Les 200 premières lignes.
Buah terlarang mematangkan diri dalam diam
Angin gurun mengusap lembut setiap lekuk
Lengket, tak mau pergi Mendesak ingin berkembang
Nikmat, menggelitik Bak semut di bawah kulit kayu yang retak
Menyusuri ruang-ruang tersembunyi Anggota tubuhnya bak myrtle yang mengilap
- Saat bunganya perlahan mekar saat fajar - Bunga?
Alam membiarkan jiwanya tampak Mentah, liar, tanpa tata krama
Apa arti seorang pria?
Ia hanyalah napas wiski Di balik pintu tertutup
Yang terus ingin memiliki sesuatu yang tak pernah bisa ia genggam
Aku bingung harus berkata apa.
Sybylla!
Sybylla!
Kembali ke sini sekarang juga!
Kau bilang airnya hangat.
Aku bilang menyegarkan.
SATU BULAN SEBELUMNYA
Gertie, tunggu!
- Ingat, gunakan kata kerja aktif, Gert. - Kau membuatku pusing.
Nah, begitu.
"Lucy sayang,
Ibu tahu kita tak sejalan.
Tapi hari ini Ibu menulis tentang cucu sulung Ibu, Sybylla.
- Syb, tunggu aku! - Gadis itu sudah dewasa.
Dan sudah saatnya dia mulai bergaul di masyarakat.
Aku ingin tahu apa dia semanis kau,
atau kau membiarkannya hidup liar seperti ayahnya.
Wanita harus bisa berenang dan mengumpat.
Harus makan dan berkuda seperti pria.
- Dan menentukan nasib mereka seperti… - Sybylla!
Sybylla!
Bagaimana dengan cinta?
- Aku ingin berkarya, bukan beranak. - Sybylla Melvyn!
Jika kau tak turun sekarang, tintamu akan Ibu sita.
Bagaimanapun, jika gadis itu ingin memiliki peluang dalam hal percintaan,
Ibu rasa penting untuk dia kemari dan tinggal dengan kami di Caddagat."
Tidak mau.
Kenapa pula dia peduli dengan urusan percintaanku?
- Aku bahkan belum pernah bertemu dia. - Bukan hanya itu.
- Sudah saatnya kau jadi wanita terhormat. - Tak ada itu dalam pikiran calon penulis.
Kau akan pergi.
Ibu!
Ibu!
Surat nenekmu itu omong kosong.
Terima kasih, Ayah.
- Masih sempat pula menyindir Ayah. - Hei.
- "Hidup liar," begitu katanya. - Ini bukan tentangmu, Richard.
Jika Nenek sehebat itu, kenapa belum pernah bertemu?
Benar sekali, Gert.
Karena dia memutus hubungan dengan ibumu begitu ibumu menikahi Ayah.
Itu tidak sepenuhnya benar, Richard.
Caddagat adalah tempat terindah di dunia.
Lantas, kenapa Ibu tak pergi?
Ibu takkan pernah kembali ke rumah itu lagi.
Kau akan baik saja.
Ayah!
Nenekmu itu angkuh dan penuh kepahitan.
Tapi kini dia sadar kau adalah cucu sulungnya.
Dan dia punya perpustakaan besar.
- Ada ratusan buku dan piano yang bagus. - Kau anak yang cerdas, Syb.
Kau harus mengasah seluruh bakatmu.
Supaya mereka bisa mendandaniku bak kalkun
dan menikahkanku dengan pria tua jelek saat aku lengah.
- Kau pasti akan menyadarinya. - Itu tak membantu.
Kau tak harus selalu menuruti nenekmu.
Tapi kau tak bisa di sana selamanya. Kau pun tak mau itu.
Apa Nenek sangat kaya?
Sangat kaya.
- Lalu, kenapa Ibu meninggalkan Caddagat? - Tidak.
Ayah punya prinsip untuk tak terlibat
dalam perselisihan para wanita Bossier.
Mereka galak. Sama seperti kau.
Aku lebih suka "keras kepala".
Nenekmu ingin membantu.
Kalau tidak, kenapa dia repot-repot mengundangmu untuk tinggal di sana?
"Pasti ada udang di balik batu, Richard."
- Itu yang selalu dikatakan Ibu. - Atau…
"Keberuntungan muncul sesaat, di waktu yang paling kau butuhkan."
Apa aku bisa memilih?
Selalu.
Bagus.
Kalau begitu, aku di Possum Gully saja.
Dan tahu-tahu, kau sudah bersuami buruh tani bodoh
dan bahkan lebih miskin dari kita.
Itu tidak lucu.
Jangan lewatkan ini hanya karena kau keras kepala.
Ayah sendiri yang akan menjemputmu.
Kalau kau membencinya.
Janji?
Gert.
Berikan kayu bakarnya.
Ayah sudah tak sabar ingin minum teh.
Aku tak keras kepala.
