200 ensimmäistä riviä.
DI KERJAAN KUNO ZAZZAU
PADA ZAMAN PENUNDUKAN WANITA
Kabarkai!
Kenapa kapak tidak membelah dadanya?
Sihirnya sangat kuat.
Ibunya adalah seorang pendeta.
Mereka memanggilnya Zumbura,
Peramal dari Tukur Tukur.
Akan kutunjukkan padamu.
Mereka bilang dia adalah kekuatan terbesar di seluruh Zazzau
dan dia tinggal sendirian di gua besar,
jauh tinggi di gunung Tukur Tukur.
Mana pahlawanmu? Inilah pahlawanku.
Sang Penakluk, Kabarkai!
Sang Penakluk, Kabarkai!
Dogo, putra Zumbura Kabarkai!
Baba, siapa dia?
Pemuda itu
adalah pangeran Igala.
Pamannya memerintah rakyat di negerinya sebagai bupati.
Budak kotor itu adalah seorang pangeran?
Ini bukan permainan. Ini kompetisi!
Ini bukan permainan. Ini kompetisi!
Tunjukkan perbedaannya! Ini bukan permainan. Ini kompetisi!
Tunjukkan perbedaannya! Ini bukan permainan. Ini kompetisi!
Tunjukkan perbedaannya! Ini bukan permainan. Ini kompetisi!
Hentikan!
Bunuh pria itu dengan risikomu sendiri.
- Bawa mereka pergi. - Tidak!
Ini ketidakadilan.
Aku ingin kebebasanku.
Tidak!
Kembali ke sini!
- Aladi Ameh. Tidak! - Danjuma!
- Danjuma! - Tidak!
- Aladi Ameh! - Danjuma!
Kami mencarimu.
Aku Amina.
Kau akan menjadi temanku.
Apa kau juga budak?
Aku Amina.
- Siapa namamu? - Aladi Ameh.
Para Putri.
Amina, Zaria, segera ikut denganku.
Sarki bilang dia ikut dengan kami.
Tidak. Sarki seharusnya memberitahuku.
Bukan kau. Ini bukan tempat untuk putri.
Sentuh aku lagi, dan ayahku akan mendengar kau melukai lenganku.
Putri.
- Buka gerbang ini. - Demi martabat ayahmu.
Jika tidak, demi kepalaku.
- Bebaskan dia. - Kembalilah ke istana.
Putri, kau mau ke mana? Putri, kembalilah.
- Putri, kembali ke sini. - Ikut denganku.
Putri Amina. Ikutlah denganku.
Pemberani, kau sulit ditaklukkan.
Kau terbuat dari baja. Kesulitan tak menghalangimu.
Tulang dari baja, urat nadi dari kawat.
Gadis di hadapan kalian ini adalah wanita yang menggairahkan.
Dia diberkati dengan mata yang menarik.
Dengan hidung yang mancung, bibir yang tipis,
dan dada yang besar.
Serta tubuhnya selembut kapas.
Salam untukmu, wahai Madaki.
Raja menerima salammu.
Matahari Zazzau,
jika diperbolehkan, sebagai konsekuensi besar.
Lanjutkan, Madaki.
Sebagai Madaki,
suatu kehormatan dan kewajiban bagiku
untuk menjamin ketenangan
dan keselamatan Tujuh Kerajaan.
Untuk itu,
keputusan sulit tertentu harus dibuat.
Menyegerakan eksekusi
pemberontak Igala, Danjuma,
adalah yang terpenting.
Pertama.
Sebagai ahli waris Kerjaan Igala
dan juga sebagai orang yang mengalahkan
sang Juara Zazzau.
Dia telah memberi contoh kepada budak lainnya
bahwa Zazzau
akan mengabaikan bahaya di masa depan.
Aku setuju dengan Madaki.
Zazzau harus menghadapi ancaman ini dengan tanggapan terbesar.
Aku menyarankan sesuatu yang umum.
Sangat…
Salam, wahai Putri, Putri Raja Agung.
Raja menerima kehadiranmu.
Aku menyambutmu, Ahli Waris Agung Ayahnya.
Semoga kau berumur panjang, Sarki.
Kau seharusnya paham tidak boleh menyela Dewan Tertinggi Zazzau.
Wahai Matahari Zazzau, yang selalu memerintah dengan adil.
Kemarin, sang Pangeran ditolak haknya
untuk mengakhiri duelnya dengan kemenangan.
Dan kini, dia harus mati dengan tidak terhormat?
Kembalilah ke kamarmu.
Tuhan memberkatinya dengan hidung mancung.
