Alfred Hitchcock Presents

Alfred Hitchcock Presents

Unduh Subtitle Indonesian

Musim 1

Informasi rilis

Hitchcock Presents S01E03 Triggers in Leash DVDRip DD2 x264-HANDJOB
Komentar oleh Chyrus

Tag

DVD
DVDRip
dvdrip
dvdr
x264
TS
Diterbitkan pada: 2019-08-25
Unduhan: 42
Tuna Rungu: No

Pratinjau subtitle Indonesian

182 baris pertama.

Itulah sebenarnya kenapa aku tak suka Russian roulette.

Sepertinya aku tak pernah menang.

Ada dua revolver seperti ini...

yang disertakan dalam cerita malam ini.

Inilah yang bisa kalian sebut film koboi, meski tak ada kuda yang terlihat.

Kami berniat menyiapkan kudanya, tapi mereka tak bisa mengingat barisan kudanya.

Jadi kalian akan lihat manusia sebagai gantinya.

Pemainnya sedikit sekali...

dan terancam jadi lebih sedikit seiring setiap momen yang terlewati.

Kalian tahu, dua tokoh mengancam menghabisi satu sama lain saat itu juga.

Sekarang, aku yakin ada di antara kalian yang tak ingin lihat mereka melakukan itu.

Jadi aku sarankan sebagai gantinya kalian dengarkan pesan sponsor kami.

Chyrus Collection

- Kopinya tambah, Ben? - Tidak, terima kasih.

Biar kuberitahu, Maggie, kue panekuk buatanmu benar-benar lumer di mulut seseorang.

Aku bersedia digantung bila aku tak merasa menyukai setumpuk lagi.

Oh, Maggie.

Dengar, Ben, kau selesaikan pekerjaanmu...

lalu aku buatkan kau steik buat makan siang.

Dengan irisan kentang coklat.

Dan pai apel buat penutupnya.

Kau benar, Maggie.

Setumpuk lagi kue itu bisa hilangkan nafsu makanku buat makan siang.

Apinya mengecil. Sebaiknya ambilkan kayu dari gudang, Ben.

Kau hendak buat tungku itu terus menyala seharian?

- Tentu saja. - Itu konyol.

Tak bakal ada pelanggan hari ini.

Maggie, seseorang kemungkinan sudah tak waras...

melewati persimpangan jalan saat badai seperti ini.

Sekarang, Ben, jangan bilang padaku kau tak bisa temukan gudangnya karena hujan ini.

Kau akan biarkan pintunya terbuka, Del?

- Kau sendirian di sini, Maggie? - Tak ada pelanggan.

Keberatan bila aku menghangatkan badan?

Sekarang itu pertanyaan konyol. Lepaskan jas hujanmu lalu duduk.

Banyak terima kasih.

Tidak melihatmu sudah lama, Del. Kau dalam perjalanan ke Copper City?

Mungkin. Aku belum putuskan.

Kau pasti lapar.

Buat dirimu nyaman, aku buatkan kau sarapan.

Aku nyaman, Maggie.

Kau bahkan tak mau lepas sabuk pistolmu?

Aku nyaman.

Mau apa? Panekuk, ham, telur, steik? Tinggal bilang.

Tak ada bedanya. Apa saja yang kau rasa mudah.

Hey!

- Aku minta maaf. - Lebih dari minta maaf.

Kau ke sanalah bantu dia mengambilnya.

- Maaf, Ben. - Tak apa, Del.

Cuman kau buatku takut, masuk lihat pistol diarahkan padaku.

Kau hampir kehabisan minyak tanah.

Bila kau hendak buat lampu ini menyala seharian, kau akan kehabisan sebelum malam.

Oh, tidak.

Sebaiknya balik ke kota untuk membeli lebih banyak lagi.

- Aku tak enak meminta padamu, Ben. - Tak apa.

Selama kau tak lupa soal steik dan pai apel itu.

- Aku buatkan begitu kau kembali. - Bagus sekali.

- Ben. - Ya.

- Aku akan berterima kasih bila kau berbuat sesuatu untukku. - Tentu.

Ketika kau balik ke kota, jangan bilang kau lihat aku di sini.

