Komedi Mederen Gokil

Komedi Mederen Gokil

Lataa Indonesian -tekstitys

Julkaisutiedot

Komedi Moderen Gokil 2015 NF WEB-DL
Kommentaari Putra14
Netflix Retail.

Tunnisteet

Web-DL
web-dl
web
WEB-DL
Julkaistu: 2020-08-05
Lataukset: 13
Kuulovammaisille: No

Indonesian tekstityksen esikatselu

163 ensimmäistä riviä.

Perhatian, perhatian.

Bagi penonton yang sudah berada di dalam bioskop,

mohon tidak keluar, kecuali ke toilet,

karena film segera dimulai.

Halo, Semua...

Terima kasih kepada warga Jakarta yang membantu dan mendukung

terselenggaranya film ini.

Tanpa bantuan dan dukungan mereka...

Ya, paling-paling kita pindah ke kota lain.

So sweet.

Copet!

Mas Copet! Cepat amat larinya!

Mas!

Mas! Tunggu, Mas! Mas Copet!

Kencang amat larinya!

Terima kasih, Pak.

Mas Copet, dipanggil-panggil lari terus. Larinya kencang pula.

Aku cuma butuh alamat ini. Dompetnya buat kau.

Dompet kosong pula.

Kalau dari tampang dekilnya, sepertinya aku kenal anak ini.

Dit, kaukah itu?

Hei, Boris!

-Sedang apa kau di sini? -Kau sedang apa di Jakarta?

-Aku mau mencari kerja. -Cari kerja? Sama kalau begitu.

-Kau mau tinggal di mana di Jakarta? -Tinggal di sini.

Kalau begitu, kita sama. Aku pun mau ke Jalan Burung, Gang Beo, nomor 9.

-Kau mau mengekos di situ? -Iya.

Halo? Iya, Sayang. Bapak sedang di bus.

Siapa yang menjemput Bapak di terminal?

Bawa mobil yang ada AC-nya, ya?

Ya, sudah, sampai nanti.

- HP dan orangnya cocok. -Kenapa?

Jadul.

Halo?

Iya, maaf aku terlambat. Tadi dari salon. Mobilku bannya kempis.

Sudahlah, sampai nanti. Bye.

Halo? Luci! Aku terlambat.

Bisa tolong beri tahu Pak Raymond?

Jika ada masalah, hubungi aku saja.

Terima kasih.

Sampai jumpa.

Halo. Hei, Pak Edi.

Ya. Aku akan segera tiba.

Sudah dulu, sampai jumpa tak lama lagi. Bagus.

Rambut saja diajak mengobrol.

Edan sekali.

Dit, ini namanya komedi modern.

Gokil.

- -

- -

Ya, Tuhan!

- -

Hei, kau berdoa apa?

Aku berdoa biar bajaj rodanya tetap tiga.

Memang kenapa?

Roda tiga saja jalannya kayak setan, apalagi kalau empat.

Bisa gokil.

Kalau dari pelang yang jatuh ini, betul ini rumah kosnya.

Alamatnya juga betul.

Namun, kenapa ini nomor enam, bukan nomor sembilan?

Iya. Ya, sudah. Ayo kita cari tempat lain.

Ayo.

Mbak, sebentar dulu. Ini rumah nomor enam atau sembilan?

-Aslinya sembilan, Mas. -Jadi, bukan nomor enam?

Ini nomor sembilan.

Sudah biasa.

Tiap pagi aku rutin membenarkan nomor, dari enam ke sembilan.

Berarti benar di sini alamatnya.

-Mau mengekos di sini, ya? -Betul, Mbak.

-Follow me. -Aku follow you.

Aku follow juga.

-Mbak mengekos di sini juga? -Bukan, saya asisten rumah tangga.

-Pasti namanya Inem. - Bukan. Sok tahu.

Kok seksi.

Kalau kamar cewek di atas. Kalau kamar cowok di bawah.

Di sini seru!

Jangan coba-coba naik ke atas. Bahaya kalau ketahuan sama Ibu.

Dit! Dodit!

Belum masuk kos, tetapi sudah mandi.

Kenapa kalian basah?

-Kami kehujanan tadi, Tante. -Sepertinya tak ada hujan sejak tadi.

