पहली 200 पंक्तियाँ।
Diterjemahna neng: NDASERUAG
-- Selamat Mendeleng ---
Ini adalah meja kopi Rörret yang terkenal,
yang sudah dicat perunggu, anti pecah,
dengan struktur patung dua wanita cantik.
Terbuat dari gading dan dilapisi emas palsu yang sempurna.
Ini adalah karya dengan desain Swedia...
dan Anda dapat gunakan di ruang tamu, kamar tidur...
atau di bagian mana pun di rumah Anda ingin menciptakan suasana elegan...
dan tampilan berkelas. Ini akan menjadi meja favorit Anda...
untuk minum kopi atau minuman pembuka bersama orang yang Anda sayangi.
Dan saya menjamin kalau meja ini, karena desain dan standarnya...
akan mengubah hidup Anda menjadi lebih baik.
Ini akan memenuhi rumah Anda dengan kebahagiaan.
Ini sampah. / Sayang, aku mau sampah ini, tahu!
Jesus, itu jelek. Ndak cocok dengan dekorasi kita.
Dengan kaca dan emas palsu jelek itu.
Tolong, jangan bawa ke rumah. / Izinkan saya untuk tidak setuju.
Tapi struktur emasnya adalah murni desain Cina.
Dan saya tak akan mengatakan itu emas yang jelek.
Kacanya tidak mudah pecah, jadi meja Anda akan tahan lama.
Ini yang terakhir yang tersisa, dan ini murah, loh.
Apa kamu menyukai meja ini?
Saya menyukainya. Ini meja terbaik yang pernah saya lihat.
Saya sudah menggeluti bisnis ini lebih dari 30 tahun, saya seorang ahli.
Jadi... aku tahu kamu punya meja seperti ini di rumah.
Tidak... Mirip.
Itu bukan model Rörret persisnya.
Jika meja ini yang terbaik, kenapa kamu tidak memilikinya?
Saya tidak mampu membeli meja semewah itu.
Jadi ini bukan barang murah. Jadi kamu mengakui itu mahal.
Ini murah. Mahal... tapi murah.
Dan ingat, ini gaya vitage.
"Vitage"! / Harga tidak masalah.
Kamu bilang boleh milih meja kopi. Aku mau yang ini!
Aku tidak ingin sampah ini ada di rumahku.
Dengar, Sayang. Kamu memilih warna dinding,
hari pernikahan kita...
Jas yang akan aku kenakan, gaun ibuku.
Dan belum lagi...
Belum lagi apa? Ayo, belum lagi apa?
Kalau ini bukan saat yang tepat untuk punya anak.
Bukankah ini saat yang tepat? Saat usiaku 80 tahun?
Itu bukan saat yang tepat bagiku.
Apa kamu menolak putramu?
Tidak, aku tidak menolaknya.
Kamu tahu aku sangat menyayanginya. Aku bahkan tak bisa memilih namanya.
Istriku menamai dia Cayetano. / Itu nama Mbahku.
Itu nama yang jelek, untuk seorang matador fasis.
Nama saya juga Cayetano, tuh.
Namamu Cayetano?
Seperti nama ayah saya. Mbah saya, Ayahnya Mbah, dan banyak generasi lainnya.
Itu cocok untukmu, bukan anakku.
Masalahnya bukan tentang nama anaknya,
tidak ada solusi untuk itu.
Kita perlu memutuskan mau kita apakan mejanya.
Saya mau tahu anda menginginkannya atau tidak?
Saya harus melayani pelanggan lainnya.
Entah bagaimana kamu mendapatkan pelanggan,
karena kamu seorang penjual yang buruk dan kotor
seperti mejanya! / Jangan begitu padanya.
Dia bilang meja itu akan membawa kebahagiaan bagi kita! Itu omong kosong.
Itu bukan omong kosong.
Apa kamu melihat kami bahagia berkat meja sialan itu?
Apa menurutmu itu membawakan kami kebahagiaan?
