195 ensimmäistä riviä.
Ini foto Fira dan Lando.
Astagfirullahallazim, belum sah sudah pelukan.
Dia tidak tahu azab ilahi mungkin, ya?
Wah, ini undangannya juga.
Wah, ini pelukan lagi.
Kiamat sudah dekat.
Fira, selamat, ya, doakan aku dan Jerry cepat menyusul.
Benar, kapan menyusul, Jer?
Ya, kau jangan cuma pegang-pegang saja, nanti tak mau menikahiku.
Serius, serius.
Sama Jerry tidak jelas, lihat saja wajahnya...
Mesum? Ya, memang.
- Sudah, Jer. - Sudah, berhenti.
Sepertinya aku terlihat lebih gemuk. Aku masih harus menahan perut.
Tidak, Fir, itu hanya perasaanmu.
Serius, ini bajunya ketat sekali.
Aduh, aku gugup.
Hei.
Fir, kau tidak boleh gugup.
Aku sudah siap.
Percaya diri.
Saya sudah bilang air mancur cokelatnya untuk 200 orang.
Ini. Kau periksa pesanannya, dan lihat, benar atau tidak, ya?
Permisi, Tante.
Tolong, jangan ambil gambar.
Jangan ambil gambar Tante dulu.
Kau lihat Tante belum pakai bulu mata.
Yang sudah telanjur dihapus saja.
Ya, sudah.
Aku harus menjaga citra.
Pencitraan itu segalanya.
Cerewet.
Nanti teman-teman Lando dari Kanada ada yang datang.
Aku ingin mengenalkan salah satu dari mereka kepadamu,
siapa tahu ada yang cocok.
Fir, kau bicara apa.
Aku serius.
Aku juga mau kau merasa bahagia sepertiku sekarang, Ci.
Kau sahabatku.
Menurutmu aku kini tak bahagia?
Bukan begitu.
Ini calon pengantin laki-lakinya.
- Apa-apaan ini? - Katakan sesuatu sedikit.
- Ayo. Jangan diam saja seperti Limbad. - Tidak mau.
Aku senang melihat kau mau menikah.
- Hai. - Hai.
Astaga, Lando.
Kata orang, kalau kau melihat aku sekarang,
nanti sial.
Sini, aku tutupi.
- Cepat. - Apa?
- Ci. - Kenapa?
Nanti teman aku semua datang, aku mau mengenalkan denganmu.
- Dengar. - Namanya Bagus, salatnya sangat rajin.
Mau, ya?
Kenapa semua orang ingin menjodohkan aku?
- Ya sudah, Fir. -
Aku pergi dulu, ya, aku mau lihat anak-anak sudah datang atau belum.
Ya.
- Sudah, ya. - Terima kasih, Uci.
- Dah, Uci. - Dah.
- Hai. - Disuruh keluar malah duduk di sini.
Ya, aku tahu, kata orang akan sial cuma...
Apa? Mau bicara apa, Sayang?
Ya ampun, Uci, maaf ya, lupa suruh sopir untuk menjemputmu pagi-pagi.
Tidak apa-apa, Tante, lagi pula tadi Uci naik motor sendiri.
Makanya, kau cepat cari jodoh, cari suami.
Supaya ada yang bisa mengantar ke mana-mana.
Ya, Tante, lagi pula suami dan tukang ojek berbeda.
- Ya sudah. Uci ke depan dulu, ya. - Ya.
Dengar, itu si Uci sibuk sekolah melulu,
ambil gelar ini dan itu, malah katanya sekarang mau ke luar negeri untuk S2.
- - Tolong angkat, Deon.
Ci, aku masih di penatu, baju aku belum kering. Bagaimana ini?
Jangan banyak alasan.
Kau janji mau datang, entah pakai baju bola atau baju gorila.
Kau harus datang.
Jangan banyak alasan, ya, jangan galau karena Fira mau menikah.
Galau? Siapa yang galau?
Aku tidak galau.
Biasa saja, Ci, sungguh aku tak ada baju.
Ada, tenang.
- Ayo, berfoto. - Ayo, Ci.
Ini, Ibu pinjamkan.
Orangnya juga masih utang dengan Ibu.
Yang penting Deon harus tampak keren di depan mantan pacar.
Bukan mantan pacar, Bu, tapi teman sekolah.
Bukan mantan pacar, tapi cinta dalam hati.
Sudah, Ibu paham.
Ini di dalamnya juga ada dasi, nanti Deon pakai, ya.
Pokoknya, pulang dari sana Deon harus punya pacar baru.
Yang suka kau banyak asalkan banyak senyum.
