200 baris pertama.
Ini Lamb.
Jika aku tak menjawab, itu karena aku tak mau bicara denganmu.
Halo. Kau tertipu, 'kan? Ini Marcus Longridge. Tinggalkan pesan.
- Silakan. Selamat menikmati. - Terima kasih.
Ini River. Mohon tinggalkan pesan.
Halo?
Akhirnya ada yang menjawab.
Di mana kau?
Bukan urusanmu.
Ya, seharusnya kau di Chickado.
Kenapa?
Pesta Natal kita.
Kita tak mengadakan pesta Natal.
Kalaupun ada, pasti sebelum Natal dan bukan di Chickado.
Ya. Mungkin kau tak diundang.
Mungkin Lamb hanya memberi tahu para elite.
Tapi Lamb memberitahumu, 'kan?
Kutanya dia di mana lokasi pesta Natal dan dia memberitahuku detailnya.
Baiklah.
Coba cari tahu apa yang terjadi.
Ya, harus jadi agen aktif untuk bisa terlibat, jadi...
Halo?
Di pusat perbelanjaan Westacres.
Dikonfirmasi ada bom mobil.
Kepala MI5 datang.
Claude Whelan, Kepala MI5.
- Dan kau siapa? - Agen Singh.
- Baiklah. - Bu.
Maksudku, hal seperti ini sulit dipercaya.
Ini...
Sudah dikonfirmasi itu bom mobil?
Ya, Bu. Ada rekaman CCTV.
Sopirnya ada di mobil, jadi ini serangan bunuh diri.
Di pusat perbelanjaan. Astaga.
Mobil melaju melalui area pejalan kaki,
orang-orang berpencar,
dia melaju lurus menuju pintu masuk dan meledak.
Astaga.
Ada info apa tentang mobil itu?
Disewa atas nama Robert Winters, konsultan TI lepas berusia 28 tahun,
tapi latar belakangnya tak menunjukkan alasan dia melakukan ini.
Lacak perjalanannya lewat CCTV. Kita harus tahu dia datang dari mana.
Kami mengecek alamat di Leicester yang dia beri ke perusahaan rental mobil.
Sudah bertahun-tahun tak ada orang di sana.
Para tetangga tak pernah melihat atau mendengar apa pun soal Winters.
Astaga.
Mungkin dia orang yang tak bisa dilacak.
Bisa jadi ini hanya serangan sekali saja.
Atau permulaan dari sesuatu.
Dari pembicaraan orang-orang di London, tampaknya
masyarakat sekitar masih merasa cemas.
Langkah terbaru, polisi bersenjata ditempatkan di beberapa kereta,
meski ini lebih terasa seperti tindakan untuk meningkatkan kepercayaan diri
alih-alih respons terhadap ancaman tertentu.
Kau sungguh berpikir dia adalah anggota jaringan?
Kurasa semakin lama tak ada serangan susulan,
semakin besar kemungkinan dia hanya penyendiri.
Aku benci kata "penyendiri". Membuat dia terdengar misterius.
Dia hanya seorang pembunuh.
Baik. Ulangi bersulangnya.
Tadi kita bersulang untuk pembunuh. Katakan hal lain.
Semoga kita tak berada di Slough House di saat ini pada tahun depan.
Ya. Itu mustahil.
Kecuali jika kita berhenti.
Kau tak sungguh ingin lakukan itu,
bukan?
Aku selalu memikirkannya. Ya.
Bagus.
Omong-omong, ya, ada sesuatu yang sudah lama
yang ingin kuceritakan padamu, dan, kau tahu,
- ingin kuberi tahu di luar kantor... - Baik.
...dan aku merasa bisa kuceritakan padamu
karena hubungan kita semakin dekat.
Dan...
Aku tak ingin melanggar batas,
dan aku paham jika kau ingin hubungan kita hanya sebatas rekan kerja.
- River. Maafkan aku. - Hanya saja...
- Aku menyukaimu, tapi... - Tapi kakekku...
- Apa? - Bukan, kakekmu. Ya.
Ya, apa yang kau bilang?
- Aku tidak... Tidak. Silakan lanjutkan. - Kau pikir aku akan bilang apa?
- Kau pikir aku mengajakmu berkencan? - Tidak.
- Ya, kau mengira begitu. - Tidak. Baiklah, itu benar.
Tapi itu karena kau mengajak minum-minum saat jam makan siang
karena kau ingin membicarakan sesuatu denganku,
lalu kau mengoceh soal kau merasa
- semakin dekat denganku dan... Ya. - Mengoceh?
- Aku merasa semakin dekat denganmu. - Bisa kita bahas kakekmu sekarang?
Baik.
- Kurasa dia... - Kenapa dia?
Seperti...
Dia selalu kebingungan.
Melupakan segalanya.
Bukankah itu bagian dari proses menua?
- Umurnya sudah 80-an tahun, 'kan? - Bukan, bukan.
Dia pikir dia diawasi oleh para cerpelai.
Apa itu cerpelai?