Jika sampean membeli mejanya dan merawatnya dengan baik...
Itu akan membuatmu bahagia.
Merawat mejanya dengan baik... apa kamu pikir itu seekor anjing?
Barang seharusnya diperlakukan seperti orang yang kita sayangi.
Mereka perlu dicintai.
Jesus, orang ini gila,
dan dia juga pembohong.
Saya tidak berbohong. Saya ndak pernah berbohong kepada pelanggan saya.
Kaca yang tak bisa pecah ini, apa anti peluru?
Tidak ada yang tak bisa dipecahkan.
Sebuah vas bisa pecah, sebuah perabot bisa pecah,
suatu pernikahan bisa hancur.
Tapi buk, saya berani jamin...
kalau kaca ini tidak dapat pecah!
Kamu selain penjual yang buruk, juga orang tolol!
Bagaimana aku keluar dari sini? Oh, aku bisa.
Jadi, apa kamu akan mengambilnya?
Ya. Bahkan jika itu karena ego diri.
Itulah yang kusuka. Kamu pria yang berkarakter.
Baiklah. Aku akan mengambilnya. Oke?
Tapi antara kita saja... Apa kamu benar-benar menyukai mejanya?
Tidak.
Ikutlah dan lengkapi dokumennya bersamaku.
PETUNJUK MANUAL
MEJA KOPI
Ini dia.
Wah... Selamat!
Cuma aku tetangga yang belum ketemu si jabang bayi.
Dengan bayi dan pindahannya, kami tak punya waktu...
Lihatlah betapa ganteng dan manisnya bayi kecil itu!
Hei, dia mirip ayahnya sekali!
Dia kembarannya!
Lihat, Ruth! Lihat betapa lucunya dia, sini lihat.
Aku sudah ketemu dia kemarin-kemarin, Bu.
Sayang. Kadang kamu suka ndak ramah.
Keknya dia sekarang punya pacar tapi tidak berjalan baik, dan
dia menghabiskan sepanjang hari dengan bersuntuk ria.
Dia bukan pacar. Ini berbeda.
Begitulah masa remaja. Kamu jatuh cinta, lalu dicampakkan...
Dia tidak mencampakkanku. Dia mencintaiku, tapi tak mau mengakuinya...
karena dia seorang pengecut.
Baiklah, nikmati saja....
karena mereka lagi puber, penuh dengan tampang butek
dan mood yang suntuk. / Ya, tentu kami akan menikmatinya.
Sampai jumpa. / Oke.
Singkirkan itu dari jalan.
Selamat, Ayah!
Untuk anak yang kedua, waktunya mungkin tinggal sedikit untuk istrimu.
Dua lebih baik daripada satu. Dengan anak tunggal...
bisa bikin gila seperti anakku.
Ayo, Ruth.
Aku akan ingat nasihatnya. Terima kasih.
Aku lihat kamu masih belum bercerita tentang kita pada istrimu.
Ruth, sudah cukup. Itu tidak lucu.
Kamu tidak ingat apa yang terjadi? / Apa?
Kamu mau menciumku di lift dan aku menghindarinya.
Itu saja. Kamu bertingkah konyol.
Bertingkah konyol? / Ruth.
Aku tahu, ini usia yang sulit.
Dan aku mengerti. Tapi berhentilah mengada-ada.
Itu tidak lucu. / Dan hari-hari kita saling bicara?
Pesan-pesan manis yang kamu kirim?
Itu puisi, Ruth. Aku rekomendasikan buku puisi
untuk tugas sekolah. Kamu yang memintaku.
Puisi cinta. / Kamu bilang tugasnya tentang itu.
Dengar, Nak... / Ruth.
Ruth, Ruth. Kalau kamu merasa di PHP... Maaf.
Tapi itu sudah cukup. / Jika kutunjukkan pesannya kepada orang tuaku,
mereka takkan berpikir itu suatu kesalahan. / Pesan apa?
