Les 200 premières lignes.
HILANG SINYAL
Aku amat menyayangkan apa yang terjadi pada Kirschblute.
Kejutan!
Inilah babi yang habitat aslinya di luar Gran Mule!
KALENDER BINTANG, 13 JUNI 21481
Tidak lucu, Haruto.
Hei, reaksi kalian kurang mantap.
Seharusnya kalian tertawa!
Mau bagaimana? Lawakanmu garing.
Omong-omong, Anju pergi ke mana?
Sekarang waktunya bergantian membuat jatah memasak.
Hari ini, Anju dapat jatah mencuci.
Kau memang serbatahu, ya, Daiya.
Itu karena semua perempuan sedang pergi.
Kapan mereka pergi?
Kalau tak salah, setelah sarapan.
Sekarang hampir tengah hari.
Benar. Mereka lama juga, ya.
Berarti mereka sedang mandi. Artinya sekarang tepi sungai menjadi…
- Surga dunia! - Surga dunia!
Jangan! Tidak boleh begitu!
Jangan jadi orang kaku begitu.
Mungkin saja besok kita sudah meninggal!
Haruto, alasanmu itu melulu!
Baiklah.
- Aku tak akan mengintip Anju! - Tetap saja kelihatan!
Maksudku, bukan itu masalahnya.
Aku tak akan ikut!
Jangan bercanda.
Terlepas kita kaum adam dan hawa, mereka itu sejawat kita yang berharga!
Mereka sejawat kita yang amat berharga!
Kena!
Segar!
Kaie!
Kau sedang apa?
Jangan cuma duduk! Main sini!
Ya, karena penampilan kita seperti ini membuatku merasa agak….
Apa maksudmu?
Kalau dari sudut pandang lelaki, ini seperti surga dunia.
Apa?
Padahal tinggal ikut main.
- Benar! - Benar!
Lagi pula, apa boleh kita main air begini?
Kau memang selalu serius kalau masalah begini, ya, Kaie.
Tak masalah, 'kan? Cucian sudah beres.
Lagi pula, Shin juga sudah tahu dan memberi izin, 'kan?
Untuk masalah begini, dia lumayan pengertian, ya.
Si kapten muka datar itu.
Maaf, ya. Kalau kami kurang peka.
Karena hari ini, kau dan Shin tak ada jatah tugas,
jadi, seharusnya kami mencari-cari alasan agar kalian berduaan, ya.
Bukan begitu!
Aku sama sekali tak mengharapkan itu!
Apa yang kau suka darinya?
Dari orang yang tak bisa ditebak isi kepalanya itu?
Sudah kubilang, bukan begitu!
- Menurutmu bagaimana, Kaie? - Kubilang bukan!
Soal Shin, ya?
Itu, ya. Menurutku dia lumayan.
Aku suka sisi pendiam dan penyabarnya.
Hei, Kaie!
Begitu rupanya.
Mumpung tak ada yang menaruh perasaan dengannya,
berarti tak masalah kalau aku menggaetnya, 'kan?
Kalau begitu, nanti malam langsung saja kuajak dia bercinta ala tradisi timur.
Kaie!
Soal itu, aku tak punya rasa pada Shin, tetapi…
Menurutku yang seperti itu tak baik.
Maksudku, kita harus menjadi wanita yang bermartabat….
Jadi, itu….
- Kurena imut! - Kurena imut!
Diamlah!
Kalian ini harus diapakan supaya paham?
Perbuatan kita sungguh tak bisa dimaafkan!
Justru kau yang paling depan mengintipnya, Daiya.
Kenapa kau ikut, Daiya?
Aku mengawasi kalian!
Beberapa target terlihat! Siap siaga!
Gas!
Kalian sudah gila, ya?
Aduh….
Apa?
Apa? Hei, tunggu. Tidak mungkin….
Daiya.
Terima kasih atas selama ini.
Jadi….
Ada perlu apa, Daiya?
Seharusnya bilang, "Kau baik-baik saja?" dengan nada manis, Anju.
Baiklah, apa kau baik-baik saja, Daiya?
Sebaiknya kalian juga keluar!
Aduh!
Theo?
Itu…
Jadi, sedang apa kalian?
Sedang apa? Soal itu.
Ya, 'kan, Haruto?
Ya, 'kan, Daiya?
Aku? Apa?
Sudah kubilang soal itu.
Ada yang ingin kutanyakan pada kalian.
Kalau cuma itu, tinggal pakai Para-RAID, 'kan?
Aku ragu menggunakan RAID selagi kalian bersama begitu adalah ide yang bagus.
Ya, 'kan?
