पहली 200 पंक्तियाँ।
Sebetulnya, saat aku kecil Ibuku...
Tidak perlu kau ceritakan.
Ada hal dari keluargaku yang aku tak ingin orang lain tahu.
Tidak apa-apa.
Sejak kecil aku
Aku selalu ingin...
memperlihatkan pada Ibu hidupku mewah. Aku ingin balas dendam padanya.
Yang Anda lakukan hari ini, aku benar-benar berterima kasih.
D
Da
Dam
Damn
Damn!
Damn! S
Damn! Su
Damn! Sup
Damn! Super
Damn! Super
Damn! Super S
Damn! Super Su
Damn! Super Sub
Damn! Super Sub
Damn! Super Sub I
Damn! Super Sub In
Damn! Super Sub Ind
Damn! Super Sub Indo
Damn! Super Sub Indon
Damn! Super Sub Indone
Damn! Super Sub Indones
Damn! Super Sub Indonesi
Damn! Super Sub Indonesia
Diterjemahkan oleh : -- if a bee --
Diterjemahkan oleh : -- i fabee --
Diterjemahkan oleh : -- ifabe e --
Diterjemahkan oleh : -- ifa b ee --
Diterjemahkan oleh : -- i f abee --
Diterjemahkan oleh : -- ifab e e --
Diterjemahkan oleh : -- i fabee --
Diterjemahkan oleh : -- i f abee --
Diterjemahkan oleh : -- if a bee --
Diterjemahkan oleh : -- ifa b ee --
Diterjemahkan oleh : -- ifab e e --
Diterjemahkan oleh : -- ifabe e --
Diterjemahkan oleh : -- ifa bee --
Maafkan aku.
Tidak apa-apa.
Aku pulang dulu.
Kau tak apa-apa?
Iya, tak apa-apa.
Selamat malam.
Malam. Sampai besok.
=Episode 7=-
Hae Sung pasti di rumah.
Hei, kau pulang.
Apa itu? Kau masak tteokbokki?
Iya. Tiba-tiba aku ingin sekali makan tteokbokki.
Sudah selesai.
Ini.
Kau pintar sekali.
- Enak tidak? - Enak sekali, sungguh.
Hari ini aku ingin sekali makan yang pedas-pedas.
Kok bisa tahu?
Aku suka.
Pedas.
Syukurlah rasanya enak.
Tapi kenapa gak makan?
Pas masak tadi sudah makan banyak. Kau saja, silakan makan.
Hari ini Ibu datang ke restoran.
Memikirkannya saja sudah membuatku panas.
Duh, panasnya.
Kau dan aku pernah sekali ke Seoul untuk bertemu Ibumu.
Sejak itu kau tak pernah bertemu dia?
Tidak.
Tapi tiba-tiba hari ini dia datang
dan bilang akan memberiku uang untuk membantuku.
Aku kaget sekali dan marah.
Tapi...
tiba-tiba aku ingat yang kaukatakan.
Kau bilang aku harus balas dendam pada Ibu dengan hidup sukses.
Kau ingat itu?
Iya, aku ingat.
Jadi kubilang padanya
gedung dan restoran itu milikku.
Aku bohong akan segera menikah dengan Daepyo-nim.
Kukatakan aku lebih kaya darinya dan tak butuh uangnya.
Lalu kuminta dia pergi.
Tapi sepertinya sama sekali tak percaya padaku.
Aku bingung harus bagaimana
tapi tiba-tiba saja Daepyo-nim muncul
Daepyo-nim bilang akan segera menikah dengaku.
Maksudku, semua itu tak masuk akal.
Dia dan aku tak punya hubungan apa-apa.
Tapi Ibuku sepertinya kaget sekali.
Jujur saja, aku merasa sedikit lega.
Kok Bosmu bertindak begitu?
Tak tahu. Kurasa beliau dengar percakapan kami.
Iya...
Dia baik.
Aku tahu.
Aku berterima kasih karena tindakannya tadi.
Hei.
- Kau tak becus ngurus rumah. - Apa?
