200 baris pertama.
Pergilah.
Kubilang pergi!
Halo?
Apa?
Maaf.
Boleh masuk?
Untuk apa?
Aku butuh tumpangan.
Tumpangan?
Naik mobilmu, ke kota.
Terima kasih.
Maaf.
Cuacanya sangat gila di luar sana.
Tahu jam berapa sekarang?
Tidak.
Bisa tunggu sebentar?
Dan tolong tutup pintunya.
Terima kasih, tapi aku tidak akan tinggal.
Aku cuma butuh tumpangan ke kota.
Kau membahasi lantaiku.
Maaf.
Kenapa kau datang ke sini?
Aku tidak tahu. Aku cuma berlari.
Aku khawatir kau salah mengetuk pintu.
Mobilku bermasalah beberapa hari terakhir.
Ya...
Ada bus yang berangkat dari sini?
Tidak jam 02.00 dini hari.
Kau mengalami malam yang besar.
Kurasa.
Maaf tadi.
Ada anak...
anak-anak liar di taman... mengetuk pintuku
semalam.
Saat kujawab, tak ada seorang pun di sana.
Itu pasti menjengkelkan.
Tampaknya mereka menganggapnya lucu.
Aku sungguh tak pernah memahami lelucon itu.
Kenapa tak buka baju itu?
Biar kutaruh ke pemanas.
Tidak. Tak usah. Sebenarnya aku tak berniat tinggal.
Cuma butuh satu menit.
Sebenarnya, jika kau punya ponsel,
mungkin bisa kutelepon mobilnya saja.
Tak masalah. Lepas saja di sini.
Kau habis berenang.
Ya.
Waktu yang aneh untuk berenang?
Tadinya aku di pantai. Aku pasti ketiduran.
Aku selalu salah tempat, salah waktu.
Pantai?
Kau lari ke sini dari pantai?
Ya.
Kenapa kau tidak duduk sebentar?
- Tidak, sebenarnya tidak... - Tak apa. Duduklah.
Kau harus istirahatkan jarimu setelah mengetuk pintuku.
Mau teh atau sesuatu?
Tidak, terima kasih.
Tapi, minta rokok, jika ada.
Aku tidak punya, sayangnya.
Jadi, boleh pinjam ponselmu?
Aku perlu menelepon mobil.
Tempat tinggalku tak jauh dari sini.
Kurasa kau bukan orang lokal.
Ya?
Aku belum pernah melihatmu di taman.
Kau tentu saja bukan penduduk sini, dan jauh dari luar kota,
Jadi kuanggap kau pasti tersesat.
Juga, berenang sepanjang tahun ini?
Jangan coba-coba bilang ada buaya.
Buaya?
Tidak.
Hipotermia, mungkin.
Meski harus kuakui
badai petir ini aneh.
Biasanya terjadi di bulan-bulan panas.
Sesuatu tentang kelembapan.
Kau sudah cukup umur?
Untuk minum? Ya. Tentu. Terima kasih.
Aku sungguh berharap bisa menelepon.
Benar. Maaf.
Untuk telepon umum. Aku tak punya ponsel.
Ada satu di depan taman.
Bisa kuantar ke sana saat cuaca agak membaik.
Terima kasih, tapi jika kau memberiku petunjuk,
Aku bisa pergi sendiri.
Maksudku, jalannya.
Mereka sebenarnya mengunci gerbang setelah jam 12:00,
jadi tak ada mobil yang bisa lewat sini pada malam hari.
Lampu depan berada pada ketinggian yang tepat
untuk memotong langsung melalui tirai sebaliknya.
Beberapa warga yang lebih bodoh dulu berpikir
mereka di gerebek oleh AFP.
Sepertinya tetanggamu menarik.
Ya, itu salah satu cara menggambarkan mereka.
Paranoid.
Sepertiku, kukira.
Seperti semua orang yang cukup umur untuk melakukan sesuatu
dalam hidup mereka untuk merasa paranoid.
Baik...
Terima kasih banyak atas handuk dan uang koinnya.
Tapi aku mungkin harus pergi.
Menurutku kau tidak bisa.
Kubilang tadi. Gerbangnya terkunci.
