192 baris pertama.
Katanya tidak akan ketemu lagi, meong!
Linia yang mengikutiku!
Berhenti jadi anak manja!
Yang lengket melulu itu Pursena!
Turun sana, meong!
Tidak mau! Linia saja yang turun!
Pursena saja!
Linia yang turun!
Pursena!
- Pursena, meong! - Linia yang turun!
Ternyata lebih padat dan berat.
Karena isinya sebagian besar air.
Rasanya manis dan enak, lo.
Tampilannya begini tapi manis?
Dipikir-pikir lagi, memang tidak kelihatan enak.
Tapi, itu cuma kulit, isinya seperti buah, kok.
Perwakilan wisudawan, Liniana Dedoldia.
Beserta Pursena Adoldia.
Kuberikan kalian ijazah kelulusan serta sertifikat Kelas D dari Serikat Sihir.
Tidak kusangka kalian akan menghadiri upacara kelulusan Linia dan Pursena.
Meski banyak hal yang terjadi, tapi mereka begitu hormat dengan Guru.
Jika begitu, saya pun tidak bisa terus menyimpan rasa permusuhan.
Walau sejujurnya aku tidak pernah berinteraksi dengan mereka yang jorok itu.
Tapi, sebagai sesama siswa khusus,
mereka tetap kuanggap kawan yang telah belajar dengan tekun.
Karena itu aku merasa harus melepas mereka dengan baik.
Saat aku baru masuk, hawa di antara para siswa khusus terasa canggung.
Mereka berdua ternyata bisa berubah.
Nanahoshi, aku masuk, ya.
Silakan.
Masuk angin lagi, ya?
Sepertinya begitu.
Setahun ini entah kenapa kondisi Nanahoshi terlihat buruk.
Sering batuk kering atau demam.
Sudah kucoba menyembuhkannya dengan sihir penawar racun.
Tapi, tidak lama kemudian kondisinya memburuk lagi.
Sihir penawar racun tidak bisa menyembuhkan tubuh yang tidak sehat, lo.
Setidaknya beristirahatlah hingga masuk anginmu sembuh sepenuhnya.
Penelitiannya sedang lancar.
Mana bisa aku istirahat.
Penelitian Nanahoshi memang berjalan lancar.
Saat ini sudah di tahap ketiga.
Mencoba untuk memanggil makhluk hidup seperti tumbuhan atau hewan kecil.
Sebentar lagi, sayur dari dunia sebelumnya pasti akan muncul di dunia ini.
Benar-benar lancar.
Sekarang, ayo kita mulai eksperimen.
Silakan!
Permisi, meong.
Izin masuk.
Bos, kami mencarimu, meong.
Tolong ikut kami sebentar.
Suasana mereka hari ini sedikit berbeda.
Apa mau berduel lagi?
"Tidak boleh pulang kalau belum menang," pasti mereka berpikir seperti itu.
Bos, kami mohon, meong.
Kami mohon.
Sudahlah, ini yang terakhir, biar kuladeni saja.
Baiklah.
Nanahoshi, aku pergi dulu.
Lah, aku yang duluan?!
Eksperimennya bagaimana?!
Kalian juga harus ikut, meong.
Kami undang sekalian secara khusus.
Akan kami izinkan, berterimakasihlah kalian!
Hei—, apa-apaan kalian?! Aku sedang sibuk!
Di sini saja.
Tempat yang mengingatkan masa lalu.
Bukankah ini tempat
aku dan Zanoba dulu menculik Linia dan Pursena.
Tempat pertama kali kelahi dengan mereka, jadi bisa dibilang tempat kenangan.
Guru, apakah ini niatnya menantang ulang yang waktu itu?
Mungkin iya.
Kami ingin Bos dan kalian lihat.
Kalian mau melakukan apa?
Sekarang kami akan menentukan siapa yang lebih kuat antara aku dan Linia.
Untuk keperluan apa?
Pemenangnya akan jadi kepala Suku Doldia.
Karena sejak awal suku kalian terbagi dua antara Dedoldia dan Adoldia,
kenapa tidak jadi kepala suku masing-masing saja?
Awalnya kami juga berpikir begitu, meong.
Hingga kami menghajar habis para pelamar yang sedang berahi itu.
Pada akhirnya tidak ada pria yang lebih kuat dari kami.
Kalau begitu, yang lebih kuat jadi kepala suku saja,
lalu yang satu lagi bisa hidup bebas.
Hidup bukan hanya soal jadi kepala suku.
Tidak boleh ada dendam.
Logika macam apa itu?!
Baiklah.
Kalau bisa membuat kalian puas, lakukan saja sesuka hati.
Yakin, kau mau merestui mereka berkelahi?
Palingan, tidak kulihat pun tetap akan mereka lakukan.
Aku berterima kasih, meong.
Itu sangat membantu.
Kemungkinan kekuatan mereka setara.
Untuk menghindari situasi terburuk, maka aku harus melihat pertarungan mereka.
Lalu, bukan bermaksud mengoreksi, ini bukan kelahi tapi duel.