Di dapur tak ada bumbu sama sekali.
Aku juga tak menemukan bahan-bahan lain di kulkas.
Kenapa kau masih memyimpan eomuk yang sudah 3 tahun lalu?
Masa sih?
Kenapa kau tinggalkan obatmu di bak cuci piring?
Iya, mulai sekarang akan kubuang semua.
Maksudku bukan begitu.
Kenapa kau minum banyak pil?
Kau harus makan teratur, ya?
Jangan sakit.
Iya.
Pastikan mulutmu jangan belepotan seperti ini.
Dasar bawel.
Waktu itu Young Jun tak di rumah.
Laporan polisi menyebutkan kalian berempat di rumah.
Hae Sung, kenapa belum tidur?
Apa? Iya, lagi banyak pikiran.
Kurasa kau tak bisa tidur karena aku terlalu berisik.
Tidak, aku hanya mau minum.
Jung Won.
Di hari aku kecelakaan...
Iya?
Kudengar...
kau menunggu di rumahku bersama keluargaku untuk merayakan ultahku.
Iya.
Kau pasti dengar dari Ho Bang.
Iya.
Adik-adikku semua di rumah, kan?
Semua kecuali Young Jun.
Kau yakin Young Jun tak ada?
Iya, Young Jun tak di rumah.
Menurut laporan polisi
kau memberi pernyataan kalau semua adikku di rumah.
Oh ya? Tidak.
Aku bilang ke polisi semua ada di rumah kecuali Young Jun.
Begitu ya.
Kurasa ada yang salah.
Aku penasaran karena itu yang kudengar dari Ho Bang.
Tidurlah.
Iya, kau juga.
- Kumatiin lampunya. - Iya.
Selamat malam.
Malam.
Orang mengira...
aku tak punya saudara.
Mungkin...
percuma saja mencari pelakunya sekarang.
Tidak bisa lagi.
Hapenya akan kuberikan padanya. Sebentar.
Hae Sung.
Iya?
Ini, dari Ho Bang.
Tidak bisa. Kalau kusentuh hapenya bakalan keputus.
Oh, ya. Makanya Ho Bang menelponku.
Iya, Ho Bang.
Ayahku tiba-tiba saja ke rumah kurasa hari ini kau tak bisa ke rumahku.
Gimana?
Begitu ya?
Aku sih tak apa.
Jung Won mungkin akan khawatir.
Nanti akan kutanyakan.
Hei, Jung Won. Hari ini, boleh aku tidur di rumahmu lagi?
Apa? Tentu saja.
Kau dengar, kan?
Iya, sudah ya.
Makasih.
Tak masalah.
Wah sudah siang.
Aku bisa telat.
Kenapa dia tak bisa menyentuh hapenya?
Aku berdiri di depan Hae Sung kek gini?
Sudah gila aku.
Hari ini kau berangkat lebih awal.
Iya, sekali seminggu kami membuat acar
dan jadwalnya hari ini.
Kalau kau? Rencana mau kemana?
Aku mau ke Dept. store-nya Tae Hoon.
Aku akan cari tahu naik bus apa.
Boleh minta nomor hapenya? Akan kukasih nomorku.
Aku tak punya hape.
Kau ditolak, Cin.
Kalau akau gimana?
Akan kukasih nomorku.
- Sudah kubilang aku tak punya hape. - Dasar.
- Pelit amat sih, Bang. - Hae Sung.
Kau naik bus 135.
Oh ya, kalian siapa?
Terus Ajumma siapa?
Ajumma? Aku tak setua itu.
Tak ada yang menganggapku setua itu.
Tapi Anda terlihat tua.
- Terlihat kek Ajumma. - Ajumma.
- Ajumma, Anda menjatuhkan ini. - Benar sekali.
Tuh, dia aja memanggilmu Ajumma.
Ajumma, terima kartu Anda.
Makasih banyak.
Hae Sung, aku berangkat dulu.
Iya, sampai nanti.
No comments yet. Be the first to leave one.