200 ensimmäistä riviä.
Ada lebih dari 17.000 pulau berbeda
di kepulauan y ang membentuk Indonesia.
Selama ratusan tahun
pulau-pulau yang terkenal dengan rempah-rempahnya ini
telah menarik penjelajah dari seluruh dunia
untuk mencari keindahan dan petualangan.
Aku Lara Lee.
Aku penulis makanan Australia-Indonesia dan koki
dan aku dalam perjalanan menjelajahi tanah air leluhurku.
Itu mungkin ikan terbaik yang pernah kumakan.
Ada sesuatu yang sangat spiritual tentang tempat ini.
Sepanjang jalan, aku akan menemukan rasa baru.
Katanya makan aku.
Benar-benar mengatakan makan aku.
Terhubung dengan komunitas lokal.
Dia menganggapku lucu.
Lalu belajar lebih banyak tentang warisanku.
Seperti yang biasa dibuat nenek.
Jadi, bergabunglah denganku
sembari aku bepergian melewati beberapa pulau
paling eksotis di dunia
untuk mencicipi dan memasak dengan caraku
melampaui Bali.
Aku berada jauh di timur pulau Flores
perhentian terakhirku sebelum mencapai tempat kelahiran ayahku
di Timor Barat.
Sejauh ini, aku telah menjelajahi
garis pantai Warisan Dunia kepulauan ini
rumah bagi komodo kuno
serta beberapa kehidupan laut paling beragam di planet ini.
Sekarang, aku kembali di kota pelabuhan Labuan Bajo
dan aku antusias untuk menemukan apa lagi yang ditawarkan Flores.
Pelabuhan pertamaku adalah, tentu saja
pasar petani lokal.
Pasar akhir pekan ini ramai.
Yang kuperhatikan di pasar Indonesia adalah
bahwa produk di sini sangat musiman
dan yang mereka jual adalah yang mereka tanam di daerah lokal.
Itu sangat masuk akal, kan?
Ini sangat segar.
Aku suka ini.
Halo.
Apa ini?
Ini singkong, seperti ini, tapi itu yang putih.
Ini singkong.
Ini yang putih.
Ya.
Bagaimana kau memasaknya, Ibu?
Pertama kupas kulitnya
- lalu potong-potong. - Ya.
Baiklah. Kupas, potong, lalu goreng.
Singkong yang sangat sederhana
dan itu akan berubah menjadi camilan paling renyah.
Perpaduan antara kentang dan ubi.
Lezat.
Aku tak tahu apa ini, tapi kita bisa lihat di Flores
bahwa produk di sini sangat berbeda.
Ada banyak umbi, jadi, ada singkong.
Sesuatu yang terlihat seperti kentang atau lobak.
Ini terlihat seperti talas bagiku.
Di sana ada labu, labu siam
dan ubi.
Ini semua tentang pati.
Terima kasih, Ibu.
Aku melihat pengaruh Melanesia yang kuat dalam produk
yang tersedia di sini
seperti di Sumba.
- Apa ini? - Jantung pisang.
Jantung pisang.
Ini jantung pisang.
Ini jantung pohon pisang.
Kita bisa mengirisnya kecil-kecil
lalu menumisnya.
Enak sekali.
Enak.
Ini seukuran kepalaku.
Aku juga datang ke pasar
karena aku telah membuat janji untuk bertemu
pengelola restoran, Michael Agung
pemilik dan koki eksekutif dari salah satu
usaha makan Labuan Bajo yang terbaru dan paling menarik.
...dan mangga.
Michael.
- Hai. - Halo.
Lara, apa kabar?
Astaga. Senang bertemu denganmu di sini.
Kau selalu datang ke pasar ini?
Selalu.
Hal terbaik jika kau pergi ke pasar tradisional
di pagi hari.
Karena terkadang kau dapat harga bagus di pagi hari.
Entahlah, untuk keberuntungan, kami menyebutnya Penglaris.
- Aku tidak tahu itu. - Ya.
Jika kau pelanggan pertama, kau akan punya hak istimewa.
Tampaknya pemilik kios
terkadang akan memberi pelanggan pertama mereka
diskon khusus
untuk memikat mereka membeli
dan membawa keberuntungan ke kios mereka.
Kurasa ini salah satu yang terbaik di Indonesia.
Pisang.
