पहली 200 पंक्तियाँ।
Kita harus mengakhirinya, bukan?
Menurutku juga begitu.
- Hei. - Apa?
Hei.
Mereka sedang tidur.
Aku tahu. Apakah menurutmu...
Aku harus menginap di hotel?
Itu dramatis.
Aku tahu, hanya dengan...
- Aku bisa... - Apa?
Aku bisa tidur di sofa, jika itu...
Tidak.
- Tak perlu. Ayo kita... - Sungguh?
Baiklah, apa...
- Hei, Nak. - Hei, Nak.
- Kenapa kau bangun? - Kalian bertengkar?
- Tidak. - Tidak.
Kami tak bertengkar sama sekali.
Kami tak pernah bertengkar.
Itu benar.
Kembalilah tidur, Sayang.
Kemarilah, Charlie. Keluar.
Ayo, Charlie.
Kemari, Charlie, ayo.
- Penampilan terakhir kita. - Apa?
- Kau tahu, dengan... - Ya.
Tempo hari, kami menonton
dokumenter tentang kiamat.
Meteor, Bumi, perang, semua hal itu.
Ekspresi wajahnya sangat aneh.
Di akhir dokumenter, aku melihat dia, kataku,
"Apa pendapatmu? Itu mengganggumu? Apakah..."
Kuharap dia akan berkata, "Apa yang harus kita lakukan soal ini?"
Tidak ada.
Dia tak masalah dunia akan berakhir.
Katanya, "Hidupku sudah berjalan baik sampai saat ini.
Kenapa harus sedih?"
Jalen, anakku berusia 17 tahun.
Pertama, dia brilian.
Selalu berhasil ketika berfokus.
Namun, kupikir, "Pola pikir apa itu?"
Tubuhku tak menunjukkannya, tetapi aku masih merasa...
seperti berusia 24 tahun, maksimal.
Terima kasih. Diam, Stephen.
Namun, aku belum siap dunia ini berakhir.
- Kau siap? Tidak? - Tidak.
Karena dia tinggal di dunia yang kemungkinan
kita bisa hancurkan kapan saja.
- Apa? - Itu biasa.
Kita melewati Perang Dingin.
- Bukan begitu. - Ingat, kita ketakutan.
Dia hidup. Dia menjalaninya.
Dia menjalaninya tiap hari. Dia berhasil, tiap hari.
- Itu benar. - Ya.
Dia gembira karenanya. Bagaimana dengan gembira?
Maksudku, itu indah.
Tak berusaha menjadi orang lain
atau mencoba menjadi dewasa.
Sial!
- Kau membicarakanku? - Bukan, orang yang masih hidup!
- Sial. - Astaga.
- Aku bercanda! - Juga mati.
Hanya bercanda.
Kau masih hidup, Sayang.
- Aku menemukannya! - "Sayang"?
Ya.
- Sial! - Astaga!
- Ya ampun. - Kau baik-baik saja?
- Kau baik-baik saja? - Astaga. Kau tak apa-apa?
- Karpetnya. Maaf... - Sial. Apa-apaan?
- Balls! - Maaf!
Biar kuambil. Tak apa-apa.
- Jangan! Ada susu di dalamnya! - Kuambil lagi.
- Balls. Tidak. - Ada di situ.
- Dia tak butuh. - Tak apa-apa.
- Tiap minggu. - Maaf.
- Astaga. - Tak perlu menangisi susu tumpah.
Ini tak apa-apa bagimu.
- Astaga. - Ya ampun.
- Seperti ini tiap hari. - Balls, ini sempurna.
- Terima kasih. - Kau baik-baik saja?
Ya. Aku hanya sedikit gugup.
- Ya, terlihat. - Karena...
salah satu dari mereka...
tak hadir di pertunjukan Sabtu depan, jadi silakan kalau mau datang.
Apa kau hafal seluruh dialognya?
Dialognya? Ya, aku tahu semua dialog para murid.
- Murid Kristus? - Ya.
Aku senang bisa punya janggut lebat.
Paham? Aku mirip murid-Nya?
- Apa? - Apa aku salah? Maaf.
Tidak? Maaf.
