200 baris pertama.
Celaka.
Apa?
Astaga. Itu hanya kucing.
Dia membuatku takut.
Kau tak boleh memakan ini. Ini terlalu keras.
Kubilang, tidak.
Aku juga lapar.
Ini.
Enak?
Sepertinya ibumu memanggil. Pergilah.
OBAT TIDUR
EPISODE 5
PANGGILAN TAK TERJAWAB
Dia meneleponku selarut ini?
Tapi aku malah tertidur!
Pria itu.
Kenapa dia meneleponku?
Astaga. Kenapa kau begini setiap hari?
Kenapa kau buru-buru begitu!
Apa yang kau cari?
Akhirnya ketemu!
Cepat, Bu!
Tolong siapkan bekal!
Apa rencanamu kali ini?
Ya?
Bagaimana pekerjaanmu hari ini?
Halo, J4.
Kenapa kau tak makan bersamaku, J4?
Maksudku...
Nn. Mi Ran.
- Tak apa. Makanlah, K1. - Baiklah. Tentu.
Tidak ada supnya.
Apa?
Bukan apa-apa.
Omong-omong...
di mana K2...
orang yang berjaga malam?
Kurasa dia punya urusan mendesak.
Dia baru saja pergi.
Begitu rupanya.
Dia pasti lelah jika dia terjaga semalaman.
Ya, benar.
Masih panas, ya?
- Apa? - Aku mengamati monitor sebelumnya,
dan kau tampak kepanasan.
Apa kau cenderung punya suhu tubuh tinggi?
Apa?
Musim panas sudah berakhir.
Tapi kenapa masih panas?
Dasar kau...
Kau harusnya memantau Nona Muda! Kenapa kau mengawasiku?
- Nona Mi Ran. - Dasar kau...
Tunggu.
Cuci wadahnya sebelum mengembalikannya, K1.
Apa?
- Ini lezat. - Sangat enak.
Nikmat sekali!
Apa yang kau makan hingga membuatmu bertenaga, Pak?
Ayolah, jangan menggodaku. Kita bisa didengar orang.
Apa maksudmu, Pak? Kau bahkan mencetak dua gol hari ini!
Ayolah, jika aku tak bisa mencetak gol dari proses yang sengaja kalian atur,
bagaimana aku bisa punya anak?
Jika terus begini, kau akan punya anak lagi di masa tuamu, Pak!
Apa? Anak lagi?
Kenapa tak rayakan ulang tahun anak pertamamu di Istana Presiden?
Kau ingin ditampar?
Baiklah. Berhenti menggoda pria tua ini.
Hilangkan mabukmu. Ayo makan lalu pergi ke pemandian umum.
Ayo bersulang.
Pertandingan yang bagus.
Omong-omong, kenapa kalian tampak lelah akhir-akhir ini?
Kenapa?
Astaga, lihat diri kalian.
Saat pulang...
bawalah satu botol Vitamin D yang sudah aku bawakan.
Terima kasih, Pak!
Minumlah vitamin dan segarkan diri! Mengerti?
Selamat menikmati.
Ambil ini dan semangatlah!
- Kerja bagus. - Terima kasih.
Selamat menikmati!
Ini ringan. Apa ini sudah semua?
Aku akan beri lagi lain kali.
Selamat menikmati, Pak! Tetap semangat!
Ini untukmu, Pak.
Hei, beri aku satu lagi.
Aku tak bisa.
Aku tak mau dipecat.
Hei, ayolah! Aku akan bicara dengannya nanti.
Sudah kubilang. Aku tak bisa.
Ini bisa menyebabkan masalah.
Dasar kau…
Beri dia satu lagi.
Pejabat Kim punya distrik luas, jadi dia butuh lebih.
Ya. Beri dia satu lagi.
Apa kau tahu, Pak?
Aku mencintaimu!
Menjijikkan. Pergi dari sini sekarang.
Selamat menikmati!
- Pergilah! - Pria yang tamak.
Pak.
Aku baru menerima kabar bahwa Nyonya Choi Sun Ja meninggal.
Choi Sun Ja?
Tunggu.
- Bibi dari Choi Yoo Jin? - Ya, Pak.
Suaminya adalah...
