu.
Kau mau cerita kejahatanmu? / Semuanya ada di situ.
Kenapa aku harus cerita lagi? / Karena kau urusanku sekarang.
Kau sangat bersemangat.
Karena itu aku ingin bicara.
Semua orang-orang di sini, mereka tak bisa berbuat apa-apa,
mereka banyak yang tak bersalah, kan?
Namun paling tidak aku bisa terima.
Kau tahu, aku ditangkap karena melakukan kebenaran,
dan sekarang aku melihat ke depan, bung.
Aku masih punya masa depan,
kenapa setiap kali aku harus menceritakan ini?
Karena aku ingin mendengarnya langsung darimu.
Kau makin mengacaukan semuanya. Persetan denganmu.
Sudah cukup, aku tak mau lagi. / Hei, nak.
Kau boleh memanggil mereka agar aku dilemparkan ke sel lagi, bung.
Tulis saja apa yang ingin kau tuliskan, terserah padamu, bung.
Karena aku tetap tak bisa keluar. / Hei, nak. Stone.
Ayo, coba saja. / Tenang.
Kau kira aku tak akan melakukannya. Aku melihatnya sendiri.
Stone!
Kutemui kau di luar, bangsat.
Stone! Selangkah kau keluar dari sini
akan kupastikan berkasmu kuletakkan di tumpukan paling bawah.
Kau mengerti? Kau lihat pintu di depanmu itu?
Kau akan kembali ke tempatmu.
Kau mau kembali? Biar kutebak.
Kau ingin berubah, kau ingin keluar dari tempat ini,
kau tahu dimana pintu itu? Akulah pintunya.
Kau harus turuti apa kataku. Jika aku bertanya tentang apa saja,
sebaiknya kau menjawabnya, kalau tidak kembalilah dan jumpai aku tiga tahun lagi.
Kau mengerti? / Ya.
Kalau begitu duduklah. / Baik.
Wah, ada yang mengawasi rupanya.
Aku suka dia, bung. Dia tegas.
Baiklah, dengarkan.
Dengarkan, ini adalah sebuah proses.
Kita bicara di sini.
Kita tidak berteman, namun anggap aku seolah temanmu, paham?
Tenang, lalu bicara, itu saja,
dengan begitu kita berdua mendapatkan apa yang kita inginkan, ya?
Baik, mari berpura-pura berteman. / Baik.
Kau sudah menikah.
Ya.
Baik, itu bagus.
Sudah berapa lama kau menikah?
Sembilan tahun, bung. Delapan tahun sisanya kuhabiskan di sini.
Itu sudah ada di berkas itu, bung. Aku tak ingin...
Mari kita bicara soal isterimu.
Lucetta? / Hmm, ya.
Kau pernah bertemu? / Tidak.
Dia itu sepuluh, teman. / Sepuluh apanya?
Nilainya sempurna, 10. Dia luar biasa.
Kubilang padamu, hanya aku dan kau.
Dia itu alien.
Alien? Maksudmu ilegal?
Tidak, dia legal, bung. Dia lebih putih daripada kau.
Yang kumaksud, dia seperti,
dia seperti alien dari dunia lain, bung.
Dia sering mengunjungimu? Membawamu piknik setiap Sabtu?
Aku tak pernah piknik, bung. Aku sangat merindukan dirinya.
Kau tahu, aku suka caranya mengisapku sampai aku tak punya apa-apa lagi.
Dia itu gila, dia mau melakukan apa saja.
Menyetubuhinya. Klimaks di wajahnya, dia cuma berkedip dan terus tertawa, bung.
Dia adalah,
dengar, jika sedang membahas Lucetta, sebaiknya kau berhati-hati,
karena aku bisa menanamkan gambaran ke dalam kepalamu
yang akan membayangimu setiap malam, bung.
Oh bung.
Maaf, maaf, aku besar mulut.
Maafkan aku, bung. Kau menatapku seperti itu,
aku merasa kau ingin segera mengakhiri omong kosong ini.
Dengar, bukannya aku protes.
Aku cuma ingin jadi vegetarian.
Itu isterimu?
Ya.
Sudah lama? / 43 tahun.
Luar biasa.
Benar-benar cinta sejati, ya?
Bagus sekali, setelah 43 tahun kau masih mendapatkan keinginanmu?
Maaf? / Aku cuma penasaran.
Memang benar aku mencintai isteriku,
tapi terkadang aku ingin tahu,
rasanya seperti apa ketika kulitmu sudah mulai keriput,
kau tahu kan maksudku? Maksudku bagaimana caramu melakukannya?
No comments yet. Be the first to leave one.