पहली 200 पंक्तियाँ।
Aku sudah mendaftar...
SELAMAT DATANG DI PERTUNANGAN OLIVIA & REID
PERBURUAN BERAKHIR
Semua senyum.
Senyum!
Andai aku bisa punya itu.
Biar kuberikan pada Reid.
Tapi terima kasih banyak sudah mengizinkan kami memakai kabin.
Ini sungguh luar biasa. / Tentu.
Ini milikmu sekarang.
Ini sangat menarik.
Sudah bahas kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?
Kau tak bisa melakukan ini dengan mendadak, Reid.
Tidak.
Kami bilang dimusim gugur nanti.
Tidak.
Kami memutuskan pada musim semi tahun depan.
Ingat?
Setelah bayi lahir. / Ya, setelah bayi lahir.
Ya.
Kurasa aku cuma antusias.
Aku juga antusias.
Aku tidak sabar untuk menjadi seorang nenek.
Aku tidak pernah menyangka akan setua ini.
Ini akan sempurna.
Kalian berdua sempurna.
Fotografer dari pernikahan Sarah itu.
Ya ampun, dia manis sekali. / Aku tahu.
Bisa menjodohkanku? / Tentu.
Aku akan memujimu di depannya.
Tentu.
Baik.
Bisa bawa salah satu dari kami?
Ya.
1, 2, 3.
Reid, sedang apa kau? / Kita akan kehabisan kertasnya.
Sayang, bisa foto sungguhan?
1, 2, 3.
Ini luar biasa. / Ya.
Semua mengagumkan.
Semua mengagumkan. Aku tak percaya kau bertunangan.
Benar, bukan?
Aku selalu tahu di kampus, dan butuh waktu yang lama
untuk menyadarinya, tapi di sinilah kita.
Ya. / Kau tahu?
Menghamilinya mungkin menolong.
Ya.
Bagaimana komik stripnya?
Masih mengerjakan itu? / Ya.
Ya.
Editor yang bekerja denganku tidak memahami yang kumau.
Jadi, saat ini agak tertunda.
Untuk berapa lama?
Tanpa batas waktu.
Tapi semua akan berhasil.
Aku yakin.
Semua akan berhasil,
Karena komik stripmu selalu... / Neo, Prancis, lucu.
Tidak lucu, atau Prancis.
Aneh.
Aneh? / Ya.
Aneh.
Aneh sekali.
Tapi aneh bagus. Seperti pizza nanas aneh.
Hei, aku harus memeriksa sesuatu.
Tapi sekali lagi, aku sangat menghargaimu
datang jauh-jauh untuk ini.
Ya. / Nikmati bola kejunya.
Pasti.
Ya Tuhan.
Hei. / Selamat, Reid.
Aku bahagia untuk kalian semua. / Terima kasih banyak, Leo.
Hati-hati di jalan. / Hati-hati.
Barang bawaanmu agak sedikit.
Kami cuma di sini semalam, Ayah.
Aku tidak tahu jika akan dinilai berdasar persiapan perjalananku.
Kau harus selalu siap.
Aku mau memberimu perlengkapan darurat pinggir jalan untuk jaga-jaga.
Ya.
Aku bisa melihatnya.
Dan ini.
Kau tidak pernah tahu kapan kau akan menghadapi masalah.
Perjalanan kembali ke kota butuh waktu 3,5 jam, Ayah.
Bukan, "The Revenant."
Ambil saja koreknya, Reid.
Aku akan menganggap ini hadiah pernikahan darimu.
Aku cuma tidak ingin melihatmu terluka lagi.
Baik?
Itu sudah lama sekali, Ayah.
Pernikahan adalah komitmen, Nak.
Tanya dirimu apa kau siap melakukan itu.
Semua yang bagus sudah ada.
Bagus.
Maaf.
Aku menyela sesuatu?
Tidak, kami cuma pamitan.
Senang bertemu, seperti biasa.
Itu tidak masuk akal.
