Les 200 premières lignes.
_=Diterjemahkan oleh=_ - B E T E P E -
Pasukan kita berkurang.
Persiapan pemakaman sudah siap begi mayat yang berhasil kita bawa pulang.
Aku sudah memerintahkan pengintai untuk memeriksa jalan tujuh hari dari sekarang
seandainya saja Sidao...
cukup berani menyerang Cambulac.
Akhirnya, kita mengerahkan pasukan dari utara.
Aku sudah memulai persiapan untuk latihan.
Aku takut mereka menjadi enggan sekarang,
tapi kita akan melakukan apa saja untuk merubah keadaan itu.
Tuanku.
Apa sudah semua?
Apa kau tidak ingin membahas nasehatmu?
Dan sikap cuekku padanya?
Masalah Polo, apa kau siap untuk melakukannya?
Tuan Marco,
atas kebijaksaan dan kebaikannya,
Khan para Khan memberikanmu kesempatan terakhir untuk memohon ampunan.
Aku tidak akan memohon ampunan.
Tapi aku akan membela diri sendiri.
Boleh aku tahu tuduhan apa yang ditujukan padaku?
Penghianatan.
Aku tidak menyukai ini, Tuan Marco.
Tapi tampaknya nasib buruk
menimpa kerajaan kami semenjak kau datang.
Aku tidak memilih tinggal di sini.
Aku memilih dipulangkan ke ayahku.
Saat kau di daerah Kochkor.
Kemampuanmu untuk masuk dan pergi tanpa kendala.
Dan apa kau mencurigai Byamba, putra dari Khan,
juga terlibat?
Kami pergi bersama-sama.
Apa itu benar, Byamba?
Apa kau selalu bersamanya dalam perjalananmu?
Aku diminta kesini dan aku datang.
Tapi kau tidak bisa menuduhku terlibat dalam hal ini.
Tidak, kami tidak selalu bersama.
Ada waktunya saat dia bernegosiasi tentang nyawaku
saat aku ditahan, bersiap untuk mati.
Dan jika aku ingat kembali, kau yang mengirimnya bersamaku dalam perjalanan.
Setelah dia menyakinkan aku untuk itu.
Bagaimana bisa tubuhmu berdiri tegak tanpa tulang belakang?
Xiangyang.
Kekalahan.
Perjalananmu ke sana.
Waktumu bersama teman si pelacur itu.
Bisa diterima oleh Khan.
Kau memberitahu Song penundaan penyerangan.
Kau bersekongkol menggiring kami menuju pembantaian.
Apa gunanya mereka diperingatkan?
Mereka sudah jauh kita berjarak satu minggu perjalanan.
Mengenai temboknya...
Aku bersalah.
Aku bertanggung jawab atas nyawa ribuan orang akibat kesalahanku.
Aku tidak membela diri.
Tapi benar atau salah, semuanya aku lakukan semata-mata untuk melayani Khan.
Dan hanya dia saja?
Ya.
Hanya itu?
Semua perbuatan yang kau katakan tidak bisa dijatuhi hukuman oleh hukum dari Khan.
Aku sudah menerjemahkan ini.
Maukah kau memberitahu pada Khan
kalimat yang kau simpan dekat sekali dengan jantungmu?
"semua raja akan jatuh dihadapannya."
"semua raja... akan jatuh dihadapannya."
Itu pemberian.
Dari ayah untuk anaknya?
Ya.
Sebuah kutipan dari kerpercayaan yang diterima disini, seperti semua yang lain,
di dalam kota Cambulac.
Keyakinan dengan rencana bagi kerajaan kami.
Aku tidak tahu tentang itu.
Tapi yang aku percayai kau punya rencana dari Vatikan.
Apa itu?
Dengan penuh hormat, Khan...
kita menuai apa yang kita tabur.
Kau bicara kasar.
Aku bicara sejujurnya.
Kau berhak atas kejujuran.
Kau percaya aku tidak bisa menaklukkan Barat?
Justru sebaliknya, Raja Khan.
Hukum paling umum antara alam dan manusia...
adalah untuk mengambil apa yang sudah dimandatkan
oleh Tuhan
atau oleh pedang dan panah atas perintahmu.
Kau punya keduanya.
Tapi kau harus siap atas perlawanan orang-orang yang berani.
Dan daerah Barat tidaklah lemah.
Apa tidak ada lagi yang ingin kau katakan untuk menguatkan alasanmu?
Tampaknya riwayatku sudah jelas tidak peduli apa pun yang aku katakan.
Benar sekali.
Mmm.
Stempel Kerajaan milikmu, Kanselir.
Dan termasuk juga, dinasty ini.
Kanselir... namun tetap saja?
Kecuali garis keturunanmu dirubah.
Tujuh Keluarga akan datang.
Nyanyian tentang kemenanganmu terbawa sampai tempat yang jauh.
Bagaimana kau menelanjangi Pasukan Mongol, tubuh dan jiwa.
saat mereka sudah siap untuk bersumpah setia pada Kaisar.
Mereka pasti harus menemui anak itu.
Itu sudah pasti.
