Les 200 premières lignes.
Program ini untuk usia 15 tahun ke atas. Pengawasan orang dewasa dibutuhkan,
karena adanya kekerasan dalam konten.
Drama ini adalah cerita fiksi. Orang, lembaga, organisasi, kejadian,
latar belakang, bukanlah kejadian nyata.
Episode 5
- YEOSU PADA AWAL TAHUN 1960-AN - Wah, Du-Hak lapar ya?
Iya, iya. Ibu akan memberikanmu susu.
Aku akan ke sawah Tuan melakukan Pisari.
Taburkan semua benih dan pulanglah lebih dulu.
Astaga, kamu ingin aku menabur semua benih gandum ini sendirian?
Tak melihat bayi ini?
Lakukanlah lebih lama lagi.
Kamu juga bukan budak dinasti Joseon.
Apakah Tuan itu nanti kalau kamu meninggal,
akankah dia membuatkanmu batu nisan?
- Memangnya kamu tahu apa? - Memang apa yang tak aku ketahui?
Jangan berkata begitu pada orang yang kita kenal!
Siapa yang tak tahu terima kasih?
Meski kamu yang melakukan, ini sangat keterlaluan!
Keluarga itu bertani sendirian, ternyata tak cukup,
lalu kita memberikan hasil panen kita!
Orang lain yang pernah jadi budak, tak ada yang begitu.
Mengapa hanya kamu yang bukan siapa-siapa seperti ini?
Begitulah maksudku.
Karena tak ada yang melakukan, akulah yang melakukannya!
Mereka itulah orang yang tak tahu balas budi!
Tak peduli berapa banyak pandangan kita berubah,
orang tidak boleh berlaku seperti itu!
Astaga, kamu coba lakukan saja pada semua orang.
Aku tak butuh Konfusius atau Mensius!
- Aku akan menutup mulutmu. - Cepat pergi, pergilah.
Mau aku mati atau tidak, pergi saja!
Kumpulkanlah banyak orang!
Bagaimanapun juga...
...sepertinya aku mengandung anak lagi.
Sudah tiga bulan aku tidak haid.
Bawa dia pergi dan masuklah, aku akan menabur benihnya.
Masuk dan beristirahatlah.
Astaga, Du-Hak.
Meski aku mengandung adikmu,
ayahmu tetap saja jadi orang yang cuek.
Kamu tak boleh menjadi seperti ayahmu, ya!
Dasar orang ini!
Pelan-pelan!
Kalau begini, aku yang meninggal duluan!
Astaga!
Ini harus segera dibawa ke rumah sakit besar di Gwangju.
Bisakah anda memanggilkan ambulans?
- Ya, saya akan keluar dan menelepon. - Tak usah, tak usah.
- Ayah. - Ayah.
Antarkan pulang dokter,
dan suruh ayah Du-Hak datang ke sini.
Tuan!
Aku tidak memintamu untuk adopsi tanpa syarat.
Jika anak keduamu adalah laki-laki,
menantuku tak bisa punya anak.
Ini pengorbananku.
Aku telah melakukan banyak dosa,
aku tak tahu apa yang harus aku khawatirkan.
Ini karena aku merasa tak tahu malu kepada leluhurku.
Aku mohon padamu.
Tuan, bagaimanapun juga...
...garis keturunanku yang rendah ini...
Young-Sik.
Kakak,
aku mohon padamu.
Astaga.
Tapi, ada satu syarat...
...kalau hal ini terjadi, anak itu menjadi anakku.
Anak yang aku kandung.
Saya mengerti.
Hanya kita saja yang tahu akan hal ini,
simpan dalam hati, sampai kita mati.
- Tetua. - Terima kasih.
Mengapa kamu menangis?
Karena aku sedih, sedih.
Apa masuk akal mengambil anak yang bahkan belum lahir?
Itu kalau dia anak laki-laki.
Dan juga apa maksudnya mengambil?
Inilah cara kita balas budi.
Astaga.
Balas budi macam apa yang memberikan anak kandung sendiri?
Coba pikirlah.
Kita malah harusnya bersyukur karena mereka mau merawatnya...
...di dunia yang susah ini.
Dan juga, jika anak kita akan tumbuh di keluarga yang luar biasa baik itu,
betapa bagusnya hal itu ?
Memangnya anak kita tahu siapa kita?
Orang ini! Apa pentingnya dia tahu atau tak mengetahui kita!
Kita tahu, langit tahu, tanah pun tahu.
Anak disebut sebagai anak, jika sudah lahir!
Dia hanya akan tahu orang yang merawatnya sebagai orang tuanya.
Tak ada gunanya jika dia nanti menjadi hakim atau jaksa.
Hanya...