Siapa tahu kau bertemu pria tampan dan jatuh cinta begitu dalam.
Itu impianmu, Gert. Bukan impianku.
Bagaimana jika kau tak bisa melawan?
Begitulah cinta. Muncul entah dari mana, "Bum!"
Aku akan menahan diri.
Tanpa pekerjaan rumah. Tanpa masalah uang.
Teh dan kue kapan pun kau mau.
Semua itu tak berarti apa-apa tanpamu.
Tapi jika Bibi Helen dan Nenek menyukaimu, aku bisa datang berkunjung.
Aku akan berusaha.
Tapi aku tak sepertimu.
Aku tak mudah disukai.
Kau akan berusaha.
Aku ingin punya kebebasan menulis kapan saja.
Maka ceritakan semua petualanganmu lewat surat.
Aku butuh cerita baru.
Aku memutuskan untuk menjalani dunia ini
sebelum aku bisa menuliskannya.
Itu kabar baik, Syb.
Tapi tanpa suami.
Kau akan ke Caddagat!
Sampai jumpa!
Sampai jumpa!
Terima kasih, Pak Sopir.
Nona Melvyn?
Siapa, ya?
Frank Hawden.
Siap melayanimu.
Kau kerja untuk nenekku?
Aku mandor pengganti di Caddagat selama masa cuti setahunku.
Dari Inggris.
Nenekmu meminta maaf, tapi dia tak sabar ingin bertemu kau.
Tunggu. Nona Melvyn! Nona Melvyn, aku harus berjalan di depan.
Kau sadar kalau pria bicara dalam kalimat aktif?
Perempuan diminta memakai kalimat pasif.
"Jika kau mau. Jika tak merepotkan."
Saat aku seusiamu…
Tapi kalau wanita boleh bebas bicara, mereka akan jauh lebih tak merepotkan.
Kau baik-baik saja?
Dia akan tumbang. Dan tumbang.
Masih terlalu pagi, tapi sudah mabuk.
Ayo. Butuh bantuan?
Ya.
- Setidaknya, biar kubawakan tasmu. - Hati-hati!
Jangan dekat-dekat api dulu. Ayo bangun.
Aku baik-baik saja!
- Kau baik-baik saja? - Ya.
Teman lama.
Buku.
Lewat sini?
Nona Melvyn.
Ini dia…
- Hawden. - Beecham. Ini Nona Melvyn.
Sudah baca pesanku soal penjualan keluarga O'Donahue?
Keluarga Bossier takkan menambah properti.
Ini soal membantu tetangga kita.
Seharusnya dia tak berutang jika tak mampu melunasinya.
Jika satu pertanian jatuh, kita ikut jatuh.
Apa Tn. Beecham selalu seketus itu?
Dia bersikap sesukanya.
Di sini, keluarga Beecham ibarat bangsawan kolonial.
Aku tak percaya pada monarki. Aku senang federasi akan datang.
Kau pasti cocok dengan bibinya, Augusta Beecham.
Dia sahabat nenekmu. Selalu ada hal yang dia perjuangkan.
Wanita yang sangat vokal.
Aku ingin sekali bertemu dia.
Kau beruntung. Kita diundang ke pesta ulang tahunnya.
Wah, pesta pertamaku?
Ini luar biasa.
Halo?
Halo?
Apa ada orang?
Itu dia.
Kau di sini.
Napas alam
Seperti angin segar dan bersih
Dipadu dengan aroma manis kotoran kuda.
Halo.
Tenang, Nak.
Kuda yang luar biasa. Bolehkah aku menyapanya?
Kau tak boleh di sini. Dia setengah liar.
Ia begitu memikat.
Siapa namamu, Tampan?
Beau.
Nama yang bagus.
- Kau si orang baru itu. Sang cucu. - Ya, itu aku. Sybylla Melvyn.
Nell.
Nell Kirby.
- Kau melatihnya, Nell? - Masih awal, tapi ia kuda pintar.
- Nyonya Bossier tahu cara memilihnya. - Sybylla?
Apa yang kau lakukan di sini? Kami mencarimu ke mana-mana.
Salahku, Nona. Aku memperkenalkannya pada Beau.
Bawa dia kembali ke kandang, Nell. Nanti kususul kalian.
Nenek.
Akhirnya.
Dan kau pasti Bibi Helen.
Lihat dirimu, sudah besar.
- Senang kau akhirnya di sini. - Kau lebih kecil dari dugaan Nenek.
Itu kebiasaan buruk.
Kenapa jaketmu terbuka seperti itu?
Menyenangkan membiarkan udara masuk di hari seperti ini, 'kan?
Impulsif.
Kurasa Sybylla pasti ingin belajar.
Ya.
Mungkin kita harus biarkan Sybylla bersih-bersih dan ganti baju.
Nell?
Kau membawanya keluar pagi ini? Bagaimana pelananya?
No comments yet. Be the first to leave one.