Ang unang 200 linya.
BAGIAN SATU
Hari ini akan turun hujan.
Kita akan masuk. Rencana tetap berjalan.
Paling tidak aku akan melakukannya.
Aku akan masuk.
Bersiaplah.
Pergi dari sini!
Mundur!
Pergi, sialan!
Pergi dari sini!
Mundur!
Enyahlah!
Tutup gerbangnya!
Cepat! Kunci gerbangnya!
Mereka lewat belakang!
Adang pintu belakang!
Ayo!
Bantu kami!
Menyingkir!
Matikan airnya!
Berhenti!
- Maaf. - Dasar bodoh.
- Aku tersandung! - Kau masuk ke dalam adegan!
Siapa berandalan itu?
Jules, dia melakukan dokumentasi.
Kau lihat betapa bodohnya pria itu?
Anak siapa dia?
Bukan siapa-siapa. Apa maksudmu?
Maksudku? Aku membencinya.
- Tenanglah. - Jangan menyuruhku untuk tenang.
- Kita ulang? - Tentu saja!
Semua, mari kita ulang adegannya!
Tidak!
Aku mengerti.
Siapkan barikade.
Kami lapar dan kedinginan!
Syuting terakhir sebelum makan siang, aku janji.
Mereka memperlakukan kita layaknya sampah.
Kembali ke posisi!
Corentin, mobilnya.
Moritz, cepat!
Kembali ke posisi.
Hei! Semua!
Kami sepakat untuk membuat film ini. Kau tahu itu akan memakan waktu 40 hari.
- Berhenti mengeluh. - Kau bukan bosnya.
Berhenti mengeluh!
Tidak ada pakaian bersih dan kamar mandi.
Kau sudah bicara dengan sutradara?
Mustahil, selalu ada orang di sampingnya.
Dan dia sangat marah.
Air hujan sudah siap?
Simon, semua sudah siap.
Saat Nadia membuka pintu kelihatan tidak meyakinkan.
Tidak, hasilnya bagus.
Jangan debat denganku.
Pakaiannya juga terlihat tidak meyakinkan.
Kostumnya jelek sekali.
Aku terlihat seperti seorang guru sains.
Tak akan ada yang percaya bahwa aku seorang buruh.
- Sungguh. Adegannya berhasil? - Ya, berhasil.
Sangat berhasil.
Saat dia membuka pintu, itu tidak masuk akal.
- Tidak, sudah bagus. - Aku bilang tidak meyakinkan!
Siapa tadi namamu?
- Di mana Jeff? - Dengan rombongan gerbang.
Beri aku sebatang rokok.
Akan kubelikan sebungkus besok.
Hebat, teman-teman. Kalian luar biasa.
- Berapa kali syuting lagi? - Entahlah.
Jeff, satu pertanyaan saja.
- Benarkah kejadiannya seperti itu? - Apa?
Apakah seorang gadis menerobos masuk dan membuka pintu?
- Aku tidak ingat. - Kami memiliki kuncinya.
Kami selalu menyimpan kuncinya.
Jadi, kau yang membuka pintunya?
- Ya. - Terima kasih, semua.
Tunggu sebentar!
Simon, mereka bilang semuanya salah, Nadia membuka pintu itu konyol.
Apa?
Terlalu lama dan melelahkan. Kita hanya di sana menunggu.
Kita yang harus memutuskan untuk mendobrak pintu.
Hanya butuh dua menit untuk melakukannya.
Lalu, apa yang dia lakukan?
Entahlah, dia hanya berdiri saja.
Dia bisa diperkenalkan nanti.
Jika tidak, ini bukan upaya kolektif.
- Kita tidak bisa mengubahnya sekarang. - Tentu bisa.
Ayolah, dua menit saja. Mari coba sekali saja.
Baiklah.
Kita coba.
Ayo, satu rekam adegan.
Alain, siapkan.
Tak perlu gunakan kamera itu.
Nadia, kau tak perlu ikut untuk sekarang.
Hujan turun! Ayo!
Kita lakukan dengan hujan sungguhan! Kamera!
Kamera jalan!
Kamera dua, bersiap!
Hujannya tak akan lama! Kamera!
Hanya hujan ringan! Ayo manfaatkan!
Kamera jalan!
Aku tidak bilang mulai!
