173 baris pertama.
Sebelumnya di Iron Wok Jan…
-Maaf, tapi… -Aku harus mencicipinya lagi.
Satu kali lagi!
Aku harus mencicipinya sekali lagi!
Apa sebenarnya yang kau buat?
Mustahil itu sup jamur biasa!
Aku memakai dua jenis jamur yang bernama moegi dan fusen.
Keduanya tak berbahaya.
Tapi jika disatukan dalam jumlah yang tepat,
reaksi yang terjadi menimbulkan efek euforia!
Yang dia maksud adalah "jamur ajaib"!
SERIAL INI ADALAH FIKSI. TAK ADA KAITAN DENGAN ORANG ATAU PERISTIWA NYATA.
-Hati-hati. -Di sini!
Baik, berhenti.
Ini sudah cukup panas. Hati-hati.
Ya.
Tapi pelat panggang raksasa ini untuk apa?
-Pak Kepala! -Panas!
Lepas sarung tangannya!
Kenapa benda ini sudah panas sekali?
Apa ini dipakai untuk kejuaraan memasak hari ini?
Kau benar-benar sampah.
Aku tak tahan membayangkan orang seperti kau menjadi seorang koki.
Aku akan menjatuhkanmu!
Aku akan menghadapimu dengan Masakan Membaraku!
Lihat saja! Lihat apa yang terjadi kepada para juri!
Mereka seperti ini karena supmu yang seperti narkoba!
Dan kau sebut dirimu seorang koki?
Ini bagus untuk TV.
Ini adegan berharga.
Apakah kau cuma peduli kemenangan?
Apa kau tak peduli dengan orang-orang yang makan masakanmu?
Kuulangi! Aku tak akan memaafkanmu!
Aku tak akan diam saja!
Aku, Kei Sawada, si Koki Membara,
akan menghancurkan ambisi kejimu!
Paham, Akiyama?
Berhasil.
-Ya! -Jangan biarkan dia begitu!
Jika bukan kau, siapa lagi, Sawada?
Aku sudah memikat mereka. Bagaimana aksiku, Akiyama?
Sekarang, tak ada yang memihakmu.
Gawat! Sekarang Jan menjadi musuh.
Sesuai dugaanku.
Ini berjalan sesuai harapanku.
Begitu para juri dan penonton menentangmu, kau tak bisa menang.
Kuharap si bocah Sawada itu melibasmu habis!
Mempermalukan dirimu sendiri di depan semua orang!
Kau tak apa?
Pipimu bengkak sekali.
Ya. Terima kasih.
Kiriko benar-benar memukulku dengan keras.
Ada apa?
Aku akan cari udara segar.
Babak berikutnya mulai 30 menit lagi.
Aku tahu. Aku akan kembali.
RUANG TUNGGU PESERTA
Kau sungguh keterlaluan tadi.
Kau akan rasakan akibatnya.
Kau juga.
Kau mencoba membuat masakan seperti itu lagi.
Kau tak akan cuma dapat pukulan di wajah!
Kau bukan "masak" untuk mereka. Kau "bius" mereka!
Lepaskan!
Dasar bodoh.
Jika membiarkan tangan dominanmu cedera, kau bukan koki.
Apa maksudmu?
Jika kau memasak dengan jamur ajaib, kau sama sekali bukan koki.
Dan sekarang,
tiba saatnya Babak Satu dari Kejuaraan Masakan Tionghoa!
Mulai dari babak ini, sistem penilaiannya berubah.
Masing-masing dari sepuluh juri bisa memberi nilai hingga sepuluh poin
dengan total nilai maksimal 100.
Apa?
Orang itu!
Para penonton juga akan menilai babak ini.
Masing-masing dari 100 penonton memiliki satu poin untuk diberikan!
Silakan tekan tombol untuk masakan kalian anggap enak.
Sekarang!
Mari mulai Pertandingan Pertama! Mari sambut para koki kita!
Dari Kun Lun di Roppongi,
Kei Sawada!
-Sawada! -Ayo, Sawada!
Kami mendukungmu!
Berikutnya!
Dari Restoran Tionghoa Gobancho di Ginza, Jan Akiyama!
Berani sekali kau menunjukkan batang hidungmu!