Kenapa aku tidak mengambil jalan yang sama
tempat kita sering kemari? / Bisa kau lihat petanya?
Lewat sini setengah jam lebih pendek.
Ya, tapi dengan semua tikungan tidak lebih pendek.
Kau cuma perlu percaya.
Ya Tuhan. / Terserah.
Baik. / Kita lewati jalanmu.
Suasana hatimu akan buruk selama perjalanan pulang?
Maaf.
Kau tahu perasaanku saat berada di dekat ayahku.
Dia masih memperlakukanku seperti anak kecil.
Dan itu... / Itu benar.
Jujur, aku bahkan berpikir ayahmu tidak tahu namaku.
Ya, mungkin tidak.
Cek perlengkapan menghadapi kiamat zombi kita...
Aku tahu. Dia menyuruh kita pulang bersama.
Ya Tuhan.
Aku senang kau bisa sisihkan sebagian dari isi bunkernya.
Dia sangat baik.
Tapi apa yang menurutnya akan terjadi kepada kita?
Kau tahu beruang suka merobek ban di hutan, Nak.
Kau harus bersiap.
Ya.
Omong-omong.
Baik, tak ada lagi yang aneh.
Aku janji. Maaf.
Aku juga minta maaf.
Hormonku akhir-akhir ini seperti tidak menentu.
Jadi...
Kau punya alasan.
Baik, mari kita cari tahu jalan kita.
Baik.
Ini tertulis dalam 6 mil kita akan
mengambil kiri ke jalan samping.
6 mil...
Sial!
Ya Tuhan! / Hei.
Hei, hei, hei!
Kau tidak melihat orang itu?
Jelas tidak. Bajingan itu muncul entah dari mana.
Kau baik-baik saja? / Ayo kita pergi saja.
Baik. / Ayo.
Baik, sebentar.
Aku harus tahu arah tujuanku.
Aku cuma...
Aku cukup yakin tadi kita ke arah sana, 'kan?
Tidak, kau tadi ke arah ini.
Tidak.
Instingku mengatakan kita jelas menuju ke situ.
Baik.
Terakhir kali kita percayai instingmu,
kita berakhir dengan penumpang tambahan.
Jadi, tidak.
Bagus.
Dan aku tidak punya sinyal.
Itu luar biasa.
Apa yang harus kulakukan? Berputar-putar sampai ada sinyal?
Kita cuma perlu berhenti di suatu tempat dan tanyakan arah, benar?
Baik.
Tapi di mana?
Instingku mengatakan di sini.
Ya?
Baik.
Semoga ada kamar mandi.
Setelah dipikir lagi, kurasa aku bisa menahannya.
Ayolah.
Apa yang kau harapkan?
Ini toko kecil milik keluarga yang terletak di daerah antah berantah.
Aku penasaran apa ini diimpor dari suatu tempat.
Entah. Aku ragu siapapun pemilik tempat ini mengimpor makanan ringan dari luar negeri.
Kau tak pernah tahu.
Entah. Mungkin mereka sudah tutup.
Ya.
Sebaiknya kita mencari petunjuk di tempat lain.
Tidak ada tempat lain.
Jadi...
Permisi?
Permisi?
Pak?
Halo?
Maaf.
Kalian...
Maaf.
Dia bernafas?
Semoga.
Maaf, Pak. Kalian buka?
Hei!
Aku datang!
Kalian tak lihat Ben sedang tidur siang?
Apa mau kalian?
Maaf mengganggu.
Kami cuma tersesat sedikit.
Tidak mengejutkanku.
Hampir semua orang yang berhenti di sini begitu.
Orang-orang cenderung tersesat di sini.
Benar, Ben?
Dia baik-baik saja?
Sudah kubilang. Dia sedang tidur siang.
Benar.
Kami berharap bisa dapat beberapa petunjuk arah dan...
Dan kamar mandi, jika ada, kami mau menggunakannya.
Mau kunci kamar mandi atau tidak?
No comments yet. Be the first to leave one.