Les 200 premières lignes.
Semua, aku duluan, ya!
- Iya, hati-hati. - Hati-hati, ya.
- Pagi, Tiara. - Pagi.
Neng Tiara, udah cakep.
- Udah mau berangkat terbang? - Iya, Teh.
Persiapan kokpit selesai.
Bagus.
AirIndo 345, diizinkan untuk mundur dan menyalakan mesin.
Mempertahankan rute penerbangan.
AirIndo 345.
Terima kasih.
Permisi, mau minum kopi, teh, atau jus jeruk?
- Jus jeruk. - Jus jeruk? Oke.
- Silakan. - Sama Mbaknya?
- Ibu, permisi, mau minum kopi, teh, atau… - Mau minum apa? Air putih?
Waktunya minum kopi?
Mau dianter siapa?
Langit hari ini indah, menawan,
dan cantik kayak kamu.
Dan langit ini...
...akan menjadi saksi cinta kita.
Nes.
Hmm?
Aku mau tanya sama kamu.
Apa?
Kamu pernah...
...ciuman di atas 30.000 kaki?
Belum.
Biar kamu tahu.
Kapten.
HANYA UNTUK AWAK PESAWAT
Temen-temen, gue ke sana dulu, ya.
- Oke. Dah. - Hati-hati.
- Ti, aku ke toilet dulu, ya. - Ikut.
Duluan, ya.
Ya udah.
- Assalamualaikum , Bu. - Kamu juga.
- Iya. - Nanti aku telepon lagi.
Ini baru aja mendarat di Jakarta lagi.
Lancar semuanya, alhamdulillah .
Maaf…
Aku 'kan udah bilang maaf.
Kak Deva?
Eh barang semua udah aman?
Syukurlah. Hati-hati ya, Sayang. Jaga diri kamu baik-baik.
Ibu tenang aja, aku akan selalu jadi anak manisnya Ibu.
Bu, sebentar ya. Entar aku telepon lagi. Assalamualaikum.
Lupa, ya?
Tiara.
Aku dulu latihan basket di klub Kakak.
Tiara!
Kamu udah berubah banget. Kamu sekarang…
...makin dewasa dan makin cantik.
Aku nyari kamu ke mana-mana, tahu.
Enggak mungkin.
Beneran, aku enggak bohong.
Kok aku bisa enggak tahu kalo kita satu maskapai?
Aku baru, Kak.
Eh, Kapten.
Awas, hati-hati.
Iya.
Aku minta nomor kamu.
Buat kapan-kapan ngopi.
Tia.
Pertemuan itu kadang membawa kita ke takdir yang lain.
Kamu percaya?
Oke.
Nanti aku telepon, ya.
Kalo gitu aku duluan, ya.
Dah!
Kapten, halo.
Bisa-bisanya lo kenal Kapten Deva. Kok bisa?
Sebenernya udah dari SMA kenalnya.
Jadi, dia itu asisten pelatih basket dulu.
Dia mantan lo?
Enggak, lah.
Aku tuh waktu SMA ikut ekskul basket.
Nah, dia itu jadi asisten pelatih basket.
Terus,
banyak banget cewek-cewek yang ikut ekskul basket...
...berharap dipacarin sama dia.
Tapi, gue yakin sih...
...semua pramugari juga rela dipacarin sama dia.
Termasuk kalian?
Enggak! Gue bukan tipenya, kali.
Masa iya gue mendahului Mbak Siska?
Eh, sembarangan!
Tapi, dia kok masih muda udah bisa jadi Kapten, sih?
Yakan selain ganteng, dia juga berprestasi.
Sempurna!
Halo.
Halo, Tia. Tiara.
Ini… Kak Deva?
Eh...
Kapten Deva.
Iya, simpan ya nomor aku.
- Ya udah, nanti aku telepon lagi. - Oke.
- Dah. - Dah.
Tapi, gue serius nih.
Kalo misalkan lo berhasil mendapatkan Kapten Deva,
menurut gue,
...debut lo sebagai pramugari itu bisa mengalahkan semua pramugari di Indonesia.
