195 ensimmäistä riviä.
UNTUK ORANG TUA KAMI, SRI HIROO & SRI VINITA BHARWANI
["Cindai" oleh Siti Nur Haliza dalam bahasa Melayu]
DIANGKAT DARI BUKU "MY STUPID BOS" OLEH CHAOS@WORK
Pak Kho.
Tolong bilang ke Bossman, untuk beli mesin gergaji baru.
Akan sangat membantu.
Kita bisa bekerja lebih cepat.
Pekerjaan akan siap. Benarkan?
Ya, tapi...
Kasih tahu, jangan parkir di situ. Bossman marah.
Tidak, Pak Kho. Dia hanya tamu.
Pak Kho bicara padanya.
Halo. Selamat pagi.
Kau tak bisa parkir di sana.
Karena... akan merepotkan.
Selamat pagi.
Pak Kho, menyenangkan juga naik motor besar.
Ini baru, Pak Kho.
Masih baru dari toko.
Lihat. Motor besar.
Kalian tak perlu kagum. Biasa saja.
Bagus, 'kan?
Kesatria Baja Hitam.
Renegade, Pak Kho.
Bukan "Kesatria Baja Hitam".
Ini motor mahal.
Ini lebih mahal dari Proton,
buatan negaramu.
- Banyak uang. - Alhamdulillah. Rezeki lancar.
Boleh beli mesin potong baru untuk Faisal?
Tak ada uang.
Apa?
Tadi kau bilang, "Alhamdulillah. Rezeki lancar."
Kapan aku bilang?
Jangan mengada-ada, Pak Kho.
Kau mungkin bertambah tua, dan pendengaran terganggu.
Sudah coba membersihkan telinga?
Bodoh sekali.
Faisal! Tolong diparkir.
Ayo, cepat kerjanya!
- Surat sudah siap, Sikin? - Sebentar.
Kau mencuci muka dengan gula?
Apa?
Kau terlihat manis sekali hari ini.
Adrian, pagi-pagi sudah menggoda.
- Rahmat sudah siap? - Ya, Bu.
- Pekerja Indonesia lain sudah siap? - Ya, Bu.
Sikin, aku pergi dulu. Kau jaga kantor.
- Baik. - Selamat pagi.
Hei!
Kenapa semua kagum?
Biasa saja.
Sikin, kenapa sampai melongo?
Seperti artis saja.
Jangan seperti orang kampung.
Bapak kenapa dalam ruang memakai helm?
Hari ini,
aku naik motor baru ke kantor.
Motor besar.
Astaga!
Nanti lihat di tempat parkir, ada motorku.
Harganya mahal.
- Mau tahu harganya? - Tidak.
Tentu saja.
Jika kau tahu,
kau masih tak bisa beli.
Kalau aku mampu beli, aku tak bisa membawa motor.
- Aku mau pergi. - Mau ke mana?
- Udin, kau mau ke mana? - Rahmat.
Ya, Ramdan. Kau mau ke mana?
Harusnya kau berada di pabrik bukan di sini.
Bodoh sekali.
Kami hari ini mau menconteng. Hari pemilu.
Menconteng atau mencoblos?
Tak penting.
Siapa yang memberi izin?
Ini hari pemilu, Pak.
Pak Dubes sudah menganjurkan para majikan
untuk memberi libur kerja untuk orang Indonesia.
Apakah mereka mau membayar kerugianku?
Aku tak mau mendengar lagi tentang menconteng atau mencoblos.
Tak bisa, Pak.
Itu hak warga negara Indonesia.
Kalau melanggar, kau bisa dituntut.
Kau pilih siapa? Aku pilih Kerani.
Aku juga.
Kita sehati.
- Baik! - Astagfirullah.
Aku mau tanya.
Berapa banyak pegawai Indonesia di kantor ini?
Sepuluh.
Sebelas termasuk bapak.
Jadi, coba hubungi panitia pemilu.
Minta tolong dibuat pos TPU di sini.
- TPS. - Ya.