Hujan lokal, Tante. Jadi, cuma kami berdua yang kena.

Kalian saudara?

-Ya, Tante. - Loh?

Nenek kami sama, Tante.

Neneknya dan nenekku sama-sama nenek-nenek.

- Ya, begitu. -Yang ini tak tertawa, Dit.

Memang kita kurang lucu, Ris.

Ini. Kalian pelajari.

Satu pasal saja dilanggar, bisa berakibat kalian dikeluarkan secara tak hormat.

Pembayaran boleh cash atau transfer.

Tidak terima kartu kredit, cek, apalagi Giro.

Mata uang rupiah. Pembayaran langsung satu tahun diskon satu bulan.

- -Boleh juga dicicil tiap minggu.

Asal pada tanggal satu, jumlahnya tepat dua juta.

So sweet.

Ada satu aturan keras yang tak tertulis di dalam buku.

Sekali lagi kalian berdua menatap anak saya Karin seperti tadi...

Boris.

Ris. Boris.

Bagaimana anak ini? Ditunggu malah pergi.

Mohon maaf!

Kenapa kau yang minta maaf? Aku yang menabrak.

Kenapa tutup mata?

Takut dimarahi Tante Maya kalau melihatmu.

-Kenapa begitu? -Tak tahu. Disuruh seperti itu.

Aturannya begitu.

-Kau anak kos baru, ya? -Iya.

Namamu siapa?

Dodit.

Katanya tak boleh melihat. Kenapa mau jabat tangan?

Kalau melihat tak boleh, tetapi jabat tangan belum dilarang.

Ya, sudah. Biar adil, aku juga tutup mata.

-Aku Karin. -Aku Dodit.

Kau mengintip, ya?

Sedikit.

Mami!

Astaga. Ada-ada saja. Zaman sekarang masih ada orang sepertimu.

Namun, kalau dilihat-lihat, manis juga. Seperti Eddie Murphy.

Tak tahu. Ayo pergi menonton.

Menonton di mana?

Oke juga penghuni di atas.

Penasaran, ingin lihat sarangnya.

Wah, masih satu kali naik lagi rupanya.

Ris! Boris!

Ris! Tata tertib, cowok tak boleh ke atas! Sini!

Perkenalkan, aku Boris. Anak kos baru di sini.

-Sasha. Kok bisa naik? -

Kebetulan aku bayar dua kali lipat tiap bulan, jadi diizinkan naik.

Kalau ketahuan Tante Maya, bisa diomelin kau.

Ris!

Boris lagi di atas.

Kau berisik sekali, Dit!

Yang di atas langsing-langsing, tahu?

Oke.

Tante.

Kali ini saya memaklumi kekeliruan kalian sebagai penghuni baru di sini.

Namun, sekali lagi ini terjadi, apa pun alasannya, kalian angkat kaki dari sini.

-Tegang, ya? Tertekan? -Begitulah, Om.

Kalian baru satu hari di sini.

Saya sudah 30 tahun hidup sama Tante.

Sekamar pula.

So sweet.

Kalau saya disuruh pilih jadi binatang apa sekarang ini,

-saya pilih jadi kecoak. -Kenapa, Om?

Karena si Tante cuma takut sama kecoak.

Kalau Papi jadi kecoak...

Mami jadi pembasmi serangganya.

Tante, kecoak!

- Bunuh! -Kecoaknya menjilatimu.

Astaga!

Sebentar, Tante. Sepertinya di rumah ini banyak kecoak.

Dodit, kita harus membasmi semua kecoak yang ada di rumah ini.

Siap! Tante tenang saja. Biar kami yang urus semua soal kecoak.

Ya.

Kami mulai sekarang. Permisi, Om, Tante.

Terima kasih banyak.

Terima kasih, ya, Boris, Dodit. Sekarang perasaan saya sangat tenang.

Pokoknya kami jamin, Tante, sekarang rumah ini sudah bebas kecoak.

Semua kecoak sudah saya suruh pindah jauh-jauh dari rumah ini.

Mungkin kalau ada kecoak, itu temannya yang mau berkunjung.

Memang mereka tak diberi tahu kalau sudah pindah?

Maaf, ya. Permisi.

Kommentit

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left