Aziz Ansari: Nightclub Comedian

Aziz Ansari: Nightclub Comedian

Télécharger le sous-titre en Indonesian

Informations sur la version

Aziz Ansari Nightclub Comedian 2022 1080p WEB H264-NAISU
Un commentaire de Putra14
Netflix Retail.

Tags

web
1080
Publié le: 2022-01-25
Téléchargements: 17
Malentendants: No

Aperçu des sous-titres Indonesian

Les 200 premières lignes.

KOMEDI SPESIAL NETFLIX

Kami dulu punya golden retriever.

Ya, dan kalian tahu aku, aku tak memandang ras,

tapi kurasa kita tahu itu anjing putih.

Sekali lagi, jangan ikut-ikut.

Sexting. Sebagai pria dewasa disleksia, sexting itu tantangan.

Aku mengencani wanita, feminis garis keras.

ACARA INI DIREKAM DESEMBER 2021 DI COMEDY CELLAR DI KOTA NEW YORK

Kami biasa sexting. Aku ingin menggoda sekaligus memastikan aku sependapat.

Dia pernah mengirim sexting, "Bagaimana kau akan meniduriku?"

"Seperti kau layak dapat gaji setara."

HADIRIN TIDAK TAHU PENAMPIL MALAM ITU

Terima kasih banyak.

Ayolah. Tunjukkan rasa sayang kalian untuk Phil Hanley.

Ya.

Aku tahu aku bilang bahwa Phil adalah komika terakhir,

tapi aku juga selalu bilang

saat kalian memutuskan untuk datang ke Comedy Cellar,

itu keputusan terbaik karena kalian tak pernah tahu siapa penampilnya.

Hadirin, sambutlah Aziz Ansari. Tunjukkan rasa sayang kalian.

Terima kasih.

Terima kasih.

Mustahil!

Terima kasih.

Ya ampun.

Aku suka susunan ini.

Kalian tak tahu aku datang, dan tak tahu aku akan berbuat apa.

Aku bisa saja tampil asal selama sepuluh menit lalu pulang,

dan aku tak akan merasa terlalu bersalah, tahu?

Tetap menarik, 'kan?

Ya!

Aku suka tampil di teater mewah dan semacamnya,

tapi terkadang, kita harus kembali dan berebut perhatian.

Senang bisa ada di sini, kembali ke New York.

Aku tidak tinggal di sini. Aku tinggal di London.

Ya, aku suka di sana, tapi senang bisa kembali ke New York.

Selalu banyak apresiasi untukku di sini. Kadang terlalu banyak.

Tempo hari aku ke restoran dan di sana ada antrean.

Semua menunjukkan kartu vaksin dan sebagainya.

Aku masuk dan petugasnya bilang,

"Aziz, kau tak perlu itu. Masuk saja."

Kujawab, "Tidak.

Silakan cek kartuku.

Aku di sini bukan untuk makan malam dengan Kyrie Irving dan Nicki Minaj.

Aku punya ekstra waktu sepuluh detik. Silakan."

Kita cukup dekat.

Kalian harus menunjukkan kartu vaksin, 'kan?

Atau kartu vaksin palsu kalian yang mudah didapatkan.

Siapa yang mendesain kartu ini?

Tak bisakah kita pakai tim yang mendesain komponen Monopoli McDonald's?

Keamanannya jauh lebih kuat.

Ada hologram dan sebagainya. Kalian pergi ke McDonald's,

dan mereka, "Ini bukan Pennsylvania Avenue. Singkirkan."

Sementara, tim kartu vaksin, "Kertas putih, garis hitam.

Sepertinya sudah cukup, Jim."

Maksudku, secara teori, kita semua sudah divaksin, 'kan?

Sekarang ini, 96% dokter sudah divaksin,

dan aku merasa, jika kalian tak mau divaksin,

kalian seperti pria kulit putih dengan rambut gimbal.

Aku yakin ada yang bilang itu ide bagus,

tapi tak lama, orang di sekitar kalian tak akan bisa bernapas.

Aku di London dan mendapat dosis pertama AstraZeneca.