Diberkati dengan bibir indah.
Payudara kencang dan dia juga bergigi renggang.
Lihatlah dia yang memeluk genderang.
Tinggalkan dia. Jangan ganggu dia.
Jangan ganggu dia.
Aku diperintahkan membawa wanita ini kepada Madaki.
Jangan ganggu dia. Tinggalkan dia.
Kekurangan uang menghalangiku untuk membelinya.
Aku menjualnya kepadamu, meski aku mencintainya.
Berhenti!
Baba.
Apa kau marah kepadaku?
Malaikatku.
Malaikatku yang baik. Ayo, duduklah.
Kau baik-baik saja?
Ya.
Aku punya satu permohonan terakhir, Baba.
Permintaanmu tak pernah berakhir.
Aku ingin tahu cara menggunakan senjata seperti prajuritmu, Baba.
Senjata, Amina?
Namun, kenapa?
Kami melindungi para wanita di Zazzau.
Selalu seperti ini.
Baiklah.
Musa akan mengajari kalian cara menggunakan pedang.
Tidak.
Aku ingin dilatih oleh prajurit sungguhan, bukan orang tua yang pincang.
Begini,
kami tak bisa melepas seorang prajurit hanya untuk melatihmu.
Madaki takkan menyukainya.
Apakah Madaki membutuhkan Kabarkai?
Inikah dia?
Jangan takut.
Hadiah dari para Dewa.
Demi kehormatan ini, Temanku,
kau boleh memiliki apa saja yang kau inginkan di Tujuh Kerjaan Zazzau
selain singgasanaku.
Omong-omong, Madaki,
para putriku harus dilatih
dalam semua senjata dan keahlian bertempur Zazzau.
Kabarkai akan menjadi pelatih mereka.
Aturlah ini.
Berlatih dalam perang? Yang Mulia, Putri?
Namun, kenapa?
Itu adalah keinginan Amina, dan aku ingin melihat,
terutama, seberapa mahirnya dia nanti.
Wahai Matahari Zazzau.
Semoga kau hidup selamanya.
Tak pernah ada wanita yang bermimpi untuk bergabung dengan pasukan Zazzau.
Hanya orang bodoh nan ceroboh yang berani mewujudkannya.
Cukup, Madaki! Apa kau mempertanyakanku?
Maafkan aku, Yang Mulia.
Kau berbicara dengan luar biasa.
Duduklah.
Makanlah.
Salam.
Kau bukan lagi bagian dari pasukan Zazzau.
Apa?
Ini pasukan elite.
Musuh takut kepada kita.
Kami tak mau terbebani oleh orang cacat,
meski dia adalah seorang Kabarkai,
mantan juara Zazzau.
Para putri Sarki memintamu.
Kau ditugaskan melatih mereka bertarung seperti pasukan.
Lebih baik aku kembali ke kambingku di gunung Tukur Tukur
daripada menanggung penghinaan dari Sarki -ku.
Jaga mulutmu.
Hari itu datang dengan cepat, wahai Sarki .
Tak ada yang berubah dalam 12 tahun, Pendeta.
Keluargaku lebih berarti bagiku daripada Tujuh Kerjaan itu sendiri.
Dan aku tak boleh membawa aib
pada takhta leluhurku.
Kau sendiri, tanpa disadari,
telah mengambil langkah pertama dalam memenuhi takdir Amina.
Apa kau sudah bicara dengannya?
Aku menyuruhmu menjauh.
Aku sudah menjauh.
Namun sekarang, waktunya semakin mendekat.
Tujuan itu sendiri yang akan mendorongnya kepadaku.
Aku akan membakar semua tanah Hausa
sebelum aku membiarkanmu menyentuhnya, Pendeta.
Perjalananku masih panjang,
bahkan bagi yang tercepat.
Satu kata terakhir untuk seorang raja yang pernah bijaksana.
Melampaui yang kau lihat,
awan perubahan berkumpul.
Tak ada yang bisa menghentikannya.
Dan kau akan merugikan dirimu sendiri
jika kau terus melakukan perlawanan.
Kau berani mengancamku?
Sudah kubilang tidak boleh, Amina.
Kau tak boleh memilikinya.
Kehadirannya akan terus membahayakan nyawamu dan nyawa adikmu.
Baiklah.
Kau boleh menjaganya.
Namun, dia tidak boleh meninggalkan istana, selamanya.
Ayahku.
Semoga umurmu panjang.
Kuatkan dirimu, Amina! Kuatkan dirimu!
Kuatkan dirimu!
No comments yet. Be the first to leave one.