Hujannya akan berhenti! Kamera jalan!
Berhenti!
Lihat?
Itu yang kumaksud upaya kolektif!
Sekarang aku merasakannya!
- Halo. - Terima kasih.
Apa yang kalian lakukan? Tidak bisa.
- Kalian tak bisa duduk di sini. - Apa?
Pemeran figuran tidak makan di sini. Ini tenda untuk para kru.
Kalian harus pergi.
Kami harus ke mana?
- Kau bawa payung? - Tidak.
Ayo!
Aku tidak makan, aku pemain figuran.
Siapa peduli? Makan saja.
Jangan diam saja.
Aku tidak makan. Aku perlu bertemu dengan sutradara.
- Di mana Simon? - Sepertinya di lokasi syuting.
Permisi.
Apa kau melihat sutradara?
Tidak.
Permisi.
Permisi.
- Di mana sutradaranya? - Di kantor manajer produksi.
- Di mana itu? - Seberang penyedia camilan.
Terima kasih.
Aku mencari kantor manajer produksi.
- Di ujung koridor. - Baik.
Halo, maaf mengganggu.
Aku…
Aku tinggal di perumahan subsidi di sekitar sini.
Aku mendaftar sebagai figuran untuk memberikan naskah pertamaku.
Belum ada yang membacanya. Aku ingin mendengar pendapatmu.
Aku sangat menyukai karya-karyamu.
Jadi, bisa berikan pendapat?
Di dalamnya ada nomor ponselku.
Terima kasih. Maaf, selamat tinggal.
Siapa dia?
Dia mengenakan kostum penjaga.
Mengapa bukan dia yang merekam dokumentasi?
Yang satu lagi buruk sekali.
Siapa peduli soal dokumentasi?
Tak ada yang menontonnya.
Mengapa kita tidak bisa memecatnya? Anak siapa dia?
Entah, tapi itu tidak penting.
Ada apa lagi?
Kau punya anggaran yang besar, kru yang luar biasa,
cerita yang bagus, dan aktor yang hebat.
Menurutmu Alain bagus?
- Alain? - Menurutmu dia bisa dipercaya?
Tentu.
Kerjanya buruk.
Dia pikir dia satu-satunya.
Entah mengapa aku mempekerjakannya.
Kau merekrutnya untuk mendapatkan investasi.
Produser kita.
Hai, Michel.
Hai, Viviane.
Aku bersama Simon. Pengeras suaranya menyala.
Bagaimana hari pertamanya?
Ada apa? Bukankah kau akan datang?
Ya, kami sebentar lagi naik kereta.
Kami? Siapa "kami"?
Beavis dan Butthead. Aku sedang menunggu mereka.
Kita tidak membutuhkan mereka.
Kunjungan ramah tamah.
Dan mereka ingin bicara soal naskahnya.
Syuting baru dimulai, naskah tidak mungkin diubah.
Mereka tidak puas dengan cerita akhirnya.
Tidak puas dengan cerita akhirnya?
Hanya hal kecil. Jangan cemas.
Mereka sudah sampai. Aku harus pergi. Sampai jumpa.
Beavis dan Butthead?
Nama panggilan para ko-produser.
Ada apa dengan naskahnya?
Entahlah!
Jika mereka datang pada hari pertama, artinya akan ada masalah besar.
Aku tahu mereka tak akan datang tanpa alasan.
Aku tidak peduli.
Terserah mereka bilang apa, aku tak akan mengubah satu pun dialog.
Itu keputusanku.
Ayo!
Berhenti!
Syuting selesai. Terima kasih, semua, kalian luar biasa.
Terima kasih, Nadia.
Bawa para aktor ke trailer mereka.
Simon, Viviane akan mengantarmu kembali ke hotel.
Bilang padanya aku akan menemuinya di sana.
Baiklah.
Moritz, beri tahu Viviane bahwa Simon akan menemuinya di hotel.
Di mana pria yang melakukan dokumentasi?
Jules?
- Jules. - Dia ada di meja camilan.
Penanggung jawab hujan, jangan berkemas!
Hei, kau. Aku ingin kau merekam sesuatu.
- Aku? - Ya, kau.
Syuting belum selesai?
Sudah, tapi ini berbeda. Aku ingin kau merekam pertemuan produser.
No comments yet. Be the first to leave one.