Lihat, Susan saja mau. Ya?
Senyum.
Senyum.
Halo, aku Uci.
Aku sahabat Fira dari SD, sejak dia kecil dan lucu sekali.
Tugasku hari ini, aku harus memastikan
kalau hari ini akan menjadi hari paling bahagia untuk Fira.
Aku mendoakan yang terbaik
- untuk kau dan Lando semoga kalian... - Siapa ini? Astaga, manisnya.
- ...menjadi keluarga sakinah. - Rambutnya, astaga.
- Julurin lidah. - Pepi!
Aku mau...
sebelum pernikahan kita dimulai...
kita mulai semuanya dengan kejujuran.
Kau masih ingat saat...
- Saat apa? - Saat aku dikirim ke Berlin.
Aku bilang kalau aku berangkat sendiri, 'kan?
Ya.
Padahal aku berangkat sama Ira.
- Ira mantan pacarmu? - Ya.
- Saat itu kita sering bertengkar... - Kalian sekamar?
- Intinya... - Kalian sekamar?
- Dari semua cewek-cewek itu... - Cewek-cewek lain?
Cewek lain lagi, maksudnya siapa? Ada orang lain lagi?
Sudah, soal itu tak perlu kita bahas, ya.
Yang paling penting untukku sekarang...
Aku merasa sudah lega bisa cerita ini kepadamu.
Ini membuat hati kita jadi lega.
Jadi, nanti saat berfoto wajahku tidak tegang.
- Cewek-cewek lain itu siapa, Lando? - Ya...
- Wanda... - Wanda sepupu aku?
Memang dia sepupumu?
Semoga mereka langgeng, bisa sampai tua,
punya anak banyak, ya, 'kan?
Mau buat tim sepak bola?
Subhanallah, cantiknya dirimu.
- -
Mau ke mana? Jangan lari.
Aku orang baik, aku penyabar, lemah lembut.
Kau sedang apa di situ? Jomlo, ya?
Atau...
Ada seseorang yang sudah dekat di hati? Kenapa menangis?
Belum diapa-apakan.
- Apa? - Sudah.
- Ada? Aku sedih. - Tapi...
Tapi dia hari ini menikah.
Tapi dengan temanku sendiri.
Jangan menangis.
Aku tak yakin lagi apa pun yang berhubungan dengan Lando.
Aku sudah tak percaya kalau seperti ini, Ci.
Aku sudah benci lihat wajahnya. Aku ingin melemparnya dengan sepatu.
Fir, pernikahan itu seumur hidup.
Hingga kapan kau mau melempar wajahnya dengan sepatu, Fir.
- Tenang dulu. - Hari ini hari pernikahanku, Ci.
Semua orang tahu aku akan nikah hari ini, seluruh dunia tahu aku akan nikah, Ci.
Ya, aku tahu.
Kalau misalnya batal, aku yang malu, Ci.
Tidak usah dipikirkan, ya.
Deon.
Kau berisik sekali, orang-orang melihatku.
Katakan sesuatu untuk pernikahan Fira.
Astaga.
Siapa perancang bajumu?
Apa masih hidup orangnya?
Deon.
Tunggu.
Ya, Ci. Aku tahu, aku salah kostum.
Lebih baik pulang.
Bajumu... sempurna.
Acaranya kapan bisa mulai?
Sebentar lagi, Pak.
- Sebentar lagi. - Acara saya padat hari ini.
Maaf, Pak. Sebentar, ya.
Coba donatnya dulu, Pak.
Tak usah, saya sudah kenyang. Saya tunggu di sini.
- Aku harus taruh wajahku di mana, Ci? - Di sajadah.
Seharusnya kau bersyukur, setelah ini kau salat sujud syukur...
Ci?
- Ya, Tante? - Fira sudah siap?
Fira masih di ruang ganti untuk bersiap.
Kenapa lama sekali?
Uh...
Aku tak tahu, Tante, sebentar.
Tante.
Deon.
Sangat tak sopan datang ke pernikahan seperti ini?
Panas, Tante, aku sedang mencari udara segar.
Permisi, ya.
Cepat.
Fira!
Aduh, wah.
Itu...
- Ayo. - Cepat, bawa Fira pergi.
Bagaimana denganmu?
Akan kutangani yang di sini.
- Duduk di sini. - Tidak apa-apa.
- Ayo, cepat pergi. - Cepat, ada ibuku.
- Dah, hati-hati. - Dah.
Di belakang sempit, ya?
Makin sempit makin asyik.
Bisa saja.
Lepas, Jerry. Ini sakit.
Jerry!
No comments yet. Be the first to leave one.