Les 200 premières lignes.
Tahun 1860 Jepang telah menjelajah ke seluruh dunia,
duta besar pertama menuju Washington baru tiba setelah perjalanan lewat laut yang panjang dan berbahaya.
Sepuluh tahun kemudian, meskipun rel kereta telah dibangun dari Francisco,
Duta Besar Sakaguchi, Pimpinan Bizen menemukan selain bahaya lewat pelayaran laut,
ada bahaya lain yang harus dihadapi di darat, dalam perjalanan melalui wilayah Barat.
Baik, semua, cari posisi.
Ayo!
Bawa turun. Kau tak dengar?
Perhatikan mesinnya, jangan sampai kotor./ Baik.
Kenapa ada banyak prajurit, Sersan? Pasti ada orang penting dalam gerbong itu.
Ya, tuan, Duta Besar dari Jepang.
Jepang, sangat menarik.
Astaga, coba lihat di sana.
Siap berangkat. Siap berangkat. Siap berangkat.
Siap berangkat. Siap berangkat.
Jangan bergerak, Link. Lepaskan ikat pinggangmu dengan satu tangan.
Sejak kapan kau jadi pemburu hadiah, Stone?
Sejak kau menjadi berharga.
Tampaknya berhasil.
Ya, dia selalu bertindak bodoh.
Ayo, lompat.
Aku?
Brengsek.
Keparat kau.
Selamat tinggal, sheriff.
Aku selalu dalam perjalanan ini sebulan sekali.
Angin di luar sana bahkan tak bisa menerbangkan kain lap.
Kita akan tiba di Santa Fe sebelum sore.
Ya, jika tanah tidak retak dan menelan kita semua.
Kau keberatan?
Konduktor.
Perhatian, aku dan teman-temanku akan memberi pertunjukan kehidupan di barat.
Kalian mungkin pernah dengar tentang aku. Ini disebut pembajakan.
Jangan takut atau melakukan tindakan bodoh, kalian akan baik-baik saja.
Tetap bersantai dan nikmati waktumu.
Duduk di tempatmu!
Tolong, tolong.
Jangan ada yang bergerak.
Hei, singkirkan domba-domba itu dari rel.
Amankan rel.
Ya, tuan.
Kopral, amankan rel. Ayo, cepat.
Ya, tuan.
Ayo, segera menyingkir./ Hei, kau tak dengar apa yang kukatakan?
Singkirkan mereka. Singkirkan domba-domba itu.
Kau tidak mengerti, apapun?
Aku mengerti, tuan.
Berikan padaku.
Carlos.
Tolong.
Baik, baik.
Cepat, bergerak.
Cepat.
Ayo, ayo.
Hei, tunggu kami.
Ayo naik.
Terima kasih.
Sama-sama.
Tahan! Berhenti!
Sekarang, kita akan masuk ke pertunjukan utama,
teman-temanku akan mengumpulkan kolekte seperti yang biasa dilakukan di gereja.
Baik, baik, kucoba mengeluarkan secepat mungkin.
Benda ini yang kita butuhkan, pengebom yang gugup.
Maaf, Link. Aku akan hati-hati.
Baik, semua keluar. Ayo.
Turun dari kereta.
Hei, kau, cepat.
Jangan lompat. Sebelah sini.
Ayo buka.
Cukup.
Baik, waktumu 5 detik untuk membuka pintunya.
Cepat nyalakan. Ayo, ayo, Hunt.
Astaga, Hunt, demi Tuhan.
Mundur.
Pembunuh keparat./ Amin, teman.
Ayo, ledakkan./ Ya, beri aku 3 batang.
Sebaiknya kalian berdua keluar.
Penumpang sekalian, ini akhir dari perjalanan. Kalian bisa kembali ke sana...
di mana tentara AS bisa melindungi kalian. Jadi, silahkan berjalan kaki.
Sekarang.
Empat lagi untukku.
Bagaimana?
Seperti yang diharapkan.
Empat ratus ribu?
Kurang lebih satu dolar.
Jumlah yang bagus untukmu, Link. Sepertiga.
Ya, tak terlalu buruk untuk bekerja di hari Sabat, bukan?
Kapan kita akan membaginya?
Seperti rencana semula, di San Lucas./ Kenapa tidak sekarang, lalu kita berpencar.
Hunt, kau gemetar seperti pohon yang penuh burung hantu sejak awal.
Ada apa denganmu?
Aku punya firasat buruk.
Tentang apa?/ Hanya perasaanku, itu saja.
Dengar, Hunt, jangan khawatir, kau akan dapat bagianmu. Link akan pastikan hal itu.
Bukan dia yang kukhawatirkan.
Apa maksudmu?
Maksudnya kalian berdua segera diam.
Gauche, pastikan semuanya baik-baik saja di luar.
Apapun perintahmu, Jenderal.
Aku ingin periksa gerbong pribadi itu.
Aku tidak khawatir padamu, Link, jangan salah paham. Maksudku Gauche.
Ada apa dengannya?
Aku tak tahu.
Itu bagianmu, bawa dan pergi.
Kumohon, Link, jangan tersinggung.
Tapi sebelum kau pergi, jika aku jadi kau, aku akan ganti pakaian karena celanamu basah.
Baik, bawa bagianmu.
