55 ensimmäistä riviä.
Tolong!
Tenanglah.
Kau pingsan selama lima menit.
Obat penenang ringan.
Cukup untuk menyeretmu tanpa terlihat.
Kau berat sekali, Kawan.
- Derita itu indah. - Samantha membantumu?
Jangan memikirkan detailnya. Ini lebih besar dari kita.
- Dokumenter terbaik. - Takkan ada yang menonton dokumentermu.
Orang suka menonton ini.
Aku merasakan penderitaan orang lain tanpa harus mengalaminya.
- Kenapa melakukan ini? Kau dapat apa? - Ini demi cinta.
Ini bukan cinta. Kau gila.
Kecintaan terhadap seni dan kebenaran.
Kau pembuat video viral itu, ya?
Ya, itu bagian dari dokumenterku tentang keindahan.
Keindahan yang menjadi keburukan.
Jadi, kau yang mencuri ponsel Tamara malam itu.
Kau mengirim pesan-pesan itu.
Kurasa itu sentuhan brilianku sebagai sutradara.
Andai kau melihat betapa banyak rekamanku.
Samantha!
Berhenti berpura-pura.
Kenapa? Tak bisa menemukan Xavi?
Tak semuanya terkait Xavi. Kau salah.
Semuanya terkait Xavi denganmu.
Kalau kupikir-pikir, kau mirip dengan pendahulumu.
Terobsesi dengan gurunya sampai dikeluarkan.
Aku tak meniduri pacarmu. Aku mencari kebenaran lewat dia.
- Kau dan dia menjebakku. - Apa maksudmu?
Saat Tamara ingin kau terlibat di dokumenter,
itu tak kuanggap serius, tapi lalu aku menonton videomu.
Aku jadi terobsesi dengan ide memukuli wajahmu dengan palu.
Itu akan terjadi.
Tidak.
- Tidak. - Kalian kira aku mati, Samantha.
Tapi kalian tak menguburku.
Itu tidak disengaja. Kami tak bermaksud begitu.
- Itu lelucon. - Lelucon?
Tahu penderitaanku karena lelucon itu?
Pato memeriksa nadimu. Kau sudah mati.
Aku bangkit dari kematian, Jalang.
Tunggu. Tenang. Aku punya info yang kau inginkan.
- Soal apa? - Soal ayah Xavi.
Dia menyuap hakim agar Zermeño tak dipenjara.
Itu konten, Daniel, kulakukan demi tanda suka.
Aku suka merekam dengan Handycam.
Itu menambah sentuhan realisme.
Kita menunggu klimaksnya. Itu akan segera terjadi.
Ternyata,
darah sang raja, darah King Xavi,
bukan biru.
- Dani? - Tamara.
Kau datang tepat waktu.
Aku marah dan memukul Xavi dengan palu.
No comments yet. Be the first to leave one.