Tak apa, Ben.

Baiklah, aku takkan bilang.

Duduk, Del, aku siapkan sarapanmu.

Terima kasih, Maggie.

Terima kasih karena tidak mengajukan banyak pertanyaan.

Kau mampir ke sini untuk makan.

Kau dari mana dan kau mau ke mana bukanlah urusanku.

Kau wanita yang sangat baik, Mag.

Simpan gombalanmu buat wanita-wanita kota.

Tidak, aku serius.

Kau di sini, berada di persimpangan jalan sendirian, membuatkan makanan buat para koboi.

Makanan nikmat.

- Kau punya banyak teman. - Aku punya usaha bagus di sini.

Aku mendapati segala jenis pekerja, aku mendapati mereka datang...

dan aku mendapati mereka sedang kabur.

- Menurutmu aku sedang kabur? - Tidaklah sulit.

Tapi ketika seseorang tak mau lepas sabuk pistolnya untuk makan...

dia punya alasan yang bagus sekali.

Dan alasan biasanya itu dia pikir dia bakal membutuhkannya.

Kau sungguh tak pernah tahu siapa yang bakal kau jumpai di sini.

Itu benar, seperti orang tua yang lagi bawa kayu yang hendak masuk.

Sekarang seseorang butuh pistol untuk digunakan dalam kasus seperti itu.

- Mari lupakan, Maggie. - Tentu.

Beritahukan padaku, Del, ada kabar apa di kota?

Tak banyak.

Kudengar Lucy Benson hamil dan mendapati dirinya melahirkan anak kembar.

- Pagi, Red. - Menyingkirlah, Maggie!

Lakukan seperti yang dia bilang, Maggie. Mundur ke belakang.

Kalian berdua sudah gila?

Kau tak berpikir aku bisa menemukanmu, kan, Delaney?

- Aku berharap kau tak bakalan, Red. - Itu dapat dipahami.

Pertama kau kabur, agar kau tak perlu menghadapiku...

dan sekarang, kau di sini sedang bersembunyi di balik rok perempuan.

Minggir, Mag. Minggir!

Tidak, aku takkan pindah dari sini sampai kau dengarkan aku baik-baik.

Aku kenal kau sudah lama, Del.

Aku tahu kau cepat dengan pistol itu, tapi aku belum pernah tahu kau pemicu sebuah perkelahian.

Aku tidak memicu perkelahian ini. Badut ini memaksaku berbuat sesuatu yang tak kuinginkan.

Sekarang, tunggu sebentar.

- Apa yang membuatmu memusuhi Del? - Dia banci.

Dia mau lawan orang waktu dia mabuk, tapi tidak waktu dia tidak mabuk.

- Apa maksudmu akan hal itu? - Aku beritahu yang dia maksud akan hal itu.

Kami bermain kartu semalam.

Bajingan keras kepala ini terlalu banyak minum...

bertindak sembrono.

Aku tak bisa main melawannya ketika aku lihat betapa mabuknya dia. Aku

putuskan untuk mengakhiri permainan.

Kau putuskan mengakhiri ketika kau lagi unggul.

Kau tak mau memberiku kesempatan untuk mengimbanginya, kan?

Nak, aku bisa saja kuras habis uangmu.

Kau sangat mabuk, kau bahkan tak bisa memilah kartumu sendiri.

Maksud kalian semua ini tentang permainan poker?

Ini lebih dari itu.

Badut berambut merah ini keberatan aku mengakhirinya.

Dia jadi gila. Dia mulai memanggilku dengan nama-nama yang tidak kusuka.

Bilang padaku untuk mengambil pistolku, bilangnya dia bisa lebih cepat dariku.

Aku yakin aku akan lebih cepat.

Nak, aku bisa saja mengirimmu ke kuburan sebelum tanganmu menyentuh ikat pinggangmu.

Tapi aku tak mendapatkan kebanggaan membunuh koboi pemabuk.

Sekarang, kau mau mendengarnya, Maggie? Kau tahu yang dia perbuat semalam?

Dia siramkan segelas whiskey ke wajahku.

Dan ketika aku kesulitan melihat, dia menghantamku di mata dengan botol.