Ia bertanggung jawab di grup keuangan internasional.
Benar.
Haruskah kita melayat?
Kau tak perlu ke sana, Pak.
Orang-orang itu bahkan tak sekaya itu.
Aku tak mau melewatkan kesempatan menonton ini.
Apa, Pak?
Ayo.
Ini bukan sirkus jadi kenapa kita…
Mana yang kau suka, Nyonya?
Semuanya sama, kan?
Semua pakaianku tampak seperti pakaian pemakaman.
- Ambilkan gaun berbeda. - Baik, Nyonya.
Apa orang yang tak punya anak akan berakhir seperti itu?
Aku membicarakan bibiku.
Dia kaya raya saat menikah...
tapi akhirnya mati kesepian di panti jompo.
Setidaknya, kau merawatnya dengan baik di tahun-tahun terakhirnya.
Aku?
Aku hanya bersandiwara agar aku dapat saham JB Group-nya.
Itu tidak benar.
Jangan bicara seperti itu.
Kalian berdua saling menyayangi.
Tampaknya kami hanya bersimpati satu sama lain.
Tapi aku...
tak punya keponakan seperti diriku.
Dia akan terlihat seperti mayat hari ini karena dia tak bisa merias wajah.
Lagi pula, dia memang harus terlihat seperti mayat...
agar aku bisa mengambil keuntungan.
Pak Kepala!
Kau mau ke mana? Aku mau menemuimu.
- Ikut aku. Mari bicara sambil jalan. - Apa?
Tunggu, kau mau ke mana?
Kau dapat informasi penting?
Tidak. Aku hanya melihat dia memberi uang pada anak buahnya.
Jangan buang-buang energi. Tunggu saja.
Butuh waktu untuk balas dendam.
Ini, pakailah.
Apa ini?
Kau butuh tata krama saat menghadiri pemakaman.
- Kenapa semua di sini? Masuklah. - Jalan masuknya dijaga oleh pihak kuil.
Apa?
Kepala pelayat menolak akses semua orang luar.
Jika pun kau diundang,
hanya sopir dan asisten yang diizinkan ikut.
Apa kabar?
Terima kasih. Ayo.
Kau pasti cukup senang.
Karena bibiku meninggal?
Karena kau dapat lebih banyak saham.
Memang benar bahwa saham bibimu akan diberikan kepadamu.
Jadi...
kau pikir paman dan putranya akan menyerah begitu saja?
Tapi putranya tak berhubungan darah dengan bibimu.
Tetap saja, anak laki-laki cenderung...
agak menjengkelkan.
Ini seperti yang kau duga.
Mereka memasang keamanan ketat.
Tamu VIP ada di sini.
Ada apa?
Kau mungkin harus mempertimbangkan ini.
Mereka sengaja menghalangi orang kita.
Dan penjaga keamanan dari grup keuangan internasional ada di sana.
Sekarang apa lagi ini?
Syuting film gangster?
Apa mereka pikir ini akan menekan kita?
Sungguh kekanak-kanakan.
- Ayo masuk. - Nyonya...
- bersiaplah untuk kemungkinan terburuk. - Seperti apa?
Jika ada konflik di dalam, mungkin sulit bagi kami untuk membantu.
Mereka takkan membunuhku karena ada pejabat di sampingku.
Kubilang, ayo pergi.
Kalau begitu, ini usulku.
Kami akan antar kau.
Ayo.
Semoga dia beristirahat dengan tenang.
Karena aku tak merawatnya, dia meninggal.
Kau di sini, Kakak Sepupu?
Ayo kita pergi bersama.
Kau mau ke mana?
Nyonya.
Ada pesan dari rumahmu.
Rumahku?
Kau pergi dahulu.
Baik.
Apa ini?
Begitu kau di dalam dan merasa ada yang aneh, tekan sekali.
Jadi, aku bisa mengakses situasinya.
- Apa? - Jika terasa berbahaya, tekan dua kali.
Dan jika kulakukan?
Entahlah.
RUANG KUIL AMITA
PERTEMUAN KELUARGA MENDIANG
Selamat datang, Kakak. Bagaimana kabarmu?
No comments yet. Be the first to leave one.