Pertarungan demi penentuan.
Yang sekarang akan dimulai adalah pertarungan saling bunuh antara binatang.
Pursena, aku sudah lama ingin bilang ini!
Sebenarnya aku tidak suka denganmu!
Itu kalimatku, bajingan!
Sejak kecil Linia hanyalah adik yang selalu mengekor di belakangku,
tapi sekarang besar kepala!
Hah?! Yang adik itu justru dirimu!
Saat umur empat tahun
aku menyembunyikan bekas ompolmu, kau sudah lupa utang itu padaku?!
Adoldia katanya tidak akan lupa utang budi hingga seratus tahun, ternyata omong kosong!
Itu sudah impas saat aku menolongmu waktu jatuh dan hampir hanyut di sungai!
Pursena yang tidak tahu utang budi tidak akan bisa punya cowok!
Itu salah Linia karena menghajar habis para pelamar!
Pursena si pusar bodong!
Linia bego!
Dasar Pursena gendut!
Aku tidak gemuk!
Oh, Pursena yang menerjang seperti tank berat berhasil didorong balik oleh Linia!
Pursena menang kekuatan, tapi kecepatan Linia menang tipis!
Di sini pukulan kanan Pursena membabi-buta!
Linia terhuyung, Pursena terus menyerang!
Linia akan bagaimana?!
Akankah lari?! Atau malah berdiam diri?!
Dia terdiam!
Pukulan kiri kilat dari Linia! Pukulan kilat!
Ini bukan apa-apa untuk Pursena!
Namun Pursena maju bersamaan pukulan kanan Linia!
Oh! Baju Pursena robek di sini!
Ini akan jadi masalah kalau siaran langsung!
Bagaimana menurutmu, Komentator Zanoba?!
Di sini serangan jarak dekat Pursena!
Pukulan Pursena sepenuhnya menghalangi langkah Linia!
Bagai kupu-kupu diputus sayapnya!
Akankah dia takluk oleh raja yang merayap di daratan ini?!
Tetapi, di sini Linia berhasil menggigit!
Lalu menjatuhkan dan menyeretnya di atas tanah!
Tetapi, Pursena juga punya taring!
Dia balik membalas gigit!
Cara bertarung mereka buruk sekali.
Seperti perkelahian anak kecil saja.
Hm, memang bisa dibilang begitu.
Hei, padahal mereka berdua berusaha setengah mati,
kenapa kau malah bisa bercanda begitu?
Maafkan aku.
Aku menang.
Wujud yang begitu heroik.
Penampilannya begitu gagah.
Wujud seseorang yang telah melewati pertarungan hidup mati.
Aku yang menang.
Iya, selamat.
Biar kuobati dengan sihir penyembuh.
Terima kasih, tapi tidak perlu.
Luka ini adalah tanda kehormatan.
Aku tidak tahu apa akan bertemu Linia lagi, jadi ingin kubiarkan saja.
Tapi, kalian masih akan bersama sampai keluar dari kota, kan?
Kami berpisah di sini.
Barang-barang sudah ditata, jadi akan pergi hari ini.
Apa mungkin memang sudah diputuskan seperti itu?
Jalan mereka akan terpisah di sini, jadi memilih berpisah di sini.
Entah kenapa keren sekali.
Tidak usah pakai sihir penyembuh, deh, tapi tetap diobati, ya.
Aku mengerti.
Bos, selamat tinggal.
Mereka berdua punya sisi baik juga.
Sekarang.
Kau masih hidup?
Masih hidup, meong.
Kecantikanmu jadi sia-sia.
Benar, meong.
Terima kasih, meong.
Aku kalah, meong.
Pertandingan yang hebat, kok.
Omongan Bos kedengaran semua.
Asyik sekali kelihatannya.
Hm, sepertinya aku sedikit gagal baca suasana.
Tapi, memang pertandingan hebat yang meningkatkan gairah.
Yah, syukurlah kalau bisa menghibur di saat-saat terakhir.
Kalau dilihat orang luar, ini cuma perkelahian biasa.
Siapa yang senang dia yang menang.
Kau juga tidak butuh sihir penyembuh?
Sejujurnya aku ingin menghapus luka kekalahan ini.
Tapi, kali ini biar kuterima lapang dada.
Yang begini bisa jadi kebanggaan seiring berjalannya waktu.
Luka kehormatan, ya.
Aku tidak mengerti pertarungan para suku binatang.
Tapi, mataku benar-benar terpaku.
Sampai dipuji dirimu segala.
Beda jauh dari saat diculik di sini.
Aku minta maaf untuk patung itu.
Guru sudah mengampuni perihal itu.
Diriku sudah tidak punya rasa permusuhan pada Linia.
Rencanamu ke depannya bagaimana?
Setelah melakukan perjalanan sebentar, aku ingin mulai berbisnis, meong.
Bisnis, ya? Perasaanku sangat tidak enak.
Apa kamu punya rencana yang mendetail?
No comments yet. Be the first to leave one.