Dengar, kami punya 30 pistol di luar sini./ Tiga puluh satu.
Apapun yang kau punya takkan cukup. Jadi, buka pintunya.
Mungkin dia tak bisa bahasa Inggris.
Aku tidak paham bahasa Jepang.
Pablo bisa bahasa Latin. Dia sering jadi pengkhotbah.
Ya.
Persetan. Ayo, Hunt. Kami akan meledakkannya.
Namaku Sakajo Bizen,
Duta Besar untuk AS yang diberi otoritas oleh Yang Mulia,
Mikado, Kaisar Jepang.
Kuingatkan, aku dalam perjalanan ke Washington.
Keselamatanku dijamin oleh pemerintahmu.
Washington berjarak beberapa bukit. Aku akan masuk.
Coba lihat dua orang ini./ Mereka Samurai?
Mereka penjagaku.
Jika kau ingin mereka tetap jadi penjagamu,
sebaiknya katakan pada mereka agar tak mencoba meraih pedangnya.
Dengar, Duta Besar, begini aturan mainnya.
Kau orang asing di negeri asing, aku dan rekanku di sini,
kami akan memeriksa, mengambil apapun yang kami inginkan.
Jika kau coba menghentikan kami, kami akan membunuhmu.
Tidak perlu merusak semua benda. Uangnya ada di sana.
Duta Besar, kau pria yang jantan, nikmati waktumu di negeri kami.
Apa yang kulakukan pada dua orang ini?
Kecuali menurutmu ada gunanya pria berpakaian wanita, lepaskan mereka.
Baik.
Tuan, ini pemberian untuk Presiden dari Yang Mulia Mikado.
Emas. Emas sungguhan?
Sampaikan terima kasihku pada kaisarmu.
Lompat.
Link.
Membuat toko daging yang baik.
Kau.
Kau menunjuk ke arahku?
Aku ingin tahu namamu.
Kau beruntung aku tak menembakmu.
Aku menanyakan namamu.
Di New Orleans aku menembak orang yang tak suka dengan kartuku.
Lantas kenapa? Jika kuberitahu namaku, apa gunanya untukmu?
Aku ingin mencarimu, aku ingin melihatmu mati.
Aku merasa kau belum pernah melihat orang dibunuh dengan benda ini.
Pistol, pedang, kita semua mati dengan cara yang sama.
Namaku Gauche.
Mereka sudah seperti saudara.
Sayang sekali.
Orang yang membunuhnya, juga mencoba membunuhmu.
Ya, tampaknya begitu.
Dia mencuri sesuatu yang sangat berharga dari kami.
Hadiah untuk Presidenmu dari Yang Mulia.
Sayang sekali.
Demi kehormatan, benda itu harus dikembalikan pada kami.
Kau akan memimpin samuraiku mencari orang itu.
Tidak. Kau ingin membunuh Gauche,
tapi aku ingin orang Perancis itu hidup-hidup.
Setidaknya sampai uang itu berada di tanganku.
Kau bisa mengaturnya dengan samuraiku. Kau bisa segera berangkat.
Kurasa kau tak mendengarku, Duta Besar.
Aku bukan sedang membawa bawang ke pedesaan.
Takkan ada kesalahan, Karoda bukan orang biasa.
Aku tak perduli siapa dia. Dengar, Duta Besar, kami tak punya kuda,
sementara Gauche sudah 1 - 2 jam menghilang dan ada 20 orang bersamanya.
Sekalipun aku bertemu dengannya, ada masalah...
Diam! Setiap titik ini mewakili hari.
Kuberi dia waktu 7 hari untuk mendapatkan pedang Mikado.
Dalam 7 hari, aku akan kembali lewat sini, kereta api yang sama.
Dia tak akan berhasil dalam 7 hari.
Atas kegagalan, dia akan merobek perutnya, bunuh diri.
Begitu juga aku. Kami menyebutnya Harakiri.
Itu sesuatu yang ingin kulihat.
Dia bisa melakukannya sekarang juga, karena aku takkan membawanya.
Kalau begitu dia akan memotong lehermu.
Itu sesuatu yang tak ingin kulihat.
Aku hanya mencoba, tuan.
Tepat seperti yang kupikirkan.
Kau tampak cantik dengan pakaian itu.
Ya, tuan, aku harus mencoba sesuatu yang lain.
Tunggu dulu, tunggu dulu.
Jalur ini membentuk tikungan yang panjang.
Tak ada cara lain keluar dari lembah ini, jadi kita bisa menghemat waktu dengan mendaki bukit.
Astaga! Ikuti saja aku.
Mari istirahat.
Kurasa aku mulai mengerti.
Kau tahu, kau ini gorila, dan kau jelek seperti elang.
Tidak hanya itu, kau ini bodoh seperti keledai.
Siapa yang lebih bodoh? Aku atau orang yang membiarkan dirinya ditipu temannya?
Kukira kau tak mengerti bahasaku.
Apa aku mengatakannya?
Tidak, tapi kau tak pernah bicara.
Tidak baik membandingkan dengan keledai.
Aku lebih suka itu dari yang lainnya.
Kita lanjutkan.
Cepat.
Seperti yang kukatakan. Mereka ke arah sana.
No comments yet. Be the first to leave one.