Kau bisa mencobanya.
Aku suka pisang
dan selalu berpikir pisang Indonesia lebih manis.
Ini lebih manis terutama yang dari Flores.
Ini jauh lebih manis daripada dari daerah lain.
Manis sekali.
Ini seperti permen.
Benar. Benar.
Kau punya waktu untuk sarapan di rumahku?
- Dengan senang hati. Aku kelaparan. - Ayo. Datanglah ke tempatku.
Jadi, mari kita beli stoknya.
Kurasa...
Aku mau yang ini.
Ya.
Lalu, kalau mangga bagaimana?
- Aku sangat suka mangga. - Entahlah. Aku akan beli ini.
Baik, sekarang kita punya pisang dan mangga.
Enak.
Kurasa aku akan membuatkanmu panekuk.
Panekuk beras.
Aku sangat bahagia.
Dengan senang hati.
- Ayo. - Bagus.
Usaha restoran terbaru Michael sangat dekat
dari pasar.
Perusahaan baru bernama The Kitchen Garden
yang tersembunyi di pinggiran kota ini
adalah kebanggaan dan kebahagiaannya.
Ini dia. Tempatku.
Taman yang indah.
The Kitchen Garden adalah
restoran organik pertama di Labuan Bajo.
Aku ingin melihat lebih jauh taman ini
karena kurasa aku melihat beberapa daun yang tak kukenali.
Ya.
Ini daun ubi jalar
tidak terlalu umum dinikmati orang di Flores.
Tapi aku tahu bahwa daun ini sebenarnya bisa dimakan
dan sangat enak.
Itu dia, ini seperti salad, semacam salad.
Ya, tapi dengan sedikit rasa manis dan asam.
Manis, asam.
- Manis dan asam. - Ya.
- Daun ubi jalar. - Ya.
- Aku suka itu. - Ya. Ini sangat bagus.
Apa ini kebun baru?
Maksudku, ini terlihat sangat subur.
Benar. Ini kebun baru.
Kami menanam semuanya sekitar tiga sampai empat bulan lalu.
Kau bisa melakukan semua ini dalam tiga sampai empat bulan?
Ya.
Biar kutunjukkan apa yang kami lakukan.
Air sangat langka di sini.
Jadi, jika kau melihat botol di sana
itu memberikan air ke pohon demi pohon, seperti itu.
Sangat efisien untuk penggunaan air.
Ya. Tak ada yang terbuang.
- Tak ada yang terbuang sama sekali. - Ya.
Misalnya, yang ini
ini sebenarnya cara kami menanam tomat kami
untuk memberikan perlindungan.
Karena jika tidak, matahari bisa membuat kering bayi kecil ini.
- Ya. - Bayi tomat.
Mari beri dia kesempatan untuk tumbuh.
Aku suka itu.
Terima kasih.
Jadi, apa inspirasi di balik semua ini?
Pertama, ini konsep pertanian ke meja untuk restoran.
Lalu yang kedua, ini tentang pertanian.
Yang mendasari semua ini adalah keinginan Michael
untuk memperkenalkan orang ke Flores yang unik dan kaya rasa.
Taman dapurnya menggabungkan desain kontemporer
dengan teknik memasak tradisional.
Ini dapur yang cantik.
- Aku suka memasak di luar ruangan. - Ya.
Ini dapur tradisional biasa dengan api kayu.
Ini dia.
Waktunya panekuk.
Lara, kau tahu panekuk Indonesia?
Aku tahu dadar gulung
panekuk pandan dengan kelapa.
- Aku selalu makan itu. - Ya.
Kurasa itu lebih seperti krep.
- Ya. Kurasa itu krep. - Ya.
Ini lebih seperti panekuk.
Ini panekuk.
Kami menyebutnya serabi di sini. Ya.
- Serabi. - Serabi.
Panekuk kelapa.
Ya.
Jadi, yang kita butuhkan adalah tepung beras.
Kau tahu, aku seperti nenek-nenek.
- Ya. Semuanya intuitif. - Karena pengukuranku
berdasarkan perasaanku.
Baik, aku akan mengatakan itu sekitar setengah cangkir tepung.
Ini bebas gluten, tapi kita masih menaruh gluten di sini.
Ya.
Ya, tapi beri sedikit saja.
Ya.
No comments yet. Be the first to leave one.