Tidak ada yang percaya anak itu bisa membimbing tangannya sendiri.
Namun bimbinganmu sudah mengangkatnya.
Aku harus berdiri di belakangnya.
Taktik yang tepat, Kanselir.
Aku kira aku tidak bisa hanya menanamkan ini pada tengkoraknya
dan menghanyutkannya di Yangtze?
Katakan siapa namamu.
Kau tidak perlu takut.
Judar, Tuan Putri.
kau boleh memanggilku Kokachin.
Tidak, Putri.
Aku kau menentangku?
Mengenai ini, iya.
Jika kau menolak permintaan sederhana ini,
bagaimana aku tahu kau tidak akan menentang yang lebih besar lagi?
Pelayan sejati mengerti kebutuhan kita lebih baik dari diri kita sendri.
Tinggalkan kami.
Aku seumuran denganmu saat aku ditunangkan untuk Kublai.
Aku ketakutan.
Aku tahu dia akan menjadi Khan meskipun dia sendiri tidak mau.
Saat itu... aku merasa tidak pantas,
itu kesalahan yang pasti terjadi
dan pada saat itu juga seseorang bisa manganggap aku tidak pantas.
Itu tidak berlanjut saat ibu Kublai memberiku ini,
yang terbaik dari sutra, untuk ditenun menjadi gaun yang aku kenakan,
dan aku tahu itu benar.
Aku menyimpannya agar kelak suatu hari nanti kuberikan pada putriku sendiri.
Cantik sekali.
Hanya refleksi keindahan dari orang yang mengenakannya.
Aku juga datang mengucapkan duka cita atas apa yang terjadi padamu.
Aku kehilangan sahabat dekat.
Satu-satunya temanmu, kalau tidak salah.
Aku harap itu tidak jadi masalah, Paduka.
Jika kau bicara padaku...
bicaralah dengan jelas.
Aku takut kekhawatiran telah menginfeksi kerajaan belakangan ini.
Dan lebih banyak lagi di ufuk.
Aku sudah dengar.
Mendengar apa?
Si Latin akan dieksekusi.
Saat subuh.
Seorang penjahit akan menemuimu tidak lama lagi.
Tuan Polo.
Aku datang untuk membantu menenangkan pikiranmu.
Terima kasih atas perhatianmu, Jingim.
Pangeran.
Pangeran Jingim.
Aku tahu ini terlihat tidak adil,
dan susah bagimu untuk melihat, posisimu saat ini.
Tapi mengertilah... ini semata-mata demi kebaikan kerajaan.
Apa kau berburu?
Dalam budaya kami, perburuan pertamamu, sama seperti banyak hal dalam hidup,
adalah tugas seorang diri.
Kau dibuang ke alam liar hanya membawa busur dan anak panah
dan diperintahkan tidak boleh pulang tanpa membawa daging.
Untuk kerajaan.
Itu bisa berlangsung sehari, seminggu.
Beberapa tidak pernah kembali.
Kau tahu apa hal penting yang harus dimiliki seorang pemburu?
Tolong, Jingim, jangan menyulitkan saat-saat terakhirku.
Kesabaran.
Pertama aku melihat tanduknya.
Besar, membentang ke langit dan memantulkan sinar mentari pagi.
Piala yang hebat.
Aku memasang panah, lalu membidik.
Dia sudah pergi.
Tapi aku punya firasat padanya...
jadi aku menunggu malam berikutnya.
Saat itu sangat dingin, aku ingin pulang ke rumah.
Berbagai macam buruan yang aku temui.
Aku bisa saja membunuh mereka semua pulang dengan kebanggaan,
mencelupkan jariku di lemak buruanku,
menjadi seorang laki-laki dewasa dan tidur di tempat tidurku sendiri.
Tapi aku menunggu.
Saat aku rasakan hangatnya mentari keesokan paginya...
dia datang, berada di antara pepohonan.
Ayahku sangat bangga.
Kesabaran.
Kesabaran memastikan bidikan mencapai sasaran.
Target yang tidak berdosa,
yang kesalahannya menghalangi jalan di waktu yang salah,
dan orang yang salah juga.
Kematian.
Usaha sendiri yang lain.
Semoga Tuhanmu menyertaimu, Tuan Polo.
Kau lebih membutuhkannya dari aku.
Janganlah kita membuat perselisihan yang seharusnya tidak pernah ada.
Rasa bangga dan harapan telah mengisi pundi-pundi jiwa dari rakyat.
Dan itu tidak akan pernah berkurang.
Kau hanya meyakinkan diri sendiri untuk mendukung muslihatmu sendiri.
Mengapa aku bisa jadi musuhmu
ketika kau sudah siap untuk mengubur budaya kami dalam sejarah?
Bangsawan yang datang dari selatan sudah siap untuk bertemu.
Apa ini bangsawan yang sama yang tanahnya kau lucuti
terhadap keinginan suamiku belum lama ini?
Hasil dari ladangnya membantu mendanai pertahanan kita.
Dan mereka semua berjanji untuk membantu subuah serangan di Cambulac.
Pujianku untukmu, Jia Sidao.
No comments yet. Be the first to leave one.