Les 200 premières lignes.
KOMEDI SPESIAL NETFLIX
TAK ADA AREA SEBAGUS PECINAN
Sambutlah ke atas panggung,
tak lain dan tak bukan: Ronny Chieng!
Hore!
Hore!
Kita berhasil.
Kita mengakhiri rasisme. Terima kasih.
Terima kasih sudah hadir.
Terima kasih sudah hadir malam ini, Kota New York.
Terima kasih sudah tak mati selama pandemi.
Terima kasih sudah bertahan.
Kami tak bisa melakukan komedi tanpa kalian.
Kami sudah mencoba.
Terlalu banyak siniar.
Aku merasa 2021 itu tahun
saat orang yang beken di SMA benar-benar menemukan jati dirinya…
di internet.
Orang-orang dungu di Facebook menuntut bukti.
Kalian mencoba memberi mereka informasi yang menyelamatkan nyawa.
"Ini informasi yang menyelamatkan nyawa."
"Mana buktinya?"
Para pelajar di bawah rata-rata
yang tak mahir dalam pemahaman bacaan dasar
menuntut bukti setingkat doktor
tentang virologi.
Apa yang bisa kalian tunjukkan yang akan cukup?
Apa bukti yang bisa kalian tunjukkan, yang lalu mereka jawab…
"Ya ampun. Terima kasih…
sudah menunjukkan bukti ini.
Aku tak pernah tahu teori ilmiah ini,
tapi setelah kubaca tiap halaman artikel yang telah melalui peninjauan sejawat ini,
termasuk catatan kaki,
dan kuhabiskan akhir pekanku mereferensi silang sumber di LexisNexis,
dan semuanya tampak valid,
aku merasa menjadi orang yang lebih baik.
Jadi, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menjadikanku orang yang lebih baik."
Dasar orang-orang bodoh.
Mereka orang bodoh. Benar.
Aku menghargai perasaan ingin memahami semuanya
dan memiliki keahlian berpikir kritis.
Tapi jumlah pengetahuan dasar yang diperlukan untuk mencapai titik ini,
sudah tak berguna untuk masuk ke kondisi "mengetahui".
Di tahap ini, kalian lebih berada di posisi "diam dan dengarkan"
karena ada terlalu banyak.
Terlalu banyak fakta yang kalian lewatkan.
Kalian terlalu sering bolos.
Kalian seperti orang yang tak kuliah sepanjang semester,
lalu muncul saat ujian,
dan berkata, "Semua ini tak masuk akal!
Matematika itu khayal!"
Itu seperti berusaha menjelaskan fisika kuantum ke seekor anjing.
Saat ini, itu di luar jangkauan kalian. Ikuti saja perkembangannya.
Kita sekarang hidup di zaman teknologi ajaib.
Dalam waktu tiga bulan saat pandemi ini terjadi pada Maret 2020,
mereka mengurai genom virus itu.
Ya, mereka mengurainya.
Kata mereka, "Hei, lihat, kami menemukannya.
Kami menemukan musuhnya.
Lihat, ada di sini.
Ini A-A-A-A, B-B-B-B-B-B, G-G-G-G-G-G,
A-A-A-A, D-D-D-D-D, A-A-A, C-C-C-C-C, T."
Bisa kalian bayangkan menunjukkan itu kepada para dungu di Facebook…
yang menuntut bukti?
Bilang, "Mana buktinya?"
"Ini. Kami punya.
Kami menemukan urutan protein dan asam amino yang sama persis."
"Apa-apaan ini?
Benar. Kau 'mengurai' genom.
Ya, kau berharap kami percaya kau 'mengurai' genom,
dan begitulah tampilannya, seperti huruf Scrabble.
Aku juga bisa mengurai genom. Semua orang bisa melakukannya.
Lihat aku mengurai genom di papan ketikku seharian."
Semua pelajar di bawah rata-rata ini
yang duduk di paling belakang sepanjang masa sekolah mereka.
Mereka duduk di paling belakang.
Maka tetaplah di belakang.
Jangan maju ke depan selama pandemi
hanya karena kalian tahu cara memulai siniar.
Tetaplah di belakang dengan mulut di bawah rata-rata itu.
Kalian punya peluang untuk membuktikan diri secara akademis
dan kalian gagal atau biasa saja di setiap tingkatan.
Untuk apa kami harus mendengarkan kalian tentang apa pun?
Biarkan para kutu buku yang memimpin.
Ya.
Itulah gunanya para kutu buku.
Semua hal di sekitar kalian dibangun oleh kutu buku.
Itu tugas mereka.
Mereka ada untuk memasukkan data mentah sebanyak mungkin ke otak mereka,
mengaduknya,
lalu memuntahkan jalan probabilitas kesuksesan tertinggi.
Beberapa hal tak berhasil karena itu adalah probabilitas.
Itu kurva distribusi normal.
Kalian takkan pernah dapat standar deviasi nol.
Itu teorema limit pusat mendasar.
Aku suka orang yang tak bersekolah
dan mereka otomatis berasumsi punya keahlian untuk bertahan.
Kubilang, "Hei, itu tak otomatis.
Kau bisa jadi bodoh dan tak bertahan.
Itu juga kemungkinan."
Aku beruntung pernah tinggal di beberapa negara.