...anggap saja anak laki-laki kita adalah orang yang dapat keberuntungan.
Memangnya kamu pikir mengapa aku cepat-cepat menikah...
...tepat setelah putus denganmu?
Masalah yang merepotkan ada lagi di kompleks industri Guro.
Saya akan menanganinya seperti sebelumnya.
Jangan berisik, ikuti aku dengan baik.
Atau kau diam saja di sudut.
Bangil Industri
Hentikan penindasan serikat pekerja sampai mati!
- Young-Pil. - Ya, Bos.
Orang ini yang melakukannya.
Keluar dari universitas yang bagus, bekerja di pabrik,
menghasut orang-orang yang tak tahu apa-apa ini,
membuat perusahaan bangkrut.
Seperti orang gila, aku yakin dia ada di dalam pabrik.
Kalian harus mendapatkannya, paham?
Kak, kalau ke Seoul aku akan kerja di pabrik.
Ada perusaahan bernama Bangil Industri di Guro.
Pabrik pembuat ritsleting.
Kalau begitu, bisakah polisi saja yang menangkapnya?
Ini adalah tempat yang langsung dikerjakan, setelah pembicaraan selesai.
Tidak ada dalih untuk menangkap mereka, 'kan?
Bagaimana pun juga, kalian harus menangkap orang ini.
Tahu apa maksudnya, 'kan?
Saya mengerti.
Kalian tahu apa maksudnya, 'kan?
Ya, Bos.
Ikut!
Kamu mau seperti itu?
Kakak!
Kakak!
Kak, tolong jangan seperti ini!
Jangan!
Moon Dong-Soo!
Jangan!
Dasar!
Lepaskan!
Jangan, Kak!
Guru, guru!
Jung-Ok!
Lepaskan!
Bawa juga aku!
Aku bilang bawa aku!
- Diamlah. - Lepaskan!
Hei!
Ayo.
Jaga keluargamu dengan baik.
Berikan ini kepada Presdir Yeom.
Aku mengeluarkanmu dengan susah payah, diam saja di rumah.
Aku sangat bersyukur sampai tak tahu harus berbuat apa.
Berkat kakakku yang gangster.
Hei!
Kakak tahu apa yang kakak perbuat sekarang?
Kau seperti anjing penjilat bos jahat yang tidak manusiawi.
- Mau pergi ke mana? - Lepaskan!
Aku akan bersama teman-temanku!
Teman-temanmu?
Teman-teman yang pergi sekolah malam hari dan melakukan demo?
Mereka lebih penting dari keluarga?
Mereka juga keluargaku yang berharga, temanku!
Kamu bilang teman? Rupanya kamu sudah jadi kaum kiri.
Kalau aku membawamu ke kantor polisi, kamu bisa langsung masuk penjara.
Kalau memang harus pergi, mari pergi.
Memangnya aku takut masuk penjara seperti kakak yang melakukan kejahatan?
Aku tidak takut!
Kenapa? Karena aku melakukan hal benar untuk menjadi manusia!
Mengapa kakak hidup seperti ini?
Kakak bukan orang yang seperti ini.
Kamu bahkan tak malu menatap langit?
Aku sudah lama sekali tak menatap langit.
Dan juga, langit tidak menatap orang seperti aku ini.
Jung-Ok! Du-Hak!
Astaga! Astaga, astaga!
Jung-Ok?
Masuklah, tak ada baiknya Ibu dan Ayah tahu.
Apa maksudnya?
Kamu bilang tak ada baiknya kami tahu?
Ibu,
tolong agar Jung-Ok di rumah saja sementara.
Jangan biarkan dia ke pabrik.
Pabrik?
Pabrik akan tutup sementara waktu.
Suruh dia makan dan tidur dengan baik di rumah.
Kamu membuat masalah apa?
Kakaklah yang membuat masalah!
Anak laki-laki yang dibanggakan Ibu dan Ayah...
...adalah seorang gangster!
Apa maksudnya?
Ibu.
Sekarang jangan suruh dia kerja di pabrik!
Suruh dia belajar dan sekolah di universitas! Aku bayar uang kuliahnya.
Aku datang untuk memberikan ini.
Itu...
...bawa saja kembali.
Aku bilang bawa pergi saja!
Bagaimana orang tua berkata begitu pada anaknya?
Kamu akhir-akhir ini kerja apa?
Bukankah tadi sudah dengar?
Aku seorang gangster.
Dasar kamu ini!
Ayah Du-Hak!
Mengapa?
Pukul saja seperti yang selalu Ayah lakukan!
Ini semua karena Ayah.
Du-Hak, Du-Hak.
Bagaimanapun, itu bukan hal yang benar untuk hidup.
No comments yet. Be the first to leave one.