185 baris pertama.
Fasilitas ini menampung anak-anak yatim piatu,
mendidik, dan mengirim mereka ke medan perang.
Sebuah panti asuhan sekaligus fasilitas pelatihan senjata sihir negara.
Resminya, sih, begitu.
Tapi kami biasa menyebutnya "sekolah".
Akhirnya bangun juga.
Sesak tahu.
Tolong, kalau mau bangunin, pakai cara normal saja.
Sudah sebulan sekamar dengannya, aku mulai banyak paham soal Mimi.
Pagi, Mimi.
Pagi.
Sheena, kamu bakal telat, loh.
Apa?
Benaran! Sudah jam segini lagi!
Dasar tukang tidur.
Bilang dari tadi, dong!
Sudah sisiran belum?
Kaus kaki satunya mana?
Apa?
Tuh, 'kan.
Sheena...
Kaus kakiku cuma ada satu.
Ah, rambutmu juga masih berantakan.
Dia memang dirumorkan sebagai senjata rahasia,
tapi aslinya sangat ceroboh...
dan cuek soal penampilannya.
Dia juga makan apa saja tanpa pilih-pilih.
Jadi, mari kita cari titik potong dari dua fungsi ini.
Lagi-lagi B plus...
Sheena!
Yang benar saja!
- Sempurna! - Meski matematikanya jelek,
tapi dia dapat nilai sempurna di ujian sejarah.
Pokoknya ekstrem.
Lalu...
Mimi.
Apa?
Kadang-kadang,
- Dia dijenguk Fran-sensei. - Kukira siapa, si om-om, toh.
Aku bukan om-om, loh, ya.
Sini, aku periksa mulutmu, bilang "Aaa".
Om...
Aku bilang "aaa", loh!
Dia lebih mirip ibu daripada dokter.
Panggilan darurat, panggilan darurat.
Bagi namanya disebutkan, segera berkumpul di depan gerbang utama.
1407.
- 1611. - Pergilah.
- 1613. - Baik.
- 1614, 1618. - Sheena, aku berangkat, ya!
1701, 1703.
- 1709. - Melihat dia berperang sambil tersenyum,
- 1711, 1712. - Aku bingung harus bersikap seperti apa.
1714, 1715.
- 1721, 1724. - Aku enggak tahu.
Sekian.
Kenapa dia bisa berangkat sambil tersenyum begitu?
Sakit itu enggak enak, 'kan? Mimi juga enggak suka.
Padahal dia bilang enggak suka...
Nah, sudah kuduga dia di sini.
Ali, Seiran.
Mau makan siang bareng?
Sheena, kamu suka nasi, ya?
Iya.
Sejak kecil aku memang suka nasi.
Makanya Mimi-chan memanggilmu "Si Onigiri"?
Eh, itu karena...
Sehari sebelum dia pindah, kami enggak sengaja bertemu
dan aku memberinya onigiri buat makan malamku...
Oh, jadi karena itu dia memanggilmu begitu.
Iya...
Terus, Kagari-san belum kembali?
Belum.
Enggak usah cemas, dia pasti aman, kok.
Kamu juga tahu, 'kan? Pas latihan tempur waktu itu...
Kejadian itu baru pertama kali kulihat.
Seiran juga sampai terpaksa mengakuinya, 'kan?
Aku, sih, biasa saja...
Dari awal juga enggak ada bilang enggak mengakui, kok.
Enggak cuma cara tempurnya, tapi cara ciumnya juga luar biasa.
Itu sihir pemulihan, ya.
Kalian juga melihat sihir pemulihannya Mimi?
Iya.
Harusnya Fran-sensei yang nyembuhin dia.
Tapi Kagari-san bilang biar dia yang melakukannya...
Artinya, ucapan Mimi soal dia menyembuhkanku itu benar...
Kamu enggak suka?
Apa?
Sama Mimi-chan?
Jangan begitu, Ali! Jaga ucapanmu!
Enggak, kok. Aku enggak benci.
Tapi kamu risih, 'kan?