Puisi cintanya! / Itu dari buku!
Untuk tugas sekolah! Itu bukan sesuatu yang bersifat pribadi.
Ruth, apa kamu mengancamku?
Aku mau kamu bilang kamu mencintaiku.
Maria tidak membuatmu konak, kamu hanya mau mencari lagi,
bersamaku, bercinta denganku sepanjang hari. Akui saja.
Kamu bilang apa?
Saat aku membantumu pindah, kamu terus menatapku.
Itu jelas sekali. / Apa?
Kamu suka semua foto Instagramku. Semuanya.
Ruth, aku suka satu foto anjingmu yang sedang bermain boneka beruang. Itu saja.
Katakan saja kamu mencintaiku. Aku hanya ingin kamu mengakuinya.
Dengar, mari kita tetap berteman.
Aku sangat menyukaimu, kamu tampak seperti gadis yang baik,
tapi usiamu baru 13 tahun.
Aku punya istri. Aku punya bayi... Aku seorang ayah.
Tinggalkan Maria dan putramu. Kita bisa kabur malam ini.
Ke mana pun kamu mau. Aku siap melakukan apa pun.
Aku harus pergi.
Lucunya...
Bukankah lucu salesman itu juga bernama Cayetano?
Lucu kenapa? / Entahlah, menurutku lucu saja.
Tidak, tuh.
Kok bisa dua orang di tempat yang sama punya nama yang sama.
Itu nama putramu. / Sayangnya.
Apa kamu menolak namanya? / Aku tidak menolaknya!
Aku tidak menyukainya. Aku ingin nama yang normal.
Pertama, kamu tidak menginginkan anak.
Jika kamu memilih, dia tak akan ada di sini!
Apa ini karena mejanya? Sudah cukup.
Sial, ada sekrup yang hilang untuk kacanya.
Peduli setan.
Sial, satu sekrup hilang.
Orang Swedia sialan itu meninggalkan sekrup mejanya.
Orang Swedia tak bisa disalahkan, sayang,
tapi salesman mengerikan yang menipu kamu dengan mejanya!
Aku akan meneleponnya.
Terserah. / Akan kusuruh dia membawakannya sekarang.
Ya, teleponlah. Telepon dia.
Hei, aku pembeli yang pagi ini membeli meja Rönet.
Röre... Rörret. Ya. Tidak, itu bagus.
Aku suka sekali karena cocok untuk ruang tamu, cantik ditaruh di ruang tamu.
Ya, hanya saja ada satu sekrup yang hilang.
Yang menahan kacanya, ya...
Yang dipasang dengan balok kayu di atasnya...
apa kamu ingat? Ya. Ada empat, tapi aku butuh lima.
Ya? Tidak, aku mau kamu untuk membawanya kepadaku hari ini.
Oke? Aku membutuhkannya hari ini karena...
Tidak, aku tak mau.
Tak mau. Aku sudah bayar mahal mejanya dan aku harus mengambilnya?
Yang benar saja... Oke, aku tunggu.
Ya? Oke. Sempurna.
Di alamat yang tertera pada faktur.
Ya, kami di sini, jangan khawatir. Terima kasih, kami tunggu di sini.
Sekarang kita dapatkan sekrupnya.
Apa kamu akan menaruhnya di sini?
Ya sayang, itu sebabnya kita membelinya.
Aku lihat kamu tidak peduli dengan pendapatku.
Sayang, kamu memilih segalanya di rumah.
Satu-satunya yang kupilih adalah meja.
- Dan lihatlah bagaimana kamu bersikap. - Jadi yang lainnya milikku?
Bayinya juga? / Dia milik kita.
Jadi jika suatu hari kita bercerai, aku akan dapatkan semua milikku.
Ya. Kamu boleh ambil semuanya. Simpan semuanya, aku dengan mejanya...
di bawah jembatan. Kita berdua di sana! Kita bertiga.
Tiga. Bahagia sekarang?
No comments yet. Be the first to leave one.