Itu sebutan generasinya untuk pengintai.
Dia tidur dengan pistol di kasurnya.
Seperti...
Bukankah sebaiknya dia tinggal di panti wreda?
Ya, menurutku begitu. Tetapi apa kau mau bilang itu padanya?
Terakhir kali aku menemuinya, dia sungguh tak tahu aku siapa
selama sepuluh menit pertama.
Tak tahu sama sekali.
Dia terus bercerita padaku soal cucunya River. Aku tak bisa...
Sulit melihatnya seperti itu.
Amat disayangkan.
- Apa? - Dia yang membesarkanmu.
Dia yang menjagamu saat tak ada orang lain lagi.
Sekarang giliranmu.
Kau harus menemuinya. Malam ini.
Tidak, aku tahu. Ya, aku tahu. Ya.
Aku hanya butuh kau mengatakan itu padaku.
Aku tahu kau di sana. Ayo. Biar kulihat kau. Ayo.
Ayo!
Ayo. Aku tahu kau di sana. Ayo.
Biar kulihat kau.
Ayo!
River.
Boleh aku masuk? Aku basah kuyup.
Ya, tentu.
Masuklah.
Kenapa tak menelepon? Atau mungkin sudah kau telepon.
Sudah kutelepon, tapi Kakek tak menjawab. Aku ke toilet dulu.
Jalanan macet. Mau kusiapkan air untuk Kakek mandi selagi aku di atas?
Sepertinya Kakek kehujanan juga.
Buruk sekali.
Hampir siap, Kakek.
Kau bukan cucuku.
Ini aku. Aku River.
Kumohon. Bisa tolong letakkan senapannya?
Astaga.
Astaga. Apa yang kuperbuat?
BERDASARKAN BUKU SPOOK STREET KARYA MICK HERRON
Sial.
Lamb.
Sial.
Aku akan hubungi kau saat dapat info lebih lanjut.
Mereka mengecek beberapa hal, tapi... Dia baru tiba.
Aku akan hubungi lagi nanti.
Kau Lamb?
Malam ini aku dilanda keraguan.
Aku Emma Flyte. Pengganti Duffy.
Kau sudah lebih baik dari yang sebelumnya.
Karena tidak mati otak dan tidak dalam keadaan koma.
Menurut informasi, salah satu dari kalian yang membuat dia koma.
Sumber informasi suka berkata banyak hal, tapi sering kali mereka salah.
Orang sebelum Duffy jauh lebih berkelas.
Sam Chapman Jahat.
Itu hanya sebuah nama.
Tak sejahat itu.
Kecuali bagian kehilangan uang senilai seperempat miliar paun.
Kubilang dia tak jahat.
Aku tak bilang dia sempurna.
Bisa bawa aku ke TKP?
Kau kenal Pak Cartwright?
Aku punya alibi, aku di sauna bersama Lady Di.
Tanya saja dia.
Kau kenal Pak Cartwright?
- Yang mana? - Keduanya.
Yang lebih muda bekerja untukku.
Kakeknya pernah memberiku pekerjaan sekali.
Itu sepatu yang bagus.
Kau dapat tunjangan pakaian?
Astaga.
Kau siap?
Jadi, kau pemimpin orang-orang yang ditolak.
Mereka tak suka disebut begitu.
- Kau menyebut mereka apa? - Orang-orang yang ditolak.
Ini, Sayang, lihat. Kau melewatkan sesuatu.
Keadaannya buruk di sana.
Aku pernah melihat situasi buruk sebelumnya.
Seseorang menekan tombol panik pada pukul 21.03.
Polisi setempat tiba pukul 21.49.
Kerja bagus, ini bukan keadaan darurat.
Pria tua itu menekan tombolnya dua kali di pekan sebelumnya.
Sekali karena dia lupa alasan dia menekannya dan ingin mencari tahu.
Tombol panik itu bisa dilacak, ada yang pernah memberitahumu?
Terima kasih. Akan kucatat.
Tapi aku sudah menelusuri tombol khususnya ke meja dapur.
Kau sudah lihat bagian bawahnya?
Apa yang kau cari?
Alka-Seltzer.
Biasanya bukan peminum, tetapi aku minum sherry sebelum makan malam.
Ini TKP, bukan apotek.
Dia ditembak dua kali. Sekali di dada, sekali di wajah.
Tampak berlebihan.
Meski terkadang dia menyebalkan, aku setuju soal itu.
Kau terlihat tidak cemas.
- Aku sudah pernah kehilangan agen. - Dulunya kau agen lapangan.
Ya, saat kau masih sangat muda.
Dia membawa ini.
- Ponsel dan dompet? - Keduanya milik Cartwright.
Lalu apa gunanya aku di sini?
Identifikasi formal.
Itu agak sulit.
Apakah dia punya tanda pengenal?
Tadinya dia punya wajah. Apakah itu membantu?
- Tato, bekas luka, tindik? - Bagaimana aku bisa tahu?
No comments yet. Be the first to leave one.