पहली 140 पंक्तियाँ।
Seumur hidupku kuhabiskan di Jalan Normal.
Ada danau tenang di ujungnya dan pepohonan teduh di ujung lain.
Tetapi yang terletak di antaranya sama sekali tidak normal.
Gortimer Gibbon's Kehidupan Di Jalan Normal
Mimpi buruk itu tidak nyata.
Hanya pengecut atau anak manja yang takut
kepada sesuatu yang konyol seperti mimpi buruk.
Jika aku terus mengatakan itu kepada diri sendiri,
mungkin aku sungguh bisa tidur semalaman.
Gortimer dan penangkap mimpi yang bocor
-Apa kau sudah selesai? -Hampir.
DI AWAL MINGGU ITU...
Kau menemukan apa pun?
Sepertinya Ibu tak merindukan itu.
Bagaimana dengan itu?
Menurutku Gardner akan menyukainya.
Kerja bagus. Terima kasih, Teman.
Hei, boleh tolong mengepak kardus itu? Tolong cepat?
Aku ada janji, lalu aku akan mampir ke Goodwill.
Sampai jumpa di mobil.
Ayo cepat.
Orang terkesan saat tahu kau adalah pengawal renang junior.
Lalu, kau mendapat kaus gratis bertuliskan, "Pengawal Renang Junior".
Serta makan sepuasnya di Sundae in a Bucket.
Kami juga belajar cara menyelamatkan nyawa.
Ya, itu juga.
-Mel, kau sudah ambil kelas napas buatan. -Tetapi bukan penyelamatan air.
Setengah dari anak-anak ini akan gugur, rata-rata 50% gugur.
Kata orang Duke Whitmore baru saja gagal masuk Olimpiade.
Kudengar dia sudah menyelamatkan 100 nyawa
serta bisa menahan napas selama lima menit lebih.
Kau sebut ini pemanasan, Ranger?
-Terasa seperti pemanasan bagiku. -Coba lihat.
Ya, begitu lebih baik, ya?
Bagaimana dengan beberapa putaran? Beri aku 200 putaran gaya bebas.
Jangan lupa. Kau juga mendapat peluit.
"'Bawang Merah Bawang Putih'
Salam dari Malaysia
"adalah dongeng Malaysia tentang dua bersaudari.
"Yang satu bernama Bawang Putih,
"lalu yang satunya bernama Bawang Merah."
Kita beruntung tidak dinamakan "Bawang Merah" dan "Bawang Putih".
Hei, Anak-anak.
Hai, Ibu.
Ayah sedang di Malaysia lagi.
Dia mulai menceritakan kisah dua saudari bernama Bawang Merah dan Bawang Putih.
-Ibu tahu kau merindukan Ayah. -Ya.
Ini sulit. Perceraian sungguh payah.
Tetapi keadaan kita baik, bukan?
Ayahmu, dia pria yang baik.
Dia selalu menelepon,
mengirim banyak kartu pos untukmu dan Gardner.
Mungkin seharusnya kubacakan dongengnya
-untuk Gardner lagi. -Ya.
Tetapi jika dia panggil aku "Bawang Merah", akan bermasalah.
Jadi...
Tekan dadanya 30 kali.
Dongakkan kepalanya, lalu jepit hidungnya.
Akuilah. Kau pasti ingin menjadi orang itu di restoran
saat ada yang tersedak lalu kau bisa muncul dan berkata,
-"Aku bisa menyelamatkanmu." -Aku sudah jadi orang itu.
Itu kerja bagus, Mel.
-Terima kasih, Duke. -Apa boneka ini punya nama?
Ya.
Apa Aku Ingin Lulus Kelas Pengawal Renang Junior?
Apa nama belakangnya?
-Apakah kau baik-baik saja? -Sedikit capek.
-Apa kami membuatmu terjaga, Gortimer? -Maaf, Duke.
Hai. Aku Ranger. Aku akan melakukan napas buatan terhadapmu hari ini.