Canggung juga kalau ternyata kalian sedang merumpi soal asmara, 'kan?
"Kurena sebenarnya suka sama Shin."
Bisa gawat kalau kami mendengar itu.
Memang itu yang sebenarnya terjadi.
Benar juga!
Lain kali, ayo bahas itu saat Shin menghubungi kita!
Aku penasaran seperti apa reaksinya.
Kurena sudah bisa ditebak, tetapi Shin tidak akan bisa.
Ekspresi Dewa Kematian itu pasti tak akan berubah. Sungguh tak asyik.
Aku tak pernah bilang begitu!
Berhenti menggangguku!
- Kurena imut! - Kurena imut!
Jadi…
Apa yang ingin kalian tanyakan?
Itu…
Daiya.
Apa? Aku lagi?
Soal itu….
Bercinta itu apa?
Kami minta maaf!
Di mana Daiya?
- Itu! - Daiya!
Bisa bantu aku mengangkutnya?
Apa? Permisi, apa terjadi sesuatu?
Cuma tikus lewat.
Tikus?
Dasar asal bicara.
Di sana ada tikus?
Ya.
Kurena.
Kenapa setiap malam wanita itu mengganggu kita?
Padahal ini waktu yang berharga untuk kita habiskan bersama.
Padahal bisa saja besok kita akan mati!
Cuma sementara waktu ini.
Lambat laun, Tuan Putri sendiri akan berhenti menghubungi kita.
Anggap saja kita mengisi waktu luang.
Namun, aku tak peduli dengan babi putih itu.
Seharusnya Shin segera menghancurkan dia.
Shin sendiri juga sebenarnya tak mau menghancurkan mereka.
Dan juga,
apa kau sanggup bilang begitu?
Hanya karena tak suka, kau pun ingin Shin menghancurkannya.
Yakin mau bilang begitu?
Maaf.
Namun tetap saja, aku tak bisa memaafkannya.
Para babi putih itu membunuh ayah dan ibuku.
Orang tuaku dipermainkan dan dijadikan samsak tembakan.
Babi putih itu sampah semua.
Aku tak akan pernah memaafkan mereka.
Benarkah, Kirschblute?
Ya.
Saat aku memandanginya, bintang-bintang
yang tak terhitung jumlahnya berjatuhan dari langit.
Cahaya menyelimuti bentangan angkasa.
Pemandangannya benar-benar indah.
Bintangnya benar-benar sebanyak itu, ya?
Ya. Benar-benar tak bisa dihitung.
Hujan meteor, ya? Kalau itu, aku juga pernah melihatnya.
Benarkah?
Ya. Hanya saja,
di tengah-tengah medan tempur di mana kawan dan lawan berguguran itu,
ada seorang lelaki berdiri di sebelahku. Bukan begitu, Undertaker?
Tidak ada romantisnya.
Ditambah lagi, Juggernaut kami kehabisan bahan bakar.
Sebelum Fido menemukan kami,
kami sama sekali tak bisa bergerak. Situasinya sungguh menggelikan.
Fido?
Itu nama anjing kami.
Apa? Kalian juga memelihara anjing, ya?
Dia adalah anjing yang berbeda dari yang lain.
Dia tak menggonggong, melainkan bersuara "Pi."
"Pi?" Apa?
Malam di medan tempur benar-benar mengerikan.
Di tengah-tengah kengerian itu, cahaya pucat yang tak bersuara,
bergiliran melintas satu per satu, sampai memenuhi angkasa.
Waktu itu, aku sempat mengatakan hal aneh.
Benar-benar aib seumur hidup.
Memangnya kau bilang apa?
Tak akan kuberi tahu, Bodoh.
"Kalau ini pemandangan yang kulihat di akhir hayatku,
kurasa tak begitu buruk."
Kenapa malah diberi tahu?
Dia tertawa lepas saat mendengarnya.
Mungkin aku tak akan bisa lagi melihat yang seperti itu.
Aku juga ingin melihat hujan meteor.
Memangnya di sana tak kelihatan, ya?
Pencahayaan di kota tak pernah padam, jadi…
jarang sekali bintang bisa terlihat di sini.
Ya, sudah pasti seperti itu, ya.
Saat malam, di sini benar-benar gelap.
Penghuninya sedikit dan tempatnya juga terpencil.
Saat masuk jam tidur, semua pencahayaan dipadamkan.
Makanya pemandangan bintangnya sering terlihat indah.
Bisa dibilang, itulah enaknya tinggal di sini.
Benarkah?
Ya.
Kirschblute, apa kau membenci kami?
No comments yet. Be the first to leave one.