169 baris pertama.
Selamat, ya, Aggi.
Terima kasih.
Dia bahagia sekali denganmu.
Kau tahu dia bahkan tidak suka stroberi.
Tetapi aku bahagia…
melihat dia bahagia.
Sekali lagi, selamat.
Terima kasih, ya.
Kau ini kerjanya kabur terus.
Sini, duduk dahulu.
Sebentar, ya.
Pernahkah kau mengunyah buah stroberi?
Berharap stroberi yang merah cerah itu manis sekali.
Tetapi ternyata asam luar biasa.
Lalu kau mengambil stroberi berikutnya, berharap kali ini akan lebih beruntung.
Ya, Allah, Aggi.
Tetapi, tidak…
stroberimu masih asam.
Begitu terus.
Sampai habis stroberimu.
Tetapi kau masih tetap belum beruntung.
Kadang cinta pun seperti itu.
Kau pindah dari satu cinta ke cinta yang berikutnya
berharap kau akan lebih beruntung, tetapi…
tidak.
Begitu terus.
Sampai habis stroberimu.
Tetapi kau masih tetap belum beruntung.
Bagaimana?
Bagaimana kau bisa tahu bahwa cinta yang berikutnya
akan mengantarmu kepada kehidupan yang lebih manis?
Ya, lihat lurus ke depan.
- Bagus, satu, dua. - Ya.
Bagus.
Badannya bisa ke sini? Ke arah sini. Lagi.
Satu…
Bagus. Tahan.
Lihat lurus ke depan. Baiklah.
Bagaimana, Pet?
Bagus.
- Terima kasih. - Bagus.
- Sudah selesai. - Terima kasih.
- Terima kasih, Bunga. - Bunga, terima kasih.
Terima kasih. Sampai bertemu.
Ayo ganti baju dahulu.
Aku pulang lebih dahulu, ya?
Baiklah.
Tita mau pulang denganku, tidak?
Dia denganku saja.
Sampai jumpa.
- Aku lebih dahulu, ya. - Ajak Inda saja.
Pulang bersama?
- Tak apa-apa, aku gampang. - Sampai jumpa.
Itu pun kalau kau masih dengar suaraku.
Kauhubungi aku lima tahun lagi…
lihat saja nanti.
Ini buku kesayanganku.
Bacalah.
"Berceritalah lewat mata.
Karena mata adalah jendela rasa.
Dan setiap ceritamu
adalah cerita tentang rasa.
Izinkan aku berbagi rasa denganmu, Aggi.
Karena setelah lima tahun…
suara tawamu tak kunjung pergi."
Aduh.
Sudah lima tahun, ya?
Dan dia masih ingat.
Aduh.
Kau masih cinta?
Yakin?
Kalau masih juga tidak apa-apa.
Aku memang tidak pernah setuju kau putus dengannya.
Apakah Mbak Nita yang memberi nomor teleponku ke dia?
Kau dikirimi surel berkali-kali tidak dibalas, ya sudah.
Aku suruh saja dia datang ke sini untuk berkunjung.
Kenapa Mbak begitu?
Tidak cinta, bukan?
Maka tak apa-apa dia datang ke sini.
Ya, bukan?
- Mbak Nita? - Ya.
Datangnya kapan?
Selamat pagi. Selamat datang di Alfamart.
- Selamat pagi. - Ada yang bisa kubantu, Mas?
Mau membeli tiket kereta api ke Yogyakarta, Mbak.
Ada, pukul 20.00, eksekutif. Mau yang pergi-pulang atau satu arah?
Pergi-pulang.
Pulangnya kapan?
Malam ini ada?
Paling malam pukul 23.30.
Pukul 23.30 berarti…
- sampainya pukul 8.00 pagi, ya? - Ya.
Ya, boleh.
- Abang. - Ya?
- Dua. - Harganya 20.000.
Terima kasih.
Becak, Mas. Silakan.
Ke Jalan Brigjen Katamso.
Ya, Mas.
- Nanti kuberi tahu. - Ya.
- Itu, belokan sebelah sana. - Yang sebelah kanan?
- Terima kasih. - Terima kasih.
[menyanyikan "Could It Be" berbahasa Inggris]
Sekarang kita sambut saksofonis kita,
Tomi dan…
Timur.
- Maaf. - Maaf.
Selamat malam, Semua.
Malam!
Foto.
Hai, Gi.
Hai.
Enak, tidak, tinggal di Bandung?
Ya, begitulah.
Bandung sudah seperti rumah bagiku.
Pernah terpikir untuk pindah?
Belum.
Lagi pula, bisnisnya juga baru mulai setahun.
Jadi, masih fokus di sini dahulu.
Mm.
Tita bercerita kemarin dia bertemu dengan…
temanmu juga, yang dahulu bermain band bersama.
Siapa?
Inda?
Ya.
Itu semua teman kampus.
Memang band itu berisikan teman-teman kampus.
Main bandnya sudah sedari zaman kuliah?
Ya.
Kau sudah dari kapan bermain saksofon?
Hmm…
Sekitar setahun.
Kalau boleh jujur, kau lebih suka main saksofon atau memotret?
Saksofon itu kebutuhan.
Kalau memotret…
seperti aku melihatmu memotret semuanya,
rasanya sudah mulai agak bosan sebenarnya.
Sungguh?
Ya, sedari kuliah aku memotret.
Aku tidak menyangka.
Kupikir kau memotret karena memang suka.
Tetapi itu profesimu.
Bagaimana, ya? Memang profesi.
Hanya saja kalau harus mengurus pesanan terus
lama-lama lumayan.
Jadi, kau lebih merasa seperti tukang potret dibanding…
fotografer profesional.
Kadang.
Apa, ya, kalau diumpamakan…
Kalau diumpamakan seperti menghabiskan sekeranjang stroberi ini.
Kau tidak tahu…
stroberi yang kauambil ini…
akan manis…
asam, atau bahkan…
pahit.
Kau harus menghabiskannya saja dan…
hidup adalah pilihan.
Usaha yang bagus.
Mau?
Tidak, nanti saja.
Aggi.
Apa?
Kenapa?
Aku jauh-jauh dari Yogyakarta ke Bandung, masih belum mengerti?
Harus bagaimana? Aku sibuk kerja, bukan main.
Baru, ya? Aku memang selalu tahu kau sibuk.
Memang kenyataannya sibuk.
Lalu aku… Aku sedang bicara, jangan jalan dahulu.
Kau di sana, aku di sini.
No comments yet. Be the first to leave one.