171 ensimmäistä riviä.
FILM NETFLIX ORIGINAL
SAYANGKU
1981, KAADAMPALAYAM DISTRIK KOVAI
Orang bodoh mencium hari sembako dan berkemah di sini saat fajar.
Minggir.
Diam. Ayo mengantre.
Satu kata terucap oleh kalian, maka akan kututup toko dan pergi.
Tunggulah. Aku di sini duluan.
- Beri jalan. - Sathaar, mundur.
Aku menunggu sejak pagi. Anakku segera pulang dari sekolah.
Ayo, Kak, siapa yang menghalangimu?
Beri aku kartumu agar kau tak perlu antre.
Kuambilkan minyak tanah, tetapi ambil gandum dan gula dari kartumu.
- Aku bisa dapat uang. - Jangan sentuh aku.
Minyak tanah, beras, gandum, gula. Kuambil semua.
Perutmu makin lama makin besar.
- Kau bisa melihatnya saat menunduk? - Apa?
- Maksudku kakimu, Paman! - Siapa pamanmu?
Paman Saravanan itu pamanku.
Aku bukan pamanmu, Gila! Enyahlah!
Lihat, Paman marah, seolah-olah aku minta rumahnya.
Cepat berikan jatahku.
Kita bicara aturan, bukan?
Kau harus mengantre 25 kali untuk 25 kartu ini. Enyahlah!
Pergilah!
Orang bodoh ini pikir dia pintar.
Tak bisakah dia mengantre?
Ke belakang, Bodoh!
- Kau tak dengar? - Ke belakang.
Paling belakang.
Jangan menyalip antrean. Pergi!
Kak!
Kak.
Sayang?
- Kemari, Sathaar. - Ini uangnya.
Apa ini, Sayang? Jerawat?
Jerawat?
Mereka menatapmu, hingga kau berjerawat.
Minggir!
Hanya aku yang tahu keinginan sayangku.
Kau kembali dari Coimbatore? Sudah lama tak melihatmu.
Aku pulang kemarin.
Sial! Ayahmu datang.
Tiga puluh rupee? Beri aku 40 dan cepat!
Aku harus ambil minyak tanahku.
Bukankah kau kularang berada di sini?
Berikan barangnya dan pergilah!
- Dah, Ayah Saravanan. - Pergi!
Kau! Sudah kularang menghibur orang itu itu di sini.
- Ayah, dia tak berbahaya. - Keluar!
- Kenapa selalu dimarahi? - Kau berani melawanku?
Tak apa bermain dengan pelacur,
tetapi jika kau tak punya istri karena makhluk itu,
akan kubunuh kau dan masuk penjara.
Kenapa tak bilang?
Kita tangkap dia hari ini.
Jangan sentuh aku.
Jangan sentuh aku.
Apa sebutan orang yang bukan wanita atau pria?
Sebutannya Sathaar!
Lihat dia tersipu.
Berhenti menggoyangkannya atau kupotong…
Maksudku lidahmu.
Cobalah agar tahu ukurannya.
Teman-teman, hentikan.
Berhenti melecehkan dia.
Tanyakan dia kenapa berjalan seperti perempuan.
Apa dia tanya kenapa kita bergurau seperti pria?
Dengar, suami Sathaar marah. Ayo, Teman-teman.
Saravanan tak akan selalu ada.
Lupakan anjing-anjing itu, Sathaar.
Dengar, datanglah ke tempat kita nanti. Aku punya berita bagus.
Saravanan!
Masih ladeni gembel itu? Kembali ke toko!
Aku di sini dengan dandanan dan kau masih membaca?
Apa itu buku porno?
Jangan rusak mulutmu dengan daun sirih.
Ini membuat bibirku merah delima, Sayang.
- Berikan tas itu. Akan kubuang. - Jangan!
Apa isinya?
Apa yang kau lakukan?
Apa ini?
Butuh delapan tahun berjuang di toko sembako demi 15,000 rupee ini.
Untuk apa uang sebanyak itu?
Aku akan di operasi di Mumbai.
Setelah dapat 3,000 lagi, aku akan pergi.