- Astaga. - Ini selalu terjadi.
Aku selalu memikirkan teater.
- Astaga. - Ya.
- Itu beban istriku yang cantik. - Astaga.
Benar, Santo Paulus.
Begitulah hidup dengan seorang artis.
Omong-omong, Oyster Bay?
- Ya? - Kami di kamar utama.
- Belum bisa. - Baru saja kami lakukan.
- Kenapa tidak? Biarkan. - Itu masih lama.
Biarkan. Mereka pengantin baru.
Kalian selalu di kamar yang romantis.
Itu sempurna. Aku suka.
- Mau tahu kenapa? - Ya.
Jalen dibuat di sana.
- Kami tak mau buat anak lagi. - Ya.
Siapa tahu... Tidak, itu benar.
Dua anakmu tidak dengan cara itu, bukan?
- Baiklah. Cukup. - Bung.
- Sayang, hentikan. - Tak apa-apa.
- Kalian perlu berhubungan. - Berhenti bicara.
- Maaf. - Kami berhubungan, hanya tidak...
Bisa kita sudahi percakapan ini?
- Kau berhubungan untuk buat... - Ya. Kita harus...
Kau teler berat.
Kukira mereka... Kukira kau membuat zigot.
- Aku lelah sekali. - Christine.
- Apa? - Kau memanggang kue?
Kenapa? Apa baunya seperti kue?
Benarkah?
Kurasa aroma dapurku selalu seperti itu.
Aku sedang panaskan makanan di oven.
Mau hidangan penutup?
- Kami pesan Uber. - Ada kue keberuntungan.
Kau ingat Macaulay Culkin?
Ketika mereka kembali, dia berubah.
- Aku percaya itu. - Ayo bawa jalan.
Kau bertanya dengan jelas?
Ya. Dia berbohong.
Dia menyembunyikannya sampai kita semua pergi.
Mereka makin teler, bukan?
Lalu, Christine, ketika tidak teler?
Pemarah sekali.
Untung kita tak beri tahu mereka.
Mereka akan sulit menerimanya.
Mungkin aku terlalu berlebihan.
Berlebihan?
Apa?
Karena kau memanggilku sayang?
Itu seperti...
Jika itu yang kau maksud berlebihan, itu...
Baiklah!
Kau ambil satu?
Ya.
Ketika ke kamar mandi, aku mencurinya.
Itu akan membuatmu teler.
Itu tujuannya.
Masa bodoh.
Kau makan lebih banyak dariku.
Mungkin itu tindakan yang bodoh.
Aku menyukainya.
Astaga.
Apa yang kau lakukan?
Apa yang kulakukan?
Sial.
Hei!
Kau baik-baik saja?
Kau akan baik-baik saja?
- Kurasa, ya. - Ya?
Kau baik-baik saja?
Ya. Kuenya belum bereaksi.
Aku akan baik-baik saja.
Aku baik-baik saja.
Ya ampun.
Apa kabar?
Aku hanya ingin minum.
Biaya masuk 15 dolar.
- Untuk minum? - Komedi.
Apakah lucu?
Biayanya 15 dolar.
Kau sudah mengatakannya.
Dengar, Bung, aku tidak bawa uang.
Aku tak tahu harus berkata apa.
- Hei. - Ya.
- Semoga beruntung. - Terima kasih.
Kenapa dia tak bayar?
Dia mendaftar.
Sama-sama.
Alex Novak, turun dalam dua menit.
Itu aku.
Pergilah ke sana.
- Ke mana? - Lurus di belakangmu.
Turun tangga.
Hei.
Taruh di situ bersama yang lain.
- Di sini? - Mereka menjaganya.
Baiklah.
Ini sangat berbeda.
Kau tak bisa langsung berhubungan intim.
Tak bisa.
Setidaknya traktir dia makan malam.
Bagi pria, akulah makan malamnya.
Itu mudah. Itu sederhana.
- Maaf. - Apa kabar, Bung?
- Mereka memanggilku. - Ya.
Saat lampunya menyala, turunlah.
Ini dia. Bicaralah kepada mereka, nikmati.
...puas dari pria yang membuatmu malu.
No comments yet. Be the first to leave one.