Aku punya kuncinya, tapi aku harus mengantarmu.
Pasti badainya akan segera berakhir, dan kemudian...
Aku tidak mau tinggal denganmu.
Aku yakin akan temukan jalan keluarnya.
Maaf. Tentu.
Sepertinya aku harus menunggu bajuku kering.
Sudah lama tinggal di sini?
Di taman?
Lama.
Aku dibesarkan di pantai, meninggalkan kota pada usia 20-an.
Setelah kehilangan pekerjaan, kuputuskan cari kerja lagi,
cari tempat tenang... dan murah.
Kalau begitu, kita sama.
Apa itu?
Pengangguran.
Kondisiku agak parah.
Ya, dulunya aku tukang listrik.
Aku juga baik-baik saja dalam hal itu.
Sampai kutancapkan obeng
ke soket lampu hidup.
Dan mereka memecatmu karena itu?
Tidak, aku berhenti.
Setelah hal seperti itu,
menempelkan obeng di tempat yang sebenarnya
tidak menginspirasi.
Asal tahu saja...
ketakutan dan kegembiraan adalah emosi yang identik.
karena itu orang memasukkan garpu ke dalam pemanggang roti.
Karena itu mereka melompat keluar dari pesawat.
Menghirup kokain... merampok bank.
Mereka yakin akan mati
cuma untuk merasa terjaga.
Menurutmu apa maksudnya hal ini tentang manusia?
Bagaimana otak kita membaca kegembiraan dan bahaya sebagai hal yang sama...
Seperti populasi ngengat.
Kau tinggal di mana?
Rumahku. Tak jauh dari sini.
Rumahmu?
Hotel.
Semuanya agak jauh dari sini.
Kau belum pernah ke sini?
Wajahmu familier.
Kau menggigil. Mau mandi,
memanaskan diri?
Tidak, sungguh. Tak usah.
Bajumu akan kering saat kau selesai.
Aku sungguh berharap menelepon mobil itu.
Akan kuantar setelah ini beres.
Kau gemetar.
Mandilah.
Teleponnya tidak akan ke mana-mana.
Pintu pertama di sebelah kiri.
Apa?
Ada baju kering di bangku untukmu.
Bajumu belum cukup kering.
Kau tidak memasak untukku, kan?
Aku tak menyebut sup kalengan sebagai masakan.
Cuma sesuatu untuk menghangatkan selagi kau menunggu bajumu kering,
atau terbakar, karena pemanas itu.
Kau sudah menikah?
Tidak.
Itu punya pacar lama.
Kau bisa ambil jika mau.
Bagaimana denganmu?
Sudah menikah? Tunangan?
Tidak. Tentu saja tidak.
Aku hampir tak bisa jaga diri sendiri
apalagi mengkhawatirkan orang lain.
Jadi, kau orang yang berjiwa bebas?
Jiwa bebas... Aku suka itu.
Itu bikin semua kekacauan dalam hidupku terdengar indah.
Itukah yang membawamu ke sini?
Di luar sini?
Secara umum. Bepergian sendirian, seperti...
Bodoh?
Tadinya mau kubilang kesepian.
Tidak, itu bodoh. Itulah yang kita semua lakukan.
- Siapa? - Wanita sepertiku.
Kami menempatkan diri dalam situasi bodoh
dan kaget saat hasilnya tidak bagus.
Terkadang kami seperti tertarik pada akhir yang tak bahagia.
Seperti populasi ngengat.
Kau merasa kesepian, bersembunyi jauh-jauh di sini?
Bersembunyi?
Kenapa kau ngomong begitu?
Orang-orang berpindah-pindah dan bilang lingkungan yang tenang
atau perumahan yang lebih murah.
Tapi, sungguh, mereka selalu kehabisan sesuatu.
Seperti kesalahan yang bisa di buang ke tempat sumbangan
atau dikuburkan di halaman belakang, dan itu saja.
Tapi tak masalah di mana kau sembunyi, bukan?
Pada akhirnya,
yang kita dapatkan cuma air keran yang rasanya lain
dan pemandangan baru untuk kesengsaraan kita.
Kau tahu, harus kubilang,
aku kaget kau sangat sadar.
No comments yet. Be the first to leave one.