Lalu aku ada urusan di LA.

Aku bertanya ke dokterku, "Haruskah aku suntik Johnson & Johnson?"

Katanya, "Silakan. Jadi kau sudah divaksin lengkap."

Lalu aku divaksin Johnson & Johnson, dan aku baru saja mendapat booster.

Aku mendapat Pfizer.

Jadi, aku kewalahan.

Aku seperti lagu DJ Khaled dengan terlalu banyak improvisasi.

"Satu lagi."

Orang terus mengeluhkan kelompok yang tak mau divaksin.

Siapa pria itu, si pemain futbol? Aaron Rodgers.

Apa pendapatmu tentang dia?

- Persetan. - Persetan dengannya!

Orang-orang membencinya. "Dia orang dungu!"

Baik. Tenanglah.

Dia pemain futbol.

Dia membaca artikel, lalu skeptis, dia sudah melakukan penelitian.

Kalian terkejut dia memiliki kesimpulan yang salah?

Kalian sungguh berpikir dia akan menyelesaikan masalah?

Kalian pikir Fauci akan berkata,

"Aku baru saja mengobrol dengan Aaron Rodgers"?

Pria yang malang.

Kita seperti di SMA

dan mengejek pemain quarterback karena gagal di ujian IPA.

"Kau bodoh, Aaron. Kau bodoh.

Kau tak tahu apa-apa, 'kan? Dasar bodoh."

Pria ini mencari nafkah dengan membenturkan kepalanya.

Bisakah kita tak mengganggunya?

Kurasa dia memang bohong.

Orang bertanya, "Kau sudah divaksin?" Dia menjawab, "Aku…

Aku sudah diimunisasi.

Dokter memberiku bubuk dari Jamba Juice dan aku…"

Dia terlihat sedikit arogan di beberapa wawancara.

Dia hadir dan berkata, "Kau tahu, aku ini pemikir kritis."

Ya ampun.

Apa dia menjalankan metode ilmiah?

"Pertanyaan: Haruskah aku divaksin? Hipotesis: Sepertinya tidak.

Pengumpulan data: Dengarkan podcast dan bicara dengan dokter gadungan.

Kesimpulan: Tentu saja tidak."

Tapi menurutku dia bukan orang dungu.

Kurasa dia, Nicki Minaj, mereka bukan orang dungu.

Aku di sini tidak untuk mengatakan itu.

Aku cuma berpikir mereka terjebak dalam algoritma lain.

Tahu maksudku?

Jika kau sebut mereka dungu, kau terjebak dalam algoritma lain.

Aku tahu hal yang akan kau katakan tentang semua.

"Orang-orang bodoh. Mereka minum obat kuda."

Baiklah, secara teknis, manusia bisa dirawat dengan obat itu.

Ya, tak ada bukti bahwa obat itu meringankan COVID,

tapi jika kita bilang mereka minum obat kuda,

itu makin membuat mereka menjauh.

Entahlah.

Kita harus temukan cara untuk memiliki rasa empati.

Kita seakan terjebak dalam dunia kecil kita sendiri.

Kecuali kita tahu cara mengobrol di dunia nyata lagi,

tak penting apa masalahnya. Aku tak tahu jawabannya.

Cobalah lakukan beberapa hal yang mereka lakukan.

Lihat apa yang terjadi.

Tapi jangan jauh-jauh.

Nanti kau akan berkata, "Fauci ternyata pedofil."

Intinya, tren mempermalukan orang ini tak akan berhasil.

Kalian tahu video yang mengejek orang antivaksin?

Mereka mengutip tweet dan sebagainya. Videonya selalu sama.

Videonya menunjukkan tweet, "COVID hoaks. Aku tak pernah pakai masker.

Persetan dengan aturan. Buka saja semua fasilitas.

Astaga, aku positif. Aku di rumah sakit."

Lalu sepupu mereka menulis, "Mereka meninggal."

Lalu orang yang membuat video itu…

Ya, itu jelas membantu.

Pamanku tidak mendapat vaksin, dan dia meninggal.

Sedih sekali.