Kau membuat malu semua koki!
Kalah saja, dasar bodoh!
Itu dia! Permalukan dirimu di TV nasional.
Kalahlah dengan memalukan dan hilanglah selamanya.
Akiyama, dasar bocah!
-Apa itu? -Ini bagian dari acara?
-Sawada! -Kami sudah tiba!
Ayo!
Ada apa?
Pelat panggang raksasa?
Dia sungguh mau memasak dengan itu?
Sepertinya begitu.
Terbakar!
Maaf, Akiyama. Kau di sini hanya untuk membuatku bersinar.
Tak ada yang bisa melawan pelat panggang membara ini.
Tema Pertandingan pertama adalah
masakan daging sapi!
Mulai!
Babak Satu, Pertandingan Pertama dari Kejuaraan Masakan Tionghoa!
Temanya adalah masakan daging sapi!
Hei, lihatlah potongan yang dipilih Sawada.
Dia hanya memilih potongan empuk.
Tanjung dan has luar atas adalah potongan tak berlemak, penuh rasa di belakang.
Pada wagyu, has luar adalah potongan dengan sebaran lemak optimal.
Has dalam bersari, halus, dan lembut.
Semuanya potongan ideal untuk steik.
Itu benar.
Aku akan buat masakan yang memunculkan yang terbaik dari daging sapi terbaik.
Di sisi lain, potongan yang Jan pilih adalah…
Hei, itu sengkel!
Apa? Potongan yang sekeras itu?
Sengkel sapi!
Potongan daging yang amat keras dan berserat, dengan otot yang amat padat.
Tidak cocok untuk steik.
Kaya akan kolagen yang membuatnya ideal untuk sup dan rebusan.
Hasilnya sudah bisa dipastikan begitu dia memilih daging itu.
Mana bisa sengkel mengalahkan tanjung atau has dalam?
Tidak… Jan, apa yang kau lakukan?
Kenapa kau pilih potongan murah?
Benar, Kepala Koki?
Baiklah! Ini saatnya beraksi!
Dia mencincang bawang bombai dengan amat cepat!
Saatnya menari!
Rock 'n' Sauce!
Pertunjukkan luar biasa!
Rock 'n' Sauce?
Jadi itu saus berbasis bawang bombai?
Lihatlah tusukan logam itu!
Panjang sekali!
Jadi, itu gunanya pelat panggang raksasa itu!
Koki Sawada itu jelas menguasai keterampilannya.
Dia punya mata yang tajam untuk bahan, dan dia bekerja amat cepat.
Sebelum memanggang, dia membumbui daging dengan merata
dan memijat dagingnya agar bumbu meresap.
Dia juga menggunakan teknik blansir minyak ala Tionghoa dengan sangat sempurna.
Lihat potongan sayuran itu!
Bahkan sambil menari, dia memotongnya menjadi ukuran kecil. Lihat?
Dia menampilkan aksi memukau,
tapi di dalam hati, dia ahli sejati.
Dia membuat ini terasa seperti menonton pertunjukan.
Sekarang, saat untuk klimaksnya!
Api!
-Sawada! -Ayo, Sawada! Penari Api!
Ini jurus pemungkasnya!
Saus istimewa untuk menambah rasa dan aroma!
Bagaimana menurutmu, Akiyama?
Ayolah! Kau sedang apa, Jan?
Kenapa kau membuat saus kental sekarang?
Kau tak akan bisa kalahkan Sawada dengan itu. Itu terlalu polos!
Kau juga berpikir begitu, bukan, Kepala Koki?
-Itu sihir. -Apa?
"Masakan Akiyama adalah sihir." Itulah yang kudengar.
Dia akan menggunakan sihir itu.
Sihir?
Tapi berapa juri yang akan mengenali sihirnya?
Waktu habis!
Jangan sentuh makanan!
Penilaian kini akan dimulai.
Sudah selesai!
Ini adalah masakan
yang memicu antusiasme semua orang dengan asap dan apinya!
Lihatlah, panggangan Kei Sawada yang tak terkalahkan!
Tak peduli sepanas apa wajannya,
itu bukan tandingan pelat panggang membara ini!
Kau sudah kalah,
Jan Akiyama!
No comments yet. Be the first to leave one.