200 ensimmäistä riviä.
Gila! Kau mau aku bilang apa?
Aku bingung, Jo. Bilang kau mau aku komentar apa.
Masalahnya kau tak tahu harus bilang apa.
Kau tahu?
Mereka tak suka padaku.
Itu tidak benar.
Karena ayahmu menawarkanku anggur seolah tak tahu.
Ibumu juga menatapku jijik.
- Mungkin marah kalkunnya dingin, Ray. - Harus bagaimana?
Kita terlambat datang.
Kecepatanku 55, itu batasnya.
Begitu? Aku pengemudi yang aman.
Baiklah.
Kita pulang saja dan merayakan Thanksgiving lagi.
Bertiga saja. Cara kita.
Kita bisa pesan piza. Peri suka piza.
Lalu kita saling bersyukur.
Setuju?
Kita tak bisa terus begini.
Kita...
hancur.
Sudah sejak lama.
Entah kenapa kau berkata begitu.
Ingin kubahas saat bicara serius, tapi tidak pernah.
Itu tak adil.
Aku kerja dan kadang aku suka berpikir.
Kau tak berjuang lagi seperti dulu.
Kita bagaimana?
Aku harus jadi siapa?
Dirimu sendiri.
Yang kunikahi enam tahun lalu.
Pria yang dulu aku ajak tertawa dan impikan...
Aku masih begitu, Jo.
Kuakui aku sedang punya banyak masalah.
Tapi aku cinta padamu.
Mungkin harus lebih sering kuucap karena aku cinta...
Ray!
Ini mati.
Baiklah.
Rusak, Ibu. Lagunya tidak memutar.
Biar Ibu lihat.
Mungkin baterainya. Benar, Ayah?
Benar. Mungkin baterainya.
Kau bawa cadangannya, bukan?
Tertinggal di meja.
Ayah akan belikan baterai lagi, Sayang.
Ibu punya ide.
Ayo kita main I Spy .
- Tidak. - Tidak?
Apa maksudmu?
Bernyanyi saja.
- Mulai yang jelas saja. - Kita nyanyi.
" Shake It Off ".
- I Spy . - Itu bagus.
tapi " Sing a Rainbow " saja.
Baiklah.
Mungkin terlalu kekanak-kanakan.
Merah dan kuning dan merah muda dan hijau
Jingga dan ungu dan biru
Aku bisa nyanyikan pelangi
Nyanyikan pelangi
Nyanyikan pelangi untukmu
Dengarkan dengan matamu
Dengarkan dengan telingamu
Dan nyanyikan semua yang kau lihat
Aku bisa nyanyikan pelangi
Nyanyikan pelangi
Nyanyikan pelangi bersamaku
Ayah?
Ya.
Aku mau pipis.
Sekarang?
- Harus. - Bisa kau tahan?
Tidak.
Nanti kita mampir dan...
pipis.
Ya?
Mungkin di sana ada baterai.
TEMPAT PERISTIRAHATAN
Ibu, ayo! Aku mau pipis!
Baiklah.
Majukan badanmu.
Ingat, jangan sentuh yang tak diperlukan.
Tolong belikan Coke.
- Baik. - Entah kenapa aku haus.
Tolong baterai AA empat bungkus.
Dan ini dua.
Baik.
Tak terima kartu kredit.
Kalau begitu, kopi, Coke, dan...
Terima kasih.
Baterainya ada?
Tidak ada.
Ibu, kotak bedakku. Ada di mana?
Entah, kenapa tanya Ibu?
Karena hilang!
Sudah periksa di bawahmu?
Ya, tak ada.
- Aku bawa ke toilet, ingat? - Sudah periksa saku?
Di toilet?
Baiklah. Ibu akan cari di sana.
Jika ketemu, Ibu simpan sampai di rumah.
Baiklah.
Bisa periksa jok belakang?
Ya.
Ayah, periksa joknya.
Ayo.
Kemari. Ayah pegangi.
Baiklah.
Tetap di situ.
Peri, di sini berantakan sekali. Ayah mulai dari mana?
Sial!
Ayah.
Hanya saja...
Ini akan meninggalkan noda, tahu?
Bagaimana jika Ayah mau jual mobil ini? Tak bisa.
Kurasa ini bonusnya saja.
Peri, kotaknya tidak ketemu.
Ayah.
Ayah!
- Ayah! - Apa?
Jangan bergerak.
Jangan takut. Tetap di situ.
Hei.
Anjing. Pergi.
Hei! Pergilah.
Pergi. Minggir.
Bukan kau, Peri. Tetap di situ. Jangan bergerak.
Tetap di situ.
Sana!
Pergi!
Jangan bergerak.
Peri, berhenti.
Diam.
Tenang. Ayah akan menakutinya.
Tidak!
Maaf, Pak Monroe. Dia sudah tiada.
Mereka berdua tiada.
Ray?
Ray?
Ray!
Anakku!
Ray!
Ayah.
Sayang?
Astaga. Sayang.
Sayang?
Joanne, jangan angkat.
Dia baik-baik saja.
Baringkan dia.
Dia baik-baik saja.
Ini dia.
Ayah di sini.
Kau terluka?
Kurasa tidak.
Tampaknya tidak ada lecet atau lebam.
Dia butuh dokter.
- Aku tahu yang kulakukan. - Ray.
Ayah gendong, ya?
Tunggu. Ada apa?
- Lenganku sakit, Ayah. - Yang ini?
Sepertinya patah.
Ayo coba lagi.
Pelan-pelan.
Jangan sakiti aku, Ayah.
Tidak akan, Sayang.
Tidak akan pernah.
Pelan-pelan, Ayah.
Pelan-pelan.
Tak apa-apa.
Tenanglah. Ayah gendong.
SEMOGA LEKAS SEMBUH
Kita masuk.
Tak apa-apa.
Kutelepon 911.
Tak usah. Aku jalan lagi.
Tadi aku lihat rumah sakit.
Saat ambulans tiba, dia sudah dapat bantuan.
Kau yakin?
Biar aku urus.
Tetap sadar sampai di rumah sakit. Ayah akan bawa kita secepatnya, ya?
Minggir.
Cepat.
Sedikit lagi.
Ayo.
Cepatlah.
Baiklah.
Itu dia.
Ayah mengantar kita.
Hampir sampai.
Baiklah.
Aku ambil kursi roda.
Aku gendong saja.
Baik, Sayang.
Aku akan daftar. Tak akan lama.
IGD
Kami sudah menunggu berjam-jam. Kenapa lama?
Aku mengerti.
- Dia kesakitan. - Maaf.
Aku panggilkan...
No comments yet. Be the first to leave one.