Ayahku bicara dengannya empat hari sebelumnya, memohon agar dia mau divaksin,

dan pamanku tak mau.

Itu sangat menyedihkan. Ayahku punya banyak saudara.

Bibiku berkata, "Aku tak percaya salah satu dari kami tiada."

Hatiku sedih sekali. Aku bisa mendengarnya di suaranya.

Bagaimana dia merasa itu bisa dicegah dan tak perlu terjadi.

Aku tak merasa pamanku dungu.

Aku cuma merasa dia terkena hal lain yang kita ciptakan,

yaitu suatu budaya yang membuat aliran informasi benar-benar korup.

Pikirkan tentang perusahaan terbesar di dunia.

Mereka menghasilkan uang dari informasi.

Jadi, tentu saja orang menghasilkan uang dari disinformasi.

Makanya muncul skeptisisme. Orang menghasilkan uang dari itu.

Biasanya orang tak seskeptis ini tentang dunia medis.

Pikirkan tentang berbagai hal gila yang kita lakukan atas arahan dokter.

Kita tak pernah bertanya.

Lihat Ice Cube. Dia tak mau divaksin.

Dia seharusnya syuting film berjudul Oh Hell No,

yang, sayangnya, tak akan pernah kita lihat.

Dia seharusnya divaksin, dan dia tak mau melakukannya.

Tapi kalian tahu apa yang aneh?

Beberapa bulan sebelum pandemi, Ice Cube menjalani kolonoskopi.

Kalian tahu apa itu kolonoskopi?

Intinya, Ice Cube pergi ke dokter.

Dokter bilang, "Ada masalah di perutmu dan kita perlu melakukan kolonoskopi."

Dia bertanya, "Apa itu?"

Kata dokter, "Duduklah, Ice Cube.

Intinya, kau harus meminum segalon air

dan keluarkan semuanya dari tubuhmu.

Bersihkan sistem pencernaanmu, ya?

Besok kau datang lagi, kau akan dibius total,

kami akan masukkan slang karet dari duburmu

dengan kamera di ujungnya

lalu kami akan masuk dan merekam beberapa jam

untuk melihat yang terjadi, lalu akan ada tes,

dan saat selesai, kami akan membangunkanmu."

Dia menjawab,

"Baiklah, lakukan saja."

Dia tak berkata apa pun, tidak seperti sekarang.

Dia tidak berkata, "Aku tak mengerti sains."

Atau, "Lubang pantatku, hakku." Tidak.

Dia pingsan dengan empat orang asing di sekelilingnya.

Dokternya berkata, "Ada sedikit masalah."

Dia bilang, "Kau pasti bisa, berusahalah lebih keras."

Mereka di sana berjam-jam. Bayangkan!

Apa yang mereka lakukan? Syuting serial terbatas?

Apakah season 2 Queen's Gambit berlatar di usus besar Ice Cube?

Aku tak tahu apakah Ice Cube pernah menjalani kolonoskopi,

tapi…

dia…

usianya lebih dari 45 tahun. Dia pasti pernah menjalaninya.

Kolonoskopi skrining untuk memastikan tak ada kanker usus.

Jadi, mari berharap candaanku benar.

Hal yang keren adalah,

setelah karantina wilayah dan sebagainya, banyak orang membela diri mereka.

Terkait pekerjaan, mereka mengevaluasi kehidupan pribadi dan pekerjaan,

lalu berpikir, "Dengar, jika gajiku tak layak,

aku tak mendapat tunjangan, aku akan keluar."

Perusahaan akan menjawab, "Baik, kalau begitu keluarlah.

Kami akan cari orang lain yang tak begitu mahir,

lalu semua hal di dunia ini akan sedikit lebih payah."

Itulah situasi saat ini, 'kan?

Segalanya sedikit lebih payah di mana-mana.

Tak pernah ada cukup orang.

Semua berkata, "Ini hari pertamaku!"

Bahkan di sini, malam ini, segalanya sedikit lebih payah.

Tak ada cukup orang. Tahu maksudku?

Segalanya sedikit lebih payah dan sebenarnya kita pantas mendapatkannya

Commentaires

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left