Aku lahir dan dibesarkan di Malaysia,
tumbuh dewasa di Singapura, tinggal di Australia selama sepuluh tahun,
sekarang tinggal di Amerika.
Silakan soraki yang terakhir.
Atau tidak, tak apa.
- Ya! - Sudah terlambat. Kau ketinggalan.
Tapi kuhargai karena sudah berusaha.
Intinya, aku tinggal di beberapa negara.
Bukan sekadar liburan akhir pekan.
Aku tinggal di berbagai negara ini selama setidaknya satu dekade.
Kuberi tahu kalian, dari pengalaman pribadiku,
ada orang rasis di mana-mana.
Setiap negara punya warga yang rasis dan jahat.
Aku pernah bertemu. Mereka menyebalkan sekali.
Lagi pula, itu fakta. Kukira itu sudah jelas.
Tapi jika kalian tak cukup menyatakannya di Amerika,
semua orang heboh dengan membanding-bandingkan.
Kalian berusaha membahas situasi buruk,
"Hei, situasi ini buruk."
Lalu orang berkata, "Menurutmu itu buruk? Bagaimana dengan orang-orang ini?
Bagaimana dengan kelakuan para bajingan dan bedebah ini?"
Dibalas, "Ya, tentu saja.
Tentu saja, setiap ras punya orang yang rasis dan jahat."
Masalahnya, kita terus membandingkan 10% orang terburuk suatu ras
dengan 10% orang terbaik ras lain.
Benar, 'kan? Itu kesalahan besar.
Karena yang seharusnya kita lakukan
adalah mengambil 10% orang terburuk dari setiap ras
dan membandingkan itu.
Jadi, kita bisa tahu ras mana yang paling buruk.
Agar kita akhirnya bisa menjawab pertanyaan itu dan mengakhiri rasisme.
Karena kemudian akan ada konsensus.
Kita berkata, "Lihat. Ras ini yang terburuk."
Lalu ras itu melihat kita dan berkata, "Ya, kami yang terburuk.
Sialan."
Lalu akan ada pemulihan.
Tapi kita harus membandingkan hal yang sama.
Kita tak bisa membandingkan yang tinggi dengan yang rendah.
Nilai probabilitasnya terlalu tinggi.
Tapi kita lakukan saja sekarang.
Ya, lakukan sekarang.
Mari cari tahu ras mana yang terburuk sekarang.
- Kalian setuju? - Ya!
Baiklah. Bagus.
Dalam hitungan ketiga, teriakkan ras mana yang menurut kalian terburuk.
Paham? Jangan khawatir. Kita melakukannya bersama.
Aku juga ikut. Tentu saja.
Jangan khawatir, ini acara komedi. Ini tempat yang aman.
Kami minta singkirkan ponsel kalian untuk momen ini.
Ini saatnya untuk mengungkapkan.
Ini dia. Jangan memendam dan melampiaskannya di luar.
Keluarkan sekarang. Biarkan iblisnya keluar sekarang. Paham?
Tak perlu spesifik. Cukup sebutkan warna.
Sudah?
Kita semua tahu apa jawabannya.
Ayolah. Kita semua tahu.
Baik, dalam hitungan ketiga, ras terburuk. Satu…
Ini sungguh terjadi,
entah kalian ikut atau tidak.
Sekalian saja katakan sesuatu,
meskipun kalian tak memercayainya.
Seperti latihan kreatif.
Katakan. Seperti bicara sembarangan.
Baiklah, hitungan ketiga.
Ras terburuk, hitungan ketiga.
Satu. Ras terburuk. Dua.
Tiga.
Jika kalian mengatakan apa pun, kalian 10% orang terburuk ras kalian.
Menjijikkan sekali.
Sekelompok orang rasis menghadiri acaraku di Kota New York,
benar-benar tak paham inti gurauan itu.
Akan kusebut perilaku kalian di setiap negara,
di setiap acara komedi yang kulakukan.
Masalah di dalam gurauan itu,
aku tak bisa segera menginterupsi kalian para barbar
sebelum kalian meneriakkan hal yang menyulut konflik ras di Kota New York.
Tapi kalian tahu? Masa bodoh. Aku butuh publisitas.
Aku butuh media. Lakukan saja.
Silakan. Mulai konflik ras.
Di ruangan ini, lakukan sekarang dan salahkan aku.
Salahkan aku, tandai aku.
Tandai aku di video perkelahian.
Salahkan aku. Boikot aku.
Boikot aku.
Beri tahu Twitter aku menyuruh mengatakan kata N.
Lakukan. Boikot aku.
Boikot aku.
Jika kalian sungguh mengira punya kemampuan untuk memboikotku,
bersantai di rumah memakai celana dalam dan memegang ponsel, lakukan.
Boikot aku.
Kutinggalkan tiga negara yang sistem kesehatannya gratis, tanpa senjata.
Aku pindah ke Amerika tahun 2015 sudah bersiap untuk mati.
Kalian pikir para dungu MAGA, kebencian pada Asia, COVID yang tak terkendali,
orang-orang Twitter membuatku takut?
Lakukan. Boikot aku.
Kalian mau apa? Memboikotku sehingga aku harus kembali ke Malaysia
padahal aku dianggap pahlawan nasional di sana?
Juga perbedaan kurs mata uang yang sangat menguntungkanku?
Gawat! Bagaimana aku bisa bertahan?
No comments yet. Be the first to leave one.