Itu tonjokan, bocah. Bukan botol.

Tonjokan atau botol, itu tetap tindakan seorang banci.

Segala kebodohan ini...

Red, kau bertingkah seolah kau masih mabuk.

Maggie, sebaiknya kau tak ikut-ikut soal ini.

Tidak, aku tak mau.

Del benar, dia bisa saja membunuhmu semalam, tapi dia menggunakan akal sehatnya.

Sekarang kau marah karena kau pikir dia melakukan kebodohan padamu di bar.

- Dewasalah, Red. - Baiklah, Maggie.

Tanya dia untuk apa dia kabur kemari.

Aku beritahu kau itu apa.

Waktu dia dengar tadi pagi aku hendak memburunya...

dia siapkan kudanya lalu kabur secepat mungkin keluar kota.

Benar.

Aku tak ingin membunuhmu semalam karena kau terlalu mabuk.

Aku tak ingin membunuhmu pagi ini karena kau terlalu penuh dengan kepongahan yang merugikan.

Berpikir itu akan lebih mudah meninggalkan kota sementara waktu.

Dasar tengik, pengecut pembohong.

Kau tak begitu pintar, nak.

Baiklah, aku sudah berusaha.

Tapi aku akhiri berusahanya sekarang.

Kau sudah tidak mabuk. Bila ini duel yang kau mau, kau akan dapatkan.

- Biar aku bicara dengannya, Del. - Itu takkan ada gunanya, Maggie.

Gunakan sedikit otakmu, Red.

Del telah berbuat kebaikan semalam.

Jadi menurutmu dia telah membodohimu.

Itu lebih baik daripada menembak mati dirimu.

Jika dia bisa menembak mati diriku. Kupikir, sekalipun lagi mabuk, aku bisa lebih cepat darinya.

Sekarang kau tahu lebih dari itu.

- Del ini yang terbaik... - Diamlah, Maggie!

Mungkin kau bisa bicara padanya untuk menghentikan, tapi tidak denganku. Ini sudah keterlaluan sekarang.

Baiklah, ayo, bunuhlah satu sama lain. Kalian berdua terlalu gila untuk hidup.

Hamku bakal hangus...

dan sepotong hamku itu lebih berharga dari kalian yang gampang tersinggung ini.

Baiklah, siapa yang akan jadi pembunuh?

Siapa yang mendapati tali melingkar di lehernya?

Kau mengoceh soal apa, Maggie?

Aku mau bunuh si pembual ini dengan cara yang sepatutnya.

Kau keliru, Red.

Kalian berdua bakal mampus. Dan aku berniat untuk melihatnya.

Aku seorang saksi dan aku bersumpah pada orang pertama yang mengambil pistolnya.

Dan itu akan jadi pembunuhan.

Orang pertama yang mengambil pistolnya bakal digantung. Kalian akan tahu.

Baiklah. Siapa yang akan jadi pembunuh?

Siapa yang hendak kuberitahukan ke Sherif yang mengambil pistol lebih dulu?

Aku menunggu, Red.

Kau ingin sekali melakukan penembakan lebih dulu, silakan. Ayo.

Tidak, Delaney, aku biarkan kau yang mengawalinya dulu.

Kau akan butuh kesempatan tambahan.

Kata-kata Maggie masuk akal.

Kalau aku yang ambil pistol dulu, maka aku dikenakan dakwaan pembunuhan.

Kupikir sebaiknya aku biarkan kau sampai pada sabuk pistolmu sebelum diriku...

dan aku masih bisa lebih cepat darimu.

Sungguh mengejutkan.

Kau tahu, aku berpikir hal yang sangat sama.

Kau bisa pegang duluan pistolmu, dan aku masih bisa mengalahkanmu.

Buat penegak hukum, itu akan jadi pembelaan diri.

Kalian berdua terlalu sombong demi kebaikan kalian sendiri.

Sepertinya kalian hendak menunggu salah satu yang mengambil pistolnya lebih dulu.

Sayang menyia-nyiakan ham ini, jadi aku...

kupikir aku mau buat beberapa telur...

Alfred Hitchcock Presents subtitles in other languages

Komentar

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left