Begitu kau selesai memperkenalkan diri,
jantung pasienmu sudah berhenti.
Baiklah, Ranger. Usaha yang bagus.
Untuk satu jam ke depan, kita akan berlatih penyelamatan air.
Penting untuk mengingat bahwa terkadang, korban kalian akan panik.
Gortimer?
Kau tak mau masuk?
Apakah selalu sedalam ini?
Jadi, kau mengalami mimpi buruk. Bukan hal besar.
Malam lalu, aku bermimpi sedang mendaki Gunung Everest.
Lalu ada segerombolan Yeti mengejarku, ada ratusan.
Mereka semua berteriak, "Yeti, Yeti, Yeti."
Mengapa meneriakkan nama mereka sendiri?
Itu mimpi. Mimpi tak harus masuk akal.
Apa mimpi buruk Yetimu semestinya membuatku lebih lega?
Kata Freud, "Mimpi melambangkan keinginan,
-"pikiran dan motivasi tak sadar." -Lalu kenapa aku bermimpi tenggelam?
Apakah kau sedang kewalahan akan sesuatu?
Kelas pengawal renang junior? Takut tak akan lulus?
Gortimer yang terbaik. Tentu saja dia akan lulus.
Tidak jika aku tak bisa masuk ke air. Aku tak mencemaskan apa pun.
Kecuali mimpi-mimpiku.
Gortimer, kau yakin itu kolam renang yang sama?
Persis sama. Aku melihat mural bawah air itu...
Kecuali semuanya sedikit berbeda.
-Bagaimana? -Aku tak yakin.
Mungkin jika kau konsentrasi kepada yang menenggelamkanmu.
Aku tak bisa melihatnya.
Hanya lengannya.
Hei. Mengapa belum tidur? Ini sudah malam.
-Aku tadi membaca. -Kau bisa memberi tahu Ibu
jika kau mencemaskan sesuatu.
Mengapa aku harus mencemaskan apa pun?
Karena kau cemas diam-diam. Tak bisa sembunyikan. Seorang ibu pasti tahu.
Aku hanya ingin bagus di latihan pengawal renang.
Hanya itu?
Di mana kau menemukan itu?
Di kardus sumbangan Goodwill.
Ibu membuatnya saat menjadi pramuka. Sudah lama sekali.
Mulai terlepas-lepas.
Mungkin mereka akan mengambil lencana penangkap mimpimu.
Tidurlah, Bocah Kocak.
Selamat malam.
Tentu saja.
Itu bukan mimpiku. Itu mimpi ibuku.
Kau tak perlu membuatkan sarapan.
Terima kasih.
Aku sudah bangun. Aku tak bisa tidur.
Dia tak mau lagi makan serealnya dengan susu?
Sulit. Mengapa kau tak bisa tidur?
Aku terus mengalami mimpi buruk.
-Mengenai apa? -Tenggelam.
Kedengarannya buruk.
Ibu pernah bermimpi buruk seperti itu? Tenggelam?
Tidak, Ibu jarang masuk ke air. Kau tahu itu.
Ibu belum pernah belajar berenang.
-Jadi, Ibu tak pernah mimpi seperti itu? -Tidak, syukurlah.
Ayo, Nak.
Ibu harus membersihkanmu dan mengantarmu ke TK.
Baiklah, ayo cepat semuanya.
Saat mengatakan semuanya, termasuk kau, Gortimer.
Aku tak yakin bisa menjadi pengawal renang junior.
-Kau salah satu murid terbaikku. -Mungkin tadinya.
Kupikir kau menginginkan ini.
Memang.
Selamat datang di pusat akuatik sub-norm
Pernah ada anak di dasar kolam itu,
mereka pakai kait panjat untuk mengangkatnya.
Itu dinamakan kait nyawa dan tongkat penyelamat.
Kait panjat terdengar lebih bagus.
-Mengapa kau pergi? -Aku tak ingin masuk ke air.
No comments yet. Be the first to leave one.