Pasti mereka semua akan menangis.
Asli. Valid.
- Emang iya, Mbak? - Iya, lah!
Kayaknya kamu…
Pagi, Tia! Ada kiriman makanan buat kamu.
Pake ada tulisan "Sayangku".
Romantis sekali! Dari pacar?
- Ya udah. Selamat makan! - Makasih, Teh.
Pagi, Tia.
Aku kirim makanan yang sedang aku makan buat sarapan.
Biar kamu bisa rasakan apa yang aku rasakan.
Rindu.
Iya!
Ada kiriman, Tia!
Ada suratnya?
Teh!
Kenapa? Saya mau juga merasakan kebahagiaan orang pacaran!
Baca sedikit.
Pemandangan yang paling indah di langit...
...adalah melihat daratan di mana kamu menantiku di sana.
Makasih ya, Teh!
Hai.
Hai.
Kak…
Eh, Kapten…
Kok enggak bilang mau ke sini?
Masih suka main basket?
Yuk.
Tia, hei.
Kenapa? Kamu mau ke mana?
Aku mau pulang. Besok aku terbang pagi.
Tia, tunggu.
Tia.
Aku minta maaf, ya.
Aku emang banyak dekat sama perempuan lain.
Tapi, itu karena aku belum ketemu yang aku cari.
Dan sekarang waktunya aku berhenti.
Karena aku udah ketemu yang aku cari.
Kamu.
Udah berapa banyak perempuan yang denger kalimat itu?
Tia!
Kalo bola ini enggak masuk,
itu artinya semua yang kamu denger soal aku benar.
Tapi, kalo bola ini masuk,
itu artinya aku serius sama kamu.
Kamu boleh bohong...
...bilang bola itu masuk atau enggak.
Tapi, asal kamu tahu,
waktu aku ngelempar bola itu aku cuma mikirin kamu.
Gimana? Masuk, enggak?
Sekarang kamu percaya, 'kan,
kalau pertemuan itu...
...membawa kita ke takdir yang lain.
Aku sayang sama kamu.
Nah, ini.
- Ini yang kiri ya, Pak! - Oke.
- Kak Tia! - Hai!
Bu! Kak Tia, Bu!
Adiknya kok dipeluk sampe mau jatuh?
Ibu!
- Ini… - Bu.
- Halo, Nak. - Apa kabar, Bu?
Baik.
Masih inget sama aku, Bu?
- Nak Deva, 'kan? - Iya.
Tia suka cerita soal Nak Deva.
Semoga ceritanya yang baik-baik, Bu.
Insya Allah.
Kalo ini pasti Indah.
Inget sama aku?
Inget lah, Kak, gimana enggak?
Foto Kakak aja dipajang di kamar Kak Tia.
Iya, enggak?
Bu, aku bawain sedikit oleh-oleh.
Nak Deva kok repot-repot?
Enggak, Bu. Enggak repot sama sekali.
- Terima kasih banyak, ya. - Sama-sama.
Terus, sekarang aku harus cium tangan apa gimana sama calon kakak ipar?
Nak Deva, ayo masuk.
- Iya, Bu. - Ayo.
Kamu tuh gangguin aja.
Jadi, kamu simpen foto aku di kamar?
Foto rame-rame zaman SMA waktu aku juara basket itu, lho.
Habis sudah.
Bu, tapi aku harus jujur, ini makanannya enak banget.
Ini Ibu bikin sendiri? Ibu masak sendiri?
Iya, Ibu.
Pokoknya semua yang di rumah ini itu Ibu.
Yang masak Ibu, yang beres-beres juga Ibu.
Soalnya Indah males.
Kerjanya tidur doang sama main ponsel, iya, 'kan?
Apa, sih? Orang aku ikut bantuin ya, Bu?
Sesekali.
Tuh, 'kan?
Ya, beginilah, Nak Deva.
Sejak bapaknya anak-anak enggak ada,
di rumah ini kami cuma tinggal bertiga.
Dan Ibu yang hebat ini yang gantikan peran Bapak sekaligus Ibu.
No comments yet. Be the first to leave one.