Kenapa kamu blak-blakan begitu, sih?
Habisnya aku penasaran.
Aku enggak benci, kok.
Aku enggak bohong.
Tapi, saat pertama kali bertemu dengannya...
Mimi pulang dari medan perang.
Tubuhnya bersimbah banyak sekali darah...
Tapi dia malah menyapaku dengan wajah tersenyum...
Padahal dia pasti sudah membunuh banyak orang...
Mengingat ini sedang perang, mungkin itu hal yang wajar.
Tapi, aku sama sekali enggak mengerti perasaan orang seperti itu.
Sebisa mungkin, aku enggak mau berurusan dengannya.
Begitu, ya.
Aku jahat banget, ya.
Tapi aku mengerti, dengan situasi begini,
perasaan seperti itu pasti dialami siapa saja.
Meski begitu
sepertinya Mimi juga bisa terluka
dan dia bilang enggak suka karena rasanya sakit.
Mendengar itu, aku jadi sadar bahwa Mimi sama seperti kita...
Benaran?
Iya.
Tapi katanya Mimi itu enggak bisa mati, loh.
Benaran?
Senjata rahasia legendaris, mau separah apa pun lukanya dia enggak akan mati.
Dia akan terus bertarung, layaknya sebuah senjata.
Tapi itu sebatas rumor, sih.
Mimi...
Dua belas orang! Katanya ada dua belas orang yang kembali!
Dua belas orang...
Berarti ada dua orang yang enggak kembali, ya.
Besok bakal ada waktu berdoa lagi.
Ya sudah, kabari kami kalau Mimi-chan kembali, ya?
Baik.
Ali, kamu diam-diam menikmati hubungan Sheena dan Kagari-san, ya.
Sheena itu selalu jaga jarak dengan siapa pun, 'kan?
Eh?
Bisa dibilang dia belum betah di sekolah ini.
Iya, terus?
Kalau dia terus bersama Mimi-chan, dia pasti akan berubah, 'kan?
Agak bikin penasaran, 'kan?
Ampun deh, kukira pikir apaan.
Jangan bahas hal beginian selain denganku, ya.
Nanti kamu dikira orang jahat, loh.
Aku enggak masalah kalau ada yang berpikir begitu,
asalkan kamu tetap menyukaiku.
Hal...
Hal seperti itu juga jangan diucapkan di depan umum.
Sudahlah, ayo pergi.
Lama sekali pulangnya.
Dia rusak parah, jadi kami kesulitan mengumpulkannya.
Lagi?
Iya.
Ya ampun, apa boleh buat.
Dia itu selalu enggak dengar omonganku.
Baiklah, aku pamit dulu.
Ah, baik, baik.
Seperti biasa, terima kasih.
Baiklah...
Parah, sih, ini.
Aku enggak bakal bantu, ya.
Sembuhkan sendiri saja.
Dilihat berapa kali pun tetap menjijikkan.
Kamu ini, ya. Sudah berapa kali kubilang jangan bertempur seenaknya?
Bajumu sampai compang-camping.
Habisnya, aku mau cepat-cepat pulang.
Bersihkan badanmu dulu sebelum balik.
Baik.
Sudah berjam-jam berlalu sejak pemanggilan...
Jangan-jangan, dua orang yang enggak kembali itu...
Jangan. Aku enggak boleh asal menduga.
Kalau dia kembali, harusnya dia pasti lapar lagi.
Mimi... maaf, ya.
Dulu aku menganggapmu menakutkan.
Jauh di lubuk hatiku, aku selalu ingin menghindarimu...
Padahal kamu selalu tersenyum saat mengobrol denganku...
Sheena?
Mimi!
Sheena!
Mimi...
Apa?
Kamu kenapa?
Enggak apa-apa.
Selamat datang.
Apa ada yang terluka?
Enggak. Aku aman, kok.
Begitu, ya.
Syukurlah.
Sheena beda dari biasanya.
Jadi lebih lembut.
Ah, enggak, itu...
Maafkan aku!
Kenapa?
No comments yet. Be the first to leave one.