Jadi, kalian tak perlu ke KL.
Tidak membuat lelah.
Ya, Kera-ni.
Hubungi KBRI.
Hubungi mereka.
Katakan untuk meletakkan di halaman pabrik.
Paham?
["Cindai" oleh Siti Nur Haliza dalam bahasa Melayu]
Temanmu memang gila.
Dia melarangku ikut pemilu.
Jadi, kau...
Tadi kau tak ikut pemilu?
Aku tetap pergi.
Dia tak berhak melarang.
- Itu hak warga negara. -
Aku bangga denganmu, Sayang.
Terpenting kau tetap memilih.
Tetap saja...
Gajiku bulan depan akan dipotong.
Dasar berengsek!
Tenang, Sayang.
Kau kenal dia. Dia seperti itu.
Dasar diktator!
Ya...
Memang seperti itu.
Kenapa kau terus membelanya?
Bukan seperti itu.
Kau sudah tahu, dia memang seperti itu.
Kau mau pergi? Rapi sekali?
Ini rapi?
[dering ponsel, "Kata Pujangga" oleh Ridho Rhoma & Sonet 2 Band]
Sebentar.
- Kawan... - Halo, kawan.
Kita jadi karaoke?
- Maaf, aku tak bisa. - Apa?
Jangan seperti itu.
Sementara istriku masih di Hong Kong.
Jadi, kita bisa bergembira.
Maaf.
Sepertinya aku sedang tak enak badan. Panas dingin.
Masa? Kirim foto.
Kau tak mendapat izin dari istrimu.
- Tidak. - Belikan saja dia nasi padang.
Si Judes akan diam nanti.
Sudah, ya. Aku mau membuat suhu tubuh stabil.
Dah.
- Kawan! Halo? Hei! -
Siapa?
Aah...
Tadi partner kerja. Dia mengajak pergi.
Karena istrinya sakit, jadi aku batalkan.
Kasihan istrinya sendirian di rumah, dan kesepian.
- Aku tak mungkin memaksa. - Ya, sudah.
- Aku tidur dulu. - Ya.
Nanti aku susul.
- Sayang! - Ya?
Tadi partner kerjamu meneleponku.
Untuk mengizinkanmu karaoke bersamanya.
Sejak kapan dia menjadi partner kerjamu?
Kapan, ya?
"Perawatan Rambut Ajaib."
Keren sekali.
Masih ada harapan.
Ini baru keajaiban.
Tidak ada uang.
Permisi, Pak.
Aku hanya memberitahu, Arjun tak masuk hari ini.
Karena kakinya tertimpa kayu tadi malam.
Sudah ke dokter?
Sudah. Kata dokter tak serius. Jadi suruh di rumah.
Karena masih belum bisa bekerja.
Hanya alasan.
Sikin, pekerjaannya gergaji kayu?
Tidak ada menggergaji kayu, sambil berjalan-jalan.
- Maksudnya? - Hubungi Arjun.
Bilang padanya untuk masuk kerja.
Dia bisa jalan ke dokter, tapi tak bisa ke kantor?
Paham?
Kerani bicara dengan Bossman?
Kalau sifatnya seperti ini mana ada karyawan yang tahan.
Tolong bicara padanya.
Sikapnya kasar.
Jangan risau, adik Sikin.
Kalau Bossman macam-macam,
aku akan melindungimu.
Jiwa dan raga.
Bagaimana kau mau melindungiku
jika kau sendiri takut dengannya?
Siapa takut.
Adrian, datang ke kantorku sekarang.
Hei, Adrian. Jawab!
Kenapa tidak dijawab?
Astaga.
Apalagi salahku sekarang?
Adrian? Aku mendoakanmu.
Kerani, kau harus bicara dengan Faisal.
Dia bilang tidak kuat. Tak mau bekerja lagi.
Apa lagi? Tak habis masalah di kantor.
Selamat pagi.
Kenapa mesin ini selalu rusak?
No comments yet. Be the first to leave one.