Kita akan menikah setelah aku kembali.
Hentikan!
Jangan lakukan itu dengan yang lain. Mereka mengeluhkanmu.
Jangan naif.
Orang-orang aneh itu terangsang karena cara bicaraku.
Orang-orang bodoh itu disiksa istri mereka.
Biarkan mereka bergembira denganku.
Namun, kau tak pernah meminta.
Mintalah, Sayang.
Aku menunggu pekerjaan bagus sebelum katakan ini.
Kini aku bekerja di bank, aku siap.
Hati dan panah. "Aku mencintaimu."
Bisa berikan ini kepada adikmu, Sahira?
Bagaimana denganku?
Jangan bercanda. Kau satu-satunya harapanku, Bung.
Jadi, ini alasanmu berteman denganku? Aku bodoh!
Diam!
Kita berteman sejak umur enam tahun. Adikmu bahkan belum lahir.
Kau tak perlu lakukan itu. Akan kuurus sendiri. Kembalikan.
Ini pertama kali kau minta sesuatu.
Bagaimana bisa kutolak? Akan kulakukan.
Tak perlu.
Jangan marah, Sayang. Berikan.
Terima kasih, Bung. Beri tahu aku yang dikatakannya.
- Aku akan kemari besok pukul 08,00 tepat. - Baik, Sayang.
Setan! Berapa kali kularang kau tidur dekat para gadis?
- Bangun, tidur di luar. - Jangan pukul dia!
Orang bodoh ini tak mengerti!
Tanganku sakit memukulinya!
Jangan pukuli dia!
Dia takut gelap.
Kau pernah memaksanya tidur di luar dan dia mengompol.
Warga mentertawai kita.
- Kau yang jadikan dia pengecut. - Pergi. Cepat!
Penyihir ini cantik. Pantas saja dia menyukainya.
Tak bisa cari orang lain untuk kau goda?
Hei, Sahira.
Kau kenal Saravanan?
Siapa?
Pria berwajah bodoh, berkaki panjang dari toko kelontong.
Kenapa? Apanya yang bodoh dari dia?
Hanya dia pria tampan di kota ini.
Dia juga terpelajar.
Kenapa? Dia menanyakanku?
- Tidak. Tidur lagi saja. - Kumohon, ceritakan.
Tidurlah, Mata Juling!
- Biar aku… - Jangan sentuh aku.
Parfumnya membuat bau seluruh jalan!
Sathaar!
Lihat apa kau? Cepat buka.
Lari ke mana dia?
Berhenti!
Permisi.
Sathaar! Berhenti!
Penyihir bermata juling!
Kena kau!
Kau mempermainkanku? Kubunuh kau! Kau berikan surat itu?
Aku bicara kepadamu. Kau berikan atau tidak?
Ya.
Apa katanya?
Kataku itu darimu…
Lalu?
Entah kenapa, tetapi dia merobeknya.
Biarkan penyihir itu. Dia sombong karena cantik.
Dengan wajah dan pendidikanmu, para gadis mengharapkanmu.
Selama ini, kukira dia menyukaiku.
Aku giat belajar dan mendapat pekerjaan di kota agar bisa membawanya.
Sayang, kau menangis?
Kau tak pernah menangis.
Sayang, tunggu!
Berikan oborku.
Hei! Duduk, Bodoh!
Biarkan aku berjaga untukmu Putra mahkotaku
Aku menjadi miskin Karena menunggumu
Siapa lagi yang kupunya selain dirimu?
Aku rela mati beribu kali Hanya agar bisa melihat wajahmu
Seperti lilin, aku rela meleleh untukmu Terbakar untukmu
Aku datang mencarimu Untuk bicara sepuas hatiku
Siapa yang memberimu sari? Jawab!
Aku membelinya di pekan raya.
Aku mau pakai saat tak ada orang.
Orang ini permalukanku tiap hari.
Sayang, bukankah kau kesayanganku?
Sayang, bukankah kau milikku?
Kau berkendara jauh-jauh tiap pekan hanya untuk melihatku.
No comments yet. Be the first to leave one.